
Hari Musim Gugur, Dua Bulan Kemudian.....
POV. Xiu Qixuan.
Kelambu merah menghiasi ruangan beraroma cedana. Kamar yang dipenuhi aroma dupa, dan bersama dengan aroma parfum juga bedak kental, itu bercampur kuat membuatku merasa muak.
Kaca perunggu di depan sana memantulkan guratan kecantikan yang berbalut gaun pengantin. Jari-jemariku terulur menyentuh samar riasan yang memenuhi kepalaku, ini tampak mempesona dengan burung phoenix mutiara dan peony yang di sulam. Gaun pengantin yang di buat dengan gulungan sutra merah, ada sulaman ekor phoenix yang timbul dari jahitan benang emas. Memancarkan kemuliaan yang menghabiskan cukup banyak uang.
Tapi, semua penampilan ini... Sangat amat tidak cocok dengan wajah dingin yang kupasang.
Haa..
Menghela napas kasar. Pandanganku terjatuh pada lipatan sepucuk kertas kuning yang berada di atas meja. Dengan perasaan yang tertusuk, aku memberanikan diriku, membuka dan membaca semua yang tertuang di sana.
^^^[Teruntuk, Xuan'er.^^^
^^^Bagaimana kabarmu, sayang? Apa kamu baik-baik saja? Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Banyak musim telah berganti, tapi aku menunggu musim di mana dapat melihatmu kembali. Bukankah aku begitu tak tahu diri? Kamu sangat membenciku, bukan?^^^
^^^Kau kesakitan saat terakhir kita berpisah dan aku mengutuk diriku untuk itu.^^^
^^^Aku sudah tak tahu lagi, berapa banyak bulu pena yang kubutuhkan untuk menuliskan semua ini. Tetapi, Xuan'er...^^^
^^^Maafkan aku.^^^
^^^Aku tidak akan menjelaskan apa pun untuk membenarkan diriku. Karena aku tidak memiliki apa pun untuk di jelaskan. Untuk semua yang rusak. Untuk semua yang hilang. Untukmu dan Xiao Bao.^^^
^^^A Jun.]^^^
"Hah, sialan! Harusnya aku tidak membuka ini."
Suaraku bergetar perih, jemariku meremas kertas tersebut dan merobeknya menjadi sampah yang berserakan di lantai. Itu adalah surat dengan tulisan tangan milik seseorang yang amat sangat familiar, Sima Junke.
Saat berada di kuil, Guru Biyan memberikanku surat ini. Tapi, aku tidak memiliki cukup keberanian untuk kembali mengingatnya.
Aku yakin. Aku sudah bisa menahan banyak hal. Perasaan murahan seperti cinta sudah lama mengkristal. Tapi, ternyata hidup ini tak tertahankan. Gaungan yang menelanku hingga ke dasar. Kukira hatiku sudah hampir membeku. Kukira aku baik-baik saja dengan semua ini. Kukira tidak mengapa jika aku mengenangnya untuk terakhir kali.
"Brengsek."
Umpatan keluar dari celah bibirku. Aku mencoba mengatur kembali napasku yang anehnya terasa sesak. Bagian dalam tenggorokanku terasa panas. Kedua mataku terasa perih. Aku menggigit bibir bawahku, menahan buncahan yang hendak meledak.
Tes..
Bulir hangat turun dari kelopak mataku, mengalir membanjiri pipiku, menghancurkan sedikit riasan tebal di wajah indah yang tampak bergetar.
Sial. Sial. Sial.
Rutukan dan makian bergumam dalam benak yang dingin. Jemariku dengan kasar mengusap bulir yang membanjiri wajah.
Salju di hari musim dingin. Bunga di hari musim semi. Daun di hari musim panas. Dan, reruntuhan dahan di hari musim gugur.
Aku membenci musim ini. Musim gugur yang selalu tak berjalan baik. Yang menghancurkan semuanya. Yang merenggut Xiao Bao dariku.
Tok-tok!
Ketukan pintu mengintrupsiku. Di balik punggungku, suara pintu terbuka. Menampilkan Xiao Rou yang ikut berpakaian istimewa sebagai pelayan pendampingku, dia datang untuk memberitahukan.
"Persiapkan dirimu, Nona besar. Ini sudah waktunya. Tandu pengantin yang akan membawa anda akan segera tiba."
Ekspresi yang muram itu berubah tenang.
Aku dengan cepat membenahi raut wajahku. Dan, meminta Xiao Rou untuk datang merapihkan kembali sedikit penampilanku yang tak sengaja kukacaukan.
