Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Mengakar Untuk Membalas Dendam



Tiga Minggu Sebelumnya


"Baiklah, aku akan segera menyelesaikan semua ini. Dan kau akan menjadi pendampingku diacara penobatan," Ucap Aisin Tianyi dengan seringai licik, memberi pernyataan yang bersifat perintah mutlak.


"Tidak!" Balas Xiu Qixuan dengan keras menatap tajam Aisin Tianyi.


Aisin Tianyi menjentikan jarinya keras tepat diatas dahi Xiu Qixuan, "Aku hanya bercanda, siapa yang mengira kau begitu serius." Ucapnya dengan godaan dan cibiran.


Xiu Qixuan mendengus kesal dan berucap penuh percaya diri, "Kukira kau menyukaiku, secara diriku ini begitu cantik dan mempesona." dengan mengibaskan rambut panjangnya.


"Cihh, sangat merepotkan jika memiliki wanita sepertimu, hanya Sima Junke saja yang tidak waras." Cibir Aisin Tianyi


Xiu Qixuan melebarkan kelopak matanya berniat mempelototi pria itu dengan tajam, kemudian dia mengangguk dan berucap "Kau memang yang paling cerdas dan berpikiran terbuka diantara semua orang di Daratan Ca Li." dengan menepuk keras bahu Aisin Tianyi seperti menyalurkan kebanggaan.


Aisin Tianyi menggaruk keningnya bingung, harusnya gadis ini marah kan? Tetapi mengapa malah membenarkan ucapannya.


Pria itu tidak mengetahui, pasalnya baru dirinya saja yang berani berterus terang dan begitu waras menyimpulkan bahwa Xiu Qixuan terlalu merepotkan untuk ditangani.


"Sudah, sudah... Aku butuh bantuanmu," Sentak Aisin Tianyi menepis tangan Xiu Qixuan dari bahunya kemudian memasang wajah serius.


"Asal menguntungkan, aku akan membantumu." Jawab Xiu Qixuan dengan lugas dan angkuh menyilangkan tangannya didepan dada.


Aisin Tianyi mengalihkan pandangan dan wajahnya, perlahan dia berucap dengan pelan seakan menahan perasaan yang membuncah malu, "Aku dan Xin'er adalah teman masa kecil. Dulu kami sangat dekat, hanya saja karena beberapa konflik yang terjadi hubungan kami merenggang dan menjadi asing." Jelasnya dengan menunduk.


"Xin'er? Zhai XinXin maksudmu?" Tanya Xiu Qixuan dengan mengerutkan kening.


'En,' Jawab Aisin Tianyi mengangguk.


Seakan mengerti hanya dari sepenggal kalimat itu Xiu Qixuan tertawa terbahak-bahak, kemudian dia berucap dengan ejekan, "Baiklah, Aku akan membantu pewaris Nanbao untuk menemukan pasangan, yaitu kekasih masa kecilnya."


Aisin Tianyi dengan cepat mendongak untuk menatap tajam Xiu Qixuan, "Hentikan tawa jelekmu itu." Perintahnya dengan keras.


Xiu Qixuan mendengus geli tetapi dia menurutinya karena kelelahan, "Apa yang harusku lakukan?" Tanyanya dengan mengerecap polos.


"Bodoh, apalagi kalau bukan membantuku dekat dan menjalin hubungan dengan Xin'er." Jawab Aisin Tianyi dengan mendengus kesal.


"Baik, keuntungan apa yang kudapat?" Tanya Xiu Qixuan dengan serius tidak menginginkan kerugian.


Aisin Tianyi mengerutkan kening bingung dan mengedikan bahu tidak tahu.


"Dua permintaan," Ucap Xiu Qixuan dengan mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Kabulkan dua permintaanku," Lanjutnya


"Baik, selagi itu masuk akal." Jawab Aisin Tianyi menyetujui dan mengulurkan lengan kanannya untuk berjabat tangan dengan Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan membalas uluran itu dan mengentakan pelan dengan tersenyum dalam.


•••••••••••••


Setelah kesepakatan itu Xiu Qixuan berubah menjadi mak comblang bagi sepasang kekasih masa kecil.


Setiap harinya selain berada disisi Sima Junke, dia habiskan menjadi perantara cinta dan kasih untuk sepasang kekasih itu.


Beberapa hari kemudian situasi pemerintahan cenderung stabil karena kehadiran Aisin Tianyi yang menjalankan pemerintahan. Beberapa diantara pejabat Nanbao dihukum mati yaitu pemusnahan seluruh keturunan karena terbukti mereka berkaitan dengan pemberontakan Tuoba Lie.


Aisin Tianyi memang sejak kecil di didik sebagai seorang pewaris yang meneruskan pemerintahan Nanbao. Dia memiliki darah dan juga bakat, membuat semua hal lebih mudah apalagi disokong oleh otoritas dan kekuasan Petinggi Zhai.


Hanya saja dalam kesibukannya itu, dia tidak melupakan tujuan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan ayah dan ibunya.


