Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Luka dipunggungmu



Guratan wajah kelelahan terlihat jelas diwajah gadis cantik yang sedang mengendarai kuda.


Xiu Qixuan menghela napas panjang dan menggerutu karena bokongnya kebas dan pegal terduduk diatas kuda berjam-jam lamanya. Dia juga sangat kelelahan mencoba memulihkan tubuhnya dengan aura kehidupan tetapi tidak kunjung berhasil karena energinya tidak cukup.


Mengangkat salah satu lengannya yang biasanya terbandol Gelang Giok Biru gadis itu terbelalak kaget ketika tidak menemukan benda penting tersebut dilengannya. Dia tidak tahu bahwa gelang itu lepas karena genggaman Xiu Jierui padanya saat terjatuh dari atas benteng pertahanan timur.


"Dimana gelangku?" Gumamnya sedikit panik. Laju kudanya terhenti membuat Sima Junke dan Aisin Tianyi menoleh untuk melihatnya.


"Cepat! Begitu lambat," Teriak Sima Junke dengan tajam.


"Ada apa? Kau kelelahan?" Tanya Aisin Tianyi dengan bersahabat, sangat berbanding terbalik dengan Sima Junke.


Xiu Qixuan berusaha agar tetap terlihat tenang, dia akan memikirkan tempat dimana menjatuhkan gelang giok itu dilain waktu.


Gadis itu menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Aisin Tianyi. Kemudian dia melajukan kudanya kembali dan memposisikan agar bersisihan dengan mereka.


Sepanjang perjalanan Xiu Qixuan berusaha mengingat detail setiap kejadian yang menimpanya untuk menemukan letak keberadaan gelang giok miliknya dan terlintas adegan dimana dirinya jatuh diatas benteng pertahanan timur, gelang giok tersebut berada ditangan Xiu Jierui. Semoga kakak pertamanya itu membantu menyimpan gelang tersebut.


Kemudian Xiu Qixuan juga memikirkan rencana untuk kabur dan kembali ke Kota Ping'an. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang membuatnya dilema.


Xiu Qixuan buta arah dan dirinya tidak memiliki cukup uang untuk bertahan hidup diperjalanan. dia tidak ingin setelah kabur dari mereka—dirinya kelaparan dan menjadi tunawisma. Xiu Qixuan yakin bahwa cepat atau lambat dirinya juga akan kembali ke Kota Ping'an apapun cara yang membuatnya kembali.


Rencananya kali ini adalah mengumpulkan atau juga bisa dibilang mencuri uang dan harta berharga milik Sima Junke ataupun Aisin Tianyi. Sesudah memiliki semua itu—kemanapun dia pergi tetap mudah dijalani karena dirinya memiliki uang untuk menopang hidup.


Dimanapun dunianya, uang juga tetap penting untuk menyokong kehidupan!


"Aku ini sangat realistis! Anggap saja ini liburan," Gumam Xiu Qixuan mengguatkan tekadnya untuk mengikuti mereka sampai ke Ibukota Nanjing.


Xiu Qixuan tidak akan gegabah untuk melarikan diri karena dia sering melihat adegan drama dimana pemeran utama melarikan diri dengan sangat tergesa-gesa yang membuat timbul masalah baru.


Lagipula mengikuti Sima Junke dan Aisin Tianyi tidak begitu buruk, karena siapa yang berani menindas dan membuatnya kesulitan?


******


Rombongan mereka sedang beristirahat dialiran sungai kecil yang diapit tebing-tebing tinggi bebatuan.



Mendudukan dirinya diatas batu besar dan memasukan kedua kakinya kedalam air dialiran sungai kecil tersebut, Xiu Qixuan menikmati terpaan air yang menyentuh kedua kakinya.


Sementara itu para Pasukan Nanbao sedang beristirahat dan memakan-makanan mereka. Posisi Xiu Qixuan saat ini cukup jauh dari mereka.


Xiu Qixuan tidak berselera memakan makanan dingin tersebut, sangat pemilih! Tetapi memangnya kenapa, sebelumnya Xiu Qixuan sudah mengantongi makanan dari tenda megah milik Aisin Tianyi secara diam-diam.


Setelah beberapa saat, waktu istirahat mereka dengan cepat berlalu dan rombongan itu bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Sima Junke dan Aisin Tianyi sudah berada diatas kuda mereka masing-masing. Kedua pria itu mengedarkan pandangan saat tidak menemukan Xiu Qixuan.


"Dimana gadis itu?" Tanya Aisin Tianyi


"Tidak tahu. Aku akan mencarinya," Jawab Sima Junke bergegas turun kembali dari atas kuda miliknya.


