
Di bawah atap pelataran lantai atas, seorang pria jangkung dan tangguh menikmati gelas arak di tangannya. Mahkota emas yang membungkus setengah rambut cokelat tuanya menciptakan kemegahan yang hening.
Fitur wajahnya yang bijak dan tampan dengan rahang tegas yang tajam itu dapat menangkap jiwa manusia untuk bertekuk oleh arogansi di dalam keagungannya.
Para pelayan istana dan kasim senior terlihat sedia berbaris di sekitar tempat duduknya, menunggu untuk mendapatkan perintah terbaru yang akan keluar dari mulutnya. Dan, setiap penjaga meletakkan tangan mereka di gagang pedang mereka, wajah mereka tegas dan waspada, tidak membiarkan siapa pun melangkah mendekat tanpa izin sang penerus takhta.
Dengan ini kita bisa mengetahui betapa superior nya dia.
Shen Changran, Pangeran Mahkota Chang dari Shen, sosok yang memiliki gelar tertinggi setelah Kaisar dan Permaisuri kekaisaran ini.
Di dalam mata yang seperti biji kakao muda yang mempesona, itu seperti obor api yang mengawasi angin di kejauhan.
Dari atas sini, dia bisa melihat pemandangan menakjubkan yaitu di mana kawanan bunga sedang bersolek begitu indah memenuhi pelataran Istana Dengshuo.
Mendengar dan melihat sesuatu yang menarik, kedua matanya segera membentuk garis sipit, namun raut di wajahnya itu masih cerah dan sama terangnya ketika dia perlahan memutar kepalanya untuk berbicara dengan sang bawahan.
"Siapa Nona yang sedang meniup helai hijau dedaunan untuk menghasilkan suara merdu ini?"
Angin yang bertiup menerbangkan suara musik yang memikat untuk sampai ke indra pendengarannya. Shen Changran tersenyum dengan menurunkan pandangan menatap keluar jendela.
Dia memandang pada satu sosok gadis muda yang memiliki cepol kembar berbentuk awan di atas kepalanya, mengenakan gaun ungu dengan sulaman warna muda keperakkan yang kontras, pipi merona dan bibir merah seperti kuncup bunga mekar, dan di antara kedua alisnya yang rapih tergambar bunga peony. Gadis cantik yang pandai bermusik!
"Menjawab, Yang Mulia. Itu adalah Nona Kedua Yao, Yao Chiyun." Salah satu pelayan istana dengan cepat melontarkan informasi pengenal.
Mendengar itu. Wajah Shen Changran berangsur-angsur berubah kecut, dia menampilkan raut tidak puas ketika bergumam: "Gadis muda dari rumah perdana menteri Yao, ya..." Ada sedikit jeda di setiap ucapannya kala sudut mulutnya terangkat, menunjukan sedikit ejekan. "Tidakkah menurutmu dia akan berakhir sama seperti kakak perempuan pertamanya yang lebih memilih tinggal di perbatasan?" Kalimat ini jelas seperti dia sedang melimpahkan semua kekesalan yang tertahan di masa lalu.
"Menanggapi, Yang Mulia. Nona Kedua Yao merupakan garis keturunan selir, meskipun begitu dia tetap dalam perawatan Nyonya Besar Yao. Dia berbakat dan cermat. Popularitas namanya di kalangan sosial bangsawan juga melebihi Nona Pertama dan Nona Ketiga Yao yang merupakan putri sah perdana menteri." Salah satu kasim senior berbicara dengan ritme yang lugas.
Menarik sudut alisnya, Shen Changran berkata dengan penuh minat: "Huh? Bukankah itu menjelaskan ambisi yang begitu kompetitif dari seorang putri selir yang bisa menandingi dua putri sah sekaligus." Dia menunjukan seringai dangkal, ketika tangan kirinya yang memegang kipas terangkat memberi isyarat perintah. "Katakan pada Ibunda agar lebih memperhatikannya untukku." Ujarnya.
Setelah menyatakan perintah pada bawahanya. Mata Shen Changran tiba-tiba tanpa sadar bergerak melewati Yao Chiyun yang seperti bunga dan mendarat pada sosok lain yang membuatnya terjungkal keheranan.
Kriekkk...
Suara tempat duduk kayu berderit kencang oleh guncang yang mendadak.
"Siapa gadis yang berani mengantongi ikan-ikan dari kolam dan membawanya itu?!!" Sentak Shen Changran sedikit berteriak, dia tanpa sadar sudah bangkit berdiri dengan melebarkan matanya yang membelalak tak percaya.
Para bawahannya seketika tampak bergetar dan berkeringat dingin oleh kejutan yang tiba-tiba.
"A,-ah itu..."
Mereka tergagap untuk menjawab. Melihat di kejauhan sosok dua gadis muda sedang mengambil beberapa ikan dari kolam. Ini adalah aksi pencurian!
