Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Perdebatan Sang Naga & Phoenix Kekaisaran!



Sekitar sepuluh pelayan berjalan keluar-masuk Aula Feng Xian He, mereka dipenuhi keteraturan yang terampil melayani sang phoenix kekaisaran. Hanya suara panggilan dari burung murai yang terdengar mengisi aula yang penuh akan jejak kemuliaan tersebut, tidak ada yang berbicara ketika mereka begitu khusyuk.


Semburat matahari pagi memancar seperti suar diluar, menandakan permulaan dari hari-hari yang dipenuhi oleh kesibukan.


Di balut riasan wajahnya yang formal dan serius, Permaisuri duduk tegak di kursi meja rias, tatapannya pada kaca perunggu yang memantulkan duplikatnya itu datar dan berdarah dingin. Entah siapa yang tahu apa yang sedang dia pikirkan ketika semuanya tampak kusut?


Mengenakan hiasan rambut phoenix ekor sembilan yang menekan cemerlang, dia meminta pelayan untuk menghiasnya dengan perhiasan yang penuh oleh emas murni.


Jika dibandingkan oleh Shang Shufei yang menawan, atau Wei Guifei yang indah, Permaisuri selalu menunjukan sisi kemegahan lewat penampilannya yang mewah.


Tepat pada saat ini, pintu tiba-tiba terbuka menampilkan kemarahan dari sesosok pria bermahkota naga yang memakai jubah brokat kuning.


"Mengapa kamu tidak cepat bergegas?! Apa kamu berniat untuk melanggar dan mengecewakanku?!" Pria itu adalah suaminya, dan suami yang telah menghabiskan setengah dari umur mereka bersama.


Berpikir tentang ini, Permaisuri tersenyum kecut. Dia segera mengibaskan lengannya memerintah para pelayannya yang gemetar ketakutan untuk mundur.


Hening. Ruangan itu sekarang hanya menyisakan mereka berdua.


Permaisuri tidak sedikitpun berbalik. Dia masih terduduk tegak diatas kursinya. Menatap pantulan mereka dari cermin yang terang.


"Apakah kamu idiot? Tidakkah kamu mendengarku?! Aku hanya membutuhkan tanganmu untuk ini." Sang suami mengutuknya dengan begitu kasar.


Suaminya yang juga merupakan pondasi inti kekaisaran. Suami yang selalu bertindak sesuka hati, itu adalah Kaisar kekaisaran Shen yang agung.


Aneh ketika menempatkan kata agung ketika dia bersikap begitu jelek.


Permaisuri menatap wajahnya yang marah dengan dingin. Tidak ada senyum kala dia berbicara begitu tenang. "Saya sedang berpikir." Ada sedikit jeda, dan dia melanjutkan begitu menusuk. ".... Berpikir bagaimana saya bisa mengecewakan anda? Ketika semua hal bisa terjadi atas kehendak anda meski tanpa saya sekalipun." Ujarnya.


Permaisuri menekan rasa kecut dihatinya dan segera berdiri, gaun dengan pola ekor phoenix menarik sedikit suara ketika dia berbalik menatap Sang Naga dengan kerutan di kening dan ekspresi yang gelap, wajahnya seperti di robek perlahan oleh tekanan amarah. "Yang Mulia, anda adalah Kaisar~..., dan saya sangat mengerti itu. Namun anda juga adalah suami saya. Ini menyesakkan kala anda hanya akan datang pada saya ketika anda membutuhkan tangan saya untuk memuluskan semua rencana yang tidak saya mengerti." Dia mengangkat tangan menunjuk Kaisar tanpa takut. "Saya hampir marah. Karena apa?! ....karena anda tidak berniat sedikitpun membagikannya pada saya." Ia berkata dengan getaran yang keruh.


Di dalam aula itu panas seperti api, tidak ada angin yang masuk membuat suasana hati menjadi lebih tak karuan.


Permaisuri menarik napas tajam. "Baik, itu tidak masalah. Saya tidak akan berkata apapun mengenai itu sekarang."


"Tapi, saat ini anda meminta untuk pengalihan otoritas dalam pemilihan calon istri pangeran pada saya?! Itu adalah otoritas dan tugas saya sebagai Permaisuri untuk menilai dan memilih calon menantu kekaisaran. Dan ketika anda mengambil alihnya, semua orang akan bergunjing bahwa penilaian saya buruk, saya tidak kompeten dan kehilangan dukungan anda." Ada sumbatan di tenggorokannya kala dia bernapas dengan terengah-engah, wajahnya merah padam oleh amarah. Alisnya yang digambar indah membentuk kerutan tajam, matanya menusuk serius ketika ia melanjutkan. "Dan untuk Pangeran Ketiga—," Ia terjeda.


"Cukup! Aku tidak ingin mendengarkan keluhanmu! Dan, mengapa kamu berani bertingkah terlalu banyak?!" Kaisar memotong perkataannya dengan egois.


