
Setelah mendengar suara sang ayah yang menyadari keberadaannya, Xiu Qixuan melangkah keluar dari balik semak bunga, dan meringis canggung; "Aku tidak berniat menganggumu, ayah. Aku akan pergi sekarang."
Dengan ringan dan sedikit tak acuh, Xiu Haocun melambaikan tangan kembali memerintah. "Kemarilah! Duduk dan temani ayah."
Setelah terdiam sejenak, Xiu Qixuan dengan patuh menghampiri dan duduk di sampingnya.
Suasana di sekitar mereka menjadi lamban. Tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu. Mereka terdiam dengan pikiran yang tenggelam.
Pandangan Xiu Qixuan mengarah, berkilat tertarik pada hamparan padang bunga yang jenisnya tidak dapat dia kenali. Tetapi, dia pernah melihat bunga ini di tanam di dalam pot oleh bibi fines.
Sudut mulut Xiu Haocun terangkat ketika melihat binar penasaran di wajah cantik putrinya. "Bunga Azalea." Ia berkata.
Wajah Xiu Qixuan menoleh, baru saja dia ingin membuka mulutnya, tetapi tiba-tiba terhenti ketika suara Xiu Haocun kembali terdengar.
"Bunga Azalea yang paling di sukai oleh Wen Liu. Dia pernah berkata seperti ini padaku." Suara Xiu Haocun seperti cermin yang memisahkan hatinya dengan dunia. "..... Azalea memang bukan bunga yang mewah, Azalea memang bukan yang terindah, begitu nampak biasa. Azalea hanya bunga liar yang tumbuh di hutan, di bukit-bukit, bahkan di rawa berlumpur."
Dia menatap dalam kearah Xiu Qixuan dan melanjutkan; " Tapi, Azalea adalah bahasa keikhlasan. Walaupun tidak di tanam ia tumbuh, tidak di sirami ia mekar. Tanpa mendapatkan perlakuan khusus dimanapun ia berada, ia tetap bertahan hidup hingga waktunya musim semi tiba, ia memekarkan keindahan dan kekuatan dari pancaran kesederhanaan." Xiu Haocun terjerat oleh gelombang yang memupuk matanya menatap kearah hamparan padang bunga.
Sesuatu melintas di mata Xiu Qixuan, tetapi pada akhirnya, dia hanya mengungkapkan senyum pahit; "Mengejutkan untuk mendengarnya."
Dengan lemah, Xiu Haocun berkata. "Xuan'er, kemarilah." Dia merentangkan kedua tangan menatap penuh harap kearah Xiu Qixuan yang terdiam ragu sebelum akhirnya gadis itu perlahan mendekat dan bersandar di dalam pelukan hangat sang ayah.
Xiu Qixuan dapat mendengar suara lembut Xiu Haocun dari atas kepalanya. "Ayah mengatakan hal-hal seperti itu. Kamu mungkin tidak mengerti. Tetapi, setelah mengingat dan melihat kembali. Keberadaan kamu dan Wen Liu mirip seperti keberadaan Azalea." Dia berkata dengan getaran yang dalam melanjutkan. "Dimanapun kalian berada, kalian tetap bersinar. Tempat seperti apa yang kalian tinggali, kalian tumbuh. Kekuatan dan ambisimu untuk bertahan hidup sama seperti miliknya."
Mendengarkan narasinya diam-diam Xiu Qixuan menahan perasaan sayang. Matanya berkabut oleh rasa haru.
Dua bibir tipis yang hangat tertanam di dahi, Xiu Haocun mencium lembut kening Xiu Qixuan. Ia kembali dengan berat berkata: "Xuan'er, kamu harus melindungi dirimu sendiri. Itu akan sulit dan berbahaya di Istana. Aku tidak bisa melindungimu. Aku hanya berharap kamu bisa aman sepanjang hidup kamu."
Xiu Qixuan melompat terkejut mendengar perkataannya. Matanya berkedip longgar tidak percaya. "Ayah... kamu benar-benar mengizinkanku pergi, 'kan?"
Tangan Xiu Haocun terulur untuk menepuk pelan pucuk kepala Xiu Qixuan. "En.. Aku mempercayaimu. Tapi ingat—kamu harus kembali. Pokoknya harus kalah. Jangan sampai menang dan jangan menikah." Nadanya sedikit menggeram kasar untuk memberi peringatan.
Dengan mendramatis, Xiu Qixuan menjawab. "Siap Jenderal! Putrimu patuh mendengarkan."
