
Keriuhan dan padatnya suasana pusat ibukota Nanjing menjadi latar belakang sepasang pria dan wanita yang saling bergenggaman tangan.
Sang pria mengerutkan kening karena tak nyaman berada dikerumunan orang apalagi matahari tepat diatas kepala yang membuatnya sangat berkeringat dan kelelahan.
Sedangkan, sang gadis tidak terlihat kelelahan sedikitpun—senyum antusias terpampang diwajah cantiknya, dia sangat lincah menarik tangan pria tampan itu kesana-kemari menjadikan sang pria sebagai pelayan pembawa barang belanjaan.
Berbeda dari keadaan dimalam hari yang lebih sunyi dan tenang, saat disiang hari pusat ibukota Nanjing menjadi sangat ramai karena tempat inilah pusat seluruh aktivitas Suku Nanbao.
Berbeda dari Shen yang menganut era dimana bahkan udara dipenuhi keanggunan dan kesopanan, stigma yang bersifat vulgar dapat sepenuhnya meruntuhkan masa depan seorang wanita.
Kesetaraan dan kebebasan dalam Suku Nanbao adalah salah satu yang jarang ditemukan ditempat lainnya dan menjadi daya tarik bagi yang mendengar tentang wilayah ini.
Walaupun memiliki kebebasan—wilayah ini juga memiliki peraturan ketat bagi tikus-tikus kecil yang melanggar dan dapat mengancam kesejahteraan Nanbao.
"Apakah kau tidak lelah?" Tanya Sima Junke dengan sedikit lebih keras karena suaranya terendam dengan keramaian orang.
"Kau lelah?" Ucap Xiu Qixuan balik bertanya.
"Aku bertanya padamu!" Dengus Sima Junke dengan kesal karena lengannya sudah pegal membawa banyak barang dan kedua kakinya sudah kebas berkeliling mengikuti kemauan gadis cantik didepannya ini.
Sedikit menyesal akan keputusannya untuk mengikuti gadis ini karena Sima Junke mengkhawatirkan keadaan Xiu Qixuan jika dibiarkan seorang diri apalagi gadis ini menjadi incaran sang nenek dan pejabat sejak muncul diacara perjamuan semalam.
"Tidak, aku tidak lelah. Kau tahu? ini adalah suatu keistimewaan dari seorang wanita, jika berbelanja mereka hanya akan merasa bersemangat untuk berkeliling." Ucap Xiu Qixuan kemudian melepaskan genggaman dan melangkah menuju salah satu kios kecil disamping jalan saat melihat suatu yang menarik perhatiannya.
Sima Junke menghela napas untuk bersabar menghadapi gadis ini, kemudian dia mengekori Xiu Qixuan dari belakang untuk menuju letak kios itu dengan memasang wajah cemberut.
Berdiri kembali bersisihan dengan gadis ini yang sedang membayar kepada penjual. Entah apa lagi yang gadis ini beli.
"Jangan memasang wajah jelekmu itu, jika kau lelah—kau bisa kembali. Tetapi, karena aku ini gadis baik yang tahu balas budi. Ini untukmu, hadiah dariku." Ucap Xiu Qixuan menyodorkan pendant kerajinan tangan khas Nanbao.
"Kau dapat mengaitkannya dipedang-mu atau disabuk-mu," Lanjut Xiu Qixuan menaikan sudut alisnya saat melihat Sima Junke hanya terdiam memandang benda diatas telapak tangannya.
"Hadiah? Kau membelinya pakai uangku, bagaimana bisa ini disebut hadiah?" Tanya Sima Junke memasang wajah tak acuh tetapi pria itu tetap mengambil dan menyimpan pendant kerajinan tangan khas Nanbao itu.
Pria itu hanya gengsi mengakui dia sedikit tersentuh dengan tindakan kecil Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan terkekeh kecil melihat ucapan dan tindakan yang tak selaras dari pria didepannya.
Tanpa mereka sadari sejak tadi diantara kerumunan orang terdapat sepasang mata elang milik seseorang mengawasi segala tindakan dan interaksi mereka.
Kedua mata yang menyiratkan ketidaksukaan dan kecemburuan dengan tangan yang mengepal erat dan napas yang memburu seakan tidak tahan ingin menerkam pria asing yang terlalu intim dengan gadisnya.
Beberapa saat kemudian Xiu Qixuan dan Sima Junke beristirahat disalah satu kedai yang menjual makanan dan minuman disamping jalan.
Mereka memesan banyak makanan, terutama Xiu Qixuan yang terlalu rakus dan penasaran dengan rasa makanan asli Suku Nanbao.