Memang seseorang yang menghabiskan setengah hidupnya sebagai penguasa, dia kejam tanpa perduli. "Terlalu dini untuk kamu mengeluh bahkan ketika ambisimu begitu jelas terlihat. Aku terlalu baik membiarkanmu tapi aku juga punya mata. Kamu mengincar dukung militer dari Xiu untuk kedua putramu itu. Tapi, begitu sulit untukmu ketika anak gadis Xiu itu ternyata bodoh. Dia tak punya gairah untuk menang." Kaisar berkata dengan begitu sinis, dia memuntahkan kalimat tersebut untuk menekan Permaisuri.


"Koala pemalas yang hanya memakan bambu di depannya tak akan bisa menang melawan harimau yang punya visi untuk bunuh mangsanya. Mengapa kamu tidak memilih harimau hanya karena koala lebih langka terlihat? Itu sudah menjelaskan semuanya." Kaisar mendekat perlahan, dia menangkup wajah Permaisuri dan mengelusnya perlahan, matanya menatap lekat kala dia berkata dengan manipulatif: "Jadi, istriku... Tidakkah kamu lebih baik diam di sisiku dan aku akan membantu mendapatkan Xiu untukmu?"


Mata Permaisuri berkabut, dia terlihat merenung dan menimbang banyak hal di dalam hati. Suaminya itu benar, dia berambisi mendapatkan koala daripada harimau. Ini jelas merujuk pada harimau yang merupakan Nona-nona berbakat dan satu koala langka yang merupakan anak gadis Xiu.


Sejenak membiarkan sang istri membuat pertimbangan. Detik berikutnya, Kaisar merendahkan suaranya untuk kembali melanjutkan. "Untuk Pangeran Ketiga, aku tidak bisa terus mengurungnya. Dia akan bebas untuk berkeliaran sekarang. Sementara kamu~..., istriku, harus menunjukkan kemurahan hati dengan begitu orang akan memuja dan kamu akan mendapatkan lebih banyak." Jelasnya.


Mungkin berita mengenai Pangeran Ketiga yang terbebas dan diperhatikan oleh Kaisar sudah menyebar di seluruh penjuru istana sekarang.


Karena dini hari tadi, Kaisar mengirimkan banyak sekali pelayan dan kasim ke istana dingin. Atas perintahnya beberapa harta yang tersebar di gudang harta karun kekaisaran itu diturunkan dan dibawa ke istana dingin untuk dimiliki Sang Pangeran Ketiga.


Ini adalah keanehan ketika dia tiba-tiba memperhatikan anaknya yang terkutuk.


Dengan mendengarkan kalimatnya tersebut, Permaisuri tampak goyah. Matanya yang lekat balas menatap Kaisar dengan getaran menuntut. "Suamiku..." Suaranya jernih memanggil.


"Aku setuju, namun kamu harus katakan padaku. Apa yang kamu inginkan karena tiba-tiba andil dalam pemilihan calon menantu kekaisaran ini?" Tanyanya dengan alis yang menukik rendah.


Mendengar lontaran pertanyaan itu, pupil mata Kaisar perlahan membentuk seringai yang aneh. Dia tersenyum sendiri, entah ada kesenangan apa yang sedang terlintas di kepalanya.


"Aku harus mempercepat penilaian terakhir. Dengan begitu waktu perburuan bagi para pangeran akan berlangsung semakin dekat pula. Istriku, kau bisa tenang. Aku akan mengurus semua pernikahan putraku dengan sangat teliti." Kaisar berkata dengan lugas tanpa menatap Permaisuri, matanya dipenuhi oleh kilatan kejam yang tak masuk akal.


Di detik ini, Permaisuri tersentak kaku. Dia terdiam melihat lekat pada guratan wajah suaminya itu. Meskipun Kaisar begitu pandai menyembunyikan niat dihatinya, namun, Permaisuri adalah tipe yang begitu sensitif dan peka. Dia merasakan hawa dingin yang menjalar di punggungnya kala dia sadar akan niat membunuh yang menguar dari tubuh Sang Naga.


Begitu jelas bahwa Kaisar menginginkan acara perburuan bagi para pangeran tersebut menjadi sebuah panggung untuknya mendapatkan sesuatu. Mungkin itu akan berkaitan dengan Pangeran Ketiga.


Namun, Permaisuri menjadi egois. Dia tidak perduli apapun tindakan yang akan dilakukan sang suami, asalkan itu tidak merugikan dirinya dan kedua putra tersayangnya.


••••••••••••••••••••••


A/N: Lama yaks? Maaf deh, sibuk mau lebaran kan, yang mudik hati-hati lho😉 Crazy up nya mingdep gmn?


Sayap phoenix yang patah: Kegoyahan kursi takhta bagi permaisuri.