Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Memasuki Istana!



Dua Hari Kemudian, Gerbang Utama Istana Kekaisaran.


Antrian panjang kereta kuda mengisi jalan beraspal, tawa para gadis kekaisaran yang berjalan di garis depan terus berdatangan. Gadis-gadis muda itu berpendidikan tinggi di kamar kerja yang dalam, warna-warni satin yang mereka kenakan bagai kuncup bunga musim semi yang bermekaran di ladang.


Kilauan emas dari sinar matahari pagi menyorot begitu tajam, membuat kegembiraan yang hangat pada tampilan mereka yang cerah.


Hampir sekitar lima puluh gadis berkumpul membentuk kelas sosial mereka masing-masing. Hari ini adalah hari bersejarah untuk mereka bisa memasuki istana, mereka akan tinggal di sini selama kompetisi selesai.


Pengawasan dalam kompetisi untuk menjadi istri pangeran begitu ketat. Jadi, sampai sebulan kedepan—tingkah laku dari para kandidat akan di awasi secara menyeluruh oleh pihak istana.


Malam hari nanti akan diadakan acara sambutan dan pertemuan dengan permaisuri dan para selir kekaisaran. Itu masuk akal bila wajah gadis-gadis ini begitu sumringah dan antusias dalam menyiapkan berbagai hal.


Tetapi, bagi mereka yang tak percaya diri untuk mendapatkan hati seorang pangeran, kesempatan memasuki istana kekaisaran ini juga merupakan bantuan besar untuk mereka mencari calon suami di antara deretan prajurit berstatus atau pejabat muda yang sesuai.


Campuran aroma harum kosmetik berterbangan tertiup angin, membuat sakit kepala bagi yang tidak terbiasa. Dahi Xiu Qixuan berkerut kusam, sorat matanya jelas menyiratkan ketidaksukaan saat berada dalam kumpulan para gadis yang memiliki usia lebih muda di bawahnya.


Jelas bahwa hanya dialah satu-satunya gadis berusia matang di sini. Usia para gadis ini hanya berkisaran lima belas sampai tujuh belas tahun, sedangkan usia Xiu Qixuan saat musim panas ini menginjak sembilan belas tahun, dan jika di bumi yang memiliki perputaran waktu lebih cepat, usianya sudah dua puluh dua tahun. Cukup untuk membuat dia bosan ketika bercakap-cakap hal remeh yang tak sesuai.


Melarikan diri ke sisi yang lebih tenang, Xiu Qixuan bersandar ke batang pohon yang rindang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya tampak mengerut tajam bagai landak yang membalut tubuhnya dengan duri, tidak membiarkan orang-orang untuk mendekat.


"Ya langit, Nona Besar. Sedang apa anda malah berdiam diri di sini?!"


"Nona, kami mencarimu!"


Suara yang bersahutan terdengar keras dari arah samping kanan. Dengan spontan Xiu Qixuan menoleh, pandangannya menangkap Xiao Rou dan wanita paruh baya yang sedang bersungut-sungut datang dengan tergopoh-gopoh.


Peluh membanjiri masing-masing dari wajah mereka, ekspresi Xiao Rou cukup tenang jika di bandingkan dengan wanita paruh baya di sampingnya.


"Memang aku harus melakukan apa lagi selain berteduh di cuaca yang panas ini?" celetuk Xiu Qixuan menjawab dengan memutar bola matanya malas.


"Dan, apa penjelasan anda untuk postur tubuh yang tak beretiket ini?" Wanita paruh baya tersebut berkomentar dengan kerutan tajam.


Mendelik sinis, Xiu Qixuan segera menegapkan tubuhnya. Dia mengerutkan bibirnya dan memasang senyuman manis yang menyindir: "Chao momo, sebenarnya apa pekerjaanmu selain menceramahiku?"


Chao momo, sosok pelayan tua yang akan ikut mendampinginya selama berada di istana. Peraturan istana yang mengharuskan para kandidat yang merupakan wanita bangsawan untuk membawa hanya seorang pelayan pendamping dan seorang pengasuh tua.


Xiu Qixuan tidak mempunyai pengasuh tua yang dekat dan benar-benar ia percaya. Untuk itu sejak saat di Kota Ping'an—sang Ayah dan Yao Yunmei sudah menyiapkan dua pelayan wanita tua khusus untuknya ikut ke ibukota. Tapi, satu dari dua pelayan itu tiba-tiba sakit parah, padahal orang itulah yang ingin Xiu Qixuan bawa karena dia lebih tenang dan terampil. Entah ini kebetulan atau tidak, akhirnya Chao momo yang bertubuh sehat ikut bersamanya di istana atas dasar tekanan yang diberikan oleh Xiu Lingze.