Sima Junke melangkah cepat mencari Xiu Qixuan sang pembuat onar. Padahalkan Xiu Qixuan tidak bermaksud membuat onar.


Pria itu melihat punggung kecil milik Xiu Qixuan diatas batu besar. Dirinya dengan cepat berjalan menghampiri gadis cantik tersebut dari arah belakang.


Tepat saat dirinya selangkah lebih dekat dengan Xiu Qixuan, dia dapat melihat bercak darah yang merembes keluar dari balik punggung Xiu Qixuan yang sebelumnya terluka karena goresan panah.


Gadis didepannya ini belum berganti pakaian sejak mereka bertemu dipertahanan timur dan pakaian yang dikenakan gadis ini sudah rusak, tetapi anehnya Xiu Qixuan tidak mengeluhkan apapun selain makanan.


Sebelumnya Kangjian hanya mengobati Xiu Qixuan dengan cara memberi obat tabur diluka tersebut tetapi tidak membalut ataupun membersihkan dengan membuka pakaian Xiu Qixuan dikarenakan Xiu Qixuan adalah seorang gadis—lagipula Sima Junke tidak memperintahkannya.


Energi dalam tubuh Xiu Qixuan tidak cukup untuk mengeluarkan Aura Kehidupan agar menyembuhkannya. Gadis itu harus mengumpulkan dan memulihkan energinya kembali untuk dapat mengeluarkan Aura Kehidupan.


Luka dipunggung Xiu Qixuan masih terbuka dan darah kembali mengalir karena guncangan disepanjang perjalanan. tetapi gadis itu tidak mengeluh kesakitan sedikitpun— seakan dirinya memang sangat sehat dan kuat.


Sima Junke mengerutkan kening karena tidak suka melihat seseorang yang kesakitan berpura-pura agar terlihat baik, itu mengingatkannya kepada mendiang sang ibunda.


Memajukan langkahnya dan kemudian berdiri tepat didepan Xiu Qixuan. Dia memasang wajah angkuh dan berucap, "Gadis bodoh, kuberitahu padamu. Sia-sia saja mencoba mencari perhatian dengan luka dipunggungmu itu,"


Tetapi tidak ada jawaban dari Xiu Qixuan yang membuat Sima Junke menundukan wajahnya untuk melihat Xiu Qixuan.



Dengan tangan menopang sebelah wajah Xiu Qixuan jatuh tertidur karena kelelahan, dibantu terpaan angin segar disore hari membuatnya mengantuk.


Beberapa saat Sima Junke terkesima melihat wajah polos Xiu Qixuan. Mengerjapkan kedua matanya saat kesadarannya pulih, Sima Junke melepaskan jubah panjangnya dan menyampirkan ditubuh Xiu Qixuan kemudian mengendong gadis itu menuju rombongan pasukan Nanbao. Xiu Qixuan tidak terusik dari tidurnya —gadis itu hanya menggeliat sebelum kembali tertidur.


******


Jubah panjang milik Sima Junke masih tersampir didekatnya, Xiu Qixuan tidak lagi perlu bertanya siapa yang membawanya kembali.


Sepertinya sudah malam hari yang membuat rombongan pasukan Nanbao memilih mendirikan perkemahan kecil untuk beristirahat.


Xiu Qixuan membuka lapisan pakaian luarnya karena tubuhnya basah oleh keringat yang terus mengalir. dia melakukan perjalanan mengendari kuda berjam-jam dimusim panas, itu adalah suatu keberuntungan atau kesialan?


Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat mangkuk berisi obat yang mengepul matang.


Sima Junke terkejut melihat Xiu Qixuan sudah terbangun, padahal sebelumnya gadis ini sangat sulit untuk dibangunkan.


Berusaha tetap terlihat tenang padahal jauh di alam bawah sadarnya—Sima Junke sangat gugup melihat Xiu Qixuan yang terus memperhatikan setiap gerak-geriknya ketika memasuki tenda yang memang adalah miliknya, apalagi Xiu Qixuan berpakaian seperti itu. Sima Junke pria dewasa yang pemalu!


"Minum," Ucap Sima Junke menyodorkan nampan yang dia bawa kepada Xiu Qixuan, wajah pria itu terlihat sangat datar karena berusaha mengendalikan dirinya.


Xiu Qixuan menaikan sudut alisnya memandang Sima Junke dengan ekspresi bertanya.


"Ada apa dengan pria ini? Sangat mencurigakan tiba-tiba menjadi perhatian dan baik," Gumam Xiu Qixuan dalam hati


"Itu obat bukan racun," Ucap Sima Junke memberitahu, pria itu sepertinya salah paham mengira Xiu Qixuan ragu untuk meminum karena mengira dirinya menaruh racun.


