
Ibukota Nanjing pusat kehidupan para penduduk Suku Nanbao memiliki luas yang cukup sederhana tetapi sangat istimewa.
Membangun perkotaan dibawah tebing besar dan tinggi untuk menghindari badai pasir yang sering terjadi merupakan suatu hal yang cerdas.
Bangunan-bangunan milik penduduk Suku Nanbao terbuat dari bata tetapi banyak juga yang memilih membangun tenda besar sebagai tempat tinggal. Sangat berbeda dari bangunan-bangunan di Kekaisaran Shen yang terbuat dari lapisan kayu.
Pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal keluarga bangsawan Suku Nanbao terletak ditengah kota.
Rombongan militer sudah kembali sejak dua hari yang lalu, mereka semua dibiarkan beristirahat terlebih dahulu untuk melepas kerinduan—bertemu sanak keluarga.
Dan esok hari akan diadakan perjamuan dan pemberian hadiah bagi mereka yang berkontribusi besar di peperang kali ini.
Perjamuan esok hari diadakan atas perintah Aisin Fei, yang dapat dipanggil juga sebagai Nyonya Tua Suku Nanbao.
Sudah dua hari ini Xiu Qixuan mencari informasi sebanyak mungkin tentang situasi dalam Suku Nanbao.
Xiu Qixuan sebenarnya ditempatkan disatu ruangan dan dijaga ketat oleh bawahan Sima Junke.
Tetapi, gadis ini selalu memiliki cara untuk mendapatkan informasi. Dimulai dari membuat mabuk pelayan ataupun prajurit yang menjaganya untuk membocorkan keadaan yang sedang terjadi didalam Suku Nanbao.
Xiu Qixuan mendapatkan informasi yang sangat cukup untuk membuat rencana agar dirinya memiliki kebebasan bertindak disini.
Xiu Qixuan ikut ke Ibukota Nanjing adalah untuk menjelajah dan mencari informasi yang berguna untuk membantu sang ayah. Sekarang ini Xiu Qixuan sudah cukup pulih, dia dapat kabur kapanpun dia mau. Hanya saja dia baru sampai, tidak mungkin kembali tanpa membawa sesuatu yang berguna.
Mengetukan jari-jari lentiknya ke meja, terlihat gadis itu sedang berpikir mengenai suatu hal.
Xiu Qixuan baru mengetahui keseluruhan mengenai situasi politik Suku Nanbao dan juga identitas Aisin Tianyi dan Sima Junke.
"A Tian adalah Penerus Sah Kepala Suku, tetapi dirinya tidak mendapatkan kekuasannya untuk meneruskan tahta karena Aisin Fei memegang kendali atas segala hal. Bukankah ini dapat disebut pemberontak?" Gumam Xiu Qixuan pelan secara tidak sadar.
Berusaha mendorong Sima Junke untuk menjadi Kepala Suku, tetapi mengapa Nyonya Tua membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Sima Junke menjadi Kepala Suku?
Padahal kubu yang memihak Sima Junke lebih besar dan kuat daripada kubu yang memihak Aisin Tianyi. Kalaupun ada yang tidak setuju— mereka dengan mudah disingkiran dengan kekuatan Aisin Fei.
Kecuali kalau Sima Junke memang tidak memiliki ambisi untuk menjadi Kepala Suku. Pria itu selalu menggagalkan rencana sang nenek yang berusaha mendorongnya keatas tahta yang seharusnya milik Aisin Tianyi.
"Kau harus tahu, aku mendengar kabar bahwa saat malam perjamuan Nyonya Tua akan mengumumkan pertunangan Tuan Muda dan Nona Zhai XinXin. Aiyaa, kami semua patah hati. Tetapi tidak apa, Nona Zhai memang pantas bersama Tuan Muda bukan hanya parasnya yang cantik, dia juga dari keluarga besar yang memiliki kekuasaan yang sangat luas selain keluarga Kepala Suku." Ucapan pelayan yang ia buat mabuk itu teringang dibenaknya.
Memang pelayan wanita dapat diandalkan untuk bergosip mencari kabar terbaru.
