Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Xiao Bao



Cahaya lilin menyinari ruangan yang merupakan sebuah kamar, suara deburan ombak yang menenangkan juga terdengar dari arah luar.


Diatas sana benda langit terlihat berkelip-kelip indah, berbeda jauh dari kesuraman yang terlihat diwajah sosok cantik ini.


Xiu Qixuan terduduk disamping ranjang dan termenung memandangi wajah bocah lelaki berusia tujuh tahun.


Penderitaan macam apa yang di derita bocah ini sebelumnya, banyak sekali luka memar dan berdarah dari bagian tubuhnya.


Dukun yang diperintahkan untuk mengobati menjelaskan bahwa bocah ini terlalu tertekan dan jatuh pingsan. Luka-lukanya itu hanya luka ringan, tetapi apa yang dapat disebut sebuah luka ringan jika menorehkan luka mendalam dibatin seorang bocah kecil.


Sima Junke sedang keluar untuk mengurus beberapa hal, termasuk mengirim kabar kepada Aisin Tianyi agar mengirim orang untuk memusnahkan geng bandit yang sudah sangat meresahkan ini.


Jari-jari mungil itu perlahan bergerak dan gumam rintihan kesakitan terdengar, "Ibu...Jangan ini sakit, ibu tolong—ini sangat sakit hikshiks.."


Xiu Qixuan dengan khawatir menghampiri dan mendekapnya, dia perlahan mengelus lembut wajah bocah itu, "Sudah tidak apa-apa, kau baik-baik saja." Ucapan seperti itu mengalun lembut berulang kali untuk menenangkan bocah kecil ini.


Kemudian dengan perlahan kelopak mata bocah kecil itu terangkat, pandangannya kosong menatap wajah Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan menolehkan wajah dan balas menatapnya dengan tersenyum lembut, "Kau sudah bangun," Ucapnya mencoba mengajak bicara.


"Dimana ibu?" Tanya bocah itu sangat pelan, nyaris seperti bisikan dan wajahnya datar seperti patung tanpa jiwa.


Seketika senyum surut diwajah cantik Xiu Qixuan tetapi dengan ketenangan dia memasang wajah penuh ketulusan untuk menjawab, "Ibumu sedang pergi bekerja untuk membelikanmu mainan, dia menitipkanmu sebentar pada Jiejie." dengan berbohong.


Tetapi bocah kecil itu malah berteriak marah dan mendorong tubuh Xiu Qixuan sampai terjatuh kelantai, dia berteriak dengan menggila, "Aku tidak butuh mainan, cepat kembalikan ibuku!" dengan sangat kasar dan merusak beberapa barang disekitarnya.


Xiu Qixuan terkejut dan nyaris tak bereaksi ketika sebuah vas bunga hampir mengenai wajah cantiknya.


'Prang,' Vas bunga yang terbuat dari tanah liat itu berserakan jatuh setelah membentur dahi Xiu Qixuan.


Cairan hangat berwarna merah kental perlahan mengalir, Xiu Qixuan meringis dan menyeka tetesan darahnya itu.


Kemudian dia mendongakkan wajah untuk melihat bocah itu sudah beringsut ketakutan menatapnya.


"Jangan bunuh aku... Jangan bunuh aku... Aku tidak sengaja," Gumam bocah itu pelan dengan menutup kedua telinga dan kedua matanya.


Xiu Qixuan tidak mengetahui ucapannya itu membawa memori buruk bagi anak ini.


Sebelumnya bocah ini sedang berpergian bersama sang ibu untuk memetik beberapa herbal langka agar dapat dijual seharga beberapa keping tael perak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Itu hanya hal biasa yang dilakukan mereka setiap satu kali dalam seminggu.


Tetapi semuanya berbeda ketika mereka turun dari tebing saat matahari terbenam, sang bocah sangat aktif, dia berlarian turun lebih dulu meninggalkan sang ibu yang berjalan tergopoh dibelakang sana.


Saat berada dibawah tebing seorang pria dewasa menawarinya sebuah mainan dan membawannya kesebuah goa dibelakang tebing, tetapi tidak ada mainan disana, sang bocah akhirnya merengek dan memanggil-manggil sang ibu. Membuat para bandit itu marah, mereka membanting dan memukul tubuh sang bocah dengan keras.


Sang ibu yang melihat anaknya menghilang berusaha mencari dengan berteriak, sebelum akhirnya dia juga ditahan, disiksa dan berakhir dilecehkan.


Sang bocah menyaksikan semua kejadian itu, dia meraung dan berusaha mendekati sang ibu tetapi para bandit itu tidak memiliki sedikitpun belas kasih, mereka malah menjadikannya sasaran empuk untuk menerima pukulan.


Sampai akhirnya dipagi hari, para bandit itu jatuh terlelap pulas karena arak yang mereka minum. Sang ibu menggendong bocah itu, dan perlahan melangkah berusaha kabur.


Dan saat hanya berjarak beberapa langkah jauhnya dari goa tersebut, pria muda yang masih berusia remaja yang juga merupakan anggota para bandit menemukannya dan menangkap mereka kembali.


Terjadilah kejadian itu, saat sang ibu yang memohon untuk sang anak agar dilepaskan kemudian Xiu Qixuan dan Sima Junke datang.


Xiu Qixuan beranjak dan mendekati bocah itu lagi, dia menghela napas lelah tetapi tidak bisa marah.


"Kau membuat ibumu sedih," Ucap Xiu Qixuan dengan spontan.


Gumaman sang bocah itu berhenti, dengan cepat dia mendongakkan wajah dan memandangi Xiu Qixuan dengan mata sayunya.


