Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Menggiring Harimau?



"Tck..., Su Yiyang. Aku tadi memperingatimu untuk berhati-hati agar tidak bertemu harimau. Eh, kau malah dengan bodoh menggiring harimau nya sampai kemari."


Xiu Qixuan mendecakan lidah seraya menggelengkan wajahnya. Dia memandang Su Yiyang penuh atensi mengerikan.


"Ini bukan salahku." Ungkap Su Yiyang dengan nada mengeluh berkata, "Dia mengancam akan memanggil penjaga istana!" Memasang wajah seakan begitu tertindas, Su Yiyang mengutarkan ketidak-bersalahannya.


Menghela napas kasar. Saat ini Xiu Qixuan fokus memandang sosok pirang yang sedang terduduk menikmati kuah sup ikan dengan begitu nyaman seolah-olah semua ini adalah miliknya sendiri.


Si pirang, Shen Kaicheng, tiba-tiba mengangkat pandangan polos kala merasakan tekanan hawa dingin menembus tubuhnya. Dia melihat sepasang mata tajam yang membawa jejak pengawasan ketat sedang memandang sinis kearahnya, itu berasal dari dua gadis yang sedang berdiri sejajar di seberang api unggun.


Dengan menampilkan tingkah seperti itu, mereka malah terlihat menggemaskan. Ini seperti dua kucing garong yang sedang menahan diri untuk tidak mencakar musuh mereka yang sudah berani mencuri ikan.


Menahan ringisan geli. Shen Kaicheng tersenyum kecil, Ia kemudian menoleh pada Duan Maiqiu dan Yao Anran yang terduduk di sebelah kanannya, mereka sedang sibuk membakar ikan.


Bukan maksud hati untuk membandingkan, tapi Shen Kaicheng juga memiliki mata untuk menilai. Kedua gadis yang terduduk di sebelah kanannya ini cenderung lebih pendiam dan semua gerakan yang mereka perlihatkan memancarkan keanggunan seorang wanita bangsawan. Dan, yang terpenting sepertinya mereka lebih mudah untuk diajak kompromi.


Sebenarnya Shen Kaicheng juga menyimpan banyak minat penasaran akan apa yang sedang dilakukan keempat gadis ini.


"...Apakah ini jenis kebiasaan baru para nona bangsawan muda? Memasak tengah malam di ruang terbuka."


Membuka suaranya, Shen Kaicheng berbicara dengan ritme miring yang menyebalkan. Kalimat ini seperti dia sedang merendahkan hobi yang dimiliki para gadis muda.


Tersinggung oleh perkataan yang di lontarkan Si Pirang.


Wajah Xiu Qixuan berubah menghitam serius. Ia mengernyitkan dahi, "Kenapa...? Apakah ini tidak pantas untuk di lakukan seorang nona muda?" Sahutnya dengan mendengus tak senang kala dia berjalan maju dan menghempaskan tubuhnya kasar ke batang pohon kosong yang berada di sebelah kiri Shen Kaicheng. Tangannya perlahan bergerak mengambil ranting panjang untuk ikut membakar ikan.


Dengan tidak peka, Shen Kaicheng menjawab tak acuh. "Ya, tidak untuk gadis muda."


Kernyitan tajam melintas lagi di wajah Xiu Qixuan, "Karena kami bisa melukai kulit tangan yang indah jika melakukan hal-hal dasar untuk bertahan hidup seperti ini?" Dia memiringkan wajahnya dingin.


Sambil mengunyah, Shen Kaicheng mengangguk dan menanggapi dengan begitu santai. "Hngh, itu benar. Kebanyakan gadis yang kutemui selalu memperhatikan penampilan mereka untuk tetap bersinar indah di depanku." Ujarnya sedikit bangga.


Mengangkat sedikit pandangannya, Shen Kaicheng kembali berbicara untuk sedikit memuji dengan ritme lugas. "Namun, yang kalian miliki di sini cukup unik." Tambahnya.


Tiba-tiba Xiu Qixuan bangkit dari posisi duduknya dan berdiri. Raut wajahnya nampak berubah lebih serius, itu seperti ketika insting tubuhnya bekerja kala dia harus memasang kewaspadaan tinggi pada area sekitarnya.


Keempat orang yang berada bersamanya tersebut memandang dia dengan tatapan bingung.


"Qixuan, ada apa...?" Su Yiyang berjalan mendekat, dia melontarkan pertanyaan ketika melihat Xiu Qixuan ingin melangkahkan kaki. "Kau ingin kemana meninggalkan kami?" Lanjutnya.


