Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Saling Memahami



Sebelumnya.


Sima Junke berjalan menyusuri tepi pantai dengan menunduk lesuh. Dia tidak dapat terlelap, membuatnya keluar untuk menghilangkan suntuk yang sedang melanda.


Cahaya redup pagi hari, terlihat keindahan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.


Perasaan juga pikirannya memang sedang kacau dan batinnya kelelahan.


Sima Junke ingin menyudahi untuk mencari tahu kebenaran dari sebuah teka-teki yang tak berujung ini.


Tetapi dia tidak boleh menyerah, bahkan seorang Paman Kun saja masih bertahan untuk sebuah penjelasan mengenai kematian sang sahabat.


Tiba-tiba suara tapak kaki kuda terdengar keras, seorang gadis cantik yang menawan melompat turun dari kuda dengan gagah.


"Biaoge!" Panggilnya keras dan berlari cepat melemparkan dirinya kedalam pelukan Sima Junke.


Sima Junke tersentak kaget dan dia kembali merileks-kan tubuhnya ketika melihat gadis kecil yang dia kenali.


"Suyin, darimana kamu mengetahui bahwa aku berada di Nanhai?" Tanya Sima Junke dengan mengernyitkan kening tak nyaman.


Manchu Suyin, sepupu perempuan Sima Junke dari sisi kekeluargaan ayah. Ibu Manchu Suyin adalah seorang bermarga Sima, yaitu Sima Daiyu.


Sima Daiyu adalah sepupu Sima Xiahou, sejak menikah dengan Keluarga Manchu wanita itu memilih tinggal jauh dari ibukota.


Kebanyakan anggota Keluarga Sima memiliki tempramen yang begitu baik juga cerdas, mereka tidak menyukai atau terlibat dalam konflik pemerintahan.


Keluarga Sima dulunya merupakan keluarga besar petinggi sayap kiri yang posisinya hampir sama dengan Zhai Dawai sekarang, tetapi entah karena suatu alasan leluhur mereka memilih keluar dari dalam pemerintahan Nanbao.


Memiliki kekayaan yang melimpah ruah dan kekuasan yang masih berdiri kokoh hingga kini, kebanyakan dari mereka memilih menyingkir dan menjadi sosok yang transparan.


'Dug,' Manchu Suyin melepaskan pelukannya dan memukul bahu Sima Junke dengan keras.


"Kau jahat sekali! Tidak mengabariku ataupun ibu saat kau kemari," Dengusnya mencebik kesal.


"Aku lupa," Jawab Sima Junke dengan acuh tak acuh.


"Mengapa kau kemari?" Tanya Sima Junke dengan singkat.


"Humph, kemarin aku tidak sengaja melihatmu. Dan terburu-buru langsung kemari untuk menemuimu. Bagaimana? Apakah kau terharu?" Ucap Manchu Suyin dengan menaikan sudut alisnya berniat menggoda Sima Junke.


Gadis muda ini adalah tipe yang lincah dan riang, dia akan suka bermain-main dengan tingkah menyebalkan membuat orang disekelilingnya menggeram kesal.


"Tidak," Jawab Sima Junke dengan tajam.


Sejak awal seperti yang dikatakan oleh Kangjian bahwa Sima Junke tidak terlalu dekat dengan sosok perempuan manapun kecuali sang ibu dan neneknya, sekarang bertambah dengan kehadiran Xiu Qixuan yang juga seorang pengecualian.


"Tidak salah lagi, aku merindukanmu!" Ucap Manchu Suyin dengan keras dan kembali mendekap Sima Junke erat-erat.


Dia mengetahui bahwa Sima Junke akan kesal dengan perlakuannya dan memang sejak awal itulah niatnya.


"Suyin, lepaskan! Pasti kau berkeliaran tanpa sepengetahuan ibumu, aku akan—" Tejeda Sima Junke.


"Tidak akan aku lepaskan, kau sudah mengancamku!" Balas Manchu Suyin dengan keras dan kukuh.


Sima Junke berusaha mendorong keras pinggang gadis ini, tetapi dia adalah perempuan Nanbao yang memiliki kekuatan besar. Manchu Suyin masih kukuh mempertahankan dan malah semakin mendekap erat tubuh Sima Junke.


Gerakan seperti inilah yang dilihat oleh Xiu Qixuan, menimbulkan kesalahpahaman dan juga keraguan hati.


************


'Cklekk...' Pintu kamar perlahan terbuka dan muncul sosok tampan yang memang ditunggu kedatangannya oleh Xiu Qixuan.


"Xuan'er..." Panggilnya dengan wajah penuh keraguan seakan memastikan bahwa tindakannya tadi tidak membuat kesalahpahaman besar yang menyakiti gadis ini.


Wajah cantik itu dengan perlahan mengangkat dan menoleh untuk menatap Sima Junke yang berdiri diambang pintu.



Dia tidak menangis, tidak juga tersenyum, hanya terdapat sebuah guratan ketenangan. Sebuah ketenangan yang dapat menenggelamkan siapa saja yang melihatnya.


Xiu Qixuan hanya diam tidak mengucapkan sepatah katapun, tetapi pancaran yang dikeluarkannya dapat mengintimidasi lawan bicaranya.


Sima Junke berinsiatif untuk memulai percakapan lebih dulu. "Xuan'er, aku—" Terjeda.


"Jelaskan," Ucap Xiu Qixuan dengan tajam dan singkat memotong ucapan Sima Junke.


Helaan napas terdengar keras dari bibir Sima Junke, pria itu dengan cepat menghampiri dan berjongkok dihadapan Xiu Qixuan yang terduduk diatas ranjang. Dengan perlahan dia meraih jari-jari lentik milik Xiu Qixuan dan menggenggamnya erat-erat.


