
Dibagian barat tempat pemerintahan dan tempat tinggal keluarga besar Kepala Suku Nanbao, terdapat sebuah aliran air jernih yaitu oasis berukuran kecil diantara banyaknya oasis berukuran lebih besar dipusat ibukota atau diluar ibukota Nanjing.
Tempat yang begitu indah untuk menikmati moment melihat langit bertabur bintang—tempat ini jauh dari keramaian karena letaknya yang menjorok kedalam tepat diujung dan diapit oleh dua tebing yang menjulang tinggi.
Sebuah pohon terlihat kesepian karena tumbuh subur ditengah banyaknya ilalang tinggi.
Seorang pria tampan termenung menyelam kedalam diri untuk menikmati kesendirian. Tempat ini selalu akan ia datangi saat dirinya merasa sedang tidak baik. Tempat terbaiknya untuk menenangkan diri saat kemarahan melanda dirinya.
Melepas lapisan baju luarnya kemudian pria tampan itu melangkah memasuki kedalaman air jernih. Suara riak air terdengar saat pria tampan itu melangkah.
Dia bersandar disebuah batu besar dengan tangan yang tersampir diatas batu tersebut, kemudian ia mendongakkan wajah untuk melihat langit yang bertabur bintang.
Termenung ia dengan kedua telapak tangan yang masih mengepal erat.
Hanya seorang gadis menyebalkan dapat membuat emosinya tak terkendali—sungguh suatu pengaruh yang cukup besar
'Duar,' Suara ledakan keras menganggu ketenangan pria tampan itu.
Dia berbalik hanya untuk menemukan asap mengepul disebelah timur, api membumbung tinggi.
Dari jauh terdengar keramaian orang berteriak keras, "Bawakan air, bawakan air!"
Entah apa yang dipikirkan pria tampan itu karena seketika dia terbelalak dengan kepanikan yang melandanya ia bergegas memakai lapisan pakaian luarnya kemudian berlari kearah timur.
Disana tepat disayap timur adalah bagian dari kediaman yang menjadi tempat tinggalnya dan juga seorang gadis menyebalkan yang akhir-akhir ini selalu menghantui benaknya.
Betapa panik dan kalutnya ia saat mengetahui amukan api yang dapat mengancam nyawa membakar tempat tinggal gadis itu.
********
Disisi lain tepat sebelum api menyala dan membakar semua didekatnya. Xiu Qixuan terbangun dari tidurnya karena tidak nyaman dengan tubuhnya yang berkeringat.
Dengan berjalan sempoyongan dan mata yang terus mengerjap gadis itu membuka kotak kayu besar tempat penyimpanan pakaian.
Mengambil pakaian dengan sembarang untuk mengganti pakaian yang sekarang sedang dikenakannya.
Sesudah berganti pakaian gadis itu melangkah untuk melanjutkan tidurnya tetapi belum sampai langkahnya menuju ranjang, suara seperti orang sedang menyiram sesuatu keruangannya terdengar keras ditelinga tajamnya.
Rasa kantuknya seakan menguap entah kemana, saat melihat bayangan ketiga orang dari lilin yang mengeluarkan cahaya redup.
Ketiga orang itu berpencar menyiram sesuatu kesegala penjuru tetapi saat dibagian kamar mereka menyiram sedikit karena mengira Xiu Qixuan sedang tertidur diranjang kemudian rekan lainnya melanjutkan menyiram dari arah luar. Pekerjaan mereka sangat cepat dan rapih.
"Jangan sampai terdapat sebuah kesalahan, kita harus membuat seakan semua ini adalah kecelakaan, sesuai perintah." Bisik orang asing itu kepada rekannya.
Xiu Qixuan masih dapat mendengar karena suasana malam hari begitu hening dan sunyi. Pikiran gadis itu sedang berjalan untuk menebak siapa yang menyuruh orang ini mencelakai-nya.
Tidak mungkin Nyonya Tua bertindak sembrono untuk membunuhnya, karena perjanjian perdagangan sangat menguntung Nanbao dan perjanjian dagang itu membutuhkan Xiu Qixuan agar berjalan dengan lancar—membunuhnya sekarang itu tidak menguntungkan, yang terjadi adalah Nanbao menderita kerugian besar.
