
Malam dimusim dingin dapat kita bandingkan dengan hatinya yang membeku. Dia tidak lagi serakah akan kehangatan, setelah melarikan diri dari krisis yang menyakitkan.
'Ugh..' Diatas ranjang yang tertutup kelambu dapat terlihat seorang gadis cantik sedang gelisah dalam tidurnya. Perlahan kelopak mata berbulu lentik itu terbuka untuk menampilkan sepasang kelereng hitam yang jernih.
Dia menatap kosong kearah langit-langit ranjang yang terbuat dari kayu cendana berkualitas tinggi dengan ukiran yang mencuat indah.
Ini terlalu sunyi sampai suara semilir angin ataupun guyuran salju yang berjatuhan diluar sana dapat terdengar dari dalam kamar tidur.
Walaupun wajah cantik itu berekspresi datar, kita dapat merasakan pancaran kelelahannya. Berapa banyak yang sudah dia lalui?
Pada akhirnya, tahun-tahun berlalu sejak kedatangannya. Sepanjang jalan ia selalu berpikir untuk kembali pulang dengan mengendarai angin yang merupakan suatu ketidak-mungkinan.
"Ya, seolah kamu tidak memerlukan orang lain. Kau tahu, menikmati kesendirian itu terasa aneh." Perkataan orang itu terus melayang mengisi benaknya, membuat sesuatu yang tersembunyi dalam jiwanya bergetar hebat.
Menyebalkan. Mengapa ia menghindar dan terburu-buru pergi ketika mendengar sesuatu yang memang seharusnya didengar?
Itu perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh seorangpun sebelumnya. Tidak ada yang pernah tahu jenis perasaan asing yang sepi dalam sepanjang langkahnya di dunia ini.
Xia Qian Che, pria itu memiliki mata setajam elang dan hati yang sepeka luasnya lautan. Mungkin ia memang ditakdirkan menjadi seorang Kaisar yang bijaksana. Memahami keinginan para rakyatnya ataupun mengetahui maksud terselubung para menterinya.
Xiu Qixuan mengakui kemampuannya tersebut. Seolah sebagian dari dirinya sudah dapat terbaca oleh Xia Qian Che dengan begitu mudah.
'Srek..' Mata yang sedang memandang kosong tersebut tiba-tiba bergetar menjadi kilatan tajam. Tubuhnya sedikit menegang ketika indra pendengarannya menangkap pergerakan asing dari luar jendela kamar tidur.
Dibalik selimut jari-jari lentiknya mengait membentuk sebuah kepalan erat. Dia melirik sekilas kearah jendela yang terlihat samar karena ranjang tertutup tirai kelambu dan juga pencahayaan dimalam hari bersinar terlalu redup.
Ugh, entah mengapa ini sungguh memuakan baginya. Pertarungan, penyergapan, penyusup, pembunuhan. Sudah berapa banyak genangan darah yang tersisa?
'Swoossh..klakk...' Angin yang berhembus kencang membuat jendela kamar tidur perlahan terbuka lebar. 'Tap..tap..' Suara langkah kaki yang sengaja disamarkan tetap terdengar dalam kesunyian ruangan.
Xiu Qixuan memejamkan kelopak matanya dengan tenang. Ia tidak sedikitpun gemetar ketakutan karena hanya ada sirat kelelahan yang tertahankan.
Hawa pembalasan dendam yang tidak asing ini membuatnya dapat menebak siapa penyusup yang berani masuk kedalam kamar tidurnya.
'Srett..' Tirai kelambu yang menghiasi ranjang menjadi pengganggu bagi aksi penyusup tersebut. Itu ditiadakan dengan cara sedikit merobeknya.
Ini adalah aura gelap yang menguarkan kesuraman, terasa dapat mencekik manusia sampai ujung jurang kematian.
Sosok dalam kegelapan itu dengan cepat mengeluarkan belati bermata tajam yang dapat mengoyak tulang dan daging.
Tanpa sedikitpun rasa panik, Xiu Qixuan masih bernapas dengan tenang diatas kepura-puraan, seolah ia memang benar-benar sedang jatuh tertidur lelap. 'Sring..' Belati yang berkilat tajam perlahan bergerak dengan cepat untuk mengoyak tepat kearah jantung miliknya berada.
Hening.
'Woosh..' Semilir angin dari ayunan belati itu terhenti mengambang diudara. Terhenti tepat hanya tinggal beberapa inchi jarak untuk mencapai tujuan aslinya. Terhenti diatas tubuh gadis cantik yang terlelap bak putri tidur.
"Cih, sial.." Jejak keraguan yang lagi-lagi timbul terasa menjengkelkan membuat sosok dalam kegelapan itu menggeram kesal. Urat-urat ditangannya dapat tercetak jelas ketika ia menggenggam kuat senjata belati miliknya.
Melirik sekilas tepat kearah mangsanya berada, tanpa sadar ia jatuh tertegun untuk terus memperhatikan guratan wajah cantik yang terlukis polos nan indah.
