Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Topik Perdebatan Dalam Harem Istana



Ibukota Kekaisaran Shen, Aula Feng Xian He, Istana Permaisuri Gao.


Sosok wanita muda dengan pancaran keanggunan yang rapuh sedang berjalan di koridor utama untuk menuju aula permaisuri. Rombongan pelayan dan kasim menemani langkahnya, menunjukan status penuh martabat dan kehormatan yang tampak seharusnya di segani.


Namun, seiring dia melangkahkan kaki. Raut wajah semua orang yang berpapas terlihat tidak senang walau berusaha mereka sembunyikan di balik kedok senyuman.


"Jangan hiraukan mereka, Yang Mulia!" Pelayan pendamping terdekatnya berusaha menenangkan. "Kita harus cepat karena Permaisuri memanggil anda untuk memberi salam pagi!" ucapnya.


Dia adalah Rui Minglan, Puteri Mahkota Kekaisaran Shen. Di antara kerumunan wanita, penampilannya terlihat lebih menonjol.


Seperti awan indah yang mengapung. Dia dapat menarik perhatian semua orang. Bibir semerah ceri dan mata cemerlang seperti bintang. Kulitnya bening seperti air musim gugur yang cerah. Tetapi, sentuhan kesedihan terlihat jelas dalam sosoknya yang ramping.



Seperti pasrah meratap. Rui Minglan berbicara datar. "Apakah Pangeran Mahkota juga datang?"


"Menjawab, Yang Mulia. Pangeran Mahkota sedang berada di pengadilan pagi." Seorang pelayan tua berkata lugas menanggapi.


Mata Rui Minglan menyeringai pahit. Dulu sebelum kejatuhan keluarganya. Pangeran Mahkota selalu menemaninya untuk memberi salam pagi kepada Permaisuri. Namun, setelah seluruh keluarganya di eksekusi. Rui Minglan menjadi tahanan rumah dan hampir tidak pernah Pangeran Mahkota datang berkunjung.


Pada saat ini, dia di perbolehkan melangkahkan kaki keluar karena tiba-tiba Permaisuri memanggilnya.


Sesampainya, di Aula Feng Xian He. Para pelayan istana mengangkat tirai untuk mengizinkannya masuk dan kemudian menyapa dengan tersenyum formal memberitahu. " Yang Mulia Puteri Mahkota. Permaisuri menunggu anda."


Rui Minglan balas tersenyum ringan dalam langkahnya, dia dengan cepat masuk.


Di ujung ruangan yang besar, sebuah kursi merah bermahkotakan ekor phoenix emas terlihat memancarkan keagungannya.


Sosok wanita yang sudah tidak muda lagi sedang terduduk di atas singgahsana tersebut, wajahnya di penuhi martabat yang elegan. Begitu menekan orang.


"Menantu ini menyapa Ibunda Kekaisaran." Rui Minglan segera memasang postur membungkuk untuk memberikan salam.


Permaisuri Gao memiliki rambut cokelat pekat yang menjadi sumber kebanggaannya dalam berpenampilan. Wajahnya yang memiliki sedikit kerutan itu tersenyum tipis. "Bangkit." Ia berkata dengan melambaikan tangan.


Rui Minglan bangun dan berterimakasih. Segera seorang pelayan tua datang membantunya untuk terduduk nyaman di kursi yang sudah di suguhi teh dan kudapan ringan.


"Menantu ini menyiapkan sesuatu, mendengar bahwa Ibunda Kekaisaran baru-baru ini terkena angin dingin dan tidak memiliki nafsu makan apa pun." Rui Minglan berkata dengan senyuman cerah, ia melambaikan tangan membentuk kode perintah kepada pelayan pendampingnya untuk menyerahkan kotak yang mereka bawa.


Pelayan tua tersebut menerima dan membuka kotak berisi kue plum yang menyegarkan, Ia memperlihatkannya kepada Permaisuri Gao.


Permaisuri Gao mengangguk puas dan berkata; "Kamu memiliki banyak ketulusan menyiapkan ini untukku."


"Ibunda kekaisaran terlalu memuji. Ini berkah untukku dapat melayani mu!" Rui Minglan berkata rendah hati. Setelah berbicara, dia berjalan kesamping dan mengambil cangkir teh, membawanya ke Permaisuri Gao.


Permaisuri Gao memperhatikan betapa hormat dan bermartabatnya dia. Tidak mengucapkan sepatah kata pun, Permaisuri Gao menerima dan meminum seteguk teh.


"Kudengar Xiao Guan, terjatuh ketika berusaha memanjat pohon." Permaisuri Gao berkata dengan tenang. Mengambil topik yang berat.


Wajah Rui Minglan membeku. Namun, dia tetap berkata tenang seolah-olah itu bukanlah masalah besar. "Anak nakal itu baik-baik saja. Hanya tergores ranting. Terima kasih Ibunda Kekaisaran sudah menanyakan keadaan Xiao Guan."


Shen Guan Ding, cucu pertama permaisuri yang saat ini berusia tiga tahun. Dia adalah anak Rui Minglan dan Pangeran Mahkota.


