Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Menyambut Kepicikan



"Xuan'er..."


Yao Yunmei memanggil namanya dengan nada lebih lembut. Dia menggelengkan wajah sembari menatap dalam kearah Xiu Qixuan.


"Istana Kekaisaran bukanlah tempat yang mudah untuk di tangani. Itu adalah medan perang yang tidak akan pernah padam. Jangan bermain-main." Yao Yunmei berkata tegas menerangkan.


"Aku tahu, dan aku sangat mengerti itu." Xiu Qixuan mengangkat pandangannya yang keruh, dia kembali berkata datar; "Yunmei jiejie. aku tidak ingin menghindar—, dan aku juga tidak bisa menjadi sepertimu. Undangan untuk memasuki istana itu akan segera datang ke tanganku. Bagaimana cara yang pasti untuk lolos ketika tangan dan tubuhku dirantai?"


Kata-kata Xiu Qixuan seperti jarum yang menusuk hati Yao Yunmei. Wanita satu anak itu mengingat kembali sebuah awalan yang sama, pemilihan puteri mahkota, membawanya ketempat ini untuk melarikan diri sebagai istri seorang wakil jenderal.


"Pergi menikahlah dengan pria biasa, temukan orang yang kau cintai Xuan'er." Yao Yunmei tiba-tiba meninggikan suaranya.


Xiu Qixuan mengerutkan wajah, tidak senang. "Yunmei jiejie, jangan begitu naif. Apakah menikahi pria selain para pangeran itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari panggilan kaisar?" dengusnya remeh.


Yao Yunmei sedikit kesulitan untuk kembali bersuara. Tentu dia mengerti maksud Xiu Qixuan bahwa itu akan membuat malapetaka bagi Keluarga Xiu.


Jelas bahwa Kaisar ingin mengikat Keluarga Xiu melalui Qixuan. Dan, Xiu Qixuan tidak bisa seperti dirinya yang terombang-ambing oleh perasaan dan memilih lari.


"Nah, jadi sekarang biarkan aku fokus bermain dengan Yuheng kecil." Xiu Qixuan berkata dengan tersenyum lebar menguraikan perasaan mereka yang memberat.


Xiu Yuheng begitu tenang dalam pangkuan Xiu Qixuan, dia menggembungkan kedua pipinya yang bulat dan menyemburkan air dari mulutnya yang mungil.


Beberapa menit berlalu, ketika Yao Yunmei dengan mata merenung tiba-tiba bergumam dangkal.


"Sabagai wanita kita tidak bisa memilih. Tapi kehidupan wanita sebenarnya sangat nyaman. Jika kamu memiliki bayi di rumah, kamu dapat menikmati semua yang telah dibangun oleh suamimu.”


Ekspresi Xiu Qixuan menjadi tampak terdistorsi setelah mendengar kata-katanya.


"Ya, jika aku punya kekuatan, itu akan digunakan oleh suamiku begitu kami menikah. Dan jika memiliki anak, itu akan menjadi milik suamiku, bukan aku. Jadi, Yunmei jiejie—pernikahan di duniamu ini tidak lebih dari bisnis yang saling menguntungkan 'bukan?." Xiu Qixuan berkata tajam dengan matanya yang seperti sepotong es dingin.


Dia kembali melanjutkan lamban; "Tapi, menurutku kita bisa memilih untuk melakukannya atau tidak."


Yao Yunmei sedikit tercengang kagum, hampir kehilangan kata-katanya; "Itu takdir orang yang terlahir sebagai bangsawan. Sebuah bayaran atas kehidupan nyaman. Kau harus paham, Xuan'er." Dia menatap Xiu Qixuan dengan mata terjerat hangat yang dalam dan tangannya bergerak menepuk lembut pucuk kepala Xiu Qixuan.



**Empat Hari Kemudian**...



Tirai manik-manik di angkat oleh seseorang, menimbulkan suara gemerisik nyaring.



Dupa lavender yang tercampur air lemon dinyalakan di dalam ruangan membawa aroma manis dan segar.



"Xiao Taoli datang menyapa Nona." Xiao Taoli berkata dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada, memberi hormat.



Dia tiba dua hari yang lalu di Kediaman Xiu atas panggilan Xiu Qixuan yang memintanya untuk cepat kembali. Bocah itu, sebelumnya mengurus kepentingan dan keperluan anggota Divisi Rubah terlebih dahulu menggantikan Xiu Qixuan.



Kelopak mata Xiu Qixuan yang tertutup perlahan terangkat. Kepala gadis itu sedang tertelungkup malas diatas meja.



![](contribute/fiction/2125469/markdown/10367472/1641617164196.jpg)




Mata hitam obsidiannya memancarkan pesona cahaya berkelip-kelip ketika mereka tertimpa sinar matahari yang lolos dari celah jendela.



Xiao Taoli memperhatikan dan tidak tahu mengapa dia menghela napas kemudian berkata; "Rombongan utusan dari Ibukota sudah hampir tiba. Kasim Teng yang merupakan salah satu terdekat Kaisar datang sendiri. Dia akan tinggal sampai menunggu waktu semakin dekatnya kompetisi diadakan untuk langsung mendampingi anda berpergian ke Ibukota."



