Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Buritan Kapal



Matahari telah sepenuhnya terbenam dan kegelapan berangsur menutupi langit.


"Nona ketua, anda datang!"


Itu adalah awak geladak kapal yang menyambut kedatangan Xiu Qixuan dengan ramah di dalam kabin.


"Ya, aku akan ikut berlayar bersama kalian sampai di pelabuhan kecil dekat perbatasan antara Shen dan Xia Utara. Tolong sampaikan pada Kepala Pengemudi."


Kata Xiu Qixuan dengan tenang berjalan di sepanjang lorong kabin kapal menuju sebuah kamar yang dibuat khusus untuknya.


"Saya mengerti. Mohon tunggu sebentar, Nona ketua. Kami akan segera menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk segala kebutuhan anda." ujarnya dengan sopan.


'En.' Xiu Qixuan berdeham malas kemudian langkahnya berbelok menuju kearah lain sebelum dia kembali berkata kepada awak geladak kapal tersebut.


"Tidak perlu berlebihan. Dan, oh iyaa.. panggilkan Wan Pei untuk segera menemuiku."


"Baik, saya pamit terlebih dahulu."


Awak geladak kapal tersebut segera menunduk hormat kemudian berbalik pergi menuju kearah yang berlawanan.


Berjalan seorang diri, Xiu Qixuan melangkah sampai di buritan kapal yang cukup luas. Dia terlihat sudah familiar dengan seluk beluk tempat ini.


Kapal Fengxuan adalah kapal dagang yang berlayar atas nama bisnisnya seorang. Ini adalah salah satu aset kepemilikannya sendiri tanpa berkaitan dengan organisasi ataupun Xiu Huanran.


Toko-toko yang di kembangkannya bersama oleh Xiao Rou itu maju cukup pesat. Dan, pendistribusian barang akan lebih leluasa jika melewati jalur laut.


Kapal Fengxuan adalah salah satu dari sekian banyak peran penting dalam bidang pendistribusian dengan mengangkut semua barang tersebut kepelosok penjuru, hal ini sangat membantu untuk memperluas bisnisnya.


Kedua kaki Xiu Qixuan terus melangkah sampai pada pinggir celah pagar pembatas yang mengelilingi buritan kapal, itu membatasi lautan luas yang berombak dibawah sana.


Angin laut di awal musim semi berhembus dingin namun diselimuti rasa nyaman yang tenang.


Rambut hitamnya berkelip indah dibawah sinar rembulan yang membentang, seperti ekor yang tertiup angin.


Dia mengangkat kepalanya untuk melihat konstelasi bintang yang berkelip-kelip di cakrawala redup.


Menatap langit malam dengan memorandum yang sayu. Itu sangat tidak cocok dengan keindahan yang sudah di perlihatkan oleh sang langit.


Dia terlihat begitu lelah tanpa semangat yang dimiliki seorang manusia muda. Begitu lesu dan kaku seperti patung yang terbuat dari tanah liat.


Klise memang, tetapi emosi dan seluruh tenaga nya terkuras habis dalam perjalanan yang tak seberapa ini.


Pertemuan yang selintas tapi membuatnya sedikit goyah.


Dan, saat perjalanan menuju rumah Rui Mengjia. Kangjian tetap berwaspada dengan mengirim seseorang untuk mengawasi dan mengikutinya.


Memerlukan sedikit waktu untuk menyingkirkan mata dan telinga tersebut.


Xiu Qixuan menundukan wajah dan menatap hamparan yang menjadi tempat dimana hampir ratusan kapal yang terdiri dari kapal penumpang, kapal dagang, perahu kecil dan perahu nelayan berlabuh dengan sejajar.


Ini masih berada di armada pelabuhan.


"Wan Pei memberi salam hormat kepada Nona ketua."


Sebuah suara dari arah belakang menyapa dengan sopan dan penuh rahmat.


"Tegakkan tubuhmu, Wan Pei. Kemarilah!"


Kata Xiu Qixuan dengan melirik lawan bicaranya sekilas namun nada suaranya menjadi terkesan melembut samar.


"Ya, terimakasih Nona."


Seorang pria muda bertubuh kurus dan berkulit kasar dengan pandangan yang sayu terlihat begitu ringkih. Dia adalah Wan Pei, seorang pria berusia belasan yang menjadi salah satu kaki tangan untuk menangani berbagai urusan bisnis perdagangan.


