
"Anda sendirian? Di tempat seperti ini..," Di kalimat akhir, nada suaranya semakin mengecil skeptis, Xiu Qixuan melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut ruangan di dalam bangunan istana dingin yang begitu terisolasi dari dunia luar.
Dia berhenti ketika melihat plafon atap yang berlubang penuh lumut yang lembab, air hujan yang merembes turun mengalir di dinding, membuat lantai menjadi becek oleh genangannya. Istana dingin yang lebih seperti gubuk bobrok tak terawat ini benar-benar sungguh mengerikan untuk ditinggal, apalagi bagi seorang pangeran yang masih memiliki darah biru keluarga kekaisaran yang mengalir di dalam dirinya.
Dengusan kasar lolos dari mulut Xiu Qixuan yang bergumam. "Ini keterlaluan."
Xiu Qixuan tidak bisa untuk tidak mengasihani Shen Yuan Zi yang dipenuhi oleh begitu banyak ketakutan dan penderitaan sejak awal masa hidupnya. Menghabiskan tahun-tahunnya terisolasi di tempat ini, wajar saja kalau dia memiliki sedikit keterbelakangan, dia berhasil bertahan hidup sampai memasuki usia dewasa saja adalah sebuah keajaiban.
Di antara semua pangeran, Shen Yuan Zi mendapatkan perlakuan yang begitu berbeda. Ketika para pangeran sepanjang hidupnya dicintai dan dimandikan oleh kebanggaan. Shen Yuan Zi terkontaminasi oleh kelangsungan bertahan hidup dan kematiannya sendiri.
Tapi orang yang sedang kita khawatirkan sepertinya tidak mendengar. Shen Yuan Zi tampak sibuk mencari sesuatu, dia berakhir mengambil mantel tipis miliknya dan berlari menghampiri Xiu Qixuan.
Menaikan kedua alisnya, Xiu Qixuan hanya memasang ekspresi penuh tanya kala melihat tangan Shen Yuan Zi terangkat di depannya sedang menyodorkan mantel yang tampak kusam tersebut.
Shen Yuan Zi sedikit menunduk, dan berkata pelan. "Aku tidak punya apa pun..., Tapi Qixuan bisa memakai ini untuk menghapus air." Dia tampak malu ketika menyebutkan kekurangan material yang dimilikinya.
"Hah?" Xiu Qixuan memiringkan wajah, bingung oleh pemilihan kata yang digunakan Shen Yuan Zi.
Namun, dia langsung mengerti ketika Shen Yuan Zi mendongak dan menatap lekat pada helai rambut panjangnya juga pakaiannya yang lepek karena terkena tetesan air hujan di luar.
"Oh, terimakasih!" Mengambil mantel tersebut untuk menyeka rambut dan wajahnya, Xiu Qixuan tanpa sungkan langsung terduduk di salah satu papan kayu.
Angin menderu keras dan rintik hujan masih mengalir deras, kedua mata Xiu Qixuan tidak sengaja menangkap pantulan silau dari bungkus plastik yang tertimpa cahaya kecil lampu lentera di atas sebuah meja.
"Anda tidak menyukai permen buah?" Xiu Qixuan melontarkan pertanyaan yang menerka-nerka.
Itu adalah permen buah yang pernah dia berikan pada saat melakukan penyamaran. Oh, Xiu Qixuan hanya mengira Shen Yuan Zi tidak menyukai permen atau pria ini hanya berwaspada dengan pemberian orang lain takut-takut itu beracun.
Shen Yuan Zi yang sejak tadi memperhatikan Xiu Qixuan pun menjawab. "Suka! Ah, tidak, maksudku..." Dia menggelengkan kepala dengan penuh binar, "Sangat sangat suka~" Tambahnya.
Ini terlihat sangat kontras kala Xiu Qixuan hanya merespon datar dengan gumaman rendah. "Oh, itu aneh ketika kamu menyukai suatu makanan tapi tidak benar-benar memakannya." Ujarnya melepaskan kalimat formalitas yang sejak tadi dia gunakan.
Senyum menyurut di wajah menawan Shen Yuan Zi, pria ini menjadi muram ketika berkata. "Apa aku harus memakannya? Tapi, itu akan habis tak bersisa, 'kan." Dia bereaksi seolah-olah dia akan sangat kehilangan jika melakukan hal tersebut.
"Bodoh..., kenapa sedih? Jika ingin permen. Kuberikan saja untukmu setiap hari, beres, kan?" Celetuk Xiu Qixuan mengucapkannya tanpa sempat berpikir lagi.
Seperti mendapatkan adiksi kegembiraan yang tak terduga, Shen Yuan Zi mendongak dengan memasang binar yang begitu riang. "Benarkah? Kalau begitu aku bisa melihat Qixuan setiap hari untuk mendapatkan permen." Sahutnya.