••••••••••••••••••••
Su Yiyang melontarkan pertanyaan pada Xiu Qixuan yang ingin melangkah pergi.
Dengan asal dan tampak acuh tak acuh, Xiu Qixuan menjawab: "Memberi makan ikan." Dia kemudian berjalan menuju pojok kolam yang tidak jauh letaknya dan berjongkok untuk merenung meraih sedikit ketenangan di dalamnya.
Harumnya bunga teratai putih yang mengapung di tepi kolam, ini dapat sedikit menutupi aroma amis dari sirip ikan-ikan gemuk yang sedang berenang secara berkelompok di dasar air.
Menaruh rangkaian bunga yang belum dia selesai di atas meja, dan membiarkan Duan Maiqiu menyelesaikannya. Su Yiyang beranjak mendekati Xiu Qixuan, dia berdiri tepat di belakang gadis itu dengan gestur angkuh melipat tangannya di depan dada.
Su Yiyang kemudian berbicara menggunakan nada ketus yang penuh keluhan. "Kita saja tidak di perbolehkan memakan ikan dan daging. Kau malah dengan bodoh memberi ikan makanan." Cercanya.
Berpikiran sederhana, tangan Xiu Qixuan yang memiliki kecepatan seperti rubah itu terulur mencelup basah di air kolam dan dengan gesit cakarnya menangkap seekor ikan gemuk yang tampak licin meronta-ronta di genggamannya.
Suara kecepakan air terdengar kala aksinya yang begitu cepat.
"Kau ingin makan ikan tidak?" Dengan polos, dia menoleh dan berbicara tenang pada Su Yiyang yang ternganga melebarkan mulutnya.
Pihak istana mengatur menu makan mereka menjadi porsi kecil yang sehat untuk menjaga bentuk tubuh. Daging dan ikan menjadi salah satu menu makanan yang selalu di perhatikan. Jadi, selama beberapa hari ini mereka memang makan namun tidak berselera apalagi puas.
"Q,—Qixuan. Kau serius?" Sahut Su Yiyang tergagap dengan pupil mata yang melebar. Dia mengedarkan pandangan kesekitar untuk memastikan tidak ada pelayan istana yang memperhatikan mereka. "Heh, itu adalah ikan hias. Memangnya bisa di makan?" Celetuknya.
Dengan mengedikan bahu tak acuh, Xiu Qixuan menatap dan mendekatkan moncong ikan merah yang dia tangkap itu. "Tidak tahu. Tapi, tinggal kita coba saja untuk memastikan rasanya, 'kan. Aku bisa meminta Xiao Rou untuk menutup mulut petugas dapur dan memasak makan malam menggunakan ikan ini secara diam-diam."
Wajah Xiu Qixuan menjadi masam ketika mengingat dia tidak bisa membeli makanan dari luar selama berada di sini, sebenarnya ini hanyalah lelucon tapi dia sekarang menjadi serius untuk memakan ikan yang tinggal di kolam ini.
Xiu Qixuan kembali berbicara penuh atensi menuntut pada Su Yiyang. "Kau ingin atau tidak?! Kalau tidak, aku akan—"
"Tunggu sebentar!"
Belum sempat Xiu Qixuan menyelesaikan ucapannya, Su Yiyang tiba-tiba berbalik dan bergegas mendatangi Duan Maiqiu.
Tanpa banyak kata, dia mengambil guci yang menjadi vas bunga dan memberikan rangkaian bunganya pada Duan Maiqiu yang kebingungan oleh tingkahnya.
Kemudian Su Yiyang berlari kembali mendekati Xiu Qixuan dengan cengiran bodoh khasnya. Dia menepuk-nepuk badan guci dan berkata penuh tawa semangat: "Ayo kita kuras habis untuk makan malam yang nikmat. Khehehe..."
Mendelik. Xiu Qixuan menahan kedutan geli. "Jangan tertawa seperti itu. Menyeramkan, kau tahu?!" Timpalnya dengan terkekeh kecil.
Mana mungkin Su Yiyang menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut mencuri ikan agar bisa makan enak ketika tidak ada orang lain yang melihat mereka.
Para gadis sedang sibuk mengasah keterampilan. Para pelayan pendamping dan pengasuh tua tidak di perbolehkan ikut mendekat ketika sedang jadwal berlatih bebas seperti ini. Dan, kasim senior hanya berdiri untuk berjaga-jaga di setiap sudut-sudut ruang tertentu. Tidak ada yang mengawasi mereka yang memang tak menarik perhatian di pojokan, untuk ini mereka dapat lolos dengan mudah dari banyak pandangan mata.
Tapi, dua gadis ini tidak sadar. Mereka malah menangkap begitu banyak perhatian dari mata elang buas yang sedang mengawasi di atas kejauhannya langit.
•••••••••••••••••