
Perjamuan mewah yang dihadiri keluarga besar para pejabat tinggi Suku Nanbao akan segera berlangsung.
Para tamu sudah hadir dan tuan rumah yang mengadakan perjamuan pun sudah terduduk di-singgahsana, hanya Sima Junke yang belum terlihat batang hidungnya.
Nyonya Tua duduk dikursi pemimpin yang seharusnya ditempati oleh Kepala Suku.
Nyonya Besar Yu Chuchu berada tepat disampingnya kiri Aisin Fei, mereka berdua berbincang hangat. Tidak terlihat sedikitpun kebencian dipancaran mata Yu Chuchu kepada Aisin Fei yang merebut hak anak lelakinya.
Sepertinya dapat terlihat jelas bahwa Yu Chuchu berpihak kepada Aisin Fei entah untuk alasan apa wanita itu tidak perduli nasib anaknya untuk meneruskan tahta.
Sedangkan, untuk Sima Hong yang berada tepat disamping kanan Aisin Fei hanya diam, pria tua itu mengedarkan pandangan untuk menunggu kehadiran sang cucu lelakinya.
Aisin Tianyi sudah hadir dan duduk ditempatnya, terlihat pria itu sedang menyesap secangkir arak dan kedua bola matanya memancarkan ketidaksukaan yang teramat sangat besar saat melihat ketiga orang disana.
"Tuan Muda, Sima Junke menghadiri perjamuan." Teriak prajurit yang menjaga pintu utama memberi pemberitahuan.
Pintu terbuka menampilkan Sima Junke menggandeng seorang gadis cantik. Lengan kokoh pria itu berada tepat dipinggang sang gadis—menunjukan kepemilikannya.
Layaknya sepasang kekasih yang begitu serasi, aura yang mengelilingi mereka berdua sangat dominan satu sama lain. Melangkah dengan ritme yang sama dan sangat percaya diri.
Semua orang yang menghadiri perjamuan mewah itu terlihat sangat terkejut. Mereka semua tahu bahwa Zhai XinXin akan diumumkan menjadi tunangan sah Sima Junke, tetapi yang dilihat mereka sekarang adalah Sima Junke membawa perempuan lain ke Perjamuan.
Saat tiba di hadapan Aisin Fei, Sima Hong dan Yu Chuchu. Sima Junke melepaskan pegangannya pada pinggang sang gadis, kemudian pria itu memberi salam hormat.
Setelah memberi salam hormat, pria itu mengumumkan sesuatu yang membuat wajah Aisin Fei menggelap murka.
"Perjamuan mewah ini diadakan untuk merayakan keberhasilan membuat kekacauan ditanah Shen dan Shen tidak akan kembali meremehkan kekuatan Nanbao kami. Juga hasil jarahan yang berlimpah adalah suatu hal membahagiakan untuk menghidupi rakyat Nanbao."
"Saya, Sima Junke akan mengumumkan satu hal membahagiakan lainnya. Gadis cantik yang berada tepat disamping saya adalah tunangan sekaligus calon istri yang akan saya nikahi." Ucap Sima Junke dengan tegas.
Sejak tadi gadis cantik yang dibawa oleh Sima Junke hanya diam menunggu giliran untuk berperan. Saat dirinya sudah diperkenalkan dan diberi kode oleh tatapan Sima Junke, dia dengan cepat memulai perannya.
"Xiu Qixuan memberi hormat kepada para tetua dan petinggi." Ucap sang gadis membungkuk memberi hormat dengan postur elegan kepada semua hadirin.
Xiu Qixuan sangat cantik seperti dewi bulan yang bersinar terang di kegelapan, gadis itu memakai pakaian khas wanita bangsawan Suku Nanbao.
Sepertinya Xiu Qixuan sudah berhasil membuat kesepakatan dengan Sima Junke.
Tidak terlihat ekspresi kesulitan ataupun takut diwajah cantiknya saat diberi tatapan intens oleh berbagai macam orang—dimulai dari meremehkannya, menghina, memaki ataupun murka.
