
Dan di sinilah kedua gadis yang sama-sama pembuat onar itu sekarang berada. Danau bagian belakang istana dalam. Ini tampak jernih dan luas, dengan bukit berkabut di seberang masuk alirannya.
Kedua gadis itu jatuh tertegun ke dalam imajinasi milik mereka masing-masing.
Suasana terasa hening dan hampir membeku. Xiu Qixuan merasa detak jantungnya perlahan melambat.
Mata Xiu Qixuan mengerjap lurus. Melihat satu sosok pria kurus yang tampak lemah di kejauhan. Dia memiliki rambut perak yang indah namun penampilan dan baju yang di kenakannya begitu lusuh dan sedikit kotor.
"Hoh, pria cantik berambut perak! Sesuai rumor, apakah itu pangeran ketiga yang selama ini berdiam diri di istana dingin?" Suara Su Yiyang memecah keheningan, dia tersedak penuh semangat.
Saat bertemu hal-hal baru yang tidak pernah dia temui, Su Yiyang selalu di lingkupi rasa keingintahuan yang tinggi. Dia tidak seperti kebanyakan orang yang takut ketika melihat penampilan aneh dari pangeran ketiga.
Shen Yuan Zi berdiri kosong di bawah pohon. Matanya sayu memandang lurus ke arah air danau jernih yang berkilau di terpa cahaya matahari. Ketika melihat sinar matanya yang tanpa kehidupan, kita bisa merasakah rasa tidak berharga yang secara alami dia perlihatkan.
"Ayo, kita akan menyapanya!" Su Yiyang bergerak cepat menarik tangan Xiu Qixuan.
"Tunggu sebentar, Su Yiyang! Jangan ceroboh." Xiu Qixuan berdecih untuk menolak. "Dia tidak melihat kita. Lebih baik kita kembali saja. Kelas juga akan segera selesai. Xiao Rou dan Jiajia sudah menunggu." ujarnya
Untuk suatu alasan Xiu Qixuan memiliki keengganan tersendiri untuk lebih mendekat. Dia merasakan perasaan samar yang tidak menentu.
"Kamu itu ngomong apa, 'sih? Kita hanya perlu mengenalkan diri sebagai pelayan sesuai penyamaran. Ini pertama kali pangeran ketiga terlihat tahu!" Su Yiyang keras kepala, dia berkata gigih sesekali melemparkan lirikan antusias pada sosok Shen Yuan Zi di kejauhan.
Xiu Qixuan menghempaskan tangan Su Yiyang yang sedang menariknya. Dia merengut jengah dan berbicara kasar: "Kalau pangeran itu mengenali wajah kita kedepannya nanti bagaimana? Kau ini sangat ceroboh atau terlalu berani?!"
"Sudahi sekarang, ayo pergi!" Xiu Qixuan segera memutar tubuhnya, tidak membiarkan Su Yiyang membantah.
Tiba-tiba, suara Su Yiyang terdengar kencang menghentikan langkah kaki Xiu Qixuan. "Tunggu, tunggu Qixuan! Itu pangeran ketiga..." Dia menaruh tangan di bahu Xiu Qixuan dan secara spontan segera membalikkan tubuh gadis itu agar melihat ke arah sosok Shen Yuan Zi berada. "Pangeran ketiga sedang menatap kita sekarang!" ujarnya dengan bergetar penuh penekanan.
Xiu Qixuan sekilas berdecak dan mengangkat pandangannya. Sejenak dia berhenti bernapas, ketika melihat tatapan sayu yang penuh penderitaan milik seseorang berbenturan dengannya.
Wajah alami Shen Yuan Zi sangat tampan, terlahir dengan wajah menawan dan lembut. Dibandingkan para pangeran lain, dalam beberapa bagian dia kurang maskulin tetapi karena itulah kesan elegan lebih timbul darinya.
Dia memiliki mata phoenix yang indah dan melengkung tajam, ketika dia melihat dengan matanya yang tampan, orang akan takut jatuh kedalam pesona nya. Dia mewarisi penampilan ibunya, Dewi Agung Yinxi.
Namun Shen Yuan Zi begitu pucat dan tidak memiliki warna. Dia lusuh dan rapuh. Entah mengapa untuk beberapa alasan Xiu Qixuan merasa sesak tersendiri ketika sedang melihat sosoknya tersebut.
Karena sibuk tenggelam dalam pikirannnya sendiri. Xiu Qixuan tanpa sadar sudah ditarik oleh Su Yiyang mendekati Shen Yuan Zi.