"Jagalah putramu dengan baik. Kau pintar karena dapat bertahan. Jika, Pangeran Mahkota ingin. Seorang selir juga dapat mengasuh Xiao Guan secara pribadi mengambilnya dari tanganmu." Permaisuri Gao berkata tajam


Kata-katanya terdengar seperti peringatan yang perhatian. Namun, matanya memancarkan ketidakacuhan yang membuat orang tertekan.


Mendengarkan. Wajah Rui Minglan berubah gelap. Matanya terkulai sendu. Tapi, dia tetap tersenyum walau itu adalah garis bibir yang pahit.


Tiba-tiba Permaisuri Gao bangkit, dia turun dari atas singgahsana dengan mengajak Rui Minglan yang mengikutinya dari belakang.


Rombongan kasim dan pelayan datang berbaris membuka gulungan yang ternyata adalah potret lukisan berbagai wajah dari para gadis cantik di beberapa penjuru kekaisaran.


"Kompetisi pemilihan permaisuri pangeran akan segera di mulai. Kamu sebagai Puteri Mahkota akan ikut mendampingiku dan Selir Kaisar lainnya sebagai juri penilai." Permaisuri Gao berkata jelas, memberitahukan. Dia melanjutkan, "Para gadis dalam lukisan-lukisan inilah yang paling menonjol dari keturunan keluarga, popularitas, penampilan dan bakat mereka."


Jantung Rui Minglan berpacu cepat. Pikirannya menebak kearah mana pembicaraan ini akan tertuju.


Dengan senyuman paksa, Rui Minglan berkata sembari berpura-pura fokus menatap kearah satu per satu potret lukisan. "Pangeran Kesembilan pasti akan menyukai pilihan anda."


Permaisuri Gao berkata dingin; "Prioritas utama memang Qi'er. Tapi, aku juga akan memilih satu untuk Selir Pendamping Pangeran Mahkota."


deg. Kata-katanya seperti belati tajam yang menghunus hati terdalam Rui Minglan, dia berkata begitu lugas tanpa memedulikan perasaan menantunya.


Rui Minglan berucap cepat, merasa keberatan; "Ibunda Kekaisaran, di Istana Timur kami sudah ada beberapa wanita. Saya membawa mereka untuk memenuhi kebutuhan Pangeran Mahkota. Ini takut nya—," Terjeda ia.


Permaisuri Gao segera memotong, tidak berniat mendengarkan keluhan Rui Minglan.


"Keluarga Rui anda sudah mati dengan noda memalukan! anda tidak berguna! Kontribusi apa yang bisa anda berikan pada putraku?!" Permaisuri Gao berkata tajam menunjuk kearah Rui Minglan. Kilatan amarah yang suram menekan, membuat udara di sekitar mereka menjadi sesak.


"Memang wanita tidak jelas dan biasa yang anda bawa dapat di bandingkan dengan para gadis ini?!" Permaisuri Gao berkata dengan sedikit membentak. "Lihat!" Dia menunjuk ke salah satu lukisan. "Walau penampilan dan wajahnya terlihat buruk. Dia adalah Nona Besar dari Keluarga Jenderal yang bisa mendukung dan memberikan kontribusi pada suksesi putraku!"


Lukisan sosok gadis yang memiliki senyum terlalu lebar terlihat menyeramkan. Juga matanya yang memelotot terlihat menakutkan dari sudut manapun. Ha, itu benar-benar gambar yang buruk.


Wajah Rui Minglan menjadi keruh. Ekspresi matanya menunjukan penderitaan. Dia menghirup napas tajam dan tersenyum penuh penyesalan. "Menantu ini mengerti. Mohon Ibunda Kekaisaran jangan marah!"


•••••••••••••••••


Aula Dian Yong Shi, Istana Shang Shufei.


"Melihat Shang Shufei niang niang." Terdengar salam dari ajudan terdekatnya.


Di tengah gazebo yang tertutup tirai, sosok wanita cantik yang berumur lebih tua sedang terduduk tegak, tangannya bergerak terampil merapihkan cabang-cabang bunga dalam pot yang dia rawat sepenuh hati.


"Bicaralah!" Shang Shufei berkata dengan nada halus.


Dengan lugas, ajudannya berucap dengan suara rendah yang bersifat rahasia; "Melapor, niang niang." Dia melanjutkan. "Rombongan Wei Guifei sudah kembali memasuki Ibukota. Rumor menyebar bahwa selama di Kota Ping'an, Wei Guifei membujuk Jenderal untuk berpihak."


Shang Shufei mengangkat wajahnya. Dia tersenyum lembut. "Oh, terdengar menyenangkan! Lanjutkan!" perintahnya.


•••••••••••••••


N/T:


Peringkat/Gelar Selir Utama Kekaisaran:



Selir Agung (Guifei) 贵妃


Selir Kebajikan (Shufei) 淑妃


Selir Kehormatan ( Defei & Xianfei)德妃 dan 贤妃



Lukisan siapa tuh yang di katain berpenampilan buruk? wkwk😂