Melihat dia memberikan respon, Xiu Qixuan tersenyum tipis dan melanjutkan ucapannya, "Kau membuatnya sedih karena sudah melukai Jiejie yang baik ini dan kau akan membuatnya sedih jika menjadi anak jahat yang tidak berperilaku baik." Dengan penuh keyakinan dan derita menunjuk luka di dahinya.


"Jadi apakah kau ingin ibumu bersedih?" Tanyanya dengan memiringkan wajah.


Bocah itu tertegun selama beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan wajah.


Syukurlah masih dapat ditolong, batin Xiu Qixuan saat melihat anak ini masih memberikan respon.


"Kau dapat memanggilku Xuanjie atau Jiejie saja—itu terserah padamu. Anak baik, siapa namamu?" Ucap Xiu Qixuan dengan lembut memperkenalkan diri dan menanyakan nama.


"Baiklah, Xiao Bao. Dengarkan Jiejie, ibumu sudah pergi dan Jiejie disini sementara akan merawatmu." Ucap Xiu Qixuan dengan tulus dan tidak berbohong. Dia merasa kebohongan akan semakin memperburuk keadaan mental bocah ini.


"Xiao Bao?" Gumam bocah itu pelan dengan bingung.


"Ya, kau Xiao Bao dan aku Jiejie-mu." Jawab Xiu Qixuan tersenyum antusias menunjuk dirinya dan Xiao Bao secara bergantian.


"Ibu pergi? Pergi kemana? Apakah lama?" Tanya Xiao Bao lagi dengan mengerutkan keningnya.


"Eum, pergi ke pemberhentian selanjutnya. Dan sangat lama— mungkin selamanya," Jawab Xiu Qixuan dengan ragu-ragu.


Xiao Bao mengerutkan kening tak mengerti tetapi dia hanya diam saja.


"Aku ingin pulang," Ucao Xiao Bao dengan menatap wajah Xiu Qixuan berusaha menelusuri apakah ada jejak kemarahan diwajah cantik kakak ini.


"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu," Jawab Xiu Qixuan dengan senyum tulus.


Xiao Bao tertegun dengan reaksinya, bocah itu kemudian mengalihkan pandangan dan bergumam sendiri, "Tapi ibuku tidak ada, bagaimana ini?"


Xiu Qixuan mendengar gumam-an itu, walaupun dia mengetahui bahwa Xiao Bao sedang bergumam untuk dirinya sendiri.


"Xiao Bao..." Panggilnya


Xiao Bao menolehkan wajah dan menatapnya datar.


"Kau lupa? Jiejie akan merawat dan menjagamu," Ucap Xiu Qixuan dengan yakin dan tulus.


Mata Xiao Bao berkedip sebagai balasan.


"Xiao Bao, bolehkan Jiejie bertanya?" Lanjut Xiu Qixuan dengan permohonan.


Xiao Bao menganggukan wajah pelan sebagai isyarat persetujuan.


"Xiao Bao, apakah kau tahu dimana ayahmu?" Dengan penuh kehati-hati an Xiu Qixuan bertanya.


Hening dan canggung.


Xiao Bao hanya menatapnya datar tanpa jiwa, kedua bola mata itu terus berkedip aneh.


Xiu Qixuan meringis pelan sepertinya dia salah langkah lagi, dengan cepat dia berucap untuk meralat pertanyaannya karena takut sewaktu-waktu anak ini menggila lagi, "Xiao Bao, tidak usah menjawab!" dengan melambaikan tangannya untuk mengintrupsi.


"Aduhh... Sepertinya luka Jiejie tidak dapat ditahan lagi, Xiao Bao tunggulah disini, biarkan Jiejie membalut luka terlebih dahulu." Ucap Xiu Qixuan dengan meringis pelan dan beranjak gelisah melangkah keluar.


Begitu sulit! Xiu Qixuan tidak mengetahui bahwa akan sesulit ini berinteraksi dengan Xiao Bao. Dia sepertinya butuh sebuah strategi, biarkan dia memiliki waktu sejenak untuk memikirkan itu kemudian dia akan berjuang lagi.


Sebelumnya saat berada dibumi Xiu Qixuan sangat handal dalam berinteraksi dan merawat kedua adik kecilnya, tentu saja saat itu tidak bisa dibandingkan dengan hal serumit ini.


Saat berada di ambang pintu, sebuah suara yang seharusnya ditunggu oleh Xiu Qixuan terdengar, "Ayahku tidak ada, aku tidak tahu." Jawaban itu membuat hati Xiu Qixuan bergetar hebat.


Gadis itu membalikan tubuh dan bergegas menghampiri Xiao Bao, dia meraih bahu Xiao Bao dan mecengkeram lembut.


"Xiao Bao, dapatkah kau membantuku?" Tanya Xiu Qixuan dengan penuh permohonan


Xiao Bao terdiam dan menganggukkan wajah.


"Bisakah kau menerima kehadiranku? Jiejie tidak akan menyakitimu, Xiao Bao jadilah anak baik dan kuat agar tidak ada yang menindasmu lagi. Bisakah kau?" Ucap Xiu Qixuan menatap bola mata segelap malam yang sayu itu dengan dalam dan penuh keyakinan.


"Jiejie..." Xiao Bao hanya memanggilnya dengan sebutan itu sebagai balasan.


Xiu Qixuan tersenyum tipis dan mengelus lembut pucuk kepala Xiao Bao, dia mengetahui bahwa jawaban anak ini adalah bentuk persetujuan secara tidak langsung.


••••••••••••


姐姐 : Jiějiě : kakak perempuan


Fyi, semua karakter memiliki perannya masing-masing, salah satunya Xiao Bao mungkin saja dia akan menjadi salah satu faktor utama dalam perkembangan Xuan.


Semua part disini sangat berkesinambungan jadi tidak akan ada bagian yang tidak berguna.