Senyum Xiu Qixuan sedingin es, dia menyeringai tajam berkata; "Aiyaa, bukankah ambisi mereka akan terlihat mencolok jika begini." Ia bangkit dan melambaikan tangan, melanjutkan. "Kau bisa kembali, Taotao."



Kemudian dia menolehkan wajah, ke belakang bilik penyekat ruangan untuk memanggil Xiao Rou; "Xiao Rou, kemari! Datang bantu aku berpakaian. Kita harus menyambut utusan dengan meriah, 'kan."



Xiao Taoli belum kunjung beranjak pergi, dia memandangi Xiu Qixuan dengan gelisah. Kelihatan sekali bahwa dia khawatir.



Xiu Qixuan menyadari itu dan berjalan menghampiri untuk menepuk bahunya pelan; "Tenanglah, Taotao. Kamu mempercayaiku, 'kan?"



Karena Xiu Qixuan tidak boleh keluar Manor, penjagaannya di perketat oleh Xiu Haocun, dia tidak mendapati informasi mengenai keadaan yang terjadi dari luar. Dan disitulah peran Xiao Taoli di butuhkannya untuk mengamati perkembangan situasi luar dan dalam.



Dua jam kemudian, di gerbang utama Keluarga Xiu terparkir gerbong kereta kuda yang cukup mahal memperlihatkan latar belakang istimewa. Semua orang yang melintas berbisik penasaran.


Seorang Kasim paruh baya berpakaian hijau turun dari dalam gerbong dengan kilau yang arogan. Matanya yang berkerut cermat mengawasi sekitar memperlihatkan kepicikannya.


Didepan gerbang utama Kediaman Xiu, hanya terdapat Hai Bing yang menyambut kedatangannya menggantikan sang atasan. Tidak ada seorang pun dari anggota Keluarga Xiu yang hadir.


Jelas ini adalah hal yang tidak sopan. Mereka meremehkannya, ini sama dengan meremehkan Kaisar. Bukankah, Xiu Haocun memiliki keberanian yang cukup banyak untuk menunjukan bahwa dia tidak senang menyambut tamu.


"Selamat datang di Kediaman Xiu, Kasim Teng." Hai Bing berkata ramah. "Mari, halaman untuk anda tempati sudah kami siapkan." Kemudian mempersilahkan Kasim Teng untuk masuk.


Kasim Teng hanya meliriknya kosong dan mendengus; "Ya, apakah Jenderal Besar sudah kehilangan pikirannya? Saya membawa perintah Yang Mulia Kaisar. Tapi, tidak mendapat sambutan. Sungguh sifat kasar yang tidak layak ini."


Bibir Hai Bing berkedut masam, rasanya dia ingin sekali meninju wajah Kasim Teng yang arogan.


Hai Bing menghela napas, menjawab; "Bandit menyerang penduduk baru-baru ini. Jenderal sibuk mengurus masalah internal." Kemudian dia melanjutkan; "Mari, halaman untuk anda tempati sudah kami siapkan." Satu tangannya terentang dengan sedikit membungkuk mempersilahkan Kasim Teng untuk memasuki kediaman.


Kasim Teng secara otomatis melangkah di ikuti beberapa penjaga dan pengawalnya yang datang dari Ibukota; "Kalau begitu karena Jenderal Besar tidak bersedia. Saya ingin menemui Nona Besar Xiu untuk membiarkannya menerima dekrit." Ia berkata dengan gigih. "Ajudan sang jenderal, tidak akan melarangnya bukan?" Dia mendesak penuh tekanan di setiap perkataannya kepada Hai Bing.


Hai Bing mengernyit tidak suka oleh permainan piciknya. Dia kebingungan untuk menjawab; "Sepertinya ini—" terjeda.


"Tamu kehormatan dari Ibukota sudah datang kemari. Tentu saja, Xuan'er harus menyambut." Xiu Qixuan tiba-tiba datang dari samping koridor jalan dengan tersenyum lembut menghampiri mereka.


"Nona?!" Hai Bing terkejut sampai dapat menyemburkan darah lewat matanya yang terbelalak. Situasi menjadi tidak bagus. Bagaimana para penjaga itu bekerja. benak Hai Bing menggeram.


Ketika sudah berhadapan, Xiu Qixuan menekuk pinggangnya dan membungkuk anggun; "Xiu Qixuan menyambut utusan dari keagungannya. Mohon bermurah hati karena terlalu lamban menyadari kedatangan anda." Kata-katanya nampak kosong tetapi cukup berarti untuk menyenangkan Kasim Teng.


Kasim Teng terkekeh picik, matanya memancarkan rasa bangga; "Sungguh Nona Besar lebih dari yang di bayangkan. Nona, beruntung sekali. Saya sudah membawakan pelukis yang di perintah oleh Yang Mulia Kaisar untuk menyebarkan kecantikanmu kesegala penjuru."


••••••••••••••••