Terlihat Xiu Qixuan tersenyum senang seperti mendapatkan sesuatu hal yang membahagiakannya. Sepertinya Sima Junke sedang dalam kesulitan, Xiu Qixuan harus membantu untuk membalas budi karena pria itu pernah menyelamatkannya. Bukankah begitu?
Sekaligus Xiu Qixuan membantu Aisin Tianyi agar kubu pendukung Sima Junke tidak semakin besar dan kuat karena pertunangan Sima Junke dengan anak perempuan keluarga yang memiliki kekuasan hanya satu dibawah keluarga Kepala Suku. Dua burung dengan satu batu.
Xiu Qixuan merasakan firasat tidak bagus kalau membuat Sima Junke menjadi Kepala Suku. Saat dirinya pertama kali bertemu Sima Junke di benteng pertahanan timur—Xiu Qixuan melihat pancaran kedua bola mata Sima Junke terdapat kebencian dan ambisi untuk melanjutkan peperangan bahkan saat perang usai-pun dia tetap memiliki ambisi itu. Mungkinkah karena Jenderal Zhuting yang ditawan? Atau hal yang lebih buruk adalah Sima Junke terobsesi dengan peperangan.
Perjamuan akan diadakan esok malam, hari ini Xiu Qixuan masih memiliki waktu untuk keluar dan berbicara dengan Sima Junke. Dia akan menyelinap keluar, karena percuma saja meminta Sima Junke agar menemuinya—pria itu mengacuhkannya sejak tiba di Ibukota Nanjing.
******
Sekarang sudah larut malam Xiu Qixuan melancarkan rencananya untuk menyelinap keluar menemui Sima Junke.
Bukan suatu yang sulit untuk Xiu Qixuan menyelinap keluar dari pengawasan, Kecepatan milik Baijin Hu sangat berguna membantunya kabur.
Xiu Qixuan membuat pengalihan dengan melemparkan batu dari celah ruangannya agar para penjaga didepan sana pergi memeriksa kemudian Xiu Qixuan dengan cepat berlari keluar dari pintu.
Dengan lincah dan gesitnya dia menghindari prajurit yang berpatroli.
Xiu Qixuan menepuk dahinya pelan kemudian bergumam, "Sangat bodoh, dimana tempat tinggal pria itu?!"
Cerobohnya gadis itu tidak mengetahui letak tempat tinggal sekaligus tempat keberadaan Sima Junke.
Xiu Qixuan menyelinap dan mengintip dari satu bangunan ke bangunan lain dan dari satu tenda besar ketenda besar lain. Tetapi tidak terdapat Sima Junke disana.
Sampai tiba dia disuatu bangunan kecil yang tidak memiliki penjagaan ketat seperti bangunan ataupun tenda besar sebelumnya.
Menyelinap masuk mengunakan ilmu peringan tubuh agar suara langkah kakinya tidak terdengar.
Bangunan kecil ini dari depan tampak lusuh tetapi ternyata memiliki ruangan yang sangat jauh berbeda didalamnya, karena terdapat ornamen mahal dan juga banyak lilin aroma yang menyala membuat suasana hati menjadi baik.
Semakin masuk kedalam terdapat tirai-tirai panjang menutupi bagian tengah ruangan, terdengar suara percikan air.
Xiu Qixuan mengangkat salah satu lengannya untuk menyingkirkan tirai menjuntai yang menghalangi pandangannya.
Kedua mata gadis itu mengerjap beberapa kali berusaha melihat lebih jelas.
Tetapi kemudian Xiu Qixuan menarik lengannya agar tirai tersebut kembali terjuntai untuk menghalangi pandangannya.
"Upss, Sepertinya aku datang ditempat dan waktu yang salah." Gumam Xiu Qixuan, gadis itu terkikik geli.
Bangunan kecil ini ternyata adalah kolam pemandian pribadi, dan ditengah ruangan terdapat kolam pemandian besar. Yang sejak tadi dilihat oleh Xiu Qixuan adalah Sima Junke yang sedang berendam didalam kolam pemandian.
