
Dalam kesunyian malam, seorang gadis bersandar ditiang penyangga ranjang, menutup kedua matanya dengan lesu.
Kelelahan tercetak jelas, dia seperti kehilangan tenaganya karena bekerja keras. Padahal, dia memainkan peran yang sangat mudah yaitu hanya berbaring kaku diranjang.
Tetapi peran seperti itu terasa menjengkelkan saat dirinya berusaha bertahan untuk tidak memaki para dukun yang memberikan pengobatan aneh.
Untuk membuat penyamaran lebih meyakinkan dia harus meminum sebuah pil langka dan aneh dari Nanbao. Pil yang khasiatnya bertahan hanya duabelas jam membuat seseorang terbujur kaku seperti orang mati, menghilangkan semua fungsi otot untuk bergerak.
Di luar jendela terdengar sedikit suara, membuat kewaspadaan gadis itu meningkat, dia membuka kelopak matanya dan menatap tajam kearah jendela.
Melalui jendela dia melihat bayangan berdiri diluar, dalam kegelapan postur tinggi dan tegap melangkah perlahan memasuki ruangan. Seakan sudah berhasil menebak, "A Jun?" bertanya ia dengan pelan.
Cahaya lilin yang lemah diruangan, dia melihat wajah tampan Sima Junke perlahan terangkat. Kedua mata seperti sumur yang tenang dan pada saat ini, mata itu terkunci padanya, seolah dapat menembus dirinya.
"Xuan'er," Panggilnya dengan pelan dan dalam.
Melangkah dengan ringan mendekati Xiu Qixuan dan menempatkan diri berjongkok dibawah ranjang.
Sima Junke tiba-tiba meraih tangannya, mengangkat mata gelap untuk melihatnya, suara lembut perlahan mengalir di indra pendengaran, "Apakah pengaruhnya belum hilang?"
Telapak tangannya terasa panas, detak jantungnya sepertinya bisa lewat. Tetap saja pada akhirnya dia menahan dan tersenyum tipis menjawab, "En, mungkin sebentar lagi." Jawab Xiu Qixuan
"Kau sudah bekerja keras," Ucap Sima Junke menghela napas, tak tega.
"Aku akan berusaha mempercepat semua ini," Lanjut Sima Junke dengan yakin.
"Tidak perlu tergesa-gesa," Peringat Xiu Qixuan dengan lembut.
Entah sejak kapan hubungan mereka menjadi semakin intim, Xiu Qixuan tidak lagi menolak dengan skeptis semua hal yang terjadi diantara mereka. Seakan sedikit memberi kesempatan.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Xiu Qixuan
"Dia sudah berada di pemerintahan Nanbao hampir dua dekade, sehingga sulit untuk menemukan bukti terutama dalam administrasi pemerintahan." Jawab Sima Junke dengan sedikit geram.
Ucapan Sima Junke membuat Xiu Qixuan termenung sejenak, "Aku mengerti, tetapi kita harus melangkah lebih dulu darinya, daripada hanya bertindak sebagai pengamat yang mewaspadai musuh."
Senyum melengkung indah dibibir pria itu, ketertarikannya kepada gadis ini, setiap hari terus bertambah tak pernah sedikitpun berkurang.
"Bukti administrasi pemerintah tidak dapat kita miliki, tetapi aku tidak pernah bilang kalau kita tidak dapat memunculkan bukti nyata." Balas Sima Junke dengan senyum miring dan sirat kelicikan yang tercetak jelas.
Seakan mengerti maksud tersembunyi dari ucapan pria itu, Xiu Qixuan terkekeh kecil dan berucap "Maksudmu kita akan—," Terjeda
"Kebakaran! Lumbung pemerintahan terbakar! Diam, kalian tidak boleh lalai! Jaga Nona Xiu dengan baik! atau Tuan Muda akan menghukum kalian dengan berat!" Teriakan keras dan bentakan atasan terdengar di depan bangunan.
Membuat pasangan yang berada di dalam ruangan saling bertatapan seperti sedang berkomunikasi tanpa suara.
"Api itu?" Tanya Xiu Qixuan seakan sudah menebak, tetapi dia hanya membutuhkan konfirmasi dari pria ini.
"Dia sudah lancang membakar properti -ku. Tentu saja, api yang akan membuat kejatuhannya." Jawab Sima Junke dengan acuh tak acuh.
"Lihat betapa pendendamnya kamu," Ucap Xiu Qixuan dengan senyum geli.
"Bukankah kita memiliki kemiripan dalam hal ini?" Balas Sima Junke mengedipkan sebelah matanya.
'En,' Jawab Xiu Qixuan tidak mengelak dengan terkekeh kecil.
"Baiklah, aku akan pergi untuk menyelesaikannya." Ucap Sima Junke beranjak berdiri dan melepaskan genggaman tangan mereka, kemudian ia berbalik melangkah perlahan menuju jendela tempat awalnya menyusup masuk.
Xiu Qixuan hanya memandangi punggung kokoh pria itu perlahan menjauh, tetapi tiba-tiba langkah pria itu terhenti dan berbalik melangkah tergesa kearahnya kemudian berdiri menghadapnya.
