Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Guru Biyan : Simpul Yang Melekat Tidak Terputus



..."Tidak peduli seberapa arogan waktu berlalu, cinta mereka menolak untuk menjadi layu." -Guru Biyan...


•••••••••••••••


Guru Biyan tersenyum kecut; "Aku berada disana—menyaksikan akhir yang tak terduga itu dan tanpa sadar aku sudah masuk kedalam alur cerita mereka."


"Seperti papan tanda dijalan bercabang dan seperti lampu di dalam kegelapan. Mungkin dapat di bilang peranku di buat seperti itu—sampai detik kamu datang menemuiku."


Xiu Qixuan memandang Guru Biyan dengan datar tanpa emosi seolah ia begitu acuh tak acuh. Tetapi, Xiu Qixuan tidak bisa menyembunyikan getaran bahwa dia sejak tadi mendengarkan cerita tersebut dengan seksama.


"Wen Liu sedang mengandung Qiaofeng dan juga dirimu, nak." Mata Guru Biyan menerawang kosong dan lanjut bercerita. "Aura Kehidupannya lemah karena kalian anak-anaknya mengambil energi tersebut untuk tumbuh."


"Dia tidak bisa menggunakan itu karena akan membahayakan nyawa dan bayinya." Guru Biyan berkata lebih tajam. "Tetapi, dia memilih untuk menggunakan seluruh hidupnya. Memberikan semua kekuatan yang dia miliki kepada Xiu Haocun."


"Akibatnya? Tentu saja, dia akan mati." Guru Biyan berkata dengan dangkal. "Ketika Xiu Haocun kembali membuka mata..."




*Kelopak mata Xiu Haocun terbuka, dia mengira bahwa pintu neraka sudah menyambutnya di pemberhentian terakhir*.



*Tetapi, secara mengejutkan adalah bahwa dia masih berada di wilayah kekalahan perang yang telah hancur oleh pengkhianatan seorang badebah*.



*Tubuhnya memang masih terasa nyeri, tetapi, itu lebih nyaman untuk di gerakkan*.



*Ketika Xiu Haocun mengedarkan pandangan kesamping. Betapa terkejutnya dia melihat Wen Liu yang terkapar pingsan*.



"*Liu'er*!"



*Tergesa-gesa dia meraih tubuh Wen Liu kedalam dekapan hangat. Wajah Wen Liu memucat dan napasnya berdenyut lemah. Darah sudah mengalir dari kedua sisi pahanya*.



*Jantung Xiu Haocun berdebar kalut. Keringat dingin membanjiri dahinya*.



***Grap***..



*Dia begitu panik segera mengangkat tubuh Wen Liu kedalam gendongan. Dan, berlari mencari kuda atau apapun untuk membawa Wen Liu ke seorang tabib di dalam kota atau desa terdekat*.



*Terlihat seekor kuda putih yang memakan rerumputan liar. Itu adalah kuda yang sebelumnya di tunggangi oleh Wen Liu*.



*Xiu Haocun bergegas menaikkan tubuh Wen Liu keatas pelana kuda kemudian dia menyusul naik dari belakang mendekap tubuh Wen Liu yang sudah dingin*.



![](contribute/fiction/2125469/markdown/10367472/1640618668989.jpg)



***Ngikk***...



*Dia memecut kuda bak orang kesetanan. Kuda berlari kencang dengan hembusan angin membawa kepulan debu musim panas*.



*Tiba-tiba di ujung jalan terlihat seorang kakek tua berpakaian seperti pendeta taoist dengan membawa keranjang berisi herbal*.



"*Apakah kalian butuh bantuan, nak*?"



*Xiu Haocun segera menarik tali kekangnya dan berhenti di depan kakek tua yang menawarkan bantuan*.



"*Istriku, istriku kesakitan..." Xiu Haocun tergagap panik berusaha menjelaskan*.



"*Ikuti aku. Bawa istrimu ke Kuil -ku di puncak gunung." Kakek tua yang di kenali sebagai Guru Biyan itu memberi arahan dengan baik hati*.



*Kota Hu dekat dengan Gunung Kuang. Itu membuat Xiu Haocun setuju, ia yakin bahwa istrinya akan mendapatkan perawatan yang lebih layak dan mereka akan lebih aman disana daripada tinggal di dalam kota*.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



***Kuil Biyan, delapan belas tahun yang lalu***.



*Aroma herbal menyengat memenuhi ruangan, diatas ranjang yang dingin sesosok wanita muda dengan perutnya yang membesar itu terbaring rapuh*.



'*tuk, tuk...' Guru Biyan menumbuk herbal di meja yang berjarak dekat dengan ranjang*.



*Kelopak mata wanita muda itu perlahan terbuka. Dia menolehkan wajah mencari-cari keberadaan seseorang*.



*Guru Biyan yang mendengar suara gemerisik pun menoleh kearahnya terkejut*.



"*Kau sadar?" Guru Biyan tidak mengira bahwa Wen Liu masih dapat terbangun dengan energi kehidupannya di Daratan Ca Li sudah habis dia berikan kepada Xiu Haocun*.



*Wen Liu berkata rendah dengan suara yang serak; "Suami saya*?"



