
Lima Hari Kemudian
'Bruk'
'Uhuk'
Seorang gadis kecil terkapar duduk ditanah, gadis itu memuntahkan seteguk darah karena benturan yang diakibatkan oleh tendangan seorang lelaki yang berdiri angkuh dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Xuan'er, Aku mengira lima hari ini kau mengalami kemajuan dibawah bimbingan Ayah dan Kakak Pertama. Huh, Sepertinya tidak sesuai dugaanku. Lihat kau kalah telak dan tidak bisa balas menyerangku." Ucap Xiu Huanran dengan menghela napas menatap Xiu Qixuan dengan pandangan sedikit kecewa.
Xiu Huanran berbalik berniat meninggalkan lapangan tempat latihan militer di Kediaman Xiu.
"Sudahlah. Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri dengan cara ini. Ada kami yang dapat menjagamu." Lanjut Xiu Huanran sambil melangkah pergi.
"Xiao Rou, Bawa Nona-mu kembali ke Manor Xing. Aku akan memanggil tabib," Perintah Xiu Huanran kepada Xiao Rou yang berada dipinggir lapangan, sejak tadi gadis pelayan itu sangat cemas melihat keadaan Xiu Qixuan.
"Tunggu!" Teriak Xiu Qixuan berusaha berdiri walaupun tubuhnya terasa sedikit sakit tetapi ini bukan apa-apa hanya luka kecil, asal tidak kehilangan kesadaran dia akan tetap baik-baik saja.
"Xiu Huanran, Begini caramu mengajar?! Sangat tidak berperasaan! Kau tahu aku ini masih berlatih dasar seni beladiri! Bagaimana mungkin saat pertama kali mengajar kau datang dan langsung mengajakku bertarung," Ucap Xiu Qixuan kesal tidak menghiraukan sopan santun akan panggilan yang dia gunakan.
Xiu Huanran yang mendengar itu langsung berbalik menatap Xiu Qixuan yang memerah marah. Pakaian dan tubuh gadis itu kotor oleh tanah, riasan rambut sederhananya pun berantakan. Wajah gadis itu mengerut kesal dan salah satu lengannya menopang pinggangnya yang sedikit terasa sakit.
"Lihat. Haha. Lihat dirimu seperti tersapu angin tornado." Ledek Xiu Huanran tidak dapat menahan tawanya.
'Humph' Dengus Xiu Qixuan masih menatap Xiu Huanran tajam.
"Ekhm. Baiklah, Baiklah." Deham Xiu Huanran menetralkan ekspresi geli diwajahnya dan memulai untuk serius.
"Xuan'er, Kau harus tahu berlatih seni beladiri bukan suatu hal yang mudah dan seenaknya kau pelajari. Memang benar kau masih mempelajari dasarnya tetapi sebelum itu aku mencobai-mu untuk melihat Seberapa yakin kau dengan dirimu, Seberapa baik tekad yang kau miliki, Seberapa mampu dirimu mengendalikan tubuh, perasaan dan otakmu."
"Nyata-nya kau tidak memiliki keyakinan dan tekad yang cukup untuk berlatih seni beladiri. Aku tahu Kakak Pertama sebelumnya sudah mengajarimu cara dasar penyerangan. Tetapi kau sama sekali tidak menggunakan teknik yang kakak pertama ajarkan padamu,"
"Kau ragu untuk menyerangku. Sangat terlihat kau ragu terhadap dirimu dan takut melukai lawanmu,"
Mendengar apa yang dikatakan sang kakak kedua, kerutan ketat dikening Xiu Qixuan mengendur, pancaran kedua bola mata gadis itu seakan menyetujui ucapan sang kakak.
"Dasar yang kau miliki tidak ada artinya dan tidak akan berkembang saat kau masih memiliki keraguan,"
"Aku sudah banyak bertemu beberapa orang yang memiliki kemampuan seni beladiri yang luar biasa hebat.
Saat bertemu mereka aku akan bertanya tentang bagaimana mereka berlatih sampai menjadi seluar biasa mereka sekarang--dan mereka akan menjawab 'Mengetahui tujuan adalah hal utama, tekad yang kuat untuk berlatih akan muncul saat kau tahu tujuanmu,' "
"Jadi, Xuan'er apa tujuanmu?" Tanya Xiu Huanran memandang Xiu Qixuan yang terdiam membeku mendengar pertanyaan dari sang kakak kedua.
Benar apa tujuannya? Xiu Qixuan mempelajari ini hanya karena dirinya harus, dia belum pernah terpikir tujuan yang seharusnya dia capai dengan berlatih seni beladiri. Untuk menjadi kuat? Tidak, dia tidak berminat menjadi kuat dan direpotkan oleh orang lain, dia hanya penasaran akan sesuatu hal baru. Untuk bertahan hidup? Benar, bertahan sampai dapat pulang kembali ke bumi.