Mereka sudah berdiri di hadapan pangeran tersebut.
Ada jeda di antara mereka bertiga. Sebelum akhirnya Su Yiyang berdeham untuk berbicara dengan nada riang menyapa: "Pelayan ini melihat Yang Mulia Pangeran Ketiga!"
Xiu Qixuan segera mengikuti Su Yiyang untuk membungkuk hormat.
Su Yiyang menautkan alis. "Yang Mulia?" ia bergumam kebingungan melihat Shen Yuan Zi yang tidak bereaksi apa pun untuk menerima salam sapaannya.
Giliran Xiu Qixuan yang segera mengangkat kepalanya ketika tidak kunjung mendengar respon apa pun. Dia berkata dengan lugas: "Apa kami sekarang sudah boleh menegapkan tubuh kami, Yang Mulia?"
Mata Shen Yuan Zi tiba-tiba mengerjap tersadar. "En... yaa, kalian boleh bangkit!" Dia berdeham kaku kemudian terdiam lagi untuk memandangi Xiu Qixuan terus menerus.
Kerutan di wajah Xiu Qixuan semakin dalam, dia merasa aneh melihat Shen Yuan Zi yang hanya akan bereaksi ketika dia berbicara.
Mata Xiu Qixuan tajam mengamati Shen Yuan Zi. Pria jangkung ini tampak begitu kurus, mungkin tubuhnya hanya di balut oleh tulang dan kulit. Dia terlihat menyedihkan di banyak sisi.
"Apa anda makan tiga kali sehari?" Secara spontan bibir Xiu Qixuan bergerak mengutarkan pertanyaan yang berada dalam otak kecilnya.
Mendengar kalimat itu, Su Yiyang segera mencubit pinggangnya. Dia mencibir untuk berbisik: "Pertanyaan aneh macam apa itu, Qixuan?! Kau sudah tidak sopan, kita ini sedang menyamar sebagai pelayan!"
"Ah, iya iya! Tapi bukankah pangeran ini terlihat sangat menyedihkan?" Xiu Qixuan meringis balas berbisik rendah. "Dia begitu kurus dan tidak terawat." ujarnya
Su Yiyang melirik Shen Yuan Zi sekilas, kemudian dia mengangguk menyetujui ucapan Xiu Qixuan.
"Tapi tetap saja kau tidak boleh berbicara langsung macam itu!" Su Yiyang mengeluarkan kalimat keluhan.
Dengan senyuman bisnis, Su Yiyang kemudian kembali menoleh untuk berbicara lagi pada Shen Yuan Zi: "Yang mulia, apakah anda membutuhkan sesuatu dengan berdiam diri di sini?" Dia melanjutkan, "Pelayan ini siap membantu kebutuhan anda."
Tetapi Shen Yuan Zi tetap tidak memberi respon apa pun padanya.
Wajah Su Yiyang tampak mengerut kusut. Bibirnya mengerucut ketika dia di abaikan.
Melihat melalui ekor matanya Xiu Qixuan menahan tawa. Baru pertama kali dia melihat Su Yiyang yang pandai menarik seseorang untuk berbicara, sekarang malah tidak mendapat tanggapan.
Su Yiyang berdecih menyadari Xiu Qixuan yang sedang meledeknya.
Berdeham. Xiu Qixuan kembali serius melihat Shen Yuan Zi yang tampaknya tidak kunjung melepaskan pandangan darinya. Dia mengangkat suaranya tenang: "Kalau begitu pelayan ini akan pamit mundur untuk memberi anda ruang."
Xiu Qixuan segera menarik Su Yiyang untuk membungkuk dan perlahan berbalik memutar tubuhnya.
Sebelum benar-benar melangkah pergi, Xiu Qixuan mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Shen Yuan Zi.
"Ini permen ajaib, makanlah dan anda akan penuh energi!" Mengerlingkan mata, Xiu Qixuan berkata dengan tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya.
Shen Yuan Zi mengerjap. Memandangi punggung ramping itu yang perlahan menjauh. Kabut memenuhi kedua matanya, ada secercah cahaya kehidupan di sana sekarang.
Dia mengangkat tangannya yang di penuhi bungkusan permen buah berwarna-warni. Sebuah permen ajaib. Mungkinkah permen ini juga akan memberinya sebuah harapan untuk tetap bertahan hidup?
••••••••••••••••