Suasana malam yang sepi terganti oleh coletehan ringan dan tawa mereka yang riang. Mereka saling bercerita dan mendengarkan. Walaupun beberapa cerita adalah menyedihkan untuk di katakan, tetapi, perasaan yang saling mengerti membuat mereka paham bagaimana cara menyikapi nya.
Xiu Haocun bercerita pada saat Wen Liu akan di kirim kembali ke Bumi oleh Guru Biyan. Saat itu, dia tidak mengerti bahwa itu adalah perpisahan yang sebenarnya tampak tidak nyata.
"Karena ketika kamu mencintai sesuatu, kamu melindunginya. Itu hal yang paling alami di dunia." Xiu Haocun berkata lebih serius namun ringan memukul titik yang bercelah.
Sepertinya Xiu Haocun tidak mengetahui keterlibatan Dewi Nuwa yang memberi kehidupan pada Xiu Qixuan. Dia hanya mengetahui bahwa itu adalah keajaiban dan pertolongan untuk mengirim istrinya yang merupakan orang asing kembali ke kampung halaman.
Melihat hal tersebut, Xiu Qixuan juga tidak memiliki niat untuk menceritakan tentang keterikatannya dengan Dewi Nuwa.
Ketika topik berganti dan terus bergulir kemudian tiba mengarah pada kenyataan pahit bahwa Qiaofeng sudah tiada. Hati mereka sama-sama terkoyak. Xiu Qixuan baru mengetahui alasan lain mengapa Qiaofeng di kirim ke Desa Kui, yaitu agar mereka yang terpisah dimensi tetap terhubung. Itu sangat memukul batinnya merasa bersalah.
Xiu Qixuan juga menceritakan tentang dirinya dan apa yang dia ketahui mengenai Qiaofeng. Mengenai keberadaan jasad Qiaofeng yang sudah melebur karena rahasia kelahiran mereka. Mengenai si kembar Xia Zhiwen dan Xia Zhishu yang ditinggalkan sang ibunda.
"Secara mengejutkan bahwa ayah yang terlihat masih gagah di medan perang ini sudah memiliki tiga orang cucu." Xiu Qixuan berseru dengan sedikit meledek. "Seorang kakek tua!"
Xiu Haocun menjentikkan jari nya di dahi Xiu Qixuan sampai memerah. "Huh, apa katamu!?"
Dengan meringis, Xiu Qixuan menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Ayah masih tetap tampan walaupun tua. Sungguh!"
Xiu Haocun tajam memelototinya, dari kalimatnya saja kita bisa tahu bahwa Xiu Qixuan belum jera dan terus mengeluarkan ejekan.
Dengan hati yang puas, Xiu Qixuan balas terkekeh dan segera bangkit sembari melihat langit malam. "Sudah sangat larut. Kalau begitu aku pamit untuk kembali, ayah." Dia memasang postur membungkuk.
"Ayah akan membangun papan peringatan kematian untuk Qiaofeng." Xiu Haocun berkata memberitahu.
"Ah, iya. Tapi bagaimana kita menjelaskannya dengan orang luar? Da'ge juga sepertinya belum mengetahui detail terkait ini, 'kan." Xiu Qixuan bertanya dengan berat.
"Jangan khawatir. Ayah akan mengurusnya. Lagipula kuil leluhur tidak dapat di masuki orang lain selain keluarga inti saja." Xiu Haocun berkata menjelaskan.
"Sangat bagus, aku mengerti. Qiaofeng pasti senang. Nanti kita bersama-sama berdoa untuknya." Xiu Qixuan menanggapi dengan tersenyum cerah. Dia merasa bahagia, seolah-olah beban di hatinya perlahan-lahan sedikit demi sedikit terangkat. Walaupun kenyataan yang dia ketahui lebih pahit dan rumit. Tetapi, ketika berbicara dan saling mengerti dengan sang ayah—itu cukup menenangkan kegelisahannya selama ini.
"Ya, kembali dan beristirahatlah. Ayah akan mengantarmu besok ke perjamuan Guifei niang niang." Xiu Haocun berkata dengan tenang namun menyembunyikan sirat kecemasan ketika berbicara mengenai Wei Guifei.
"En... Baiklah, sampai jumpa besok ayah!" Xiu Qixuan mengangguk berpura-pura tidak tahu, dia melambaikan tangan dan segera berbalik dengan langkah cepat melupakan sedikit etiketnya dia keluar dari kebun bunga.
•••••••••••••••