"Aku tidak sakit," Jawab Xiu Qixuan tetapi gadis itu tetap menghargai dengan menegak obat dimangkuk tersebut.


Sima Junke hanya diam melihat tingkah Xiu Qixuan yang langsung menegak abis obat tersebut, bertanya-tanya apakah obat itu tidak cukup pahit? atau Xiu Qixuan yang mati rasa? Biasanya banyak orang yang mengeluh akan disuruh meminum obat karena rasanya yang pahit.


"Air," Ucap Xiu Qixuan kedua bola mata gadis itu terlihat berkaca-kaca menahan pahit.


Dengan cepat Sima Junke menuangkan teh dan memberikan kepada Xiu Qixuan.


"Berdasarkan penampilanmu seharusnya obat itu tidak cukup pahit," Ledek Sima Junke melihat Xiu Qixuan yang menjulurkan lidah karena merasakan obat yang sangat pahit tersebut.


"Humph, untuk apa obat itu? Aku tidak sakit," Tanya Xiu Qixuan mendengus sebal.


"Luka dipunggungmu," Jawab Sima Junke dengan singkat.


"Aiyaa, benar. Luka ini belum dapatku sembuhkan," Gumam Xiu Qixuan, dengan gerak reflek gadis itu membuka kembali lapisan kedua pakaiannya memperlihatkan goresan luka panjang itu kepada Sima Junke yang terdiam membeku.


"Bisakah kau membantuku? Tolong oleskan obat ini diluka-ku," Ucap Xiu Qixuan menyodorkan obat untuk luka luar yang selalu dia bawa kepada Sima Junke.


Sebagai gadis biasa dari dunia modern—saat di Daratan Ca Li—Xiu Qixuan memang terlihat sangat terbuka, lagipula menurutnya tindakan ini masih sesuai karena dia masih memakai pakaian yang cukup layak dan tertutup.


"Kenapa diam saja? Bisa tidak? Kalau tidak—aku akan meminta Kangjian untuk melakukannya," Ucap Xiu Qixuan sekali lagi karena melihat Sima Junke yang terdiam membeku.


"Oh kau malu, ya?" Ledek Xiu Qixuan dengan terkikik melihat wajah Sima Junke yang memerah malu.


Sima Junke berdeham pelan mengambil obat tersebut dari tangan Xiu Qixuan dan kemudian menjawab, "Tidak,"


Pria itu mengoleskan obat tersebut ke punggung Xiu Qixuan dengan perlahan agar tidak menyakiti gadis didepannya. Guratan wajah pria itu terlihat sangat tegang seolah sedang mendapatkan ujian yang berat.



"Siapa namamu?" Tanya Sima Junke dengan penasaran karena dia belum tahu nama gadis didepannya.


"Xiu Qixuan," Jawab Xiu Qixuan dengan cepat.


"Nama yang bagus," Gumam Sima Junke secara spontan.


"Tetapi itu bukan nama asliku," Gumam Xiu Qixuan sangat pelan dengan menghela napas panjang.


"Kau berbicara apa?" Tanya Sima Junke tidak mendengar ucapan yang sebelumnya dilontarkan Xiu Qixuan.


Xiu Qixuan membalikan tubuhnya dan menatap Sima Junke. Kemudian berucap, "Ternyata kau dapat memuji. Sebelumnya kau sangat pemarah," dengan senyum manis yang terpampang diwajahnya.


"Sudah selesai, kau dapat beristirahat disini. Aku akan keluar," Ucap Sima Junke dengan cepat berlari keluar karena takut tidak dapat mengendalikan dirinya dari pesona Xiu Qixuan.


"Tidak tahan dengan senyumanku yang penuh pesona," Kekeh Xiu Qixuan melihat punggung Sima Junke yang menghilang dari balik tirai penutup tenda.


•••••••••••


Sabar bang junke memang ini adalah ujian yang berat menahan hawa napsu wkwkwk🤣


Kaga ada perempuan diperkemahan militer, mba Xuan'er kaga tau harus minta bantuan kesiapa, mumpung Bang Junke membahas masalah luka dipunggungnya sekalian ajaa lah BABLAS minta diobatin haha.


Bang Junke sangar tapi hatinya hangat, gatega cuy dia. harusnya kalau author yang ada disitu sih lebih baik ceburin aja Xuan ke sungai pasti langsung bangun, kan? secara udah ngerobohin tenda yang ada barang2 mahalnya.