
Untuk sesaat Shen Wanqi merasa silau melihat pancaran unik yang di milik gadis itu. Tetapi, dia cepat tersadar dan segera meledak marah akan kata-kata yang mencemoohnya.
"Betapa lancang!" Geramnya.
Disisi lain, Shen Yuan Zi buru-buru mengangkat pandangan kala mendengar suara familiar yang sejak tadi dia tunggu itu datang. Dia memandang penuh binar berkilau pada satu sosok yang berdiri tegak di depan. Dia berusaha keras menahan diri untuk tidak melemparkan dirinya ke dalam rengkuhan hangat gadis itu untuk bersembunyi dan mengadu.
"Kamu tidak tahu? Hukuman mati bagi orang yang menghina langsung keturunan kekaisaran." Shen Wanqi mengeluarkan ancaman yang serius. Dia menatap tajam dengan pancaran permusuhan.
Bukannya takut, sudut mata gadis itu menyembunyikan ekspresi yang sangat dingin. Membentuk kontras tajam dengan nada bicaranya yang terdengar riang kala dia mengerjap polos, "Anda lucu sekali. Kapan saya menghina anda? Saya hanya terkagum dan memuja kebiasaan baik anda, Yang Mulia. Dan untuk hukuman yang baru saja anda sebutkan...," Ada jeda kala dia melanjutkan dengan sedikit lebih tajam. "Bukankah tindakan anda pada Pangeran Ketiga yang juga merupakan keturunan kekaisaran itu termasuk bentuk murni penghinaan?." Semua perkataannya sengaja di katakan dengan lurus seolah menunjukan sisi naif seorang gadis.
Tubuh Shen Wanqi bergetar hebat membuncah marah, pembuluh darah tiba-tiba meledak keluar dari tangannya yang terkepal memegang rangkaian bunga.
Semua orang berbisik menyayangi kenaifan yang di miliki gadis itu akan membawa nasib sial karena sudah melawan pangeran yang lebih berkuasa.
Tapi, satu orang bersorak dalam hati untuknya. 'Bagus, sangat bagus. Qixuan, habisi dia!' Su Yiyang sedang menahan diri dalam mode tenang karena di sisinya terdapat Menteri Su yang terus-menerus mengawasi sembari melempari tatapan tajam seperti mengancam agar dia tak berulah.
"Sialan! Apakah kau benar-benar akan melawanku?" Shen Wanqi mengeluarkan sensasi teror yang menakutkan.
Xiu Qixuan menggelengkan wajah. Dia tersenyum tipis, menatap Shen Wanqi dengan tenang seolah-olah hanya sedang menangani remaja puber yang bersikap nakal.
"Saya tidak berani. Saya adalah gadis lemah dan bodoh. Bagaimana mungkin memiliki banyak keberanian untuk itu?" Kata-kata Xiu Qixuan tampak sederhana namun menekankan bahwa dia hanyalah seorang gadis yang benar-benar tak memiliki kekuatan apapun.
Dengan sepenggal kalimatnya tersebut, semua orang akan berpikir bahwa dia sudah menderita penindasan dan Shen Wanqi akan menjadi yang bersalah disini untuk di maki. Dan jika, Pangeran Kesembilan ini tetap tidak berlapang dada dan berpikiran sempit, itu akan semakin mencemari reputasinya sebagai keluarga kekaisaran yang harusnya murah hati pada bawahan.
Tetapi, sepertinya sebutan yang cocok untuk Shen Wanqi adalah Tuan Otot Yang Tak Punya Otak. Dia pria manja yang selalu hidup dengan mudah. Kelakuannya benar-benar tak menunjukan bahwa dia punya akal. Tubuhnya akan merespon lebih dulu daripada otaknya. Ketika dia melihat kerumunan orang malah melemparkan tatapan menahan cacian padanya, membuat dia semakin memerah antara marah dan malu. Dia tak mengerti bahwa itu adalah perangkap dan malah dengan senang hati masuk kedalamnya.
"Ya, kau hanya seorang gadis rendahan! Cepat berlutut!" Gema suara kasar terdengar ketika dia mengeluarkan bentakan keras untuk membuat gadis itu gemetar.
Tidak hanya lidahnya yang pandai, tapi, Xiu Qixuan sudah terlatih untuk lincah melakukan akting yang membuat lawannya kewalahan.
Tubuh ramping Xiu Qixuan seketika bergetar. Pupil matanya berkaca-kaca seolah-olah dia sungguh terguncang oleh suara yang keras. Itu seperti dia adalah gadis kecil yang hanya memiliki hati sangat lembut dan rapuh.
Shen Wanqi bergerak hendak mendekati Xiu Qixuan dengan menyeringai puas. Tapi, langkahnya mendadak berhenti kala seseorang mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan menyakitinya~"
Dengan tekanan dingin dalam dirinya, suara ini sedikit gemetar penuh penderitaan. Shen Yuan Zi menatap Shen Wanqi dengan tatapan benci dan permusuhan yang kental. Dia jelas ketakutan namun bereaksi tanpa goyah melawan ketika menyaksikan Xiu Qixuan tampil dengan airmata.
Xiu Qixuan tertegun. Secara alami, hal ini telah mengaduk hati Xiu Qixuan bahkan lebih.
Gadis itu mengerjap kosong, tampak benar-benar bingung. Bibirnya terbuka dan tertutup seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu namun kehilangan kata-kata untuk berbicara.