Hening.


Xiu Qixuan tidak menjawab dan hanya diam balas menatap kedua bola mata segelap malam yang dapat menghanyutkan itu.


"Kemari, aku akan kenalkan kau dengan sepupuku!" Ucap Sima Junke beranjak berdiri untuk mengajak Xiu Qixuan keluar bertemu dengan Manchu Suyin.


Xiu Qixuan tidak bergerak sedikitpun, dia mendongakkan wajah menatap Sima Junke dengan alis bertaut kemudian bertanya pelan, "Sepupu?"


"Ya, dia sepupu jauhku. Manchu Suyin, ibunya adalah seorang keturunan Keluarga Sima." Jelas Sima Junke dengan singkat.


"Sepupu yang saling berperilaku intim," Cibir Xiu Qixuan tidak tahan.


"Xuan'er, Apa aku sedang makan cuka?" Tanya Sima Junke dengan sedikit menggoda menelusuri wajah Xiu Qixuan(1).


Seketika pipi Xiu Qixuan memerah, dia memalingkan wajah dan menjawab, "Aku tidak."


Sima Junke tersenyum tipis dan berucap pelan, "Hanya akui saja."


Hanya akui saja bahwa hati-mu tidak nyaman jika melihatku bersama wanita lain dengan itu aku dapat melupakan kalimat menyakitkan yang sebelumnya kudengar. Batin Sima Junke.


Xiu Qixuan mengangkat sedikit wajahnya untuk menatap Sima Junke dengan pandangan dalam. Mata mereka saling mengait satu dengan yang lain, menembus celah hati masing-masing.


"A Jun..." Bibirnya mengait ke atas. Suaranya lembut tapi tegas, "Aku akan egois jika tentangmu."


"Kau mengerti bukan?" Lanjutnya dengan jernih.


Hening.


"Haha..." Tiba-tiba suara tawa keras milik Sima Junke mengalun, pria itu terlihat seperti orang gila yang terlalu bahagia.


Xiu Qixuan mengerutkan kening tidak mengerti dan bertanya, "Otakmu bergeser?"


Sima Junke menatapnya dengan binar bahagia, kemudian dia sedikit membungkuk untuk menangkup wajah Xiu Qixuan dengan jari-jari kokohnya.


"Aku mencintaimu," Ucapnya dengan lugas memberi pernyataan sekali lagi kemudian mengecup wajah Xiu Qixuan dengan sayang dimulai dari kening hingga bibir.


"Kau ini kenapa?" Tanya Xiu Qixuan dengan bingung.


"Tidak apa. Ayo, kita pergi temui sepupuku!" Ajak Sima Junke dengan sirat kebahagiaan yang belum mereda.


Xiu Qixuan tidak mengungkapkan kalimat cinta, tetapi dia sudah terlalu senang dan tidak waras seperti ini.


Beranjak dari duduknya Xiu Qixuan meraih tangan Sima Junke yang mengulur untuk mengajaknya bertemu Manchu Suyin.


"Kita akan menemui Bibi Daiyu, mungkin dia memiliki sedikit informasi mengenai ayahku." Ucap Sima Junke memberitahu tujuan selanjutnya.


'En,' Jawab Xiu Qixuan mengangguk mengerti.


"Kau ingin bertanya mengenai kelahiran ayahmu. Tetapi, aku tidak mengerti. Kenapa tidak bertanya kepada nenek yang mengetahui lebih jelas mengenai itu?" Tanya Xiu Qixuan dengan membuat sebuah pernyataan dikalimat awalan.


"Aku tidak ingin memperburuk kondisi nenek dengan pertanyaan rumit yang terjadi dimasalalu." Jelas Sima Junke dengan masuk akal.


"Lagipula aku sudah memutuskan. Kita akan segera pergi ke Sekte Xitian untuk mencari keberadaan kuil emas." Lanjut Sima Junke dengan lugas.


Dengan cepat Xiu Qixuan melepaskan genggaman tangan mereka, gadis itu terlihat sangat terkejut mengetahui keputusan mendadak dari Sima Junke.


Xiu Qixuan, gadis itu, dia sudah membuat rencana untuk pergi ke Sekte Xitian melalui Sima Junke sebagai perantara jalan dan dia akan berusaha meyakinkan pria ini untuk mengikuti langkahnya, tetapi secara mengejutkan bahwa Sima Junke mengajukan diri sebelum Xiu Qixuan bertindak.


"Mengapa?" Tanya Xiu Qixuan menatap mata Sima Junke seakan menelusuri kadalaman itu.


Kau jelas mengetahuinya, kau mungkin juga mendengarnya dan kau tentu mengerti. tetapi mengapa kau secara sukarela mengajukan diri untuk diperalat olehku, Batin Xiu Qixuan.


Senyum tipis terpasang diwajah tampannya, dia memandang tulus wajah cantik gadis ini. "Jangan berpikir rumit, anggap saja aku terlalu mencintaimu." Jawabnya tulus.


Pria ini sejak awal memiliki banyak keraguan tetapi dia membiarkan sebuah kabut menghalangi pandangannya.


Lagipula jika sosok Xiu Qixuan tidak hadir di dalam hidupnya, itu akan berjalan hampa, juga dia tidak akan memiliki pengetahuan luas tentang apa yang terjadi kepada orangtuanya di dalam Sekte Xitian.


Jadi, tidak ada yang saling memanfaatkan atau saling memperalat.


Mereka memang tulus mencintai tetapi jika peran mereka tidak berdampak di dalam kehidupan masing-masing, hal itulah yang harus dipertanyakan untuk apa mereka bersama.


••••••••••••


Makan Cuka: Cemburu