
Semua orang menjadi penonton dan berkomentar dalam benak mereka. Mungkin Permaisuri menunjukan dukungan melalui tindakannya. Namun, dia benar-benar mengambil dua orang gadis sekaligus. Bukankah itu terlalu serakah dan berlebihan?
Helan Qianyu dan Nona Muda Hai tersenyum malu dengan menyembunyikan rasa bangga yang terkubur dalam hati. Wajah cantik mereka memerah seperti api di lentera yang menggoda.
"Jiejie selalu memiliki penilaian yang tajam. Aku selalu kagum." Shang Shufei tersenyum simpul dan berkata dengan setengah jujur.
Wei Guifei yang berada di sebelahnya balas tertawa dingin dan angkat bicara, "Ya. Jiejie tidak mungkin menyia-nyiakan sebuah bakat untuk para putra kita, 'kan." Dia selalu berkata dengan arti yang mendalam.
Permaisuri terkekeh hambar dan melirik dengan dingin: "Kedua meimei sangat mengenalku. Kalian tidak perlu khawatir."
Semua orang terfokus pada interaksi keluarga penguasa negara di depan. Tapi di salah satu meja terjadi perseteruan sengit soal makanan. Terlihat Su Yiyang menggeram dalam diam. Dia memang hanya menatap lurus kedepan namun matanya memelotot seram kala melihat sebuah tangan ramping yang dengan seenak jidat mencomot bagian makanannya di atas meja.
"Qixuan, persikmu sudah kumakan." Bibir Su Yiyang bergerak mengeluarkan bisikan.
"Manis sekali, kan?" Xiu Qixuan membalas santai sembari terfokus mencubit daging ikan asam manis dengan sumpit.
"Tidak. Asam dan keras. Sama sepertimu!" Dengus Su Yiyang dengan keji. "Jangan mengambil bagianku, bodoh!" Tambahnya. Dia memukul tangan Xiu Qixuan pelan.
Xiu Qixuan menoleh dan tertawa kecil. Matanya berkedip penuh rasa humor memandang postur Su Yiyang yang terlihat seperti patung. Su Yiyang terduduk tegak dan kaku dengan kepala lurus menghadap kedepan, saat berbicara pun gadis itu tidak menoleh dan akan terus-menerus dalam posisi seperti itu karena pengawasan dari mata tajam Menteri Su begitu ketat untuknya.
"Oyy, Qixuan." Su Yiyang tiba-tiba bersuara kembali, memanggilnya.
"Kenapa?" Xiu Qixuan menanggapi dengan tak acuh.
"Cepat, cepat lihat itu!" Perintah Su Yiyang dengan setengah berseru.
"Tck, apasih?" Xiu Qixuan berdecak malas.
"Tch, bodoh!" Su Yiyang dengan cepat balas mendecih. Kemudian jari-jemarinya terangkat menusuk kasar pipi Xiu Qixuan untuk mengarahkan penglihatan gadis itu pada satu arah. "Lihat di sana..., lukisan berantakanmu yang memalukan itukan." Celetuk Su Yiyang menghina dengan tersenyum sinis.
Xiu Qixuan yang baru saja menelan semua makanan di mulutnya langsung cegukan kala matanya mendarat pada dua lukisan abstrak yang sedang di tampilkan secara terbuka dan serupa di depan sana. "Ugh.., Yaa Dewi!" Dia bergumam pada dirinya sendiri ketika sejenak menepuk-nepuk pelan dadanya. Dengan terburu-buru dia meminum air teh untuk menghilangkan cegukann akibat terlalu terkejut.
"Sepertinya Negara Shen memiliki gadis ini sebagai berkah dari langit karena bakatnya yang menandingi cendekiawan besar." Permaisuri berkata dengan wajah penuh cahaya yang tenang. "Dia membuat lukisan yang sama seperti Master Ji Gui. Begitu penuh dengan ledakan warna. Seperti duplikat kembar yang mengejutkan." Tambah Permaisuri dengan bias dan lembut.
Memperhatikan detail-detail ini, meski serupa tapi di satu lukisan terdapat sepenggal kaligrafi tajam dan halus yang bertulis 'Melihat warna-warna lain tanpa terpaku pada satu warna. Tidak bersalah dan ceria.'