Sadar akan sikapnya yang membuat orang kebingungan. Xiu Qixuan sejenak mengerjapkan mata kemudian dengan datar, ia berkata singkat: "Tidak ada. Aku akan mengambil air di aliran dekat sini sebentar."


Memandangi punggung Xiu Qixuan yang berbalik pergi, mereka terdiam sejenak. Suasana yang menjadi hening kala itu kembali di pecahkan oleh suara Su Yiyang.


"Huh..., perkataan anda sudah membuatnya marah, Yang Mulia!" Su Yiyang dengan kalimatnya sengaja memojokkan Shen Kaicheng.


Yao Anran yang sejak tadi memilih diam—perlahan ikut membuka mulut untuk berbicara dengan nada yang menusuk elegan: "Lain kali kalau anda memuji seorang gadis, jangan dengan menghina seluruh gadis lainnya." Dia memandang Shen Kaicheng dengan sedikit hormat, tetapi, kalimat yang keluar dari bibirnya sangat menyinggung sang pangeran kedelapan ini. "Karena pria terhormat tidak akan melakukan hal tersebut." Timpalnya.


Kemudian Shen Kaicheng menoleh. Memandang Su Yiyang dengan tajam menggunakan matanya yang runcing, menyeramkan.


"Kuselamatkan kau, tetapi malah kau tidak berterimakasih. Aku juga bungkam soal perilaku kalian yang melanggar aturan." Cibir Shen Kaicheng dengan ritme mengerut kasar kembali melontarkan keluhan, "Sekarang aku malah dipojokan begini dengan kesalahan yang tak kumengerti!" Sentaknya.


Dengan bergumam samar seorang diri, Su Yiyang memalingkan wajah. "Kamu berada di sini menganggu kami saja sudah salah."


••••••••••••••••••••


Desiran angin di waktu dini hari membawa kepulan kabut yang mengisi helai dedaunan dengan embun.


Suara ranting pohon patah ketika di injak oleh langkah kaki yang berjalan perlahan menyusuri kesunyian hutan kaki gunung.


Xiu Qixuan melihat kesekitarnya dengan mata cermat. Dia bergerak tanpa menunjukan rasa takut yang harusnya dimiliki seorang gadis kala berada sendirian jauh di situasi gelap.


Dia meninggalkan keempat orang itu bukan karena dia marah atau apapun. Tetapi, karena dia merasakan aura iblis yang familiar dari arah dekat sini.


Srakk...Srakk...


Tubuh Xiu Qixuan menegang. Kedua kakinya berhenti bergerak kala telinganya menangkap gema suara yang samar.


Tangannya terkepal memegang erat tusukan ranting panjang yang berisi ikan bakar. Ah, sial! Dia lupa untuk menaruh makanan berharganya ini tadi!


Perlahan melangkahkan kakinya kembali dengan sangat hati-hati. Xiu Qixuan terfokus mengikuti darimana sumber asal suara gemerisik tanah bebatuan tersebut.


Itu berasal dari salah satu cabang pohon cedar yang besar.


Menarik napas dalam-dalam. Segera setelah itu, dengan kecepatan tajam Xiu Qixuan bergerak tanpa suara dan tangannya tanpa sadar reflek mengunuskan ranting panjang yang berisi ikan bakar itu seolah-olah menjadikannya pedang.


Settt.....


"Eh...?"


Dengan rahang yang terbuka lebar, mata Xiu Qixuan membelalak terkejut.


Di depan sana, berdiri perawakan yang pucat dan kurus dari sosok bersurai perak yang menawan.


Dia memandang Xiu Qixuan dengan raut sama terkejutnya. Matanya yang berkilau samar karena tertimpa cahaya bulan itu mengerjap lemah menatap pada sosok gadis yang sedang menodongkan ikan bakar padanya.


Seakan semua di sekitar tampak melambat. Masing-masing dari mereka terdiam.


Detik berikutnya, pikiran Xiu Qixuan kembali tersadar. Dia meringis kikuk dan dengan perlahan menurunkan tangannya yang memegang tusukan ikan bakar.


Segera setelah itu, Xiu Qixuan memalingkan wajah kemudian mengusap tengkuknya. Dengan gugup ia berkata tulus: "Eum.., maafkan kekikukan saya yang mengganggu anda, Yang Mulia." Ada sedikit jeda di kalimatnya, kala dia melanjutkan dengan mengedarkan pandangan ketat meneliti sekitar. "Namun, apakah anda sendirian di tempat seperti ini saat tengah malam?" Tanyanya.


•••••••••••••••••••••