Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Aku Kembali



Tiga Hari Kemudian


Pagi hari ini salju tidak turun, membuat sinar redup cahaya matahari terlihat samar. Suhu udara perlahan menjadi naik saat guyuran salju tebal tidak membanjiri tanah.


Jendela kamar dibiarkan terbuka oleh pemiliknya dengan memastikan penghangat ruangan yang masih menyala.


Sosok kesopanan yang anggun, dia adalah seorang pria tampan dan murni, dengan kelembutannya mengajak bicara gadis yang terbaring kaku. Walaupun dia jelas mengetahui bahwa tidak akan ada balasan dari sang gadis.


"Qixuan, lihatlah betapa merepotkannya kamu. Masih belum ingin bangun juga, hum? Apakah kamu ingin disebut sebagai murid tidak berbakti?" Ucapnya dengan tajam. Memang terdengar sangat sarkas tetapi jelas itu adalah bentuk kepedulian yang tulus.


Mo Ji Gui meraih mangkuk dari atas nampan, itu adalah tonik kesehatan yang selama beberapa hari ini dia siapkan untuk Xiu Qixuan. Ia sangat berusaha mempertahankan hidup gadis ini selama mungkin yang dia bisa lakukan.


Menyuapi cairan tonik secara perlahan dengan kesabaran yang besar ia begitu teliti dan hati-hati.


Beberapa saat kemudian mangkuk yang berisi tonik kesehatan itu telah kosong. Mo Ji Gui meraih sapu tangan untuk menghapus bercak noda disudut bibir Xiu Qixuan.



Tiba-tiba suara frustasi milik seseorang membuatnya menolehkan wajah, "Bagaimana? Xuan'er masih menolak untuk membuka mata." Ucap Xiu Huanran yang perlahan masuk dengan raut wajah kelelahan dan kecemasan.


Ini adalah hari kedua sejak Mo Ji Gui memaksa syaraf dalam otak Xiu Qixuan untuk berpacu menggunakan jarum akupuntur. Tetapi, gadis itu bahkan tidak menunjukan gerak sebagai tanda untuk berusaha terbangun


Mo Ji Gui segera beranjak menghampiri Xiu Huanran kemudian dia menepuk pundak pria itu seperti seorang sahabat yang berusaha menyemangati.


"Dia kelelahan. Dia telah melewati banyak kesulitan dan menyuruh kita untuk menunggu. Apakah alasan ini cukup?" Suaranya menjerat muram tetapi sebuah kepercayaan tertanam kokoh dalam wajahnya.


Xiu Huanran mendengus pasrah, matanya cekung karena kelelahan mengurus banyak hal. Dia memandangi wajah cantik sang adik dengan lembut.


"Aku percaya padanya karena adik perempuanku ini begitu teguh dan kuat." Senyum melengkung tulus disudut bibirnya. Dia mengingat kenangan manis mengenai kejahilan dan semangat Xiu Qixuan dalam menjalani hidup. Xiu Qixuan adalah sosok gadis yang akan terus berusaha untuk bertahan karena sifat keras kepalanya.


Mo Ji Gui ikut melengkungkan senyuman kemudian dia melangkah untuk menutup jendela kamar dan memperbaiki posisi selimut yang menutupi tubuh Xiu Qixuan dengan kehati-hati an.


Xiu Huanran yang melihat perilaku manis tersebut malah tersenyum hangat nan samar, entah apa yang pria ini pikirkan.


Saat selesai Mo Ji Gui meraih nampan dan berbalik untuk melangkah keluar. Tetapi tiba-tiba sudut ekor matanya melihat dengan samar kelopak mata Xiu Qixuan perlahan bergetar.


'Prang,' Dia membanting nampan yang berisi mangkuk itu dengan keras.


Tergesa ia mengecek kondisi Xiu Qixuan dengan perasaan lega yang membuncah hebat.


Xiu Huanran mengerjap tertegun dan kedua kakinya melangkah untuk semakin mendekat.


Sepasang bulu mata yang lentik itu perlahan terbuka memperlihatkan bola mata hitam sekelam malam.


"Xuan'er," Panggil Xiu Huanran yang segera mendorong tubuh Mo Ji Gui kebelakang untuk memberinya ruang.


Tidak ada jawaban, gadis itu hanya memandang kesatu titik arah tanpa pancaran kehidupan dikedua bola matanya.


Bahkan dia tidak mengeluarkan sedikitpun suara karena kesakitan akibat bekas tusukan jarum.


"Ji Gui, cepatlah periksa! Ada apa dengannya?" Perintah Xiu Huanran menyingkir memberi ruang kembali untuk Mo Ji Gui.


Mo Ji Gui hanya terdiam dan balas menggelengkan wajah pelan dengan menunduk sendu.


Seperti tersambar petir tubuh Xiu Huanran seketika limbung kebelakang. Mo Ji Gui memang sudah menjelaskan bahwa kemungkinan buruk terdapat ketidaknormalan setelah gadis ini tersadar.