Dengan formal, dan tidak merasa bersalah. Chao momo menanggapi berpura-pura tak mengerti. "Apa maksud anda, Nona? Tentu saja, pelayan yang rendah ini hanya setia mengikuti semua keinginan anda."


Xiao Rou yang berada di antara mereka hanya dapat mematung tanpa membantu apa pun. Sejak awal di dalam kereta kuda, perseteruan adu mulut ini sudah terjadi, nona-nya tidak menyukai sikap konservatif dari Chao momo, dan Chao momo menjalankan tugas dengan menjadi pengingat ketika sang nona menyalahi aturan yang dapat merugikan diri.


Dengan cepat, Xiao Rou menjawab. "Ya, kami menyerahkannya ke pelayan dan kasim istana yang bertugas untuk di bawakan nanti oleh mereka."


Xiu Qixuan mengangguk, mengerti.


Kemudian pupil mata Xiu Qixuan bergerak menelusuri ke setiap sudut, berusaha mencari keberadaan seseorang yang dia kenal.


"Kemarikan lengan anda, nona." Suara ketat Chao momo tiba-tiba mengintrupsi pergerakan matanya.


Menoleh. "Kenapa?" Xiu Qixuan merajut kedua alisnya, dia memiringkan wajahnya tampak heran. Namun secara reflek, tangan kanannya sudah terangkat dengan sendirinya.


Suara gemerencing terdengar dari dentingan kerang mutiara bercahaya yang sudah melingkari pergelangan tangan rampingnya. Chao momo tersenyum sumringah ketika selesai memasangkan gelang mutiara tersebut pada lengan Xiu Qixuan. Dia berkata penuh kegembiraan: "Anda menerima hadiah ini dari pangeran kelima dan pangeran kesembilan kemarin. Jadi, anda harus memakai untuk menghargai mereka, 'kan."


Mendengar perkataannya, Xiu Qixuan segera berdecak serius. Dia menatap Chao momo dengan sangat tajam. Chao momo ingin membuatnya terbunuh di sini, ya? Tidak lihatkah dia—kerumunan para gadis di sana dapat menjadi iblis yang akan memusuhi dan melahapnya ketika mereka tahu semua ini.


Lagipula hadiah ini hanya sebuah formalitas bujukan semata, kemarin dua orang pelayan istana datang secara bersamaan dengan membawakan beberapa set perhiasan untuk dia pilih atas permintaan pangeran kelima dan pangeran kesembilan sebagai hadiah ungkapan rasa terimakasih dan maaf mereka karena melibatkan Xiu Qixuan kedalam perseteruan abstrak yang lalu.


Jelas hal itu menggemparkan Kediaman Utama Xiu, sampai Xiu Lingze datang dan mencabut hukuman skorsnya pada Xiao Rou karena ia sudah salah menilai situasi.


Anehnya, Xiu Qixuan merasa semua hal itu bukanlah atas dasar insiatif dan pemikiran pangeran kelima yang kaku apalagi pangeran kesembilan yang kekanakan, mereka tidak mungkin berpikir terlalu jauh mengenai situasi gadis yang tak mencolok mata. Apalagi saat itu bisa dipastikan Xiao Rou yang sedang menyamar tidak memberikan kesan mendalam apa pun pada mereka.


Dan benar saja setelah memastikan lagi, pelayan istana yang mengirim hadiah itu menyinggung nama Wei Guifei dan Permaisuri secara bersamaan.


"Hoh, Nona! Mengapa kepalan tangan anda terlihat lebih baik?"


"Tentu saja, Xiao Rou. Saat kau sedang menyelesaikan hukumanmu. Kami memberikan banyak perawatan pada Nona Besar."


"Mustahil, ini benar-benar hebat! Kapalan di kulit tangan seperti menghilang tak bersisa."


Memegang lengan Xiu Qixuan dan meraba halus kulit telapak tangan itu dengan berbinar penasaran, Xiao Rou menelusurinya secara teliti. Kapalan itu biasa dimiliki sang nona karena dia adalah pengguna pedang.


"Sekarang, saya akan mengambil semua pekerjaan berat untuk anda. Jadi, jangan berpikir menggunakan tangan cantik ini sembarangan yaa, Nona."


Suara Chao momo kembali berdering, dia berkata pada Xiu Qixuan dengan rasa bangga. Apakah wanita tua ini benar-benar tidak berpikir mengenai apa pun ketika melihat seorang gadis muda menderita kapalan di tangannya?


"Tch, cukup!" Xiu Qixuan mendecih dan menarik kembali tangannya. Dengan cepat melepaskan gelang mutiara tersebut. "Simpan benda sialan ini!" ia mengumpat ketus dan melemparkan perhiasaan itu yang di tangkap gesit oleh Xiao Rou.


••••••••••••••