Hanya terlihat ketenangan dan kepercayaan diri yang sangat tinggi diwajah Xiu Qixuan.
Terdapat satu tatapan berbeda yaitu tatapan penuh keheranan yang dilontarkan Aisin Tianyi kepadanya.
******
Malam Sebelumnya.
"Kau sebenarnya mengetahui bahwa nenekmu melakukan pemberontakan tidak langsung, tetapi kau bersikap acuh dan terus menutup kedua matamu." Ucap Xiu Qixuan dengan lugas.
Tubuh Sima Junke menegang dan rahangnya mengeras saat mendengar ucapan yang dilontarkan Xiu Qixuan.
Pria itu semakin mendekatkan pedangnya kearah leher Xiu Qixuan.
"Apa maumu?!" Sentaknya keras
"Jangan tanya aku. Karena aku ini banyak mau," Jawab Xiu Qixuan mengedikan bahu dan sesekali gadis itu melirik pedang yang mengarah pada lehernya.
"Kau tidak menginginkan posisi Kepala Suku," Ucap Xiu Qixuan, gadis itu tidak membuat pertanyaan tetapi pernyataan yang sekali lagi membuat Sima Junke mengatupkan rahang.
Xiu Qixuan tersenyum miring melihat respon Sima Junke yang sebelumnya sudah dia duga.
"Hanya orang luar sepertimu tidak layak mencampuri urusan Nanbao. Aku akan mengikat dan membawamu kembali." Ucap Sima Junke dengan tajam. Pria itu menurunkan pedangnya dan kemudian menarik kasar lengan Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan menghempaskan lengannya dengan keras membuat genggaman Sima Junke pada lengannya terlepas.
"Diperjamuan esok hari kau akan dijodohkan oleh salah satu gadis dari keluarga besar. Kubu yang mendukungmu akan semakin kuat. Itu akan membuatmu semakin terjerat dan sulit melepaskan diri," Ucap Xiu Qixuan membuat Sima Junke semakin terdiam membeku kemudian pria itu menatapnya dalam berusaha menyelidiki.
"Apa tujuanmu?" Tanya Sima Junke dengan pelan tetapi penuh ancaman.
"Membantumu," Jawab Xiu Qixuan dengan cepat.
Sima Junke mengangkat sudut alisnya tidak percaya dengan jawaban Xiu Qixuan.
"Aiyaa, jangan menatapku seperti itu. Baiklah—baiklah, aku hanya ingin memiliki identitas selain tahanan perang. Kau tahu? identitasku sekarang ini sangat menyakitkan dan menyulitkanku. Aku menjadi mudah ditindas dan diabaikan. Tidak dapat bebas berkeliling, tidak dapat sepuasnya memakan-makanan enak dan juga tidak memiliki uang untuk berbelanja." Ucap Xiu Qixuan berakting seolah menjadi korban yang tersakiti.
"Intinya aku ingin menjadi tunanganmu disini!" Ucap Xiu Qixuan tanpa berpikir.
Sima Junke tersentak kaget dan memundurkan langkahnya takut, mengira gadis didepannya kerasukan iblis.
Xiu Qixuan mengerjapkan matanya sangat lucu dia juga terlihat kebingungan.
"Maksudku, berpura-pura menjadi tunanganmu. Sebelum nenekmu mengumumkan secara terbuka, kau masih dapat membalikan keadaan. Sisanya serahkan padaku," Ucap Xiu Qixuan dengan percaya diri menepuk dadanya bangga.
"Apa keuntungan yang kau dapat? dan apa keuntungan yang kudapatkan?" Tanya Sima Junke
Kesepakatan mereka termasuk menjalin bisnis yang harus memikirkan untung dan rugi.
"Menjalin kesepakatan seperti bisnis, syarat utama agar bisnis berhasil adalah kepercayaan. Aku akan mempercayaimu, dan kau harus mempercayaiku. Langkah pertama adalah jujur terhadap rekan," Ucap Xiu Qixuan memandang serius Sima Junke.