••••••••••


Sosok tubuh ramping dan berwajah mungil nan cantik itu terduduk tegak dengan wajah datar tanpa ekspresi, dia sedang di rias oleh para pelayan wanita yang selalu mengajaknya bicara.


Dari balik celah pintu sesosok pria berpakaian putih memancarkan kemuliaan dan kaanggunan memasuki ruangan. Tangannya memberi kode agar para pelayan wanita tersebut untuk menyingkir keluar.


Gadis itu masih mematung dan tidak bereaksi seolah dia tidak dapat mengerti juga tidak perduli akan lingkungan disekitarnya. Sebuah raga tanpa jiwa. Entah kemana jiwanya hilang.


Mo Ji Gui tersenyum tipis saat melihat riasan diwajah Xiu Qixuan belum selesai, dengan perlahan ia mengambil kuas dari meja rias yang biasanya digunakan untuk mengambar alis.


Tubuhnya berjongkok mensejajarkan posisi dihadapan gadis itu, dengan kelembutan tangannya terulur untuk mengukir alis Xiu Qixuan yang melengkung indah.



Setelah beberapa saat, Mo Ji Gui selesai dan ia tersenyum tipis melihat hasil karyanya.


"Sangat cantik," Pujinya. Entah dia sedang memuji hasil karyanya atau memuji sosok kecantikan itu sendiri.


"Qixuan, kamu pernah berkata padaku. Bahwa apapun keadaannya penampilan harus tetap diperhatikan agar terlihat baik." Lanjutnya mengajak gadis ini untuk berbicara.


Hening.


Gadis itu masih terdiam mematung. Mo Ji Gui terkekeh palsu, dia mengetahui bahwa tidak akan ada balasan tetapi tetap saja hatinya begitu ngilu ketika melihat kondisi gadis ini.


Mo Ji Gui yang dengan telaten merawat Xiu Qixuan dalam kondisi seperti ini. Pria yang sangat penyabar dan juga penyayang. Sosok yang diidamkan kalangan para wanita bangsawan.


Pada saat ini, Mo Ji Gui membawa Xiu Qixuan berjalan keluar kamar untuk menikmati taman bunga prem ditengah salju musim dingin. Ditaman itu terdapat sebuah danau yang membeku.


Mereka berjalan pelan sesekali Mo Ji Gui mengajak Xiu Qixuan berbicara. "Kau tunggulah disini," Perintah Mo Ji Gui dengan cepat menghampiri pohon bunga prem untuk mengambil embun saljunya.


Tanpa pria itu sadari Xiu Qixuan melangkahkan kakinya ketepi danau dalam kondisi linglung.


'Srekk,' Jalan sangat licin dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.


Dari kejauhan Xiu Huanran yang melihat hal itu langsung berteriak dan berlari kencang, "Xuan'er, hati-hati."


Mo Ji Gui menolehkan wajah dan ikut berlari panik menghampiri gadis itu. 'Brukk,' Tidak terburu gadis itu terjatuh dengan kakinya yang mengalirkan darah karena tergores bebatuan tajam tepi danau.


"Kau terluka lagi," Ucap Mo Ji Gui berjongkok dan menghela napas panjang.


Xiu Qixuan masih terdiam dan sama sekali tidak bereaksi membuat Xiu Huanran yang sudah berada disana menjadi menggeram marah.


Xiu Huanran berlutut dihadapan Xiu Qixuan, pria itu mencengkeram erat bahu milik sang adik.


"Xiu Qixuan! Bahkan saat kamu kalah, kamu harus menjadi pecundang yang baik. Sudah berapa kali aku memperingatimu untuk tidak menjadi lembut. Siapa sangka kamu akan begitu bodoh, melompat kedasar jurang secara sukarela demi seseorang." Kukunya menancap dibahu Xiu Qixuan dan matanya membara, mengintimidasi orang. Dibawah pandangan membara itu, Xiu Qixuan membeku dan terpaku menatapnya.


"Meski begitu aku tidak menyalahkanmu. Jika kamu jatuh, berdirilah kembali. Xuan'er, mengertilah." Suaranya perlahan melembut dan memberat serak menahan perasaan amarah yang membuncah keluar.


Mo Ji Gui yang menyaksikan adegan tersebut hanya terdiam dan menyingkir tidak ikut campur.


"Er'ge," Sebuah suara seperti lonceng dingin yang berdenting nyaring diterpa angin. Perlahan kedua mata indah itu mengerjap hidup, tanpa disadari bulir kristal airmata sudah mengalir diwajah cantik itu.


Xiu Huanran tertegun tidak percaya, dia memandangi wajah cantik itu dengan seksama.


'Brukk,' Xiu Qixuan melemparkan dirinya kedalam dekapan Xiu Huanran, "Aku kembali." Lirihnya dengan membenamkan wajahnya terisak pelan memeluk erat tubuh Xiu Huanran.


••••••••••••