Ini adalah hari pernikahanku. Mengejutkan bukan? Untuk pertama kali, aku mengingkari janjiku untuk pulang ke Ping'an. Ayahku pasti kecewa untuk itu. Dan, kedua kakak lelaki ku sangat tidak rela, menghujamiku dengan surat mereka.
Tidak ada paksaan yang menekanku. Ya, memang terpaksa juga sih. Karena beberapa hal menuju kearah yang aneh. Aku menemukan suatu kemajuan terkait Shen Zhenning. Dengan jalan pernikahan yang kuambil ini, aku akan membuatkan neraka khusus untuk badebah kaisar itu.
Bukankah pepatah mengatakan. Jika kamu tidak membidik apapun, kamu tidak akan mencapai apapun. Dan karena itu, aku meledakkan hidupku untuk semua keputusan yang kuambil.
Ini bermula kembali pada hari-hari awalku di istana yang tampak berjalan terlalu mulus....
END POV.
••••••••••••••••••••••
Dua Bulan Sebelumnya ...
"Nona Ketiga Yao!"
Sosok cantik mengenakan riasan sederhana yang tampak menawan sedang menuruni anak tangga. Hari ini cerah berangin. Matahari di atas cakrawala menyorot dengan tajam, membuat kulit putihnya nampak seperti mutiara yang berkilau. Kipas di jari-jemari lentiknya dia angkat untuk menghalau sinar terik yang membuat matanya perih.
Mengenakan gaun berwarna merah muda dan balutan atasan kuning cerah dengan corak bunga sederhana yang menimbulkan kesan lembut membuatnya nampak anggun.
"Anda menunggu saya?"
Kalimat pertanyaan lolos dari bibirnya yang tersenyum. Dengan langkah teratur, dia mendekati sosok elegan yang terduduk manis di antara pembatas koridor dan kolam.
"Pikiran saya menjadi rumit oleh beberapa hal. Membutuhkan orang bijak seperti anda yang mengingatkan dan menemani di sisi saya. Jadi, bisakah kita pergi bersama?"
Kata-katanya sempurna mengajuk tawaran dengan etiket yang berkelas, dia berbicara tenang seolah-olah dia membaca dari sebuah buku. Tetapi, jelas di dalam sana, dia menyembunyikan getaran kecemasannya ketika matanya terkulai turun. Dia begitu takut ketika Shang Shufei memanggil mereka untuk datang.
Mendecak takjub. Di mata Xiu Qixuan, Yao Anran tampak seperti boneka porselen yang indah dan mahal. Dia seperti produk kelas atas dengan etiket sempurna yang mendarah daging hingga ke dasar tulang.
"Tentu saja, dengan senang hati. Mari!" Xiu Qixuan berkata dengan melebarkan senyumnya. Dia mengulurkan satu tangannya membantu Yao Anran untuk berdiri tegap bersikap layaknya ksatria yang menjaga tuan puteri -nya.
Anehnya, Yao Anran tidak menolak. Dia tersenyum malu. Hubungan yang harmonis ketika kedua gadis itu berjalan beriringan sembari bercakap santai, dengan pelayan mereka yang mengikuti di belakang.
"Oh, jadi anda mengenal Biaojie saat sudah berada di ibukota?"
"Ya, itu aneh ketika kami menjadi akrab. Bagaimana denganmu?"
"Eum, kami tidak terlalu dekat. Maksudku, aku tentu saja tidak membencinya. Hanya saja kami tidak cocok untuk beberapa hal."
"Ah, aku mengerti. Yiyang terlalu berisik untukmu."
Tawa seperti lonceng yang berkelip-kelip terkadang lolos dari bibir keduanya. Membicarakan kelakukan Su Yiyang dengan abstrak sungguh menyenangkan.
Yao Anran sedikit melupakan kecemasannya, dia nampak lebih rileks mendengarkan semua cerita Xiu Qixuan. Sesekali dia ikut bercerita membahas bagaimana kegilaan Su Yiyang saat berkunjung ke kediaman perdana menteri dan mengganggunya, ternyata kelakukan gila gadis itu sudah ada sejak kecil.
"Nona Besar Xiu. Nona Ketiga Yao."
Suara indah berderu merdu membungkus telinga mereka. Kedua gadis itu segera mengangkat pandangannya. Melihat sosok kecantikan yang menawan sedang menyapa mereka dengan ramah namun juga terselip ketajaman di sana, Xiu Qixuan dan Yao Anran segera memasang senyuman lembut untuk membalas hangat.
"Nona Helan."
••••••••••••••••••••
A/N: Xuan beneran nikah?! Hayoloh penasaran! di bagian depan bab ini—author sengaja buat sedikit alur maju biar kalian kepo, kemudian kembali mundur untuk lanjutan bab kmrn pas ketemu anran🤗