Bahkan seorang pejabat Nanbao saja sangat cerdas untuk mengetahui hal se-objektif ini, mereka tidak mungkin berani bertindak selain mengawasinya.
Lagipula dimana para penjaga? Kenapa ketiga orang ini memasuki kawasan Sima Junke dengan begitu mudah? kecuali memang dalang yang memperintahkan mereka sudah mengetahui seluk-beluk tempat ini dan juga mempunyai orang dalam yang ditempatkan dikawasan milik Sima Junke.
Tetapi ketiga orang itu terlalu bodoh untuk menyadari keberadaan Xiu Qixuan yang memang tertutup tirai.
'Prang,' Seorang dari ketiga orang itu menjatuhkan lilin menyebabkan api besar melahap benda disekitarnya.
Api menyebar dengan cepat dan menghalangi pintu keluar. Ketiga orang itu membuka jendela diruang tengah dan meloncat keluar.
Xiu Qixuan berlari dengan sesekali menghindari bagian atap yang jatuh karena terbakar api.
Langit begitu konyol, dia baru saja beristirahat dari kerumitan perasaannya yang kalut. Tetapi sekarang dalam sekejap mata dia didorong kedalam bahaya lagi dan lagi.
Pada awalnya dia hanya seorang gadis biasa, bagaimana bisa setiap waktu dirinya mengambil resiko ditengah bahaya? Selain itu, ia adalah seorang gadis yang hanya dapat bersenang-senang ditengah waktu luangnya. Menikmati hidup sebagai manusia normal di era modern. Pikirannya sangat sederahana yaitu apa yang lebih penting dibandingkan kesejahteraan diri sendiri.
Tetapi, segala hal menjadi rumit sejak mencuci pakaian dirumah sang bibi. Dirinya bersumpah kalau kembali ke bumi ia akan bermalas-malasan mengenai pekerjaan mencuci pakaian.
Jendela diruang tengah juga sudah terlahap api, dengan masa bodoh Xiu Qixuan tetap nekat melewati jalan satu-satunya yang tersisa.
Meloncat ia dengan gerakan yang gesit walaupun api mengenai bagian punggungnya yang menyebabkan bajunya hangus terbakar.
Xiu Qixuan berlari dengan cepat menggunakan ilmu peringan tubuh untuk mengejar ketiga penjahat itu yang berlari kearah barat. Ini adalah suatu hal yang tidak dapat ditoleri olehnya, tentu saja ia akan mengejar untuk membalas dendam dan mencari tahu dalang dibalik ketiga penjahat itu.
Sampai disebuah tempat yang ditumbuhi banyak ilalang tinggi, Xiu Qixuan meloncat dan berdiri dengan angkuh dihadapan ketiga penjahat itu yang ternyata adalah seorang wanita.
Ketiga penjahat itu terkejut melihat Xiu Qixuan dalam keadaan baik-baik saja menghadang jalan mereka.
'Splash,' Sebuah pedang yang menyilaukan muncul dari tangan kanan Xiu Qixuan.
Menambah rasa terkejut musuh yang melihatnya, bagaimana bisa seorang manusia memunculkan pedang dari tangan kosong—kecuali orang itu bukan manusia biasa.
"Kau ini apa?" Tanya salah seorang dari mereka dengan kaki bergetar takut.
"Musuhmu," Jawab Xiu Qixuan dengan singkat.
Suara yang begitu indah bak nyanyian burung kenari tetapi menyimpan kedinginan dan juga kekejaman bagi yang sudah menyinggungnya.
"Bodoh, tidak usah bertanya." Sentak seseorang lainnya yang diperkirakan adalah pemimpin dari kedua orang itu. Karena hanya dia yang tetap tenang.
"Serang!" Perintahnya membuat kedua orang itu berlari dan bersiap menyerang Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan tersenyum masam, ia tidak ingin menyakiti dan membunuh tetapi begitu sulit saat dirinya berada di Daratan Ca Li. Seperti bunga yang memiliki keinginan, tetapi air tetap mengalir juga.
'Trang,' Suara tabrakan pedang yang memekak telinga.
Menghindar dengan lincah saat sebuah pedang mencoba menyayat pinggangnya.
'Srett,' Xiu Qixuan menyayat leher salah satu lawannya dengan mata pedangnya yang sangat tajam.
