Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kembali & Tidak Ingin Meninggalkan



Tiga Minggu Kemudian


Dibawah langit malam yang dingin, sesosok kecantikan yang dibalut gaun seindah bunga sedang berdiri menatap langit yang perlahan muram, resah dan gelisah.


Bertanya-tanya untuk siapa dia menjadi lembut, untuk siapa dia berlelah. Berpikir tidak akan kembali bertemu.


Langkahnya berirama menyusuri koridor dimana tempat ini adalah tempat tertinggi dan salah satu tempat istimewa untuk melihat taburan bintang diatas langit.



Siapa yang menyangka bahwa Nanbao menjadi tempat pertama petualangannya, tempat pertama menerima kehangatan cintanya, tempat pertama untuk mengukir ceritanya.


Tetapi dia tidak dapat menetap selamanya disini karena masih banyak hal yang harus dia lakukan.


Samar-samar suara musik yang lembut terdengar dari segala arah, suasana Nanbao menjadi sangat ramai dan meriah.


Acara penobatan Kepala Suku berlangsung sore hari dan memiliki perjamuan dimalam hari.


Saat ini Xiu Qixuan pergi keluar untuk mengasingkan diri dari suasana yang menyesakkannya.


••••••••••


Disisi lain


Kelopak mata yang dihiasi sepasang bulu mata lentik mengerjap bak sayap kupu-kupu yang mengepak.


Ketika kedua mata itu terbuka, terlihat tatapan tajam bak mata elang milik seorang pria tampan nan gagah.


Dia terbangun dan menyesuaikan cahaya yang bersinar dari lampu minyak disekitar ruangannya.


Tubuhnya masih lemah tetapi kemeriahan diluar ruangan seperti menarik pikiran dan tubuhnya untuk bergegas keluar.


Dengan langkahnya yang begitu limbung, dia perlahan keluar dari balik pintu bangunan besar.


Dua pelayan dan satu orang penjaga sedang berbincang sambil meminum beberapa gelas arak seperti sedang merayakan seseuatu.


"Setelah sekian lama akhirnya Nanbao kita memiliki perayaan lagi," Ucap pengawal itu


"Benar, kita sudah menunggu sangat lama. Kepala Suku kita yang sekarang sangat bijak dan berbelas kasih," Timpal salah satu pelayan


"Ya, kurasa itu pengaruh dari pendamping wanita. Sehabis penobatan akan ada perayaan pernikahan, langit memberkati Nanbao."


"Kepala Suku sangat dermawan dan calon Nyonya Besar sangat cantik,"


Sebuah suara mengintrupsi pembicaraan mereka, "Siapa calon Nyonya yang kalian sebut?" Tanyanya tajam.


"Tuan Muda Sima, kau sudah sadar." Ucap mereka gelagapan.


"Siapa calon Nyonya Besar?" Tanyanya sekali lagi, tidak perlu menanyakan lagi siapa Kepala Suku kalau bukan Aisin Tianyi, tetapi yang perlu ditanyakan adalah siapa calon Nyonya Besar karena Aisin Tianyi seharusnya belum memiliki pasangan.


"Eum, itu Tuan Muda." Ucap pelayan wanita itu gelagapan karena ditatap tajam oleh Sima Junke dan terlalu ditekan.


Pengawal yang bersama mereka menolehkan wajahnya dan tidak sengaja melihat seseorang melintas, "Nona Xiu," Gumamnya pelan.


Sima Junke terbelalak saat mendengar ucapan pengawal itu, jantungnya berdetak kencang, segala jenis ketakutan dan kekhawatiran melingkupinya, dia dengan cepat berusaha berlari keaula besar.


Pengawal itu mengerutkan kening bingung dan berteriak, "Tuan Muda.. Tuan Muda.. Kau ingin kemana?"


Pengawal itu menolehkan wajah kearah dua pelayan wanita yang bersamanya, "Kitakan belum menjawab, kenapa Tuan Muda berlari?" Tanyanya begitu polos menggaruk kening.


"Bodoh, kau berucap memanggil nama Nona Xiu." Balas pelayan itu mendecak lidah dan menggelengkan wajah diiringi tatapan kasihan.


•••••••••••••


Sima Junke berlari dengan tergesa dan napasnya memburu hebat, dia baru tersadar dari tidur berkepanjangan, tubuhnya begitu lemas tetapi siapa yang perduli saat gadisnya dicuri.


Tergopoh-gopoh memaksa masuk kedalam aula besar, dia menerobos masuk dengan menghantam keras pintu besar dan semewah banyak permata.


'Brakk,' Suara hantaman itu membuat semua tamu mengalihkan pandangan dan suara musik terhenti.



Hiasan dari batu ruby dan emas melingkari dahinya sebagai mahkota dan pengingat status kekuasannya dalam dataran Nanbao.



Sima Junke dengan tergesa berlari dan mencengkeram erat kerah pakaian yang dikenakan pria tersebut.


