Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Benang Ikatan & Kehadiran Istimewa



POV. Xiu Qixuan


Kesadaranku perlahan-lahan mengambang harum, suara yang memasuki gendang telinga seperti detik jarum jam yang terhenti membuatku dapat merasakan puluhan tangan yang menarikku kedalam kegelapan.


Aku tenggelam dalam kesunyian yang terasa menakutkan. Disini begitu gelap dan kosong.


"Hei, apa ada orang?!" Suaraku memekak dan terpantul keseluruh penjuru.


Aku dapat mengingat jelas bahwa demam melanda tubuhku saat berada di dalam goa yang dingin dengan badai bersalju diluar sana.


Disini begitu suram juga menakutkan. Tetapi, aku tidak sedikitpun merasa ketakutan. Entahlah, mungkin sudah terbiasa dengan kejadian aneh penuh fantasi yang tak terhindari ini. Berpikir mahluk seperti apalagi yang akan kutemui.


Kedua kakiku terus melangkah dengan arah yang tak menentu, mencoba untuk menelusuri kekosongan.


Begitu gelap sampai aku tidak dapat melihat apapun. Gelap yang membutakan pandangan.


'Hufft..' Tubuhku terperosok kelelahan dengan rasa jengkel yang menyelimuti. Terombang-ambing seperti ini juga terasa melelahkan dan menguras energi.


'Oh, tidak..' Tanganku mencengkeram erat rambutku dengan aliran rasa frustasi yang membuat tubuhku gemetar.


Bagaimana ini? Apakah aku sudah mati? disini terlihat seperti drama atau film yang merekam pemeran mereka saat diambang kematian, kan?


Kurasa begitu, tetapi, bagaimana bisa? Masa mati karena hal sepele, ini tidak terlihat keren!! Ha, maksudnya adalah aku belum mau mati.


Cepat, cepatlah berpikir.


Bukankah kalau di film atau drama yang kutonton saat scene seperti ini akan muncul sebuah pintu yang memancarkan cahaya putih dan setelah itu pemeran akan terbangun dari koma?


"Kamu datang."


'Woakh..' Aku terloncat kaget saat sebuah suara lembut yang menyapaku terdengar.


Dalam kegelapan sebuah siluet yang entah mengapa terasa familiar berjalan mendekat.


"Kamu malaikat maut!" Teriakku secara spontan menafsirkan identitasnya. "Jangan berani mengajakku ke dunia bawah, kamu harus tahu bahwa aku ini adalah utusan dewi, tugasku belum selesai. Jadi, untuk sekarang lewatkan-lah aku!" Ucapku sedikit mengancam.


Eh, kalau dipikir lagi perkataanku barusan terlalu absurd atau terlalu berani, ya?


Siluet itu sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangannya yang terulur untuk membantuku beranjak.


Hey, hey... tubuhku yang kaku perlahan-lahan bergerak dengan sendirinya membalas uluran tangan dari sosok tersebut.


'Wooshh..' Tiba-tiba angin bertiup kencang membuatku reflek memejamkan kedua mata dengan satu tanganku yang menutupi wajah.


Setelah beberapa saat, aku dapat merasakan perubahan udara disekitar yang berhembus hangat dan begitu nyaman. Indra penciumanku juga mengendus aliran aroma hijau yang segar dan terasa menenangkan kegusaran hati manusia.


Dengan cepat aku menurunkan tanganku yang menutupi wajah dan segera membuka kelopak mata untuk mengedarkan pandangan kesekitar.


'Woah..' Aku tidak dapat menahan rasa takjub.


Walaupun dunia kecil kipas emasku juga indah. Tetapi, pemandangan didepan sana terlihat berbeda dan memberi kesan menakjubkan.


Ini adalah taman yang sangat luas dengan ratusan kupu-kupu pelangi berterbangan disekitar kebun bunga musim semi yang bermekaran.


"Tidakkah ini adalah tempat yang sangat menakjubkan?" Sebuah suara lembut mengalir merdu terdengar dari arah belakang.


Tubuhku seketika menegang. Perlahan-lahan aku berbalik untuk melihat orang yang mengajakku berbicara.


Didepan sana terlihat sosok yang tersenyum lembut dan ramah dengan matanya menatapku penuh pancaran kebahagiaan yang tulus. Dia berdiri dengan damai menyambutku tanpa sedikitpun sirat kebencian.


Ketika melihatnya, aku tercekat, aku begitu malu. Seolah-olah baru saja menyadari bahwa selama ini aku begitu rendah jika dibandingkan olehnya.


Tanganku terkepal dengan kedua mataku yang terasa memanas tanpa sebab dan seketika aliran air hangat membanjiri wajahku. "Qiaofeng..." Lirihku dengan napas yang tercekat sesak.


"Senang dapat bertemu denganmu lagi, saudari." Ucapnya dengan senyuman yang menenangkanku.


Melihatnya seperti itu membuatku ingin menangis lebih keras. Apa-apaan dia bersikap begitu baik padaku—seharusnya marahi saja aku, karena dengan begitu rasa bersalah ini akan berkurang.


Aku merasa sebagai orang jahat untuknya. Memori akan kesalahan yang kulakukan membanjiri otakku.


