
Ini adalah sebuah aula bawah tanah besar yang membentuk tembok-tembok labirin rahasia.
Dengan kehati-hatian Xiu Qixuan menyandarkan tubuh lemah Rui Jizhang kedinding yang memiliki sinar obor samar diatasnya.
Dia menyalurkan sedikit demi sedikit secara perlahan kekuatan aura kehidupannya untuk menekan sedikit rasa sakit akibat kutukan yang di derita Rui Jizhang.
Sebelumnya, Xiu Qixuan sudah berpikir untuk menyerah. Membiarkan rencana Mozi yang mengancamnya berhasil dan pria itu mendapatkan apa yang diinginkan.
Tetapi, saat dalam kondisi kritis tadi Rui Jizhang sempat menggenggam tangannya dan menyelipkan sebuah kertas catatan kecil.
Awalnya, Xiu Qixuan mengerjap kaget melihat senyuman lemah dan tatapan yang diberikan Rui Jizhang padanya.
Sebuah ekspresi wajah dengan tekad ketidaksetujuan yang menggeleng lemah. Seolah-olah berkata bahwa, 'aku baik-baik saja dan jangan menyerahkan bagian tubuhku padanya.'
Xiu Qixuan mengerti dengan segera menuruti untuk membawanya menjauh dari pandangan Mozi.
Ruangan aula bawah tanah besar yang membentuk tembok labirin ini sebenarnya juga adalah jalan keluar dan tempat pertahanan rahasia.
Jika, terjadi hal buruk seperti ini yaitu penyusup yang memasuki wilayah mereka. Seluruh anggota organisasi sudah terlatih dengan membutuhkan waktu lima belas menit untuk melawan secara terbuka musuh mereka dan sisanya akan mundur mengantisipasi untuk mengkokohkan pertahanan tuas-tuas tersembunyi bangunan agar musuh tidak menyentuh kerahasiaan yang mereka miliki.
Kontruksi bangunan ini dibuat begitu pelik. Tanpa denah yang jelas untuk memahaminya secara menyeluruh. Orang yang menyusup akan menderita lebih banyak kerugian.
Mozi mungkin mengetahui itu karena dia membuat rencana yang sangat cemerlang dengan memberikan ancaman yang pasti pada Xiu Qixuan agar gadis ini menuruti perintahnya.
Tetapi, Rui Jizhang sebagai pihak yang terlibat memilih pasrah oleh kematian dengan tegas menentang dan menghancurkan rencana sang iblis.
"Gadis kecil—," Suara lirih Rui Jizhang yang mengerjap lemah dengan ringisan tak tertahankan.
Xiu Qixuan segera mengangkat pandangan untuk menatapnya cemas.
Wajah Rui Jizhang yang pucat tersenyum tak berdaya, seperti ia sudah sangat sukarela menerima kematian.
"Anda belum menjelaskan lebih banyak hal. Jangan mati!" Hal tersebut jelas membuat Xiu Qixuan menggeram frustasi.
Rui Jizhang mengulurkan tangannya yang bergetar meraih sesuatu di ikat pinggangnya. Ia menarik liontin giok merak hijau miliknya yang menggantung. Dengan jari-jarinya yang berlumuran darah menahan getaran untuk menyerahkan giok tersebut kepada Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan menerima dengan mengernyit bingung.
"Pergi—, cari." Dengan terbata-bata dan napas yang semakin tersendat Rui Jizhang berbicara sembari melirik secarik kertas juga liontin yang sudah dia berikan.
Wajah Xiu Qixuan membeku dengan mengatupkan giginya. Ia terburu-buru membuka secarik kertas pemberian tersebut untuk membaca isinya.
'Pelabuhan Xicheng. Jalan kecil Chongyue rumah kelima.'
Sebuah alamat?
"Terimakasih." Suaranya berbisik rendah.
Sungguh, Xiu Qixuan sangat berterimakasih walaupun singkat dan juga pendek. Rui Jizhang sangat membimbing langkahnya dalam jalan yang gelap ini.
Kesadaran Rui Jizhang semakin meredup dan perlahan ia menutup kelopak matanya kering oleh darah ketika napasnya terasa terpelintir dan menghilang secara bersama.
Pada akhirnya, dia menghembuskan napas terakhirnya tepat dihadapan Xiu Qixuan. Wajahnya yang membiru dingin itu tersenyum tanpa surut.
Walaupun masih banyak yang belum dia sampaikan. Tetapi, dengan gadis ini mencari benda yang ia titipkan pada alamat yang tertulis di secarik kertas tersebut itu akan sangat membantu.
"Semoga kedamaian menyertaimu." Xiu Qixuan berbisik dengan sedikit bergetar wajahnya menunduk dengan helaan napas berat.
Tiba-tiba sebuah suara riang dari arah belakang terdengar keras memanggilnya.
"Ketua!"
Itu adalah Xiao Leng dengan penampilan kotor oleh percikan darah dan keringat di dahi yang menetes.
Haa, ternyata lebih menyenangkan berada di markas luar untuk bersikap leluasa daripada dalam istana yang mencekik.