Xiu Qixuan bersandar ditiang penopang bangunan, kedai ini terbuka yang memungkinkan pengunjungnya untuk melihat keramaian dijalan.
Memalingkan wajah cantiknya untuk menikmati keramaian, tanpa sengaja ia terbelak saat melihat seseorang yang dia kenali berada disebrang jalan—sedang berkamuflase sebagai pembeli yang melihat-lihat barang dikios pinggir jalan.
Mereka saling menatap dan seseorang itu melangkah menjauh seakan memberi kode agar Xiu Qixuan mengikutinya.
Xiu Qixuan saat ini memakai pakaian khas wanita Nanbao dengan kain penutup wajah untuk menghalau pasir yang berterbangan.
Beranjak berdiri untuk mengikuti seseorang yang dia kenali itu,
"Ingin kemana?" Tanya Sima Junke dengan mengerutkan kening.
Aiyaa, dia hampir saja melupakan keberadaan Sima Junke.
"Aku baru mengingat ada barang yang tertinggal di-kios sebelumnya. Kau tunggu disini, aku akan pergi mengambilnya." Jawab Xiu Qixuan beralasan dengan meyakinkan.
"Tidak usah, aku akan memperintahkan Kangjian untuk mengambil barangmu." Ucap Sima Junke menahan langkah kepergian Xiu Qixuan.
"Lagipula, pesananmu akan segera dihidangkan." Lanjutnya
"Kangjian mengikuti kita?" Tanya Xiu Qixuan mengerutkan kening, dirinya terlihat sangat kesulitan.
"Ekhm, maksudku nanti saat kita kembali—aku akan memperintahkan Kangjian." Jawab Sima Junke dengan berdeham pelan karena Xiu Qixuan tidak mengetahui keberadaan Kangjian yang sejak tadi membersihkan mata-mata utusan beberapa pejabat Nanbao.
"Itu terlalu lama, lagipula kios itu dekat dari kedai ini. Aku janji tidak akan lama." Ucap Xiu Qixuan kemudian dengan cepat melangkah tak memberikan kesempatan bagi Sima Junke menyanggah atau mengikutinya.
Melangkah dan tetap memasang kewaspadaan yang tinggi untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya dengan cara memilih jalan memutar dan gang sempit yang tidak terlalu ramai karena keramaian dapat membantu seseorang yang mengikuti dan mengawasinya.
Sementara itu dikedai sebelumnya, Sima Junke gelisah saat tidak melihat keberadaan Kangjian padahal pria itu ingin memperintahkan bawahan kepercayaannya itu untuk menjaga Xiu Qixuan dari jauh karena gadis itu tetap kukuh pergi seorang diri mengambil barang dikios sebelumnya.
Sima Junke ingin mengikuti Xiu Qixuan tetapi gadis itu terlalu cepat menghilang, lagipula dia sudah kelelahan dan tidak mengetahui kios mana yang dimaksud Xiu Qixuan karena mereka berbelanja dibanyak kios kemudian juga barang belanjaan gadis ini terlalu banyak untuk dibawa oleh lengan kokoh yang hanya biasa digunakan untuk memegang pedang.
Xiu Qixuan melangkah dengan tenang saat sudah memastikan tidak ada yang mengikutinya berjalan ia mengikuti jejak arah seseorang yang ia kenali sebelumnya saat didepan kedai.
Terlihat dipandangnya tepat diujung jalan sempit seorang pria sedang menutup kedua kelopak matanya dan menyilangkan lengan didepan dada.
Aura yang mengeliling pria itu terkesan tak acuh seakan hal dan kejadian apapun yang berada disekitarnya tidak berkaitan sedikitpun dengan dirinya
Xiu Qixuan melangkah mendekat dan berdiri dihadapan pria tersebut. Ekspresi wajah gadis itu terlihat sedang kesulitan dan penuh kekhawatiran seakan dirinya ketahuan berbuat kesalahan besar.
"Sudah puas bersenang-senangnya?" Tanya pria tersebut dengan tajam tetapi masih dengan memejamkan kedua kelopak matanya.
"Guru, apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kamu dan Er'ge keluar dari wilayah Nanbao secepat mungkin sejak tadi malam," Sentak Xiu Qixuan tidak menjawab pertanyaan sebelumnya yang dilontarkan Ji Gui.
Xiu Qixuan tidak bodoh, dia mengetahui dirinya berada di daftar utama topik pembicaraan Nanbao. Dia mengetahui sudah lebih banyak orang yang mengawasi tindak-tanduknya sejak perjanjian perdagangan ditanda tangani dan disetujui sang Nyonya Tua.