Xiu Qixuan sangat mengenali tulisan tangan seorang Mo Ji Gui. Kalian ingat? Itu adalah lukisan abstrak pertama yang dia buat ketika dia belajar melukis bersama Mo Ji Gui. Saat itu dia terlalu malas untuk memegang kuas. Yang mengejutkan adalah ternyata Mo Ji Gui menyimpan itu seperti memorial, dan secara diam-diam menambahkan kaligrafi-nya disana. Sungguh, bagaimana bisa lukisan hasil karena malas malah di tampilkan dengan dipuja begitu?
"Fufu..., Jadi seperti itu, aku merasa dikhianati." Xiu Qixuan ingin tertawa terbahak-bahak namun dia hanya mengeluarkan kekehan frustasi. Matanya memandang penuh kengerian kearah dua lukisan abstrak di depan.
Pantas saja, lukisan berantakan Xiu Qixuan tidak di pandang aneh dan sebelah mata untuk beberapa orang terpelajar. Mo Ji Gui diam-diam mempublikasi teori dan pengetahuan baru yang selalu dia dapatkan darinya.
Ini seperti sudah di tetapkannya dia sebagai calon menantu kekaisaran tanpa harus bertanding lagi, 'kan. Dan seperti Permaisuri sedang membuat lubang agar Xiu Qixuan menuruti keinginannya untuk menampilkan yang terbaik nanti.
••••••••••••••••••
Penilaian akhir di rancang dengan tujuan untuk memenangkan hati Kaisar. Para gadis berhak memilih satu bidang bakat yang sekiranya paling mereka ungguli. Entah itu bermusik, menari, berpuisi, bermain catur, atau menghadiahkan hasil kerajinan tangan mereka.
Pada saat ini, panggung pertunjukan bagai medan perang. Semua orang mengawasi perubahan air wajah Kaisar bahkan untuk hal sekecil batuk pun, mereka akan menahan napas tegang.
Suara gendang bertabuh membuat musik tarian seperti gemuruh api. Sosok anggun menari bagai pegas yang memiliki sayap. Tarian yang penuh semangat, itu menggoda. Membuat orang menelan liur oleh pesona-nya yang memikat.
"Lihatlah betapa cantik dia memakai pakaian merah. Bagai sekuntum peony merah yang cantik dan menggoda. Sangat disayangkan, itu salah ketika dia menunjukan jenis seperti ini di depan para penguasa." Xiu Qixuan mengeluarkan sebuah cibiran dengan pengamatannya yang tajam.
"Apa yang salah? Ini tarian yang indah." Su Yiyang membalas langsung.
Xiu Qixuan hanya tersenyum tipis, tampak tanpa ekspresi.
"Sebuah tarian menggoda adalah hanya milik rumah bordil." Jelas Yao Anran dengan lembut menanggapi Su Yiyang.
Gadis yang sedang menari -kan tarian di atas panggung pertunjukan merupakan putri pejabat kota kecil, sikapnya yang polos dan naif tidak cocok untuk tinggal di kota besar karena dia gampang di bodohi orang.
Xiu Qixuan dapat menebak bahwa seseorang menyarankan dia menari -kan tarian jenis ini untuk menggagalkannya dalam penilaian terakhir.
Ya, benar saja. Dia berakhir dengan kegagalan. Ketika dia menyelesaikan tarian. Permaisuri terlihat marah dan langsung memerintah orang untuk membawanya pergi.
"Lukisan Nona Hai memang terkenal. Pilihan cerdas menghadiahkan lukisan untuk mendoakan kelanggengan kekuasaan pada Kaisar." Yao Anran berkomentar menilai dengan takjub kala melihat lukisan pemandang lanskap gunung yang berdiri kokoh dan juga kaligrafi yang tampak timbul bertulis,
'Pohon pinus dan bambu bertahan kuat bertahun-tahun.'
Xiu Qixuan mengangguk setuju. Pandangannya yang fokus mendarat lurus mengamati perubahan wajah tua Kaisar.
"Apa yang sudah kau siapkan, Qixuan?" Yao Anran menanyakan dengan penasaran.
Mengedikan bahu, Xiu Qixuan menjawab dengan santai. "Tidak ada." Ujarnya.
Mata Yao Anran melebar, dia memelototi Xiu Qixuan dengan menarik napas sabar. "Hidupku dan Maiqiu sungguh tidak beruntung sampai bisa mengenal pembuat onar sepertimu dan Yiyang." Keluhnya.
••••••••••••••••••