
Pada saat ini, di dalam ruang baca kekaisaran. Xia Qian Che terduduk menahan buncahan amarah, dapat terlihat dari wajah tampannya yang menggelap suram dipenuhi kerutan ketidaksenangan.
Matanya berkilat tajam menatap Niao Lei yang menunduk penuh penyesalan.
"Apa katamu?! Coba katakan sekali lagi, zhen sepertinya tidak mendengar dengan jelas." Suaranya rendah namun memiliki tekanan yang memberatkan atmosfer di sekeliling nya.
"Maafkan kecerobohan menteri ini, Yang Mulia." Niao Lei bersuara dengan lugas memohon pengampunan. "Kelompok pemberontak menyerang untuk membantu Ning Jing meloloskan diri. Itu dapat ditangani dengan kekuatan pasukan militer kita."
"Mereka berakhir dengan tidak berhasil mengambil kembali tuan mereka. Dan, Ning Jing sendiri saat ini berhasil kami amankan. Kami sudah menempatkannya diujung penyiksaan penjara bawah tanah sesuai perintah." Jelasnya.
Xia Qian Che bergumam dengan datar menanggapi, "Sepertinya Xiaoyin tidak begitu berguna, ya."
Padahal ia sengaja menggunakan Ning Xiaoyin sebagai tawanan utama agar Ning Jing tidak melakukan aksi yang gegabah.
Ning Jing memiliki koneksi luas dalam sektor perdagangan. Sebagian ekonomi kekaisaran ada dalam genggamannya. Ia memiliki serikat perdagangan yang memberikan banyak modal pada usaha menengah keatas.
Disisi lain, Xia Qian Che terganggu akan hal tersebut. Ia melihat Ning Jing seperti ngengat di nyalanya api. Tetapi, dilihat dari reaksinya. Ini bukanlah topik yang membuatnya marah.
"Eum, namun—," Niao Lei melanjutkan perkataannya dengan menahan gugup karena ini adalah inti kesalahannya dalam melaksanakan tugas rahasia yang diberikan oleh sang penguasa utara.
Melihat kegugupan sang subjek membuat Xia Qian Che mengetukan jari-jarinya diatas meja penuh ketidaksabaran dengan sedikit memiringkan wajah yang membentuk lirikan tajam. Ia berkata dengan sedikit menuntut, "Namun?"
Dia menuntut kesempurnaan dalam memberikan perintah. Menolak menerima kesalahan sekecil apapun, seolah-olah itu dapat menyakiti telinga.
"Kami juga berhasil membawa orang luar yang diperintahkan oleh Yang Mulia." Ucap Niao Lei yang menunduk kaku.
Sejenak Niao Lei menarik napas untuk kembali melanjutkan perkataannya yang terjeda, "Tetapi karena kelalaian saya yang kurang memperhatikan. Orang luar tersebut menghilang tepat pada saat pasukan sedang disibukan oleh kelompok pemberontak. Kami hanya berhasil menemukan Ning Jing yang tergeletak tak sadarkan diri bersama beberapa penjaga yang menjaga disekitarnya."
Jelas bahwa orang luar yang dimaksud oleh Niao Lei adalah Rui Jizhang.
Xia Qian Che memperintahkan Niao Lei agar mencari orang asing yang selama ini berada dalam perlindungan Ning Jing di Kediaman Ning. Ia secara khusus memberi perintah agar Rui Jizhang dibawa kehadapannya dalam kondisi hidup.
Tetapi, Niao Lei gagal melaksanakan tugas penting tersebut. 'Brukk..' Niao Lei segera jatuh berlutut untuk melakukan kowtow, memohon penebusan.
Xia Qian Che terdiam. Jari-jarinya membentuk kepalan dengan pandangan yang menggelap murka. Ia sejenak termenung untuk menafsirkan perkiraan.
Pupil mata Xia Qian Che berkedut, wajahnya mengeras kaku. Bukankah, hanya terdapat satu orang yang berkaitan dengan Rui Jizhang. Orang yang melakukan banyak cara untuk menangkap buronan tersebut.
Orang itu...
"Qi Qi." Gumam pelan Xia Qian Che dengan tiba-tiba.
Segera Xia Qian Che beranjak dari kursinya untuk berkata keras dengan satu tangan yang terangkat menunjuk sisi pintu, "Cepat—, cepatlah temui Nona Qi dan bawa dia kemari!" Perintahnya.
