
"Dasar Gadis Nakal, Berhenti menggodaku." Ucap Xiu Jierui menarik kedua pipi Xiu Qixuan dengan gemas.
Kakak Pertama-nya ini tidak terlalu mementingkan etiket dibanding sang Kakak Kedua yang sangat ketat.
"Argghh, Baiklah--Baiklah. Xuan'er minta maaf," Ucap Xiu Qixuan dengan cepat agar sang kakak pertama melepaskannya.
Xiu Jierui melepaskan tarikan di pipi sang adik, dia puas melihat gadis nakal yang menggodanya ini memohon ampun.
Xiu Qixuan melangkah menghampiri kursi yang terdapat di pavillun tersebut. Mendudukan dirinya dan menuang teh yang masih mengeluarkan asap ke cangkir yang terdapat diatas meja bundar.
Xiu Jierui menghampiri dan ikut mendudukan diri di salah satu kursi lainnya.
"Xiao Rou, Siapkan makanan aku lapar." Perintah Xiu Qixuan kepada Xiao Rou yang berada diluar Pavillun.
Xiao Rou mengerti dan berlalu pergi melaksanakan perintah.
"Xuan'er, ini belum jam makan malam dan kau sudah lapar." Ucap Xiu Jierui mengira adiknya yang rakus ini selalu lapar padahal belum waktunya jam makan.
"Aku belum makan sejak tadi, wajar kalau lapar." Jawab Xiu Qixuan menyodorkan cangkir teh kearah sang kakak pertama.
"Bagaimana bisa kau belum makan?! Apakah para pelayan disini tidak dapat diandalkan?!" Ucap Xiu Jierui keras.
Xiu Qixuan yang mendengar ucapan Xiu Jierui yang keras itu langsung menaruh cangkirnya kembali dan memandang sekitar takut para bawahannya mendengar ucapan tidak mengenakan sang kakak.
"Kakak Pertama, Aku yang tidak memiliki nafsu makan. Jangan salahkan mereka, lagipula hanya masalah kecil tidak perlu diperdebatkan." Ucap Xiu Qixuan dengan pelan.
"Tapi tetap saja tubuhmu lemah. kalau kau tidak makan dengan cukup dan layak, kau dapat terserang berbagai penyakit seperti saat kau masih kecil." Ucap Xiu Jierui yang masih tidak ingin kalah mempertahankan pendapatnya.
Xiu Qixuan menghela napas panjang. Selemah apa Xiu Qiaofeng dahulu dimata keluarganya.
Xiu Qixuan merasa mereka terlalu memandang rendah dirinya yang harus dijaga sepanjang hari layaknya domba tak berguna yang menunggu untuk disembelih.
"Kakak Pertama, Aku tidak ingin kalian selalu memanggapku lemah. Aku sangat berterimakasih kalian mengkhawatirkanku dan menjagaku bak porselen berharga. Tetapi tidak mungkin kalian terus menjagaku dan menolongku saat ada bahaya yang menghampiriku." Jelas Xiu Qixuan dengan lembut dan tertata.
"Langit selalu adil, dan tidak ada orang yang dikecualikan. Yang dapat menolong dirimu adalah dirimu sendiri."
"Itu pepatah yang pernahku dengar, Jadi biarkan Xuan'er melebarkan sayap dan terbang tanpa terkekang." Lanjut Xiu Qixuan memberi pengertian.
Xiu Jierui yang mendengar itu terdiam memandang adik perempuannya yang terlihat sangat bijaksana.
Menghela napas panjang Xiu Jierui menjawab,
"Kau benar, Xuan'er -ku sudah tumbuh besar dan ingin melindungi dirinya sendiri. Aiyaa, entah mengapa aku merasa tidak dibutuhkan lagi sekarang."
"Bukan itu maksudku," Sergah Xiu Qixuan karena dia benar masih membutuhkan Xiu Jierui untuk pelatihan seni beladiri.
Xiu Jierui terkekeh geli melihat sang adik jatuh kedalam ucapan jahilnya.
"Kau begitu panik, aku hanya bercanda." Ucap Xiu Jierui
Xiu Qixuan mengerucutkan bibir tidak senang, kakak pertamanya balas menggoda-nya itu sangat menyebalkan.
Xiu Jierui mengambil cangkir diatas meja dan meminumnya perlahan.
"Lagipula aku memang masih membutuhkanmu, Gē. Aku ingin mengikuti pelatihan seni beladiri di kamp militer," Ucap Xiu Qixuan
'Uhuk.Uhuk.'
Xiu Jierui tersedak mendengar ucapan yang dilontarkan sang adik. Dirinya tidak menyangka ternyata sejak tadi pembahasan mereka, adik perempuannya akan meminta pelatihan seni beladiri di kamp militer.
"Xuan'er, yang benar saja? dikamp militer semuanya lelaki tidak ada satupun seorang perempuan," Ucap Xiu Jierui saat batuknya berhenti.
"Baiklah, aku tidak bercanda lagi. Gē, tetapi aku benar ingin melatih seni beladiri. Tidak apa, tidak usah dikamp militermu. Ayah, kau dan Kakak kedua dapat bergantian mengajariku di kediaman." Ucap Xiu Qixuan
Xiu Jierui terdiam sedang memikirkan ucapan Xiu Qixuan.
