Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Paman Kun Qi Bo



Perlahan dengan penuh keraguan jari-jari kokoh milik Sima Junke membuka gulungan kertas minyak yang mereka temukan dari dalam permainan kubus teka-teki pemberian Shi Peiyu sang ibunda.


Cahaya bulan dan kabut merah dari obor yang menggantung diatas dinding ikut memperjelas sepenggal kalimat yang tertulis diatas kertas minyak tersebut.


'Kun Qi Bo, distrik 1335 no.25 pelabuhan Nanhai.'


Kerutan di kening keduanya terlihat jelas setelah membaca sepenggal kalimat tersebut.


"Apakah ini merupakan sebuah alamat?" Tanya Xiu Qixuan dengan memgangkat pandangannya untuk menatap Sima Junke.


"Ya, benar. Tetapi aku merasa tidak asing dengan nama ini," Jawab Sima Junke mengernyitkan dahinya seperti berusaha mengingat sesuatu.


Hening.


Xiu Qixuan terdiam membiarkan pria itu sibuk menggali informasi yang hilang dari ingatan.


"Paman Kun," Desis Sima Junke terdengar pelan.


Dengan penasaran Xiu Qixuan menolehkan wajahnya dan bertanya, "Siapa dia? Apakah seseorang yang begitu penting?"


Helaan napas terdengar dari Sima Junke, pria itu kemudian menolehkan wajahnya untuk menatap kearah Xiu Qixuan dengan guratan kelelahan karena menyaring informasi yang mengejutkannya lagi.


"Aku bahkan hampir melupakannya. Semua orang mengetahui bahwa dia sudah mati. Tetapi mengapa terdapat sebuah alamat atas namanya di pelabuhan Nanbao," Ucap Sima Junke tidak berkesinambungan dengan pertanyaan yang dilontarkan Xiu Qixuan.


"Mungkinkah ibumu menyimpan rahasia di dalam alamat dan orang ini? Secara ibumu bukanlah orang sembarangan, dia adalah putri dari sebuah sekte besar yang hebat." Ucap Xiu Qixuan dengan spontan menganalisa bak seorang detektif handal.


Sima Junke melengkungkan senyum geli saat melihat gadis ini yang sangat percaya diri spontan menebak.


"Mungkin saja," Balasnya singkat


"Jadi siapa orang itu? Aku akan ikut menemanimu mencari alamat ini," Ucap Xiu Qixuan dengan lugas dan tidak sungkan layaknya seorang teman yang menawarkan bantuan.


"Paman Kun adalah pengawal pendamping ayahku. Kita akan mengetahui lebih jelasnya nanti, jika memang benar dia masih hidup." Jelas Sima Junke dengan melipat kembali gulungan kertas minyak itu dan segera menyimpannya.


Xiu Qixuan mengangguk mengerti dan mengalihkan pandangannya kedepan mengarah pada lautan. Gadis itu jatuh termenung seperti sedang memikirkan sesuatu hal lainnya.


"Xuan'er," Panggil Sima Junke dengan pelan yang membuat Xiu Qixuan segera menolehkan wajahnya lagi.


Xiu Qixuan tergagap dan memundurkan tubuh saat melihat tubuh Sima Junke maju dan mendekatinya, wajah pria itu semakin mendekat dan mereka nyaris tak berjarak.


Gadis itu perlahan menutup kelopak matanya saat merasakan napas Sima Junke semakin dekat dan menggelitik.


'Tukk,' Sima Junke menjentikan jarinya di dahi Xiu Qixuan.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya pria itu dengan menyeringai geli yang tak tertahankan.


Xiu Qixuan meringis dan balas mempelototi -nya dengan tajam.


"Aku hanya ingin mengambil piring makan malam -mu yang sudah dingin untuk dihangatkan kembali." Jelas Sima Junke dengan masih terkekeh kecil menunjukan sebuah piring di dalam genggamannya.


'Blush,' Seketika itu Xiu Qixuan merutuki dirinya sendiri, sangat memalukan.


Gadis itu dengan tergesa beranjak dan berlari masuk kedalam kamarnya, dia hampir saja ingin membanting pintu kamar tetapi dengan terburu-buru menahannya kembali karena baru ingat bahwa Xiao Bao sedang tertidur dikamar sebelah.


••••••••••••••••••


Sinar matahari di ufuk timur menyorot hangat membuat tubuh manusia merasa nyaman.


Terlihat hiruk-pikuk keramainan yang membising nyaring, para manusia itu sibuk dengan kegiatan atau pekerjaan mereka masing-masing.


Beberapa diantara mereka sibuk menjajakan hasil tangkapan mereka, Beberapa diantaranya juga sibuk melakukan transaksi jual beli dan yang lainnya sangat bersemangat mengangkat kotak barang untuk dibawa ke Ibukota Nanjing.