Tatapan meremehkan muncul dari Shen Wanqi. Dia menghempaskan kasar kaitan lengan kakak ketiganya tersebut. Seakan begitu jijik, jari-jemarinya bergerak seperti membersihkan suatu kotoran. "Jangan menyentuhku, dasar sial!" Pekiknya.
Xiu Qixuan menghela napas tajam, anjing yang menyalak takkan menggigit, Shen Wanqi memang kekanakan dan menyebalkan tapi dia lebih mudah ditangani daripada pria licik.
"Qi'er!"
Menghadirkan sang induk yang bisa memberi pukulan. Xiu Qixuan dapat dengan tenang menghadapi Shen Wanqi karena dia sebelumnya sudah memerintah orang untuk memanggil satu induk ayam ini. Meski bertengkar, dia hanya akan diuntungkan jika menjadi pihak lemah tak bersalah yang ikut ditindas. Maka itu, dia sangat tenang kala campur tangan menyela Shen Wanqi yang berperilaku buruk.
Sebuah gema teguran datang bersamaan dengan gemerisik langkah yang menarik sedikit suara dari gaun hitam berpola sayap phoenix emas.
Serempak semua orang membungkuk seperti busur. "Hormat pada Yang Mulia Permaisuri. Semoga Permaisuri selalu diberkati berkah phoenix seribu tahun."
Dengan gerakan penuh tekanan mulia, Permaisuri melangkah bagai phoenix yang anggun. Dia berjalan dengan menatap lurus kedepan. Melemparkan tatapan berdarah dingin pada Shen Wanqi. Mahkota phoenix legenda diatas kepalanya menimbulkan suara berdenting kala mengikuti arah gerak tubuhnya yang melangkah.
Ekor matanya melirik tajam pada Xiu Qixuan kemudian berputar dengan gerakan mencibir kearah Shen Yuan Zi.
"Semua berdiri!" Permaisuri berkata sembari mengibaskan lengan pakaiannya.
Dia segera berpaling untuk berbicara pada Shen Wanqi. "Qi'er! Aku memerintahmu untuk menjaga dan menghibur kakak ketigamu yang kesulitan karena dia merasa asing di tempat acara yang baru pertama kali dia hadiri. Tapi, perselisahan apa yang terjadi di sini?"
Hanya dengan beberapa kata, Permaisuri mengambil sedikit keuntungan. Dengan menegur Shen Wanqi tanpa pandang bulu bahwa itu adalah putra kandungnya, semua orang akan berpikir bahwa dia adalah sosok istri sah yang adil dan selalu membagi kasih sayang antara semua anak tiri dari suaminya.
Dia juga meninggalkan satu kata ini, 'menghibur' seperti menekankan bahwa perilaku Shen Wanqi pada Shen Yuan Zi barusan hanya candaan kekanakan yang bertujuan baik. Meminta semua orang agar tidak mengambil hati.
Kelereng hitam Xiu Qixuan tersembunyi sebuah kilat cibiran, gadis ini mendengus dingin. Dia tidak bisa berhenti merasa kagum dengan Permaisuri yang begitu fasih, karena dia sendiri belum bisa sebaik wanita itu dalam hal kefasihan.
"Ibunda! Aku—," Shen Wanqi hendak membuat keluhan. Namun, itu terpotong kala suara Kasim Teng yang merupakan orang kepercayaan Kaisar datang.
"Matahari sudah terbenam. Jam bergerak sesuai. Kaisar bertitah untuk semua orang memasuki ruangan kabin besar. Acara penilaian bagi calon menantu kekaisaran akan segera dimulai."
Kemudian Kasim Teng bergerak mendekati sisi Permaisuri. "Yang Mulia Permaisuri. Kaisar sudah menunggu anda. Mari bergegas." Ujarnya dengan perhatian membantu wanita itu melangkah.
"Sebentar!" Permaisuri mengibaskan lengan dan menoleh melemparkan tatapan menusuk halus pada Xiu Qixuan. "Nona Besar Xiu, jika kau tidak keberatan untuk berjalan bersama denganku dan memberi penjelasan untuk yang telah terjadi." Entah dia ini sedang meminta atau memerintah, yang jelas Xiu Qixuan hanya harus menyetujuinya.
"Dengan penuh rasa hormat, Yang Mulia." Gadis itu tersenyum lebar seolah dia tak keberatan akan tawaran tersebut. Namun, jelas tersembunyi perasaan kecut di hatinya.
Segera setelah itu mereka melangkah.
Para gadis kandidat lain menatap punggung Xiu Qixuan yang sedang berjalan berdampingan bersama Permaisuri dengan tatapan menusuk tajam. Menunjukan kecemburuan yang sangat tampak mereka miliki.
Shen Wanqi mendengus. Dan, segera menyusul sang ibunda. Dia sekilas melirik sinis pada Shen Yuan Zi yang terdiam kosong seolah-olah merasa kehilangan ketika ditinggalkan tanpa satu patah katapun oleh gadis itu.
Dari balik kerumunan yang sedang bergegas menuju kabin besar, terdapat Su Yiyang yang masih harus mendengarkan ceramah Menteri Su dengan perasaan dongkol. "Nona Besar itu mungkin terlihat sembrono, tetapi sebenarnya dia sangat penuh perhitungan. Tidak seperti kamu yang liar tak punya pikiran." Cerca sang ayah padanya.
•••••••••••••••