
"Keluarlah. Yang Mulia sudah mengikutiku lima ratus meter. Semakin masuk kedalam, udara akan semakin tipis. Yang Mulia bisa tercekik karena kesulitan bernapas dan kepala akan memberat." Suaranya tajam memukul dinding goa bergema keluar.
Gadis dengan pakaian berburu itu membalikan tubuh dan menghela napas ringan. Dia menggelengkan wajah dan mengunci alisnya dalam lipatan yang dalam.
Rambut perak transparan berkibar dalam kegelapan, seperti kabut yang membalikan mata dengan misterius. Semakin lama semakin jelas sosoknya yang tampan juga menawan sedang tersenyum lemah.
"Aku..., —ngh." Dia gugup, namun melanjutkan. "Terlalu berbahaya. Kamu harus berhati-hati. Dan....," Menundukan wajahnya yang tampak polos dia bergumam rapuh sembari memainkan jari-jemari, "Jangan tinggalkan aku."
Xiu Qixuan menatap Shen Yuan Zi dengan serius. Sejenak dia terlihat memikirkan banyak hal di kepalanya. Menghela napas panjang ia kemudian berkata; "Entah bagaimana Yang Mulia jadi seperti bergantung denganku. Tapi, memang salahku juga." Dia berbalik kemudian kembali melangkahkan kedua kakinya. "Perhatikan setiap gerak jangan memegang apa pun. Ikuti aku!"
Shen Yuan Zi tersenyum dan dengan senang hati mengikutinya dari belakang. Tatapannya nanar ketika pandangan lurus hanya tertuju pada punggung kecil yang tampak dapat diandalkan, gadis di depannya ini terlalu terang benderang untuknya. Gadis yang dipenuhi banyak tekad bertahan hidup di dunia yang kejam.
Lorong goa yang semakin gelap membutakan mata dengan laba-laba seukuran telapak tangan membentuk sarang mereka di sepanjang jalan dan lumut beratusan tahun yang dapat membuat kaki tergelincir.
Atmosfer semakin dingin dan lembab. Cahaya temaram dan gelap dari balik lubang. Menakutkan ketika harus berjalan sendirian. Xiu Qixuan mengurangi kecepatan langkahnya, dia menunggu Shen Yuan Zi sampai pria itu berada tepat di sampingnya.
Mereka berjalan bersama dalam keheningan, mata Xiu Qixuan melirik sekilas pada Shen Yuan Zi kemudian dia berdeham dan memulai pembicaraan santai dengan blakblak-an mencurigai, "Xuan'er tidak tahu Yang Mulia mengerti atau tidak. Tapi, Xuan'er sengaja memberikan obat bius untuk membuat para Yang Mulia tertidur. Entah bagaimana Yang Mulia Ketiga tidak terpengaruh." Ujarnya.
Xiu Qixuan meniupkan bubuk obat dengan hati-hati saat mereka lengah. Itu mempan untuk Kaicheng dan Wanqi. Namun, mengejutkan karena yang berdiri mengikutinya sekarang adalah Yuan Zi. Dia tidak bisa untuk tidak curiga.
Shen Yuan Zi segera menoleh dengan bola mata berkedip kebingungan. "Ngh..., aku tidak tahu." Dia memiringkan sedikit wajahnya dengan polos. "Kamu tidak ingin diganggu?Sejak aku kecil para pelayan di Istana sering memberiku obat bius untuk membuatku tidak menangis dan mengganggu mereka bekerja." Dia bersuara halus dan lembut, dengan bola mata yang mengkilap energik menerangkan.
Memalingkan wajah karena tidak tahan dengan apa pun yang imut. Xiu Qixuan mendecakkan lidah, Yuan Zi menjawab dengan omong kosong namun itu bisa jadi alasan yang mendapat validasi bahwa obat bius dengan dosis rendah tidak berpangaruh karena dia sudah terbiasa sejak kecil.
Sesaat wajah gadis itu berpaling, sudut bibir Yuan Zi membentuk seringai tipis. Seolah-olah dia bangga karena lolos dalam permainan. Sangat licin dan semakin pandai.
Kegelapan di dunia memang selalu bisa menyembunyikan banyak hal.
Pada saat ini, mereka menemui jalan buntu. Sudah satu jam berlalu. Semakin kedalam struktur lubang semakin rumit. Tidak ada jalan selain memanjat tebing jika ingin keluar.