Sima Junke berada disisinya entah karena juga ingin mengawasi tindakannya atau ingin menjaga dengan membersihkan orang yang mengawasinya. Xiu Qixuan tidak tahu! Menjadikan ia lebih waspada dan khawatir akan itu.
Melihat sang guru berkeliaran disiang hari dan hanya menggunakan sedikit penyamaran, orang yang melihat akan cepat mengetahui kalau sang guru berasal dari Shen karena berbeda dari segi penampilan fisik.
Xiu Huanran sudah memberi alat komunikasi padanya, Xiu Qixuan sudah mengira kakak keduanya akan cepat keluar dari wilayah Nanbao dan menyiapkan bawahannya diluar sana untuk menjalankan rencana mereka.
Tidak menyangka dan terlalu mengejutkan melihat Ji Gui bertindak sangat gegabah berdiri didepan kedai dan sejak tadi mengikutinya.
Akhirnya Ji Gui membuka kelopak matanya dan menatap Xiu Qixuan dengan pandangan tak suka yang kentara jelas.
"Aku tanya sekali lagi. Sudah puas bermain dengan pria asing itu?!" Tanya Ji Gui dengan suara yang semakin memberat dan tajam.
"Guru, ada apa denganmu? Kau terlihat aneh," Ucap Xiu Qixuan menatap Ji Gui dengan pandangan bergetar karena tersentak melihat wajah sang guru yang menggelap marah.
"Tidak bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku? Baiklah, kalau kau tidak ingin menjawab—aku akan menyimpulkan bahwa kau sudah puas bermain. Karena kau sudah puas bermain, sekarang ikut aku pulang!" Ucap Ji Gui dengan membara ia meraih lengan Xiu Qixuan dan menariknya kasar agar mengikuti langkahnya.
"Lepas! Guru aku bilang lepas," Ucap Xiu Qixuan menyentakan lengannya keras berusaha melepaskan genggaman erat Ji Gui pada lengannya.
Setelah melepaskan lengannya dengan menghempaskan kasar sampai Ji Gui terdorong kebelakang karena kekuatannya.
"Guru, ada apa denganmu?!" Tanya Xiu Qixuan dengan keras menatap tajam Ji Gui.
Napas Ji Gui membara, pria itu seperti sedang berusaha agar mendapatkan ketenangannya kembali.
"Kamu mengkhawatirkanku," Ucap Xiu Qixuan membuat pernyataan dengan kembali melembut saat melihat Ji Gui yang terlihat kesulitan mengendalikan diri.
"Untuk saat ini aku tidak dapat mengikutimu pulang. Tetapi, Xuan'er janji—akan pulang secepatnya kembali dengan Ji Gui." Lanjutnya dengan tatapan lembut melepas segala bentuk panggilan formalnya kepada Ji Gui.
"Tidak bisakah kamu bersikap layaknya gadis bangsawan pada umumnya? Tidak berulah, hanya berdiam didalam kediaman untuk menunggu seorang pria datang melamar dan tidak mencampuri segala urusan politik ataupun peperangan." Ucap Ji Gui menatap Xiu Qixuan dengan pandangan dalam yang meneduhkan.
Xiu Qixuan balas menatap membuat mereka saling bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya Xiu Qixuan memasang senyum manis dan menjawab, "Sebenarnya aku tidak ingin, tetapi aku tidak bisa."
Ucapannya adalah kebenaran dari dalam pikiran dan lubuk hatinya. Xiu Qixuan tidak ingin mencampuri segala bentuk politik ataupun peperangan tetapi sejak misi yang diberikan sang dewi padanya—Xiu Qixuan tidak dapat menghindari semua itu. Xiu Qixuan sudah berusaha menghindar tetapi percuma saja keadaan akan memaksanya untuk bertindak.
Xiu Qixuan tidak menyukai saat dipaksa oleh keadaan, jadi lebih baik ia melangkah lebih dulu sebelum keadaan mendorongnya kesituasi yang lebih sulit.
Sama seperti saat ini, Nanbao menjadi langkah pertamanya—membuat kamuflase perdagangan padahal tujuannya adalah agar lebih mudah mengawasi situasi Nanbao yang berada dalam genggamannya ini secara perlahan.
•••••••••••••
Cemburunya mas gui terlalu buta sampe kehilangan kendali gitu, aduh xuan seperti ketahuan selingkuh ajaa deh haha. padahal mah santuy ajaa yaa.