"..." Wajah Niao Lei mendongak polos dengan sejenak termangu oleh perintah yang penuh kejutan.
"Segera bawa gadis itu kehadapan—," Terjeda Xia Qian Che.
Karena tiba-tiba Kasim Cui datang menghampiri untuk membisikan beberapa patah kalimat yang membuatnya terbelalak. "Apa katamu?! Mati terbakar?" Sentak Xia Qian Che dengan sedikit berteriak keras kearah Kasim Cui.
Wajah tampannya semakin suram dengan geraman emosi yang membuncah keluar.
Kasim Cui melangkah mundur dengan menunduk untuk menjawab lugas, "Terdapat laporan bahwa halaman tempat tinggal yang ditempati Nona Qi hangus terbakar. Ia berserta pelayannya tewas ditempat."
"Sial, kematian macam apa yang sengaja dia ciptakan untuk melarikan diri." Geram Xia Qian Che merutuk tak percaya.
Mendengar perkataan dan melihat raut wajah gelap yang terpancar dari Xia Qian Che membuat Niao Lei meringis terkejut karena ia begitu tertekan oleh atmosfer yang semakin memberat.
"Kasim Cui, segera siapkan kereta kuda. zhen ingin melihatnya sendiri." Suara Xia Qian Che kembali mengalir rendah namun tatapan matanya begitu dingin nan tajam.
"Baik, Yang Mulia." Jawab Kasim Cui dengan patuh menunduk kemudian berbalik pergi.
Xia Qian Che kembali menatap Niao Lei kemudian berucap, "Berdirilah." Perintahnya.
"Ya terimakasih, Yang Mulia." Balas Niao Lei dengan cepat beranjak.
"Niao Lei!" Panggil Xia Qian Che dengan dingin.
"Menteri ini menjawab Yang Mulia." Tanggap Niao Lei.
Kemudian seringai obsesif terpasang diwajah tampannya ketika ia bergumam seorang diri, "Qi Qi, siapa yang mengizinkanmu? Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah mengacaukanku."
Menyaksikan wajah kejam sang Kaisar, tanpa sadar Niao Lei bergidik ngeri membuatnya tergesa-gesa keluar untuk segera melaksanakan tugas.
Disudut lain dalam Ibukota Hanzhou, Pavillun Qingke yang menjadi pusat perkumpulan Bintang Asura yang sedang berkamuflase di Xia Utara.
"Ban Xia menghadap Iblis Asura yang agung." Ucap Ban Xia memberi sapaan penghormatan.
Mozi hanya meliriknya jengkel untuk berdeham acuh. "En, bagaimana?"
Terlihat bahwa dia sedang bersantai menikmati teh hangat dalam cuaca yang dingin. Sejak kejadian dimana Mozi dipermalukan oleh Xiu Qixuan, suasana hati pria ini menjadi sangat buruk. Apalagi ia tidak diperbolehkan keluar karena kecerewetan Ban Xia akan kesehatan.
Pasalnya baru dua kali Mozi menderita kerugian karena terluka. Dan, semua itu disebabkan oleh orang yang sama yaitu Xiu Qixuan.
Karena hal tersebut membuat Ban Xia menjadi sangsi atau ragu untuk membiarkan sang ketua terjun langsung berhadapan dengan gadis itu. Ia membujuk ketuanya untuk menunggu saja dengan tenang.
"Kami terlambat selangkah. Gadis itu sudah berhasil membawa Rui Jizhang dalam genggaman." Jawab Ban Xia dengan lugas tanpa gemetar.
'Prang..' Cangkir teh terbanting tepat dihadapan Ban Xia dan dibiarkan pecah berserakan dilantai.
"Dasar bodoh dan lambat." Cerca Mozi dengan kesal segera beranjak untuk berdiri.
"Tenanglah sedikit, Ketua. Kami sudah menemukan jejak dan saya akan segera membawa orang untuk mengacaukan mereka. Dan, mendapatkan Rui Jizhang." Ucap Ban Xia dengan penuh pancaran keyakinan.
Mozi mendengus dengan meliriknya, "Dimana?"
Ban Xia mengernyitkan kening tak mengerti, "Apa?"
"Ck, bodoh. Maksudku dimana gadis itu?" Decak Mozi dengan mengerut kesal.
Ban Xia menghela napas pasrah, ketuanya terkadang menjadi sedikit kekanakan jika berkaitan dengan beberapa hal yang menarik perhatiannya.
•••••••••••••