"Gē, Ayolah. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri," Rajuk Xiu Qixuan dengan mata berbinar penuh permohanan, dia berlutut dan menarik-narik lengan baju Xiu Jierui.
Xiu Jierui yang melihat tindakan Xiu Qixuan langsung memalingkan wajah tidak ingin melihat tindakan yang menurutnya menggemaskan.
"Tidak ada yang dapat menolak permintaanmu di kediaman ini." Ucap Xiu Jierui pasrah menghela napas.
Xiu Qixuan berdiri dan menegakan tubuh, bersorak dalam hati.
"Berarti Kakak pertamaku yang tampan ini menyetujuinya kan." Ucap Xiu Qixuan memastikannya lagi dan sekaligus memuji Xiu Jierui.
"Heum, Aku akan mendiskusikan ini kepada Ayah dan Huanran." Jawab Xiu Jierui memandang kearah lain, masih tidak ikhlas dikalahkan dengan tindakan kekanakan Xiu Qixuan.
"Dagē, tersenyumlah. Kau tidak sepenuh hati memenuhi keinginanku, ya?" Ucap Xiu Qixuan dengan melangkah mendekati kursi tempat duduk sebelumnya.
Xiu Jierui memandang Xiu Qixuan dengan sedikit kesal tetapi dia tersenyum.
"Bukankah, kau baru menerima sebuah hadiah dari Yao Yunmei?" Tanya Xiu Jierui mengubah topik pembicaraan.
"Oh, Hadiah dari Kakak Ipar. Dagē mengetahuinya? Kemarin kami berbincang di Manor Hui milikmu, dan dia ingin mengirimku hadiah barang dari ibukota." Jelas Xiu Qixuan sedikit berpura-pura menanyai sang kakak pertama mengetahui atau tidak.
"Aku baru kembali dari kamp militer beberapa jam lalu. Saat diperjalanan ke Manor Hui para pelayan disana membicarakanmu yang tidak seperti biasanya menurut mereka kau sedang dalam kondisi tidak baik, mengacuhkan semua orang."
"Dengan cepat tanpa memasuki gerbang Manor Hui aku memutar arah menuju Manor Xing milikmu, sudah lama tidak melihat adikku, aku ingin melihat apakah ada perubahan signifikan di dirimu karena kau mengikuti Huanran melakukan perjalanan bisnis yang cukup lama diperjalanan." Jelas Xiu Jierui memandang Xiu Qixuan dengan sayang.
"Tetapi, sepertinya kau baik-baik saja. Para pelayan itu hanya menyebarkan rumor tak berdasar. Harus lebih mendisplinkan mereka." Lanjut Xiu Jierui yang tidak merasakan perbedaan dari sikap sang adik, antara pria ini tidak cukup peka atau memang Xiu Qixuan yang menyenangkan kembali.
Xiu Qixuan menunduk dan terdiam, gadis itu teringat akan penyebab suasana hatinya menjadi buruk. Dia lupa menanyakan hal mengerikan di mimpinya kepada Lao Yong dan Baijin Hu.
'Tidak apa, aku dapat menanyakannya nanti.' Gumam Xiu Qixuan dalam hati.
Mendongakan kepalanya dan menatap Xiu Jierui didepannya,
"Bagaimana kau tahu kakak ipar mengirimku hadiah?" Tanya Xiu Qixuan
"Saat aku ingin menuju Manor Xing, tidak sengaja berpapasan dan gadis pelayan miliknya memberi salam kepadaku. Gadis pelayan itu menjelaskan bahwa Yao Yunmei memberimu hadiah sebagai hadiah perkenalan kalian. Kami menuju arah yang sama, dia mengikutiku dari belakang." Jawab Xiu Jierui.
"Kebetulan sekali." Balas Xiu Qixuan
"Kau benar, memang sangat kebetulan." Ucap Xiu Jierui acuh, mengambil cangkirnya kembali dan meminum teh yang sudah tidak mengeluarkan uap panas.
Kakak Pertamanya masih memanggil Yao Yunmei dengan nama lengkap padahal Xiu Qixuan sudah menekankan nama panggilan yang menegaskan status Yao Yunmei yaitu sang kakak ipar.
Xiu Jierui terlihat masih tidak begitu menyukai Yao Yunmei. Bagaimana bisa seorang pengantin baru bekerja dan tidak pulang di hari pertama mereka menyandang status perkawinan.
Haruskah Xiu Qixuan membantu mereka mendekatkan hubungan? Tetapi, Xiu Qixuan tidak akan melakukannya kalau tidak menguntungkan. Kedepannya semua tergantung penawaran Yao Yunmei kepadanya.
Lagipula Xiu Qixuan cukup kesal dan marah dengan tindakan Yao Yunmei hari ini yang memanfaatkannya. Darimana juga wanita itu tahu bahwa dirinya sedang dalam kondisi tidak baik.
'Yao Yunmei, beraninya kau mengawasiku! Huanran saja tidak seberani itu menunjukan bahwa dirinya mengawasiku.' Geram Xiu Qixuan dibenaknya.
••••••••••••••••••