Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sepupu Menyebalkan



Mereka saling terpaku memandang dengan penuh perasaan, menembus celah pikiran juga hati, saling memahami dan saling mengerti.


Sebuah hubungan yang terjalin dibawah situasi rumit dengan banyak sekali tekanan dan rintangan. Entah apakah mereka yang saling akan tetap bertahan?


Bibir mungil gadis cantik itu perlahan terbuka, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin selama ini sulit diucapkan.


"A Jun... Aku juga—," Terjeda Xiu Qixuan.


Suasana harmonis yang romantis itu seketika terganggu dengan kehadiran dua sosok yang tidak diundang.


Mereka mendengar suara langkah kaki kecil yang berlari dengan tergesa menuju kamar ini.


"Jiejie, tolong aku!!!" Teriak Xiao Bao menerobos masuk kamar dan langsung mendekap juga bersembunyi dibalik tubuh Xiu Qixuan.


"Adik kecil, kau ternyata sangat penakut." Cibir seorang gadis muda yang perlahan ikut masuk kedalam kamar kecil ini.


Sima Junke menatap gadis muda itu dengan sirat ketidaksetujuan kemudian dia berucap tajam, "Sikap macam apa yang kau tunjukan?"


Manchu Suyin hanya menyeringai dan berucap dengan penuh cibiran, "Biaoge, mengapa sekarang kau begitu kaku?" Kemudian dia menolehkan wajah untuk menatap Xiu Qixuan dengan pandangan dalam.


Kedua matanya menyipit tajam seperti mencoba menelusuri gadis yang terlihat lembut juga rapuh yang berdiri tepat dihadapannya ini.


Keningnya mengernyit tidak suka, ketidaksenangan terpancar jelas dari matanya. Manchu Suyin merasa bahwa Xiu Qixuan tidak cocok dengan Sima Junke, gadis itu terlalu lembut dan terlihat seperti seorang pengecut yang rapuh. Para gadis Nanbao lebih baik dan cakap, Mengapa Biaoge memilih gadis seperti ini?


Tentu saja, dia mengetahui jelas tentang berita bahwa Sima Junke bertunangan dengan gadis yang berasal dari Kekaisaran Shen. Dia tidak menyukai para gadis Shen yang terlalu lemah juga bergantung dengan pria!


Manchu Suyin kembali menolehkan wajahnya untuk menatap Sima Junke yang sekarang sedang mendengus kesal karena perilaku tidak sopannya.


Dia tersenyum manis menatap dengan menyelidik menggoda, kemudian berucap. "Oh.. Aku tahu mengapa kau bersikap begitu kaku. Nona ini mengajarkanmu etiket dari Shen, kan?" Itu seperti sebuah candaan biasa yang dia lontarkan tetapi secara tidak langsung dia menganggap etiket dari Shen adalah sebuah lelucon dan mencoba memprovokasi Xiu Qixuan.


"Suyin!" Sentak Sima Junke dengan tajam.


Xiu Qixuan hanya menatap gadis muda itu dengan tenang dan acuh, seakan tidak perduli mengenai hal apapun disekitarnya. Dia malah terfokus pada Xiao Bao yang menggigil ketakutan, entah apa yang Manchu Suyin lakukan pada bocah kecil ini.


"Humph, baiklah." Dengus Manchu Suyin cemberut.


"Apa yang kau lakukan pada Xiao Bao?" Tanya Sima Junke dengan tajam.


Manchu Suyin mengerutkan kening bingung karena tidak mengetahui nama bocah kecil yang sebelumnya dia jahili dan ketika melihat Xiao Bao dia baru mengerti.


"Bocah itu hampir menangis ketakutan, aku hanya mengajaknya bermain." Jawab Manchu Suyin dengan santai.


"Aku bahkan memberinya sebuah mainan dan dia tidak ingin menerimanya, dasar aneh." Lanjut Manchu Suyin dengan ringan mencibir.


Xiu Qixuan menahan geram ketika mendengar ucapan yang dilontarkan Manchu Suyin, gadis muda ini terlalu kekanakan dan dimanja, lihatlah bagaimana sebuah kata maaf sulit keluar dari bibirnya, dia malah menyudutkan dan mencibir Xiao Bao.