"*Tenanglah, suamimu berada di ruangan sebelah. Aku memerintahkannya untuk menunggu sembari beristirahat. Suamimu terlihat sangat kelelahan, sampai aku mengira dia adalah mayat hidup." Guru Biyan menjawab dengan ringan*.



*Mendengar perkataannya, Wen Liu bernapas dengan lega seolah-olah setengah bebannya terangkat*.



***Hng***...




*Guru Biyan mengamati perubahan wajah Wen Liu, Ia segera bergegas mendekat untuk memeriksa dengan cermat*.



"*Tolong, selamatkan bayiku..." Wen Liu berkata dengan airmata yang sudah menggantung menahan sakit*.



*Ekspresi Guru Biyan dengan tajam menjadi lebih serius; "Aku tidak berjanji." Karena kondisi Wen Liu sangat tidak memungkinkan untuk melahirkan bayi yang bertahan hidup*.



\*\*\*\*\*\*\*\*



*Sinar perak bulan cerah yang dangkal menggantung di langit yang bertitik-titik oleh cahaya bintang*.



*Selama beberapa jam dilalui dengan kesulitan yang pelik—Guru Biyan di temani oleh seorang muridnya membantu Wen Liu*.



*Baskom air hangat yang tercampur oleh darah tercecer di sudut-sudut ruang kamar. Keringat dingin membanjiri kedua orang yang membantu untuk melahirkan*.



"*Xiao Jin, cepat bawakan air lagi!" Guru Biyan berteriak memerintah*.



***Hng***.... *Wen Liu mengejan kesakitan dengan kulitnya yang memucat, urat dalam nadinya terlihat menonjol menakutkan*.



"*Ya, Guru." Xiao Jin, murid Guru Biyan. Itu adalah Bibi Jin dengan profile yang lebih muda*.



'***Oek..oek***...'



*Suara tangisan bayi perempuan terdengar nyaring. Bayi itu menangis dengan sangat kencang. Sosoknya begitu mungil dengan pipi bulat seputih susu dan mata hitam jernih seperti kristal obsidian yang berkilauan itu merengek*.



*Guru Biyan menggendongnya dan memberikannya kepada Xiao Jin yang baru datang dari pintu*.



"*Mandikan bayinya dengan herbal yang sudah disiapkan." Ia kembali memerintah dan memberi arahan*.



"*Ya.." Xiao Jin membawa bayi itu kesisi lain ruangan*.



*Guru Biyan melihat kearah Wen Liu yang terbaring kaku. Tangan Guru Biyan terulur mengecek nadi Wen Liu yang sudah tidak berdenyut*.



"*Semoga kedamaian menyertaimu." Guru Biyan bergumam dengan menghela napas kasar*.



'*Masih terdapat satu bayi yang belum lahir. Bayi yang belum melihat dunia luas tetapi malah ikut pergi bersama ibunya. Sungguh disayangkan*.'



*Benak Guru Biyan berdecak melihat kondisi Wen Liu yang tak lagi bergerak dengan perutnya yang belum mengecil setelah melahirkan seorang bayi*.



***Whooshh***...



*Tiba-tiba, sinar ungu keemasan datang seperti meteor yang menekan dan berayun di udara*.



*Waktu seolah-olah berhenti karena kedatangan sosok kekuatan yang mewakili Sang Dewi Tertinggi*.



*Guru Biyan tertekan oleh kekuatan itu dan jatuh berlutut di lantai yang dingin*.



\[*Wahai manusia yang akan mencapai pengetahuan tertinggi nirwana. Kutugaskan engkau membawa wanita asing dan anak dalam kandungannya kembali ke bumi melewati gerbang pembatas. Hapus ingatannya dengan kekuatan yang kuberikan*.\]



*Suara indah yang memiliki martabat suci itu bergema dengan aura menawan*.



*Sinar ungu keemasan menggelilingi tubuh Wen Liu kemudian sebuah tongkat kayu bersinar mengambang di udara*.



*Guru Biyan mempelajari taoisme dengan kebajikan yang dalam. Ia memiliki ilmu dasar yang tidak di miliki orang awam. Dirinya yang sudah mencapai tingkat pengetahuan nirwana itu menunduk lugas dengan tangan terbuka menerima tugas dan berkat kekuatan Sang Dewi*.



*Karena dunia menyerupai mesin yang sangat canggih, jika satu komponen rusak yang lain akan berantakan. Dan, Dewi Nüwa bertugas menjaga seluruh kompenen tersebut untuk memenuhi keseimbangan*.



*Dewi Nuwa melihat roda ramalan kehancuran. Ketidakseimbangan yang mengakibatkan gerbang neraka terbuka kembali. Dia tidak bisa turun tangan langsung untuk mencampuri urusan duniawi manusia*.



*Maka, dari itu*...



*Seorang bayi perempuan yang lahir diantara gerbang pembatas kedua dunia manusia. Dewi Nuwa berinvestasi banyak pada bayi itu*.



*Xiu Qixuan, gadis malang, sejak awal takdir yang di milikinya sudah berbeda dari kebanyakan orang. Dia tidak terpilih, tetapi, dia memang di takdirkan menanggung sebuah tanggung jawab besar untuk membalas berkat kehidupan yang sudah diberikan sang dewi padanya*.



••••••••••••••••••