Kalau dilihat lebih jelas lengan Xiu Qixuan yang memegang pedang itu sedikit bergetar. Pandangan matanya bergetar sendu karena dia begitu tidak menyukai perasaan sesudah menyakiti seseorang.
Kedua orang musuhnya yang lain berteriak memanggil nama rekannya yang tewas.
Mereka balas menyerang bersamaan, membuat Xiu Qixuan bertambah masam dihatinya.
'Srett,' Salah seorang dari mereka hampir menyayat punggung Xiu Qixuan tetapi gadis itu dengan cepat menghindar membuat hanya pakaian bagian punggung yang robek.
"Sialan," Rutuknya menatap Xiu Qixuan dengan membara.
Xiu Qixuan mengurus lawan yang mudah terlebih dahulu, dibandingkan sang pemimpin penjahat itu.
Dengan Ilmu Xitian membuat ia menguasai jalannya pertarungan. Salah seorang lawannya kembali tewas hanya tersisa sang pemimpin yang memasang wajah bengis.
Sang pemimpin penjahat itu adalah seorang wanita yang gagah dimedan pertarungan. Dia begitu sulit dihadapi karena kekuatan fisiknya tidak diragukan lagi.
Bertarung mereka dengan begitu sengit, Xiu Qixuan berkali-kali gagal melumpuhkan sang pemimpin ini. Tetapi ia masih dapat menorehkan luka yang tidak begitu dalam ditubuh sang pemimpin.
Xiu Qixuan tertangkap lengah oleh musuh, 'Jleb,' Belati menancap dalam di kaki kanannya.
Wajah cantiknya meringis kesakitan tetapi dengan cepat ia mencabut belati tersebut dan melemparkan kearah musuhnya kembali.
Tetap berdiri memasang wajah angkuh tetapi sebenarnya sedang menahan sakit. Xiu Qixuan berucap, "Begitu bodoh, jangan meletakan pot diatas api jika rusa masih berjalan dihutan.(1)
Ucapan Xiu Qixuan mengandung arti bahwa penjahat wanita dan rekannya ini begitu bodoh, mereka membuat banyak perhitungan direncana yang baik tetapi tidak melakukannya dengan benar.
Penjahat wanita itu menunduk untuk mengambil belatinya yang dilempar dan berlumur darah milik Xiu Qixuan. Dia bukanlah seorang sastrawan ucapan Xiu Qixuan tidak dapat ia mengerti menjadikannya tidak terpengaruh sedikitpun.
Dengan wajah bengisnya penjahat wanita itu berucap penuh percaya diri, "Sudahi bermainnya, aku akan lebih serius sekarang. Kau cukup mengejutkanku, sudah lama tidak bertemu lawan yang sepadan. Mati ditanganku juga tidak akan menyesal,"
Salah satu kaki Xiu Qixuan terluka cukup dalam dan darah terus mengalir sangat deras, gadis itu kesulitan untuk menghindari serangan.
Xiu Qixuan tidak akan membuang tenaga dan waktunya lagi untuk bertarung, sudahi ini semua dengan melumpuhkan lawannya menggunakan Ilmu Xitian juga keistimewaan yang dipelajari dari Lao Yong dan Baijin Hu.
Pedang tajam ditangannya terangkat dan mengambang diudara. Cahaya berwarna ungu samar keluar dari telapak tangan Xiu Qixuan dan dengan cepat gadis itu mengarahkan lengannya mengontrol pedang yang terbang melesat kearah penjahat wanita tersebut.
'Srett, Srett, Srett. Brakk,' Penjahat wanita itu tidak dapar berkutit saat pedang melesat cepat menyayat kedua kaki dan tangan kemudian memukul tengkuknya sampai ia jatuh pingsan.
Xiu Qixuan sengaja tidak langsung membunuh karena ia harus mengintrogasi untuk mendapatkan informasi dari penjahat wanita ini mengenai dalang yang ingin membunuhnya.
Menggunakan jurus pedang kombinasi barunya ini menguras banyak energi.
'Splash,'
Pedang miliknya terbang kembali kedalam genggaman tangannya.
'Bruk,' Xiu Qixuan jatuh berlutut saat kedua kakinya terlalu lemas untuk menopang bobot tubuhnya karena darah terus mengalir keluar membuat ia kehilangan banyak darah.