Manchu Suyin memiliki sepasang mata berkilau nan mempesona, postur wajahnya yang mungil dengan bibir yang memerah alami, dia bisa mencuri jiwa orang hanya dengan sekali pandang. Hanya kulitnya, yang mungkin agak kasar karena angin kencang dan lingkungan berpasir Nanhai, dia adalah gadis cantik.


"Bahkan seekor ayam mengetahui waktu yang tepat untuk berkokok," Ucap Xiu Qixuan dengan tajam.


Manchu Suyin seketika tertegun tetapi kemudian dia dengan polos tersenyum begitu manis dan balas berkata, "Kakak sepupu ipar, ucapanmu sangat terpelajar. Begitu mengagumkan!" tampak sangat ramah dan bahkan memiliki pancaran kemurahan hati yang membuat orang tidak bisa membencinya.


Dia tidak tahu mengapa Manchu Suyin berniat memprovokasinya, tetapi dia tidak akan terprovokasi lebih jauh karena ada yang lebih penting dibandingkan pertarungan antar sesama wanita.


***********


Mereka berjalan menyusuri keramaian dan berbelok cepat menuju sebuah jalan berukuran kecil. Kuda yang sebelumnya mereka kendarai berada ditempat penitipan, itulah yang membuat mereka lebih leluasa berjalan beriringan.


Didepan jalan sempit itu terlihat sebuah gapura dan kios yang dibuat oleh para pedagang kecil.



Ini adalah jalan pintas menuju Kediaman Manchu, mereka sengaja melewati jalan ini karena lebih mudah dan tidak begitu jauh dari penitipan kuda.


Hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka sebelumnya, terlihat sebuah rumah besar yang berada dibalik pilar tinggi juga gerbang penyambut.


Manchu Suyin dengan lincah memasuki rumah itu, menarik-narik tangan Sima Junke yang berekspresi tidak nyaman.


"Ibu... Lihatlah, siapa yang kubawa." Teriaknya keras dengan sangat antusias.


Ada beberapa penjaga juga pengawal di dalam rumah besar itu tetapi mereka hanya dapat terdiam untuk melihat kelakuan sang nona kesayangan tersebut.


Xiu Qixuan menggenggam tangan mungil Xiao Bao, mereka bersikap begitu tenang untuk mengekori kedua orang yang sebelumnya berjalan lebih dulu.


Xiu Qixuan, dia begitu percaya diri dan tidak ada sirat kecemburuan lagi seperti sebelumnya. Dia mengetahui dengan jelas bahwa Manchu Suyin itu tidak dapat sebanding dengannya.


Sima Daiyu menyambut mereka dengan hangat dan ramah. Wanita itu sangat keibuan dan menyayangi Sima Junke dengan tulus.


Mereka berbincang ringan sesekali Sima Daiyu berbicara dengan Xiu Qixuan membahas banyak hal. Mereka dapat akrab dengan mudah karena Xiu Qixuan sangat cerdas mengimbangi percakapan.


Keluarga Manchu merupakan keluarga pedagang kaya di Nanhai, tetapi saat ini hanya terdapat Sima Daiyu yang berada dirumah besar ini karena anak lelakinya dan juga suaminya sedang pergi bekerja.


Tiba saatnya bagi Sima Junke memulai topik yang ingin dia tanyakan, "Bibi, apakah kau mengetahui mengenai bencana yang terjadi saat kelahiran ayahku?"


Tangan Sima Daiyu yang ingin mengangkat cangkir arak terhenti, wanita itu mematung dan memandang Sima Junke dengan dalam.


Dia melengkungkan senyum lembut dan berucap, "Ada angin apa yang membuat A Jun -ku bertanya mengenai hal ini?"


"Hanya jelaskan saja jika bibi mengetahuinya," Jawab Sima Junke dengan kukuh. Pria ini tidak ingin memberitahu detail kejelasan mengenai sang ayah.


Hening.


Suasana menjadi memberat saat Sima Daiyu hanya terdiam dan terus memandang dalam kearah Sima Junke.


Bahkan Manchu Suyin mengernyit tidak suka karena suasana yang tadinya riang menjadi berubah suram.


Sima Daiyu menghela napas pelan dan tersenyum tipis, "Baiklah, bibi akan menjelaskan apa yang bibi ketahui padamu." Ucapnya menyetujui.


"Tahun itu aku hanya bayi berusia satu tahun, tentu tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi. Tetapi aku mengetahui dari banyak cerita ibu dan ayahku." Jelas Sima Daiyu dengan perlahan.


••••••••••••••••••