Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Kau Tidak Ingin, Aku Yang Ingin.



Tiba-tiba teringat sesuatu, Xiu Qixuan menolehkan wajah kembali untuk bertanya kepada Sima Junke. "A Jun, hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Sekte Xitian?"


Hening sejenak


Sima Junke menundukan wajahnya berusaha menyembunyikan ekspresi pahit yang melanda hatinya.


Senyum menenangkan muncul diwajah cantik gadis itu, tangan yang terulur sebelumnya untuk menjauhkan pria dihadapannya menjadi terulur untuk mengusap lembut bahu sang pria.


"Tidak apa, lupakan saja pertanyaanku. Kalau kau memang merasa berat untuk menjawab," Ucap Xiu Qixuan giliran ia yang menjadi lembut untuk menenangkan Sima Junke.


Xiu Qixuan merasa bahwa dirinya dan Sima Junke sangat selaras dapat menjadi rekan baik untuk saling menyokong di dalam rencana apapun.


Mendongak untuk menatap Xiu Qixuan, Sima Junke balas tersenyum sebelum dirinya memegang bahu Xiu Qixuan dengan kedua tangan kokohnya.


"Berbicara sambil duduk, kakimu masih terluka." Ucap Sima Junke membantu agar Xiu Qixuan terduduk diposisi nyaman.


Tindakan kecil ini membuat Xiu Qixuan mematung dengan hati yang menghangat. Bagaimana bisa pria ini masih mengingat lukanya dalam keadaan perasaan pria itu sedang tidak karuan akan pertanyaan yang dilontarkannya?


Sesudah memastikan Xiu Qixuan terduduk dengan nyaman, Sima Junke memposisikan diri berlutut disamping gadis itu. Dia menarik napas panjang kemudian berucap, "Aku akan menceritakannya padamu,"


Xiu Qixuan memasang indra pendengarannya berusaha mendengarkan dengan baik.


"Ibuku, ibuku adalah putri dan adik dari dua generasi Ketua Sekte Xitian. Beberapa bulan yang lalu ia kembali dan ikut bertarung tanpa memberitahuku. Aku terlambat untuk mengetahuinya—" Tersendat Sima Junke dengan pandangannya jatuh menerawang.


"Saat aku berusaha membantu ibu-ku dengan membawa banyak orangku, Nenek menghalanginya. Dia berkata semua itu tidak berkaitan dengan Nanbao kami. Betapa kejamnya ia, ibu-ku adalah menantunya—aku sangat marah padanya." Lanjut Sima Junke dengan membara, mata pria itu memerah marah dan lengan yang mengepal erat.


Lengan Xiu Qixuan terulur mengelus lembut tangan Sima Junke yang mengepal erat berusaha untuk menenangkan.


Nyonya Tua ini kenapa tidak kunjung memikirkan kematian diusia senja nya dan malah lebih memilih untuk terlibat dalam urusan militer dan politik. Benar-benar wanita tua yang tangguh.


"Aku pergi seorang diri dengan memacu kudaku tergesa siang dan malam tanpa henti untuk mencapai wilayah Sekte Xitian. Tetapi—" Tercekat Sima Junke dengan menarik napas panjang, entah mengapa pasokan oksigen seperti tidak mencapai paru-parunya.


"Aku terlambat lagi dan lagi. Saat diriku sampai, keadaan disana begitu hening dan berantakan. Mayat bergelimpangan dengan darah yang menggenang, aku berusaha untuk menemukan ibuku." Lanjutnya dengan mata yang semakin memerah.


"Saat aku menemukannya, ibuku sudah tergeletak bersimbah darah. Luka menganga lebar dari dada dan punggungnya, napasnya tersendat."


"Wajahnya masih tersenyum menatapku sehangat biasanya. Dia berkata, 'A Jun -ku yang baik, kenapa kau menangis? Bukankah kau adalah Pria Nanbao yang paling tangguh? Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja untukmu.' Ibu-ku selalu seperti itu, berpura-pura tidak merasakan sakit. Aku sangat membenci hal yang satu itu," Ucap Sima Junke dengan napasnya memburu hebat perasaannya begitu sakit saat menceritakan hal tersebut.


Sima Junke mendongakkan wajah menatap Xiu Qixuan dengan mata yang memerah.


"Xuan'er, jelaskan padaku apa-nya yang baik-baik saja? Ibuku sekarat dipelukanku, dan aku tidak dapat melakukan apapun!" Ucap Sima Junke dengan keras.


"Semua orang diluar berpikir bahwa Ibu-ku dan Ayah-ku adalah pasangan yang serasi dan saling mengasihi. Tetapi, mereka semua salah. Aku masih dapat mengingat dengan jelas, bagaimana ibuku menangis dalam diam karena diacuhkan oleh ayahku."