Dia termenung dengan napas yang memburu hebat saat melihat dua orang yang sudah tewas ditangannya.
Menyandarkan dahinya digagang pedang dan memejamkan kelopak matanya untuk mengeluarkan aura kehidupan agar lukanya mengering.
Ternyata, ia hanya dapat memberhentikan darah yang mengalir bukan menyembuhkan luka karena energi ditubuhnya belum pulih.
"Xuan'er," Panggil sebuah suara magnetis namun lembut dan dalam.
Xiu Qixuan membuka kelopak matanya dan menolehkan wajah dengan pandangan yang begitu sendu.
Sima Junke berjarak hanya beberapa langkah dari Xiu Qixuan dengan ilalang tinggi dibelakang tubuh pria itu. Ternyata sejak tadi pria itu menyaksikan pertarungan Xiu Qixuan dibalik ilalang tinggi yang menutupi tubuhnya.
Sima Junke hanya berdiri mematung tidak melangkah untuk menghampiri Xiu Qixuan yang terluka, tangan pria itu mengepal erat dengan jantung berdegup kencang ketika mengetahui Xiu Qixuan menggunakan Ilmu Xitian.
Saat Xiu Qixuan bertarung pikiran pria itu mengelana jauh ke-adegan sang ibunda tercinta yang juga bertarung menggunakan Ilmu Xitian.
Ilmu Xitian begitu indah untuk dilihat layaknya seorang wanita yang sedang menari tetapi dapat membunuh seseorang. Sang ibunda adalah bagian dari Sekte Xitian yang telah hilang dihancurkan oleh ketiga sekte kekaisaran yang begitu serakah.
Sima Junke menjadi begitu pendendam dan emosional karena kematian sang ibunda beberapa bulan yang lalu. Dia berperang untuk menghancurkan ketiga sekte dibawah ketiga kekaisaran bersama dengan sang paman yang biasanya tidak ingin meminjam kekuatan Nanbao untuk berperang.
Paman Zhuting mengikuti atau menemani sang ibunda berada di Nanbao tetapi sejak dulu ia selalu menghindari masuk kedalam politik militer Nanbao ataupun menyandang gelar dengan bakatnya.
Sejak musnahnya Sekte Xitian, paman Zhuting berani mengambil langkah untuk membalas dendam dan terlibat dalam militer Nanbao kemudian menjabat sebagai Jenderal.
Tetapi, semuanya tidak berjalan lancar. Sang paman berakhir menjadi tawanan perang di Shen.
Saat ini Sima Junke mencoba mengumpulkan kekuatan dan menyusun rencana kembali untuk memusnahkan Ketiga Sekte kemudian membebaskan sang paman.
Perasaan Sima Junke bertambah kalut mengetahui Xiu Qixuan menggunakan Ilmu Xitian.
Pikirannya sudah berputar mencari jawaban, Apakah Xiu Qixuan salah satu murid Sekte Xitian tetapi bagaimana bisa gadis ini selamat dari kehancuran dan bukankah gadis ini berguru di desa kecil? Atau gadis ini adalah bagian dari ketiga sekte biadab yang mencuri Kitab Seni Beladiri Xitian?
Tangannya mengepal erat dan kedua matanya memerah ketika pertanyaan kedua hinggap dibenaknya, kalau gadis ini salah satu bagian dari ketiga sekte kekaisaran—itu berarti gadis ini adalah musuh yang harus dia bunuh.
•••••••••••••••
(1) Jangan meletakan pot diatas api jika rusa masih berjalan dihutan: Jangan mengantisipasi/memperhitungkan rencana baik. Rencana yang baik hanya perlu dilakukan tidak perlu diperhitungkan.
Btw koment nya kmrn banyak yg nungguin pria misterius nih ya, padahal munculnya diawal dikit bgt loh. tpi gpp author kasih spoiler nih bahwa pria misterius itu adalah sumber masalah haha.
piss mas ****✌️ diblurin karena namanya blm dikasih tau cmn author doang yang tau haha😂
Nepatin janjiku ini up 2 chapter, yg blum beri like di chapter sebelumnya tolong balik lgi—cmn tinggal pencet doang loh. terimakasih💖