'Greb..' Tiba-tiba jari-jari mungil yang berada dibalik selimut mencuat keluar untuk meraih erat lengannya yang memegang belati.
Dengan perlahan kelopak mata berbulu lentik terbuka seiring ia berkata, "Iblis Zi, kau ragu." Suara renyah milik Xiu Qixuan yang terdengar tenang namun tajam. Sejak awal dia sudah mengenali ketika merasakan pancaran aura iblis yang sudah tidak asing lagi.
Semilir angin berhembus masuk melalui celah jendela kamar tidur yang terbuka. Tirai kelambu ranjang bergelombang tertiup udara dingin. Cahaya bulan menyinari redupnya ruangan.
Terlihat sosok berjubah yang memiliki rambut hitam legam diikat dengan batu giok berwarna perak dan mutiara merah yang langka. Wajahnya tampan, namun sepasang matanya memancarkan udara suram pembunuhan yang mencekik. Itu adalah Mozi yang sedang berdiri ditepi ranjang dengan postur sedikit merunduk.
Selama beberapa saat, mata mereka saling mengait satu dengan yang lain membuat kilatan tajam yang mengandung gelenyar perasaan aneh.
"Haa, sayang sekali." Ucap Xiu Qixuan dengan ambigu sembari menghela napas kecil. Ia masih mencengkeram erat lengan Mozi dengan sedikit kekuatan menahan gerak pria berhawa suram ini.
Mendengar perkatan tersebut membuat Mozi menggeram penuh ledakan amarah. "Brengsek! Kau pikir bisa lolos setelah berani melukaiku?!" Sentaknya.
Xiu Qixuan mengangkat sebelah alisnya dengan sirat mata yang mencibir, "Tentu saja, tidak. Bukankah sudah jelas kau datang ingin membalaskan dendammu. Dan aku menunggu dengan memberikanmu kesempatan, tetapi, sungguh disayangkan karena kau tidak melakukannya dengan benar." Ucapnya sembari memandangi wajah Mozi dengan acuh tak acuh.
'Plakk...' Mozi menepis kasar jari-jari lentik milik Xiu Qixuan yang mencengkeram erat lengannya. "Gadis sialan! Tanpa kau memberi kesempatan pun aku pasti dapat membunuhmu." Teriak Mozi penuh amarah yang menekan. Belati digenggamannya bergetar seiring gerakan menghunusnya yang tajam berniat untuk mengoyak kulit leher seputih salju itu.
Xiu Qixuan tersentak.
Dari sudut ekor matanya, ia melirik sekilas kearah belati yang sudah bersiap memotong tenggorokannya. "Kamu sungguh tidak tahu apa arti kata penyusup, ya?" Ucap Xiu Qixuan dengan tenang dan tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Sentak Mozi kesal.
"Berteriak sekeras itu, bagaimana kalau penjaga kediaman masuk untuk menangkap penyusup sepertimu." Suaranya yang jernih begitu damai bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada diambang kematian.
Seperti tersadar, Mozi kembali memasang pancaran hawa pembunuhan yang gelap. 'Pfst..' Belati tajam itu sudah menyentuh kulit Xiu Qixuan dengan penuh ancaman yang khusus. "Heh, sungguh cerdas. Kau sengaja mengulur waktu, ya?!" Gema suaranya yang arogan mencibir penuh hinaan.
"Tidak." Xiu Qixuan balas tersenyum yang membuat matanya berbinar dan wajahnya bersinar. "Silakan, lanjutkanlah pembalasan dendammu." Ucapnya ringan kemudian memejamkan mata seolah begitu pasrah tak berminat sedikitpun untuk melawan kematian.
Ekspresi Mozi sedikit goyah, dia menggertakan gigi dengan berkilat dingin. "Kau—, kau mengapa terdiam?!" Geramnya karena tak pernah membayangkan reaksi seperti ini dari sang calon korban.
Xiu Qixuan membuka salah satu kelopak matanya untuk mengintip, terlihat gambaran ekspresi Mozi yang sedang kebingungan. "Ck, jangan banyak tanya. Anggap saja aku sudah lelah hidup. Jadi cepatlah." Jawabnya santai.
Gadis itu sedang berusaha menahan senyum kemenangan. Ya, sebenarnya ini adalah caranya untuk menggoyahkan lawan. Tidak menggunakan kekuatan, tetapi, pengetahuan.
Membaca sifat lawan itu termasuk pelajaran khusus yang harus ia ketahui sebagai anggota Divisi Rubah. Kemampuan seperti itu sungguh berguna untuk menekan langkah demi langkah yang harus diambil.
Mozi, pria ini memiliki kepuasan dengan mempermainkan orang-orang yang lebih lemah dibawahnya. Semakin orang itu ketakutan dan menunjukan kelemahan, semakin puas ia menyiksa untuk bermain.