"Ayo kembali, Yang Mulia." Ucap Xiu Qixuan dengan sedikit muram karena lelah.
Shen Yuan Zi mengangguk.
Tiba-tiba Xiu Qixuan merasa tidak sehat, dia menggelengkan kepala karena menahan pening. Namun kakinya yang sedikit tergelincir dengan keliru menginjak tanah bebatuan yang berpasir lembut.
"Qixuan!" Shen Yuan Zi membelalak dengan jantung yang hampir meledak melihat Xiu Qixuan terposok kedalam lubang yang tiba-tiba terbentuk di tanah.
Permukaan udara yang tipis semakin mencekik. Angin bergumul menepuk pasir dan debu. Serangan jarum perak muncul menembak dengan kecepatan tak terbayangkan membentuk garis bengkok yang siap menembus tubuh. Ini jebakan yang aktif.
Shen Yuan Zi terbang maju dan meraih tubuh Xiu Qixuan dengan bodoh sekali lagi ikut terjebak kedalamnya. Tubuh mereka berguling dan terus-menerus membentur batu.
Posisi yang begitu ambigu, dengan Xiu Qixuan yang berada di atasnya. Shen Yuan Zi memeluk pinggul gadis itu lebih kuat dari sebelumnya. Hampir mencengkeram erat-erat sampai tak ingin di lepas. Sampai darah menetes membuat Xiu Qixuan mengerjap tersadar dengan linglung segera bangun dari atas Shen Yuan Zi.
Dia melihat punggung tangan kanan Yuan Zi terkoyak dengan daging berlumuran darah karena melindungi belakang kepalanya dari benturan. "Bodoh!" Makinya dengan marah. Bibirnya bergetar dengan mata yang memerah menahan sesuatu. Dia tidak suka perasaan yang membuatnya sesak karena rasa bersalah, itu menimbulkan trauma yang cukup dalam karena teringat kenangan masa lalu.
Shen Yuan Zi bangun dan tersenyum ringan. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan teduh.
Mendengus Xiu Qixuan tetap diam. Gadis itu dengan cepat merobek lengan pakaiannya dan membalut luka Shen Yuan Zi, mengikat dengan kuat membuat pendarahan berhenti.
"Ayo..., kita harus mencari jalan. Banyak jebakan yang dibuat oleh seseorang. Dan juga di goa ini penuh dengan udara beracun membuat orang perlahan mati lemas dengan sendirinya." Xiu Qixuan beranjak dan mengulurkan lengannya.
Dengan linglung Shen Yuan Zi menyambut ularan tangan gadis itu. Mereka berjalan dengan bergandengan.
Sampai langkah kaki mereka membeku. Dengan wajah memucat Xiu Qixuan menggigil melihat pemandangan yang begitu mengerikan.
Aroma darah dan daging busuk dengan penampakan tumpukan belulang manusia yang hancur berkeping-keping mengisi tanah berlumpur dengan darah dan belatung.
Jantungnya melompat melihat kepala seperti bola berguling menakuti sampai tangan seseorang menutup kedua matanya.
"Tidak usah dilihat jika menakutkan." Suara rendah itu berbisik menggelitiknya dengan napas ringan yang manis.
"Yuan Zi....," Xiu Qixuan memanggilnya dengan mata terpejam membiarkan Shen Yuan Zi membawa dia ke sisi lain tempat ini.
Kelopak matanya terbuka lebar. Dia mengertakan gigi melihat bangunan penjara yang di penuhi oleh tengkorak manusia. Ini seperti sisa pembantaian dari seorang kriminal.
Ketika dia ingin melangkah Shen Yuan Zi mengencangkan tangannya. Melihat dia dengan khawatir. Seolah dia berkata untuk tidak memaksakan diri.
"Aku baik-baik saja." Ucap Xiu Qixuan yakin meskipun wajahnya sudah sepucat kertas putih.
Sumur yang di penuhi oleh tengkorak kepala manusia itu belum cukup, saat menelusuri bangunan yang gelap tiba-tiba sesuatu menangkap kakinya.
Kepala Xiu Qixuan menunduk dengan perlahan.
"Uakhhh..., setan!!"
Ia berteriak kaget melihat tangan dengan tulang mencuat dari balik jeruji penjara.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°