Yu Chuchu begitu acuh padanya dia merasakan ada suatu hal lain yang tersembunyi, bagaimana mungkin seorang ibu begitu tidak perduli akan kesejahteraan anaknya?


Selama seminggu setelah kekacauan yang diakibatkan oleh pemberontakan, Tuoba Lie bunuh diri setelah mengakui kesalahan dan mengungkap beberapa rahasia.


Salah satunya adalah kejadian dimana Aisin Fei manaruh racun didalam kandungan obat Aisin Boyu. Beberapa bukti dan kesaksian disimpan rapih oleh Tuoba Lie yang membuat Aisin Tianyi bergegas untuk menemui nenek tua itu.


Aisin Fei tidak menepis dan mengakui bahwa dirinya yang melakukan itu. Entah karena keadaan yang memaksanya, nenek tua itu begitu pasrah jika Aisin Tianyi ingin menghukumnya.


Aisin Tianyi dengan kemurkaan penuh tidak berniat menanyakan alasan dan tidak memberikan ruang untuk penjelasan.


Dia memerintahkan orang untuk menaruh racun yang sama kedalam secangkir arak.


Xiu Qixuan yang mendengar itu dilingkupi kekhawatiran dan berlari tergopoh-gopoh menuju tempat tinggal Nyonya tua.


Saat dirinya berada diambang pintu, kali ini dia menyaksikan bagaimana Nyonya tua perlahan meraih secangkir arak beracun dan bersiap menegaknya.


"Hentikan!" Sentak Xiu Qixuan dengan keras, berlari ia dan cepat menepis cangkir itu dari tangan Nyonya tua.


'Prang,' Cangkir itu terpecah menjadi beberapa bagian, arak didalamnya tercecer dan mengalir.


"Tianyi, kau tidak boleh." Ucap Xiu Qixuan dengan tajam dan begitu kukuh berdiri dihadapan Aisin Tianyi.


"Gadis kecil!" Panggil Aisin Fei penuh kekhawatiran saat melihat tubuh Xiu Qixuan yang limbung kebelakang karena dorongan yang kuat.


Xiu Qixuan sedikit terkejut karena diperlakukan kasar seperti itu, dia mengercapkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya kembali.


Kemudian dia menolehkan wajah dan tersenyum lembut kearah Nyonya tua, "Tidak apa," Ucapnya berusaha menenangkan.


Dengan cepat Xiu Qixuan kembali mengubah ekspresinya menjadi begitu serius dan menantang Aisin Tianyi, "Aku ingin bertanya padamu, A Tian. Jika Nyonya tua mati dengan arak beracun yang kau berikan, Apa yang akan kau dapatkan? Apakah ayahmu akan kembali? Apakah kau akan mendapatkan jawaban dari apa yang kau lakukan? Apakah kepuasan dan kelegaan batin akan kau dapatkan?" Ucapnya dengan tajam tepat mengenai isi pikiran dan hati lawan bicaranya.


"A Tian, mengapa kau tidak membiarkannya memperjelas semua pertanyaan yang selalu melingkupi benakmu." Lanjut Xiu Qixuan dengan tenang nan lembut.


Aisin Tianyi yang sebelumnya dilingkupi kemarahan mengerjapkan mata dengan linglung dan perlahan napasnya kembali stabil.


Beberapa saat kemudian suara serak yang memendam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam mengalun sendu, "Mengapa? mengapa kau membunuhnya? bukankah dia adikmu? Kenapa kau begitu tega? Apakah hanya untuk berada diatas takhta yang dingin dan kesepian ini?" Tanyanya.


Airmata menetes deras diwajah tua Aisin Fei, "Maafkan aku, nak." Ucapnya tulus.


"Aku tidak butuh itu," Sentak Aisin Tianyi dengan tajam.


Aisin Fei tersentak kaget tetapi dia mengerti bahwa perasaan seperti ini sulit diterima, saat dimana kerabat terikat darah yang seharusnya menjadi kasih dan percaya malah berbalik menjadi jenis luka dan kekecewaan.


Perlahan cerita demi cerita mengalir dari mulut Aisin Fei, tepat dimana saat yang merubah dirinya.


Aisin Boyu sang mendiang Kepala Suku selalu memendam kekhawatiran nya kepada Sima Xiahou.


Itulah sebabnya Sima Xiahou lebih memilih mengelana kenegeri asing yang jauh daripada menetap di Nanbao sebagai ancaman.


Dengan perlahan seiring berjalannya waktu semuanya terbiasa dengan adanya atau tanpa adanya kehadiran Sima Xiahou dari anggota keluarga besar kepala suku.


Tetapi semua itu berubah saat Sima Xiahou kembali membawa gadis asing yang sedang mengandung anaknya untuk menetap di Nanbao.


Kepala Suku Aisin Boyu yang belum memiliki keturunan dan pasangan menjadi semakin merasa terancam.


Sepanjang waktu Aisin Boyu semakin otoriter dan menekan keluarga Sima. Sampai terjadi suatu konflik yang melibatkan dan memusnahkan seluruh keluarga pejabat bermarga Zhu, semua keluarga Zhu musnah dalam semalam tetapi seorang gadis berhasil melarikan diri dan bersembunyi dari maut yang membumi-hanguskan seluruh anggota keluarganya dan gadis itu adalah putri sah dari pejabat Zhu, Zhu Chuchu.