Alis Xiu Qixuan bertaut menunjukan kebingungan, seakan bertanya apakah ada hal lainnya.
Bibir mereka bertemu.
Dengan matanya yang melebar, Xiu Qixuan dengan bingung membiarkan pria ini ******* bibirnya dan menyusup kedalam untuk menelusuri setiap sudut mulutnya.
Sima Junke tentu saja tidak membiarkan kesempatan itu hilang, dengan kecepatan seperti cahaya ditengah ciumannya yang berapi-api, dia memiringkan wajahnya dan terus mengecap bibir manis milik gadisnya.
Setelah dirasa cukup karena napas mereka saling memburu hebat, Sima Junke perlahan menjauhkan sedikit wajahnya dan dengan lembut tersenyum, "Xuan'er, aku menginginkanmu." Bisiknya pelan, suaranya lembut seperti sutra halus, lebih seperti danau yang jernih, dingin dan tenang, perlahan mengalir ke dalam hati Xiu Qixuan.
Kedua bolamata mereka saling berkaitan, menatap intens untuk menelusuri kedalaman perasaan masing-masing yang membuat jantung berdebar hebat.
Seperti teringat sesuatu hal penting yang harus dia lakukan, kewarasan dan kesadarannya perlahan pulih dengan cepat. Membuat Sima Junke berucap, "Tunggu aku disini, jangan membuat dirimu lelah."
Setelah mengucapkan itu Sima Junke berbalik pergi, melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Xiu Qixuan yang sejak tadi membeku dan hanya diam diperlakukan penuh cinta, menjadi tersentak kaget kemudian dengan cepat menyembunyikan wajah yang merona malu dengan kedua tangannya.
Dia tidak bisa menolak karena otot tubuhnya masih lemas atau dia tidak memiliki keinginan untuk menolak perlakuan intim itu. Entah apa alasan yang sebenarnya, dia sendiri tidak mengetahui dengan jelas perasaan ini.
••••••••
Disisi Lainnya.
Api membumbung tinggi di bangunan besar yang adalah lumbung pemerintahan Nanbao, disana terdapat banyak sekali biji-bijian dan umbi-umbian bahan makanan.
Biasanya lumbung akan dibuka jika bencana melanda ataupun saat peperangan terjadi diwilayah Nanbao.
Tetapi saat ini lumbung yang sudah diorganisir selama beberapa generasi hangus terlahap api.
Nanbao akan jatuh kedalam keadaan terpuruk jika bencana alam ataupun peperangan terjadi dalam waktu dekat setelah lumbung terbakar, karena lumbung tidak dapat diisi dalam kurun singkat. Mereka dapat menderita kelaparan jika kedua hal yang ditakutkan terjadi.
Entah sebenarnya hal istimewa seperti apa yang berada didalam lumbung pemerintahan, membuat Sima Junke berani mengambil langkah besar untuk menjatuhkan musuh melalui kejadian ini.
Nyonya tua dan Tuan tua yang sedang terlelap mendapatkan kabar buruk tersebut langsung bergegas memperintahkan semua orang membawakan air untuk memadamkan api.
Pasangan yang sudah menjalin kehidupan bersama selama setengah perjalanan hidup mereka itu bergandengan tangan. Melihat api yang menghanguskan lumbung dengan wajah khawatir.
Terlihat kecantikan masa mudanya yang sekarang terlihat samar karena terhalang oleh kerutan, "Bagaimana mungkin lumbung dapat terbakar dengan mudah?" Gumamnya dengan suram.
Semakin banyak pertanyaan terlintas dibenaknya, semakin rumit juga untuk menyimpulkan masalah.
"Badebah itu, sebenarnya apa yang mereka rencanakan." Geramnya dengan murka. Seakan sudah menebak semua ini adalah ulah musuhnya.
"Bukankah aku sebelumnya sudah mengingatkanmu, bahwa kau sudah tua seharusnya mundur dari pemerintahan, biarkan generasi selanjutnya yang memikul tanggung jawab mengurus hal ini." Ucap Tuan tua dengan acuh tak acuh memberi nasihat.
"Diam, kau tidak akan mengerti." Sentak Nyonya tua dengan kesal mengentakkan tangannya untuk melepas genggaman tangan Tuan tua.
"Semua yang kau lakukan untuk Hou'er, tetapi untuk apa? Anakmu sudah tidak ada," Balas Tuan tua dengan tajam, tetapi pandangannya yang gemetar sendu terlihat jelas.
Saat mendengar ucapan suaminya, tubuh Nyonya tua bergetar hebat. Tidak ada seorang-pun yang berani menyinggung masalah Sima Xiahou kepadanya, tetapi suaminya ini sepertinya terkecualikan.
•••••••••
A Jun mantul bener bikin author kebawa deg2 ser wkwk.
btw, author waktu itu pernah typo sekali deh kayanya, Sima Xiahou dan Shi Peiyu adalah nama dari kedua orang tua Sima Junke.
Sima Hong nama kakeknya😭 kmrn salah nyebut daku. maafkan kepikunan ini.