"Keuntungan yang kudapatkan adalah memiliki nama-mu untuk menjadi penyokong selama diriku disini." Ucap Xiu Qixuan dengan jujur akan niat sebenarnya.
"Dan pasti kau sudah menebak keuntungan yang kau dapatkan, membebaskan jeratan pernikahan dari nenekmu." Lanjut Xiu Qixuan
"Bagaimana? Apakah kau tertarik?" Tanya Xiu Qixuan memiringkan wajahnya.
"Berapa persen keberhasilan dari rencanamu? dan aku memberi peringatan padamu, nenekku tidak mudah kau bodohi." Jawab Sima Junke
"Hanya kalau kau dapat berkerja sama denganku, rencana ini akan seratus persen berhasil." Ucap Xiu Qixuan dengan yakin.
"Nenekmu memang tidak mudah untuk dibodohi tetapi dia juga tetap manusia lanjut usia." Gumam Xiu Qixuan pelan tetapi masih dapat didengar Sima Junke yang berusaha menahan senyum geli. Gadis ini benar-benar!
"Baiklah—kita sepakat," Ucap Sima Junke memasang wajah datar.
Xiu Qixuan meloncat kesenangan dan mengangkat satu lengannya untuk berjabat tangan dengan Sima Junke.
"Apa langkah pertama dari rencanamu?" Tanya Sima Junke dengan serius.
"Tentu saja kau harus membawaku menghadiri perjamuan. Siapkan baju yang bagus untukku," Ucap Xiu Qixuan dengan antusias.
Sima Junke mengangguk mengerti.
"Yasudah aku akan kembali, lanjutkan saja kegiatanmu itu." Ucap Xiu Qixuan dengan senyum yang masih tercetak jelas diwajahnya.
"Tunggu," Sima Junke bersuara membuat Xiu Qixuan berhenti melangkah tepat didepan pintu bangunan. Satu hal lain baru saja terlintas di pikiran Sima Junke.
"Kau melakukan ini untuk Aisin Tianyi?" Tanya Sima Junke dengan suaranya yang memberat.
Xiu Qixuan mengerutkan kening dan menjawab dengan mengedikan bahu, "Mungkin salah satunya itu,"
*******
Beberapa Jam Sebelumnya.
Xiu Qixuan dengan antusias merias dirinya dibantu oleh pelayan wanita yang disiapkan oleh Sima Junke.
Saat ini Xiu Qixuan ditempatkan diruangan mewah dekat dengan tempat tinggal Sima Junke.
Dirinya sangat antusias untuk berperang dengan nenek tua itu. Senyum tidak kunjung surut dari bibirnya, senang karena mendapatkan kemudahan untuk bertindak.
Setelah selesai bersiap dia berjalan menuju tempat tinggal Sima Junke ditemani oleh dua pelayan wanita dibelakangnya.
Saat tiba ditempat tinggal Sima Junke, Xiu Qixuan memasuki ruangan karena dipersilahkan. Terlihat Sima Junke yang masih bersiap dengan malas.
"Kau ini bersiap lebih lama dariku," Berdecak Xiu Qixuan menggelengkan wajah.
"Kita akan datang telat, kau saja yang terlalu antusias berias." Jawab Sima Junke dengan acuh.
Memang benar rencana mereka adalah membuat para tamu perjamuan menunggu. dan diwaktu mereka datang akan mengumumkan hal yang membuat kehebohan.
Setelah beberapa saat menunggu, Sima Junke selesai bersiap.
"Kita berlatih terlebih dahulu," Perintah Xiu Qixuan menarik Sima Junke agar menghadapnya.
"Kau cobalah untuk tersenyum lembut padaku," Perintah Xiu Qixuan
"Sangat tidak tulus—Bukan seperti itu. Haha.. Senyummu seram sekali. Taruh lengan kiri-mu dipinggangku, canggung sekali—rileks kan tubuhmu." Ucapan demi ucapan diiringi tawa terdengar dari dalam ruangan.
••••••••••