Qiaofeng berjalan mendekatiku dengan tangannya yang terulur menyeka lembut airmata diwajahku.


Aku menatapnya dengan tampang polos tak berkutit. "Maaf.. maafkan aku," Lirihku sendu.


Qiaofeng balas menatapku dengan teduh nan lembut, "Tidak perlu sebuah kata maaf." Ucapnya.


Hening.


'Greb..' Dengan cepat aku meraih tangannya dan mencengkeramnya erat. "Qiaofeng, Apakah kamu ini hidup dan ingin pulang? Beritahu aku sekarang kamu berada dimana? Aku akan menjemputmu dan membawamu kembali!" Sentakku dengan membara.


"Sayangnya, tempat ini adalah dunia roh, yang berarti aku sudah mati." Balasnya dengan santai.


Aku tersentak, tanganku meluruh tak bertenaga. Wajahku yang tertunduk lesuh menyembunyikan raut aneh tak terdeskripsikan.


"Jangan memasang raut seperti itu. Lagipula, aku senang kau datang untuk berbincang denganku." Lanjutnya.


Aku mendongakkan wajah dengan tajam menatapnya. "Apa maksudmu? Aku juga sudah mati gitu?!" Sentakku cemas.


Qiaofeng terkekeh kecil.


"Maksudku—, kamu disini hanya berkunjung saja kok. Tidak perlu seheboh itu juga kan." Ucapnya.


"Ya, masa aku datang ke dunia roh untuk mengunjungimu seperti sedang liburan dan melakukan piknik saja." Dengusku dengan pelan dan tanpa sadar.


Senyuman semakin merekah diwajah cantik Qiaofeng, dia terlihat cukup terhibur oleh itu.


Aku melihatnya dengan mengubah wajahku menjadi serius. "Qiaofeng.." Panggilku.


"Ya?" Jawabnya.


"Jasadmu di Daratan Ca Li menghilang. Aku harus menemukannya, tetapi, aku tidak tahu harus dimulai darimana." Jelasku dengan berhati-hati.


"Tidak perlu mencari." Balasnya


"Mengapa?" Tanyaku


"Memang seharusnya begitu. Tubuhku melebur untuk kembali menyatu ke antara dua dunia." Jelasnya dengan acuh tak acuh.


"Maksudmu?" Keningku berkerut untuk menafsirkan penjelasannya.


"Sebuah benang ikatan yang membawa kehadiran istimewa. Aku tidak bisa memberitahumu, maka ingatlah untuk kamu mencari tahu tentang kita, saudari." Suaranya mengalir tenang namun membekas.


Aku menatapnya dengan dalam menelusuri wajahnya yang memasang ekspresi teguh penuh sirat keanehan, mungkin memang tidak diperbolehkan untuk roh sepertinya karena itu akan melanggar hukum alam.


Aku hanya dapat menghela napas pasrah. Tetapi, karena teringat sesuatu yang lain, aku perlahan berucap, "Aku sudah bertemu kedua anakmu."


Mata Qiaofeng bergetar, tidak seperti sebelumnya dia saat ini terlihat lebih emosional.


"Apakah mereka—," Ucapnya tersendat.


"Mereka baik-baik saja. Anak yang manis dan sehat." Ucapku dengan tersenyum lembut.


"Syukurlah, aku selalu mengawasi mereka dari jauh." Suaranya berkabut sendu.


Bibirku mengait keatas, tetapi, ketika aku ingin balas berkata. 'Woosshh..bangg...' Hembusan angin kencang seperti menarik tubuhku kesebuah lubang tak kasat mata.


Qiaofeng menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan melanda-ku terdengar samar-samar suaranya yang berucap, "Tolong jaga mereka untukku."


Dalam kegelapan yang kosong, sekelebat memori dan curahan perasaan milik Qiaofeng melintasi dibenakku. Aku dapat melihat sedikit kenang yang mungkin sangat membekas dihatinya.


Qiaofeng yang terduduk sendiri disebuah rumah kecil, punggung kurus milik seorang gadis muda terlihat begitu kesepian memandangi guguran dedaunan, menunggu tahun kelimabelas dalam hidupnya untuk kembali pulang ketempat yang disebut rumah atau orang yang disebut sebagai keluarga.


Dalam kerapuhan sosoknya yang mandiri. Dalam hidupnya yang sunyi dan tak berwarna. Tiba-tiba seseorang datang untuk memberinya kehangatan. Orang itu adalah Xia Qian Che.


'Aku yang kesepian dan merasa tidak dicintai. Hanya dialah yang mengulurkan tangannya padaku. Dia memberitahuku bahwa aku layak. Dan dengan begitu aku menggantungkan hidupku padanya untuk memuaskan diriku yang kurang perhatian. Sampai saat ini, aku tidak sedikitpun menyesali keputusan yang sudah kubuat.'


Itu adalah suara hati Qiaofeng yang mengalir memberitahuku sebuah hal penting dalam akhir hidupnya.


"Xuan'er, terimakasih."


Huh, dia akhirnya memanggilku dengan nama setelah semua percakapan kita.


Setelah itu kegelapan seperti menyedotku kembali tenggelam dalam kekosongan.


POV END.


•••••••••••••••