Sebelumnya Wan Pei adalah sarjana petani miskin. Pria itu terlilit oleh hutang dari sanak keluarganya yang membuatnya tak dapat pergi ke Ibukota untuk menjalani ujian kekaisaran.


Intinya itu adalah pertemuan klise untuk menemukan bawahan yang berdedikasi.


"Mengapa anda tidak memberi kabar pada saya jika akan datang untuk ikut berlayar?" ujar Wan Pei dengan nada heran.


"Ya, ini kebetulan dan sekalian lewat saja. Aku lagi malas menunggang kuda." jawab Xiu Qixuan dengan take acuh.


"Seseorang datang ke pelabuhan merupakan sesuatu yang kebetulan, ya." ucap Wan Pei dengan sindiran.


'Ckk...' Xiu Qixuan mendecak lidah dengan menyipitkan matanya tajam.


"Wan Pei, aku memanggilmu bukan untuk mendengarkan omong kosong." katanya dengan nada rendah penuh tekanan.


Wan Pei meringis dengan cepat berdeham serius. Nona-nya sudah kesal dan dia tidak dapat lagi melanjutkan godaannya.


"Baiklah, Wan Pei. Laporkan semua pembukuan. Dan, aku ingin memberitahumu bahwa aku merekrut seseorang yang dapat membantu pendistribusian kalian saat kemudian hari mendarat di Pelabuhan Xicheng."


Xiu Qixuan berkata dengan lugas penuh ketegasan yang serius milik seseorang pemimpin.


"Perekrutan seseorang?" gumam Wan Pei mengulangi.


"Ya, tenanglah. itu seseorang yang kukenal." jawab Xiu Qixuan dengan segera.


Xiu Qixuan secara resmi mengundang suami dari Rui Mengjia yang memang sedang kesulitan keuangan untuk bekerja dibawah kendali bisnisnya.


Itu mungkin sebagai bentuk balas budi atau mungkin sebagai bentuk perlindungan yang ingin dia berikan kepada sepasang kekasih yang menginspirasinya tersebut.


Mata Xiu Qixuan berkerut penuh ketidaksenangan ketika dia berkata keras. "Sepertinya kau tidak mendengar kalimat pertamaku, ya? Segera laporkan isi pembukuan!"


Wan Pei mengerjap sadar dengan tergagap menjawab, "Aiyaa... bersabarlah sedikit, nona ketua."


••••••••••••••


Hari sudah menunjukan waktu tengah malam. Mesin kapal berderu dengan guncangan ombak ringan.


Kabin yang ditempati oleh Xiu Qixuan membentuk sebuah kamar kecil, terlihat begitu nyaman karena terdapat sebuah ranjang di dalamnya dengan bangku juga meja kerja pribadi.


Cahaya bulan masuk melalui bingkai jendela dengan redup menerangi ruangan kabin tersebut.


Pada saat ini, Xiu Qixuan sedang terduduk diatas ranjang dengan kedua tangannya yang berkutat untuk membuka kotak kayu kecil yang dia dapatkan dari Rui Mengjia.


'Klik..'


Kotak kayu tersebut terbuka menampilkan sebuah sampul buku berwarna coklat tua yang terbuat dari helaian kulit binatang.


Tangan Xiu Qixuan terulur meraih buku tersebut. Ini benar sebuah jurnal harian pribadi yang di tulis langsung oleh Rui Jizhang.


Xiu Qixuan menarik napas dalam-dalam. Entah mengapa dia merasa begitu berat untuk membacanya.


'Haa..' Xiu Qixuan menghela napas kemudian setelah mengumpulkan segala macam keberanian dia membuka lembar demi lembar buku tersebut.


^^^Tahun 153 Bulan Ketiga Kalender Kekaisaran.^^^


Pangeran Zhenning terdesak dengan ambisinya untuk menjadi utusan Kekaisaran Shen dalam diplomasi dengan Sekte Xitian. Pangeran merupakan salah satu yang berada dalam kandidat suksesi yang memumpuni hak atas takhta. Keluarga Rui mendukungnya dengan segenap kekuatan.


Wajah Xiu Qixuan mengeras dengan raut yang begitu serius membaca kalimat demi kalimat.


'Rui Jizhang yang saat itu menulis ini tidak akan tahu, —bahwa dalam beberapa tahun kemudian Keluarga Rui menemui kejatuhannya di tangan pangeran yang mereka dukung untuk menjadi kaisar.' dengusnya dalam hati.


•••••••••••••••••


hihi siap2 loh, ya...