"Jiejie..." Panggil seorang bocah kecil yang menarik-narik tangan gadis cantik itu dengan sangat gelisah.


Gadis cantik itu dengan cepat menundukan wajahnya untuk menatap sang bocah kemudian dia berucap, "Ada apa Xiao Bao? Kau menginginkan sesuatu?" dengan lembut penuh perhatian.


Seketika itu senyum diwajah sang gadis semakin melembut dan dengan penuh perhatian dia mengusap lembut pucuk kepala Xiao Bao untuk berusaha menenangkan bocah yang malang ini.


"Tidak. Kita berada disini untuk mengantar Jun Ge bertemu dengan seorang kenalan," Jelasnya perlahan.


Xiao Bao mengangguk mengerti, dia terdiam kembali dan asyik mengedarkan pandangan untuk melihat keramaian disekitarnya.


"Xuan'er, aku sudah menemukan letak tempat yang tertera dialamat." Ucap seorang pria tampan yang segera bergegas menghampiri mereka, sebelumnya pria itu pergi terlebih dahulu untuk menelusuri keamanan jalan dan mencari arah.


Xiu Qixuan melangkah mendekat dengan menggandeng Xiao Bao dilengan kirinya.


"Ayo pergi," Jawab Xiu Qixuan


'En,' Sima Junke menganggukan wajahnya dan dengan cepat meraih lengan kanan Xiu Qixuan yang membuat mereka bergandengan tangan layaknya pasangan suami istri yang memiliki Xiao Bao sebagai anak.


Mereka berjalan memasuki sebuah jalan berkelok kecil beberapa penduduk melihat dan menyapa mereka dengan keramahan.


Xiu Qixuan saat ini memakai tudung penutup wajah yang membuatnya nyaman untuk membalas keramahan para penduduk asli pelabuhan Nanhai itu.


Sesampainya mereka disebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu jenis mahoni yang berdiri kokoh.


Terpasang sebuah papan besar diatasnya dengan ukiran kaligrafi sebagai pemberitahuan identitas, 'Penempaan Senjata milik Qi'


Gemerincing nyaring suara lonceng yang sengaja menggantung di pintu bangunan terkena angin.


Dari ukiran kaligrafi yang menggantung diatas itu saja sudah memberitahukan semua orang bahwa pemiliknya memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai sastra dan kesenian dari kekaisaran besar.


Sima Junke dan Xiu Qixuan saling melirik memberi kode sebelum akhirnya mereka mengangguk pelan dan melangkah menaiki undakan tangga.


Dengan segera Sima Junke mengetuk pintu kayu bangunan yang menjadi kediaman juga tempat usaha ini.


"Tunggu sebentar," Teriakan keras terdengar dari dalam.


'Cklek, kriett.' Pintu itu perlahan terbuka dan muncul-lah sosok pria setengah baya memakai pakaian lusuh dan kotor dengan sebuah palu digenggamannya.


Sepertinya pria itu sedang melakukan pekerjaannya sebagai seorang ahli penempa senjata.


Mata pria itu menyipitkan seperti sedang berusaha menyesuaikan indra penglihatannya.


Tubuh Sima Junke menegang, dia tertegun saat melihat sosok kokoh yang menjulang berdiri dihadapannya.


Walaupun Sima Junke memang sedang mencari keberadaan pria setengah baya ini, tetapi dia tetap saja terkejut saat berhasil menemukannya.


"Paman Kun..." Panggil Sima Junke dengan sedikit bergetar


Pria setengah baya yang disebut Paman Kun itu seketika membelalakan kedua bola matanya menonjol keluar.


'Prang,' Dia dengan tidak sadar membanting sebuah palu yang sebelumnya berada di dalam genggamannya.


Xiao Bao yang melihat itu mengerut takut dan langsung bersembunyi dibalik tubuh Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan menjadi kehilangan fokusnya pada Paman Kun dan dia segera mengelus lembut punggung Xiao Bao untuk sedikit menenangkan sang bocah.


"Kau ternyata masih hidup," Lanjut Sima Junke dengan spontan.


"Tuan Muda Kecil," Ucap Paman Kun dengan ketertegunan yang masih belum usai.


"Mengapa kau berada disini? Cepat, cepat masuk!" Lanjut Paman Kun dengan sedikit gelisah dan bergegas menarik tangan Sima Junke agar segera masuk kedalam kediamannya.


•••••••••••••••


Jangan lupa dukungan karya vote, hadiah, like & koment yaaa gais. Sebagai penyemangat kali aja authornya ini jdi semakin rajin up sebanyak minggu kmrn wkwk.