Wajah Shen Yuan Zi berubah kecewa. "Apakah akan menghabiskan waktu lama dan begitu berat? Pekerjaanmu...," Tanyanya. Dia mendongak ketika menatap gadis itu dalam posisi terduduk dengan menyilangkan kedua kakinya di lantai tepat di hadapan Xiu Qixuan yang berada diatas papan kayu. Ini terlihat seperti anak nakal yang sedang di hukum untuk diam mendengarkan ceramah sang ibu. Posisi yang sungguh menimbulkan rasa menggelitik!
Dengan cepat Xiu Qixuan mengangguk dan sedikit menunduk balas menatap Shen Yuan Zi, "Ya. Itu sangat sulit. Aku harus mengatur kekalahanku agar tidak menikah." Ujarnya dengan begitu terbuka.
Shen Yuan Zi mengerutkan kening, tak mengerti. "Kenapa harus kalah agar tidak menikah?" Tanyanya.
"Karena aku hanya tidak ingin menikah." Xiu Qixuan menanggapi singkat. Entah mengapa lama-kelamaan dia merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan Shen Yuan Zi. Jadi itu benar mengingat ucapan Rui Jizhang kalau pria ini benar-benar bodoh.
"Kenapa Qixuan tidak ingin menikah?" Shen Yuan Zi melontarkan pertanyaan dengan polos.
Xiu Qixuan menepuk jidatnya sendiri, dia menghela napas jenggah. "Hei, Shen Yuan Zi!" Menaruh mantel yang berada di lengannya ke sandaran papan, Xiu Qixuan segera menyilangkan kedua lengannya mengeluarkan arogansi yang bangga sembari melihat tajam kebawah. "Biar kakak ini beritahu padamu!" Ujarnya.
"Setiap orang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan saat di hadapan cinta sejati. Semua orang berhak memutuskan pilihan, sama seperti semua orang yang berhak merasakan cinta di dalam pernikahan. Dan, aku tidak yakin untuk itu." Ada jeda dalam perkataannya yang lugas ketika nada bicaranya mengecil dan sayup-sayup bergetar terdengar, "...Aku tidak yakin jika aku terpilih dan menikah, apakah aku bisa dengan tulus mencintai suamiku nanti." Dia terkekeh kecil dan mengibaskan lengannya karena malu ketika menyadari sudah berkata terlalu banyak, "Lupakan saja! Kau pasti tidak mengerti."
Ini mengejutkan kala Shen Yuan Zi hanya terdiam memandangi Xiu Qixuan begitu lekat. Tapi ternyata pria ini tidak menyerah untuk kembali bertanya, "Aku mengerti. Namun, kenapa Qixuan tidak bisa mencintai suami Qixuan?"
Menggeram. Xiu Qixuan merasa ingin marah tapi juga ingin tertawa, dia tidak bisa menahan diri untuk menusuk pipi Shen Yuan Zi dengan jari-jarinya.
Hangat, dia pasti manusia.
"Kamu berkata seolah-olah aku saat ini sudah memiliki suami, tahu!" Terkekeh kecil. Kemudian Xiu Qixuan menjawab pertanyaan Shen Yuan Zi dengan begitu santai mengedikkan bahunya, "Tidak ada alasan. Mungkin karena orang terakhir yang aku kencani itu tidak berjalan baik. Kami, um, agak saling mematahkan hati. Dan, aku tidak bisa langsung mencintai orang lain begitu saja, 'kan."
Setelah mengatakan itu, Xiu Qixuan beranjak dari duduknya. "Aku akan kembali sekarang. Terimakasih karena sudah menyambutku di tempatmu." Dia perlahan melangkah untuk pergi, kakinya berhenti di ambang pintu ketika kembali menoleh menatap Shen Yuan Zi untuk berkata. "Permen untukmu akan di antar besok. Habiskan dan makanlah tanpa takut tidak memilikinya lagi. Aku pergi!" Lanjutnya melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu.
Xiu Qixuan tidak mengetahui bahwa ucapannya sangat mempengaruhi Shen Yuan Zi. Wajah menunduk yang disembunyikan pria itu memburuk oleh kemuraman yang terkulai serius. Shen Yuan Zi mengingatnya, Shen Yuan Zi mengingat orang yang dimaksud oleh Xiu Qixuan, pria selatan yang merupakan kekasih gadis itu, pria yang sangat dicintai gadis itu—dulu. Dan..., mungkin hingga saat ini.
Dia mengingat karena dia berperan aktif dalam kerusakan yang diderita oleh mereka. Tapi, Shen Yuan Zi yang sebagai manusia tidak sedikitpun merasa menyesal telah melakukan banyak kerusakan tersebut, dia malah sangat berterimakasih sekarang pada Mozi yang saat itu melakukannya. Kejam? tentu tidak, dia hanya ingin menarik Xiu Qixuan masuk kedalam hidupnya, entah itu secara baik-baik atau penuh obsesi buruk.
••••••••••••••••
A/N:
Santai dlu lah bab ini sebelum semakin yang berat-berat besok.