Karena itu sebaliknya, Xiu Qixuan tidak gemetar ketakutan ataupun memilih untuk melawan secara terbuka. Ah sungguh, sebenarnya Xiu Qixuan dapat melawan. Hanya saja, ia terlalu malas bergerak.
Walaupun aksinya ini terbilang cukup nekat, tetapi, sejak awal ia sudah bersiap mengeluarkan senjata rahasia.
"Mengapa? Tidak seru karena aku tidak memohon?" Tanya Xiu Qixuan dengan tajam. Perlahan ia membuka kelopak matanya untuk menatap lurus kearah Mozi.
Mozi tertegun sejenak.
'Urgh..' eluhnya.
Ya, ini tidak mengasyikkan. Kalau dibunuh begitu saja akan terasa kosong. Pikir Mozi.
"Baiklah, kuberi sisa waktu hidup untuk kau miliki. Coba nikmatilah apa arti hidup, dan aku akan kembali lagi nanti untuk mencabutnya." Ucapnya arogan dengan cepat menyimpan kembali belatinya.
Keputusannya dapat tertebak dengan jelas. Ia ingin Xiu Qixuan menikmati kehidupan sampai tidak ingin raga dan jiwa terpisah oleh kematian. Mungkin pada saat itu ia dapat menyaksikan bagaimana gadis ini memohon.
Oh tetapi, Xiu Qixuan adalah tipe orang yang perhitungan. Tentu saja, ia bahkan tidak dapat membiarkan kejadian ini berlalu dengan mudah. Entah apa yang sekarang dia rencanakan.
"Tidak bisa!" Sentak Xiu Qixuan terburu-buru beranjak untuk menarik lengan kokoh Mozi yang berusaha menjauh. "Aku tidak butuh kemurahan hatimu!" lanjutnya sinis.
Mozi tercengang.
"Hey, kau gadis aneh!" Geramnya dengan menepis kasar genggaman erat Xiu Qixuan, tetapi, tentu saja gadis itu tidak ingin mengalah. Mereka saling tarik-menarik seperti membuat pertarungan dalam diam yang cukup intens.
Tiba-tiba, 'Srukk..' Tubuh Mozi terjatuh tepat diatas tubuh mungil Xiu Qixuan. 'Deg..' Mata mereka saling bertubrukan bahkan suara napas mereka dapat terdengar saling mengisi irama yang lembut.
Posisi ambigu yang mendebarkan. Suasana yang melodramatis. Tetapi...
'Patss...' Itu adalah sebuah jarum yang terlumur racun pelumpuh mematikan. Xiu Qixuan memasang senyuman sinis penuh ejekan.
"Kau—," Terjeda Mozi perlahan tubuhnya kaku seperti batu yang mengeras.
'Brukk..' Ia mendorong kasar tubuh Mozi dengan benturan keras jatuh kelantai.
•••••••••••••••
Pada saat ini, terlihat seorang gadis terduduk didepan kaca perunggu dengan para pelayan disekitarnya terlihat begitu sibuk menyiapkan keperluan merias wajah. Dapat dipastikan dia adalah majikan yang berstatus tinggi.
'Hoam...' Dia menahan kantuk dengan matanya yang sedikit sembab.
"Nona, apakah tidurmu tidak nyenyak?" tanya seorang pelayan peringkat perak.
Ia melirik sekilas kearah pelayan tersebut untuk menjawab; "Ah, ya. Ada iblis hitam pengganggu yang membuatku terjaga." dengan sirat ambigu yang tidak jelas.
Ya, perkataannya termasuk fakta. Memang kehadiran iblis berjubah hitam begitu mengganggunya semalam. Tetapi, untuk sementara waktu ia dapat menghela napas tenang. Karena mungkin saat ini, iblis itu sedang terkena demam dingin dan tak dapat bergerak.
Racun pelumpuh memang tidak cukup berguna karena dapat cepat dinetralkan dengan aura iblis. Tetapi, jarum yang dikenakannya menggandung energi kehidupan yang dimana akan berbenturan dengan aura iblis.
Mungkin sama halnya dengan sakit yang dirasakannya akibat benturan energi kemarin. Anggap saja itu karma pembalasan dendam.
Xiu Qixuan, tadi malam gadis itu mencoba kemampuan dasar teleportasi untuk menggeletakan tubuh Mozi dipinggir jalan begitu saja. Sungguh kejam, tetapi, terasa menyenangkan.
Tanpa sadar, ia dapat terkekeh sendiri ketika mengingat kembali ekspresi Mozi yang mempelototinya dengan tajam ketika ditinggalkan tak berdaya dipinggir jalan seperti seorang tunawisma.
Tiba-tiba suara tidak asing mengintrupsi imajinasinya akan kejadian lalu. "Nona, kemarilah." Itu adalah Xiao Leng yang terdengar begitu bersemangat. "Cobalah, pakaian ini edisi terbatas untuk dikenakan saat perjamuan malam nanti."
Baiklah, mari kita bersiap untuk ******* baru yang harus dilaluinya.
•••••••••••••••