Xiu Qixuan segera beranjak untuk berdiri tegak.
"Kerja bagus." pujinya singkat.
"Haha, tentu saja." Balas Xiao Leng bangga dengan menggaruk telinganya gatal. Kemudian tanpa sengaja mata Xiao Leng terarah pada tubuh kaku Rui Jizhang yang sudah tak bernapas lagi. "Oh, sudah mati? Anda membunuhnya ketua? Ini terlihat mengerikan!" Ucapnya santai.
Memang mayat yang terkena kutukan terlihat lebih mengerikan ketika seluruh tubuhnya perlahan menghitam dengan darah yang terus mengalir dari setiap lubang tubuhnya.
Tetapi, Xiao Leng adalah seorang profesional berpengalaman. Dia juga sangat terampil. Tentu saja, tidak terganggu akan pemandang itu.
"Bukan aku. Iblis penyusup itu memberikannya kutukan." Jawab Xiu Qixuan dengan datar melirik dingin ke darah yang tercecer disudut lantai dekat tepi sandal bordirnya.
"Iblis?" Gumam Xiao Leng dengan memiringkan wajah memikirkan sesuatu. "Ah, yaa. Memang kekuatan internal mereka terasa kuat dan aneh. Kalau bukan karena kami yang lebih memahami seluk bangunan yang menjadi arena pertarungan kali ini. Mungkin sulit memangkas setengah dari anggota musuh." Ucapnya.
"Itu masuk akal, Xiao Leng." Xiu Qixuan tersenyum lembut sembari menepuk kuat bahu Xiao Leng. "Tetapi, aku dan Pemimpin Huan kecewa mendengar kalimat akhirmu yang merasa rendah." ucapnya.
Jelas yang dimaksud adalah peringatan mengenai perkataan Xiao Leng yang terkesan begitu pesimis akan kemampuan organisasi mereka untuk menghadapi kelompok berkekuatan iblis.
"Eh, bukan itu maksud saya Ketua. Bagaimana bisa kita dibandingkan dengan mereka, kan?!" Sergah Xiao Leng dengan tergagap cepat.
Xiu Qixuan balas terkekeh kecil.
"Ya, aku mengerti. Lain kali berbicaralah dengan kata yang baik." Ucapnya dengan melambaikan tangan acuh.
Kemudian Xiu Qixuan menyusuri area sekitar labirin dengan pandangan mata yang menyipit melihat beberapa anggota divisi rubah yang turun menyapanya.
"Dimana Xiao Rou?" Tanyanya khawatir akan keberadaan pelayan pendampingnya yang polos.
"Xiao Taoli sedang bersamanya." Jawab Xiao Leng dengan singkat sembari memberikan sapu tangan yang berada di saku bajunya kepada Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan mengangguk mengerti.
Ia menerima sapu tangan tersebut dan segera memakainya untuk menyeka kotoran dan noda darah di tangan juga wajah.
"Yasudah, sampaikan perintah dariku kepada seluruh anggota Divisi Rubah untuk segera bersiap kembali ke markas pusat setelah membereskan semua kekacauan ini." Setelah mengatakan itu Xiu Qixuan membalikan badan untuk berlalu pergi.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia berbalik untuk berucap, "Xiao Leng!" panggilnya.
"Ya, ketua?" Jawab Xiao Leng dengan sigap.
"Tolong, urus pemakamannya dengan layak." Ucap Xiu Qixuan dengan melirik sekilas tubuh Rui Jizhang yang tersandar di dinding.
"Baik, dimengerti!" Xiao Leng mengangguk patuh.
"Ah, dan satu lagi." Sentak Xiu Qixuan ketika ia teringat hal lain. "Kau dan Xiao Taoli yang akan menjadi wakilku untuk memimpin perjalanan kembali ke markas pusat." Ucapnya dengan tersenyum cerah.
Xiao Leng sejenak tercengang.
Setelah menyelesaikan perkataan tersebut, Xiu Qixuan segera berbalik melanjutkan langkahnya untuk bergegas kembali menuju ruang kerjanya.
"Eh— eh, tunggu ketua!" Panggil Xiao Leng yang baru tersadar. "Kenapa saya dan Xiao Taoli yang memimpin? Anda ingin pergi kemana seorang diri begitu?" Tanyanya berteriak keras.
Xiu Qixuan mengerlingkan sebelah matanya dengan melambaikan tangan malas. "Aku akan segera mengambil cuti untuk berlibur kelaut." Ucapnya.
Sebenarnya bukan hanya itu. Banyak hal yang harus Xiu Qixuan lakukan. Tetapi, membawa dan menyamarkan anggota divisi rubah tetap terlihat mencolok di mata orang yang jeli. Itu akan menghambat.
Lagipula, tujuan lain yang ingin dia kunjungi adalah Desa Kui. Tempat dimana Qiaofeng dahulu tinggal. Ia ingin menemui sang pendeta yang begitu hebat sampai dapat meyakinkan Xiu Haocun untuk membiarkan putrinya tinggal di dalam desa terpencil.
••••••••••••••••