Terdengar tidak asing, bukan? Gadis itu sekarang menjadi wanita setengah baya yang bernama Yu Chuchu, ibu kandung Aisin Tianyi.


Terlihat begitu bodoh saat dirinya lebih memilih berdiri disamping musuh keluarganya dan perlahan mengakar untuk membalas dendam.


Ya, semuanya begitu berkesinambungan satu dengan yang lain. Aisin Boyu tidak menderita sakit apapun tetapi penyakit itu mengakar karena racun yang diberikan Yu Chuchu setiap tahunnya. Dia merancang kematian yang diderita musuhnya adalah dengan perlahan tanpa disadari siapapun.


Tetapi seorang anak yang dimilikinya tidak bersalah, dia tidak menyayangi karena darah yang mengalir milik musuhnya tetapi juga tidak tega untuk membunuh, menjadikannya begitu acuh kepada Aisin Tianyi.


Tindakan Aisin Fei hanya menyelesaikan semua yang sudah dimulai oleh Yu Chuchu, mengakhiri dendam yang mereka derita.


Selang enam tahun lamanya sejak kejadian keluarga Zhu yang dimusnahkan, Aisin Boyu masih menekan Sima Xiahou dengan berbagai plot. Tetapi Sima Xiahou terlalu sulit untuk dijatuhkan, membuat kecemasannya bertambah.


Tepat pada tahun macan bulan ketiga dan hari kedelapan, Sima Xiahou ditemukan tewas didalam ruangan kerjanya. Bukankan begitu mengejutkan dan mencurigakan. Aisin Fei seakan sudah mengetahui pelakunya dan didukung bukti yang cukup kuat dari surat yang dituliskan Sima Xiahou. Kebencian yang sama dengan yang dimiliki oleh Yu Chuchu sudah tertanam di dadanya sejak saat itu.


Anaknya tidak pernah mengincar takhta dan selalu mengalah dengan berbalik pergi agar tidak menjadi ancaman pihak lain. Tetapi pihak lain tidak ingin mempercayainya dan perlu mengambil tindakan untuk merasa yakin.


"Apa isi surat itu? Apakah kau masih menyimpannya?" Tanya Xiu Qixuan berusaha memperjelas saat melihat Aisin Tianyi termenung memandang kosong.


Xiu Qixuan menemukan sedikit kejanggalan, bagaimana mungkin seseorang yang dibunuh dapat merencanakan untuk menulis surat, kecuali orang itu bunuh diri.


Aisin Fei mengangguk dengan langkah ringkihnya dia mendekati kotak kayu dan gemetar mengambil gulungan yang terbuat dari kulit binatang.


Xiu Qixuan perlahan mengambilnya dan membaca isi didalamnya, ini hanya sepenggal kalimat yang tersirat.


'Ketenangan dan kedamaian akan kembali, ancaman luar dan dalam akan musnah. Begitu menyenangkan melihat anak-anak tumbuh tanpa membawa dendam dan menderita konflik berkepanjangan.'


"Apa maksudnya?" Gumam Xiu Qixuan dengan pelan.


"Aku juga tidak mengerti dengan jelas, tetapi dapat dipastikan ancaman yang dimaksudkan adalah dirinya sendiri, Sima Xiahou." Jawab Aisin Fei dengan pelan.


"Kau yakin dia yang menulis ini?" Tanya Xiu Qixuan


"Ya, aku mengetahui tulisan anakku." Jawab Aisin Fei dengan lugas.


"Bagaimana cara dia dibunuh?" Tanya Xiu Qixuan dengan mengerutkan kening.


"Aku tidak mengetahui, karena tidak ada luka ataupun kandungan racun ditubuhnya. Tetapi, aku yakin ini terkait dengan paksaan dan tekanan yang diberikan oleh Aisin Boyu, dibuktikan dari secarik kertas yang aku temukan tersisa ditempat pembakaran yang masih dapat dilihat jelas stempel kepala suku. Aisin Boyu mengirimnya surat kemudian anakku ditemukan tewas, bukankah aneh?" Jelas Aisin Fei dengan menyodorkan kertas yang sudah hangus terbakar dan hanya menyisakan bekas stempel lilin.


Sepanjang waktu setelah cerita demi cerita yang mengalir dari mulut Aisin Fei, akhirnya Aisin Tianyi menyetujui untuk melepaskan Aisin Fei, tetapi nenek tua itu akan menjadi tahanan rumah dan tidak memiliki izin keluar atau berdiri didalam pemerintahan lagi.


Xiu Qixuan mengetahui seberapa kacau perasaan Aisin Tianyi. Sejak awal ayah dan ibunya bukanlah pasangan yang saling mencintai, ibunya hanya menggunakannya untuk memperkuat akar didalam pemerintahan Nanbao, dan ibunya tidak menginginkannya. Begitu menyakitkan dan menyesakan seperti ribuan panah menusuk jantungmu!


••••••••••••••