Gadis itu dapat melihat jelas tubuh bagian atas milik Sima Junke, itulah yang membuatnya terkikik geli.
"Siapa disana?!" Suara Bariton milik Sima Junke membuat Xiu Qixuan yang sejak tadi terkikik geli langsung terdiam.
Xiu Qixuan sedikit panik, kalau ketahuan dirinya mengintip pria yang sedang mandi—Sima Junke dapat menghina dirinya sebagai gadis yang tidak tahu malu.
Saat berusaha melarikan diri untuk keluar dari dalam bangunan kolam pemandian, tidak sengaja salah satu kakinya menarik tirai yang menjuntai panjang—membuat Xiu Qixuan terpeleset jatuh.
'Bukk,' Suara nyaring saat tubuhnya membentur lantai bangunan.
Sima Junke dengan tergesa naik dari dalam kolam pemandian dan memakai jubahnya untuk menutupi tubuh. Pria itu mengambil pedang panjang yang selalu ia bawa dan berjalan untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu ketenangannya.
Xiu Qixuan dengan cepat berdiri dan berusaha melanjutkan langkahnya. Tetapi pedang panjang yang mengarah pada lehernya membuat Xiu Qixuan memberhentikan langkah.
Terkekeh canggung kemudian Xiu Qixuan berbalik untuk menghadap Sima Junke yang berada dibelakang tubuhnya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud, hanya salah memasuki ruangan. Kau ini sangat pemarah," Oceh Xiu Qixuan balas menatap Sima Junke yang sedang menatapnya tajam.
Sima Junke hanya diam tetap menatapnya tajam.
"Aku mencarimu, ingin membuat kesepakatan denganmu." Ucap Xiu Qixuan dengan lugas mengutarkan niatnya.
Sima Junke memajukan langkahnya perlahan membuat Xiu Qixuan dengan reflek melangkah mundur.
Kedua mata gadis itu mengerjap saat tidak sengaja menurunkan pandangan menatap dada bidang Sima Junke yang terlihat jelas.
"Woahh," Gumamnya pelan kehilangan fokus.
Sampai tiba punggung Xiu Qixuan membentur dinding tidak terdapat ruang lagi untuk melangkah mundur.
"Apa yang kau lihat?!" Sentak Sima Junke kesal dengan gadis didepannya.
Xiu Qixuan menggeleng cepat sangat gugup, dia mendongakan wajah menatap Sima Junke.
"Tenanglah, kita bisa berbicara baik-baik." Ucap Xiu Qixuan dengan kedua lengannya berusaha menurunkan pedang panjang milik Sima Junke yang mengarah padanya.
"Aku ingin berbicara mengenai suatu hal padamu, menawarkan kesepakatan." Lanjut Xiu Qixuan dengan tenang.
"Kau tidak memenuhi syarat untuk membuat kesepakatan denganku." Jawab Sima Junke dengan angkuh dan tajam.
•••••••••
Kepala Suku: Mendiang Aisin Boyu (saat ini posisi kepala suku masih kosong)
Nyonya Besar (istri kepala suku): Yu Chuchu
Tuan Muda Besar: Aisin Tianyi sang penerus sah.
Nyonya Tua: Aisin Fei
Tuan Tua: Sima Hong
Tuan Muda: Sima Junke
Aisin Fei adalah bibi Aisin Tianyi sekaligus nenek bagi Sima Junke.
Aisin Boyu memang memiliki usia yang terpaut jauh dari Aisin Fei sang kakak perempuannya.
Sima Xiahou anak Aisin Fei lahir terlebih dahulu daripada Aisin Boyu, dan Sima Xiahou pernah digadangkan menjadi penerus tahta selanjutnya.
tetapi tidak terjadi karena mendiang nyonya besar sebelumnya, melahirkan Aisin Boyu untuk menjadi penerus.
Aisin Fei tidak mengapa karena adik kandungnya sendiri yang memang pantas dan sepatutnya meneruskan tahta, tetapi Aisin Boyu membuat kesalahan yang membuat Aisin Fei melakukan pemberontak secara tidak langsung seperti ini.