Dengan kemarahan dia memukul rahang pria tersebut, dan berteriak penuh kemarahan "Tianyi br*ngsek, dimana Xuan'er? Kembalikan dia padaku,"


Tindakannya membuat semua orang yang berada diaula berdiri karena terkejut.


Aisin Tianyi mendorong tubuh Sima Junke dengan kasar dan balas berucap kesal, "Kau ini masih bermimpi, ya?"


Ucapan Aisin Tianyi malah semakin membuat guncangan dihati Sima Junke, "Kau merebutnya dariku, pengecut!" Ucapnya dengan amarah.


"Apasih maksudmu?" Tanya Aisin Tianyi dengan kesal karena tidak mengerti.


"Tidak usah berpura-pura lagi," Sentak Sima Junke berusaha menerjang Aisin Tianyi dengan pukulan.


Tetapi sebuah suara menghentikannya, "Tuan Muda Sima, kau mencari Nona Xiu? Nona Xiu sedang menikmati angin dan langit malam dialtar bintang." Ucap suara seorang wanita mengalun.


Sima Junke menolehkan wajah dan melihat Zhai XinXin mengenakan pakaian pendamping Kepala Suku.



Kebingungan melanda, dahinya mengerut penuh pertanyaan. "Kau?" Tanya Sima Junke pelan.


Seakan mengerti Zhai XinXin tersenyum dan terkekeh pelan, "Tuan Muda Sima sepertinya sudah salah paham. Aku yang akan menikah dengan A Tian. Nona Xiu begitu setia menjaga dan menunggumu siang dan malam," Ucapnya


Mendengar itu Sima Junke terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengus malu dan tanpa sepatah kata berbalik pergi. Semua orang yang berada diruangan menahan senyum dan hanya menggelengkan wajah pelan.


••••••••••••••••


Cahaya bulan dan bintang bersinar dengan gemerlap, Sima Junke dapat melihat punggung ramping seorang gadis dengan rambutnya yang panjang menjuntai menyerupai gulungan sutra hitam dibawah sinar bulan dia tampak seperti teratai yang mekar di sungai, yang cantik dan tenang.


"Xuan'er," Panggil Sima Junke dengan pelan sehangat musim panas dan menyejukan seperti musim gugur.


Punggung milik sosok mungil itu menegang dan jantungnya berdetak kencang. Suara yang begitu dia rindukan ini!


Perlahan dia berbalik dan melihat sosok yang berdiri kokoh beberapa langkah didepannya.


Seperti hutan belantara yang membakar hatinya padam, digantikan dengan seribu bunga yang mekar dimusim semi. Melihat sosok yang dia tunggu berdiri kokoh dan menatapnya dengan pandangan sayu membuat semua hal disekitar seketika menjadi sunyi dan tak berarti.


Dia mengira tidak akan dapat bertemu kembali dengan pria ini, karena dia harus kembali dan juga semua hal sudah selesai ditangani, kakak keduanya sudah hampir menyeretnya pergi tetapi dia masih bersikeras untuk menunggu sosok ini terbangun dari tidur panjang.


Dalam kurun waktu tiga minggu tujuan awalnya untuk menetap sudah tercapai, tetapi bagaimana bisa dia meninggalkan pria ini begitu saja? bagaimana bisa dia menghilang setelah semuanya? bagaimana bisa dia menjadi acuh dan membiarkan perasaannya berlalu?


Dia juga sudah berjanji untuk menemani pria ini menemukan semua jawaban dari segala pertanyaan.


Mata mereka terkunci satu sama lain dan dalam seperti sumur yang mengalir jernih, begitu menyejukan dan diterpa kehangatan membuat jantung berdetak tak karuan.


"A Jun," Suaranya pelan dan menggelitik membuat Sima Junke berlari untuk mendekapnya.



Tidak ada setetes airmata yang mengalir hanya ada kelegaan dan perasaan yang membuncah hebat, mereka memejamkan kedua kelopak matanya dan menikmati semua perasaan hangat ini.


"Xuan'er, aku mencintaimu." Ucapnya yang mengalir merdu seperti musik lembut yang mengalun indah.


Sudah banyak waktu berlalu dan dia tidak ingin hanya menunggu untuk mengungkapkan semuanya.


Saat diambang kematian, gadis inilah yang menjadi penyesalan tetapi juga merupakan sebuah berkah. Dia sebelumnya melewatkan kesempatan, dan sekarang dia tidak ingin melewatkannya lagi.


•••••••••••••••


Ntr ku kasih flashback 3minggu sebelumnya. *Ga nyangka Tianyi sm XinXin wkwk, rusuh tuh pasti rumah tangganya, satu demen jahil satunya lagi agresif saat marah***😂**


yang bertanya-tanya Xuan kapan pulang ke Shen, nnti dia pulangnya tpi bukan dri Nanbao. tungguin aja deh ya, authornya juga gasabar greget sendiri:v


Btw A Jun pasti malu banget itu udh mukul A Tian tapi ternyata salahpaham:)