"Saat itu aku memendam banyak pertanyaan, kenapa ayahku menikahi ibuku kalau dia tidak mencintainya? apakah cinta seseorang begitu cepat memudar tertelan oleh sang waktu?" Lanjut Sima Junke memandangi wajah Xiu Qixuan dengan pandangan sendu.


"Tepat kepergian ayahku yang terlalu mendadak saat aku masih kecil. Seorang anak kecil berpikiran polos merasa lega karena tidak akan melihat lagi ibunya yang menangis diacuhkan oleh ayahnya. Sejak saat itu tujuan hidupnya adalah untuk membuat sang ibu bahagia, tetapi belum sempat diwujudkan—ibunya meninggalkannya seorang diri."


Xiu Qixuan menggelengkan wajah, kedua bolamata gadis itu juga ikut berkaca-kaca merasakan emosi kesedihan yang meluap dari Sima Junke.


'Brukk,' Tanpa diduga oleh siapapun Xiu Qixuan mendekap tubuh Sima Junke untuk menenangkan pria itu.


Sima Junke memejamkan kedua bola-matanya, ia mendekat balas memeluk pinggang Xiu Qixuan dan menunduk meletakkan wajahnya dibahu Xiu Qixuan.



"A Jun, aku yakin ibumu sangat bahagia karena kau hadir didalam hidupnya. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kau akan membuatnya bersedih," Ucap Xiu Qixuan dengan suara yang bergetar.


"Kau tidak bersalah, kenapa kau harus menyakiti dirimu dengan perasaan itu? Jangan salahkan dirimu dan jangan salahkan cinta yang dimiliki oleh ibu dan ayahmu." Lanjut Xiu Qixuan dengan mengelus punggung Sima Junke.


Sima Junke semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Xiu Qixuan.


"Kamu bisa merindukannya dan kamu bisa bersedih. Tapi kamu harus hidup dengan baik dengan harapan ibumu." Ucap Xiu Qixuan dengan lembut.


"Semua yang terjadi pasti memiliki alasan dan penyebabnya, aku akan menemanimu mencari tahu mengenai semua pertanyaanmu, baik?" Lanjut Xiu Qixuan dengan tersenyum lembut saat merasa Sima Junke sudah lebih tenang.


"Umm...." Jawab Sima Junke sedikit mengangguk dengan wajahnya yang masih berada diceruk leher Xiu Qixuan menciumi aroma khas yang menguar dari gadis itu.


Napas pria itu begitu menggelitik. Xiu Qixuan ingin melepaskan pelukan mereka dengan berusaha menjauh tetapi Sima Junke malah semakin mempererat memeluk pinggangnya.


"Jangan bergerak, sebentar saja." Ucap Sima Junke dengan suara serak berbisik diceruk leher Xiu Qixuan, ia menahan gadis itu yang berusaha menjauh.


"A Jun, bagaimana jika ada orang lain yang melihat? Reputasiku—" Ucap Xiu Qixuan terjeda karena Sima Junke memotong perkataannya.


"Aku akan menikahimu, jika mereka melihatnya. Lagipula sejak kapan kau mementingkan perihal reputasi?" Sergah Sima Junke dengan suara magnetisnya yang mutlak tak terbantahkan.


"Berucap begitu mudah. Siapa juga yang ingin menikah denganmu," Cibir Xiu Qixuan mendengus geli masih mengira hanya candaan yang dilontarkan pria ini.


"Kau tidak ingin, aku yang ingin." Balas Sima Junke


'Deg,' Jantung Xiu Qixuan berdetak kencang. Tidak ingin mengatakan apapun karena untuk mengantisipasi ucapan Sima Junke tidak sama dengan yang dilontarkan Ji Gui.


Xiu Qixuan menghela napas panjang dan terdiam. Baiklah, biarkan sebentar saja mereka seperti ini. Mereka sama-sama kelelahan akan kerumitan hidup juga perasaan yang kalut.


••••••••••


Author up dua chap nih langsung dicepetin up nya, tdinya chap ini buat bsk tpi karena kalian aktif di koment dan ngasih cerita ini hadiah vote, jdi author cepetin jam terbitnya. kalau mau kaya gini terus jgn lupa dukungannya luv💖


A Jun gentle banget uwuw tpi jgn modus juga napa sih haha. Xiu Qixuan ketakutan itu kalo sama kaya Ji Gui yang tiba-tiba mengungkapkan cinta.


Author ajarin nih tahan dlu, ambil dlu hati sang fl kita dengan tindakan gentle-mu, baru dah mengungkapkan cinta, iya ga sih? pastinya iya dong.


Btw, bapak dan emaknya sih A Jun ngapa tuh ya? Author kira juga pasangan yang saling mencintai gitu padahalkan ga dijodohin malah dibawa dari luar emaknya sih A Jun untuk dinikahi. ternyata tidak semulus itu ferguso.