"Kau terdiam, atau jangan bilang kau hanya bermain saja dengan ini semua?" Tanya Xiu Huanran dengan menuntut.
"Untuk tidak bergantung dengan kalian," Jawab Xiu Qixuan dengan lugas, karena kalau dirinya menjawab untuk bertahan hidup Xiu Huanran akan bertanya banyak hal lain.
Xiu Huanran melangkah menghampiri Xiu Qixuan, saat berdiri tepat dihadapan sang adik--Xiu Huanran menyentil kening Xiu Qixuan dengan pelan.
"Gadis Bodoh, Kau selalu dapat bergantung dengan kami." Ucap Xiu Huanran tersenyum lembut.
"Kau ingin tahu tujuanku?" Tanya Xiu Huanran
Xiu Qixuan dengan cepat mengangguk.
"Melindungi apa yang seharusnya ku-lindungi. Lain kali perhatikan panggilanmu padaku," Jawab Xiu Huanran sembari memberi peringatan kecil akan panggilan tidak sopan adik perempuannya, pria itu berbalik melangkah pergi.
"Aku ada pekerjaan yang harus ditangani. Kembalilah, lanjutkan berlatih saat matahari terbit esok hari." Ucap Xiu Huanran dengan keras kemudian melemparkan sebuah buku yang sedikit tebal kepada Xiu Qixuan.
'Hap'
Xiu Qixuan menangkap buku itu dengan cepat, gerak refleknya sedikit demi sedikit terlatih, mungkin karena kelincahan milik Baijin Hu yang mengalir ditubuhnya.
'Seni Beladiri Sekte Xitian'
Tercetak jelas tulisan diatas buku tersebut walaupun terlihat sedikit usang.
"Jaga baik-baik, kitab itu hanya ada satu di dunia. Kembalikan padaku saat kau sudah selesai memahaminya," Ucap Xiu Huanran dengan sedikit keras, melanjutkan langkah dan berlalu pergi tidak terlihat lagi dilapangan luas ini.
"XuanXuan, Kau tidak apa? Tuan Muda Kedua begitu ganas memukulmu," Tanya Xiao Rou yang entah sejak kapan muncul disamping Xiu Qixuan. Gadis pelayan itu membersihkan noda darah yang tersisa disudut mulut Xiu Qixuan dengan sapu tangan yang selalu dia bawa.
"Xiao Rou, kau mengetahui tentang Sekte Xitian?" Tanya Xiu Qixuan menatap gadis pelayan itu.
"Aku tidak pernah mendengarnya, kau bisa menanyakan hal itu kepada Xiao Taoli--dia lebih mengetahui dunia luar," Jawab Xiao Rou dan memberi saran.
Xiu Qixuan mengangguk dan mengajak Xiao Rou untuk kembali ke Manor Xing.
••••••••••••
Xiu Qixuan kembali ke kondisi semula, gadis cantik itu sudah pulih dan segar sehabis berendam di kolam pemandian.
Kitab Seni Beladiri yang diberikan Xiu Huanran tergeletak dimeja dekat ranjang miliknya, Xiao Taoli belum kembali dari tempat penempa senjata --memesan pedang ringan yang akan dibuat khusus untuknya. Xiu Qixuan akan menanyakan banyak hal mengenai Sekte Xitian saat pengawal pendampingnya itu kembali.
Hanya ada satu di Daratan Ca Li, berarti kitab ini langka dan sangat hebat? Xiu Huanran bukan pedagang biasa yang dengan mudah mendapatkan kitab ini kan? Sejak awal dirinya sudah mencurigai identitas lain sang kakak keduanya itu karena dengan mudah menemukan informasi, memiliki banyak bawahan bayangan, dan terlihat luar biasa.
Xiu Qixuan mengambil kitab seni beladiri diatas meja tersebut kemudian mulai membaca dan memahami perlahan sambil berbaring telentang diranjang besar miliknya. Tetapi lama kelamaan kelopak mata gadis itu tertutup.
Xiu Qixuan mengantuk membaca buku yang menurutnya hanya diawal terasa menarik tetapi lama kelamaan terlalu membosankan.
Gadis itu tertidur karena kelelahan sudah lima hari terus belajar banyak hal dimulai latihan beladiri dengan ayah dan kakak pertamanya kemudian belajar bakat lainnya dengan Ji Gui. Xiu Huanran baru datang hari ini mengajarinya dan seperti yang kalian tahu sebelumnya cara dia mengajar begitu berbeda.
••••••••••••