Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Shen Yuan Zi : Benda Rusak Yang Tak Punya Tujuan Hidup



Bangunan istana yang tidak terlihat seperti istana. Bagian atap yang rusak dengan setengah bagian dinding yang mengelupas, ini tidak bisa menahan deru angin ataupun tetesan air dari luar. Udara di dalam begitu lembab dengan kotoran hama yang berserakan. Ini adalah istana dingin yang terkenal.


Ditempat seperti inilah, Pangeran Ketiga dari Shen di penjara selama dua puluh tiga tahun masa hidupnya.


Suara langkah kaki memasuki ruangan tidak layak huni tersebut. Beberapa kali dalam seminggu para pelayan akan mengantarkan makanan sisa yang bahkan anjing pun tidak akan suka untuk memakannya.


Baru saja Ban Xia menginjakkan kakinya ke dalam ruangan. Dia langsung mendengarkan keluhan.


"Buang itu! Dan, cepat bersihkan tempat menjijikan ini!"


Jari-jari Ban Xia yang memegang mangkuk keramik dengan banyak retakan itu sedikit melonggar. Dia juga tidak tahan dengan bau sayuran basi yang berada di dalam mangkuk tersebut.


Penampilan Ban Xia terlihat berbeda. Dia mengenakan pakaian kotor dan kumal sebagai budak yang mengerjakan pekerjaan kasar apa pun di istana.


Mengantar makanan untuk pangeran ketiga mungkin termasuk pekerjaan kasar yang dapat digantikan oleh budak.


Menuruti perintah. Selama beberapa saat kemudian, Ban Xia sibuk membersihkan ruangan yang kotor dan bau tersebut.


"Ban Xia...!" Terdengar suara bosan yang memanggil.


"Ya, ketua...?" Ban Xia menoleh dan berkata.


Tanpa sadar Ban Xia menunduk ketika tidak sengaja menatap mata acuh tak acuh yang seolah melihat hal tidak penting. Itu adalah mata seseorang yang memegang hak atas hidup dan mati ditangan mereka sendiri.


Jari-jari tangan Mozi bergerak membentuk isyarat perintah untuknya mendekat.


"Kemari! Aku ingin membicarakan tugasmu!"


Kedua kaki Ban Xia segera memutar dan melangkah. Dia berlutut untuk menerima perintah.


"Aku akan tidur dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menekan sekaligus mengumpulkan kekuatan aura iblis." Terselip ketajaman dalam nada bicaranya yang arogan. "Selama itu, kau awasi sih bodoh Yuan Zi, jangan sampai dia membuat masalah dan mengacau." Dia melanjutkan, "Dan, untuk mencapai tujuan, kita akan mendekat dan mengikuti arus yang diciptakan oleh gadis Xiu itu kedepannya." Dia menyeringai antusias seperti seorang maniak.


Dia licin dan licik. Dia bertindak seolah semua hal yang dia kendalikan sedang bermain di telapak tangan.


Mozi menurunkan pandangan, wajahnya menjadi datar ketika dia berbicara dingin; "Gadis itu terlalu pintar untuk tempat terkutuk ini. Dia akan membawa kita ke tempat belati yang telah disembunyikan oleh Shen Zhenning berada. Dan, sampai saat itu tiba, aku akan tertidur agar dia tidak menyadari kekuatan aura iblisku."


Ban Xia berkata dengan nada sedikit mengendur; "Maksud anda.., anda meminta saya untuk berimprovisasi dengan pangeran ketiga, Shen Yuan Zi, untuk menarik Nona tersebut dekat dengan pihak kita."


Mata bagaikan bara itu mengeluarkan rasa bengis yang tak berkesudahan ketika ia berkata: "Ya, aku yakin. Sih bodoh itu akan melakukannya dengan senang hati." Dia melanjutkan, "Kadang kita bosan memainkan peran yang sama. Jadi, biarkan badut memainkan perannya dengan sempurna." nadanya terdengar seperti dia dipenuhi perasaan jijik dan hina untuk Shen Yuan Zi.


Ban Xia hanya bisa menahan napas dan sedikit bergetar, dia terlihat sangat tertekan karena harus menangani secara bergantian dua majikan yang berbeda dalam satu tubuh yang sama.


"Bagaimana jika Pangeran tidak bisa berkontribusi dalam rencana? karena pangeran sendiri memiliki sifat yang begitu lunak." Ban Xia berkata serius dengan matanya yang tanpa goyah.


Mozi memicingkan matanya, dia tertawa dingin. Jari-jarinya mengetuk pegangan kursi, dan berbicara sedikit rendah; "Kau bisa katakan ini...."


Tubuh Ban Xia bergetar ketika mendengar lanjutan dari kalimat tersebut yang menekan kejam. Pangeran ketiga sungguh malang!


"Sudah waktunya, ingatlah semua perkataanku, Ban Xia! Sampai jumpa lagi dengan memegang belati!" Mozi berkata brutal kemudian segera berjalan menuju ranjang lapuk, dia perlahan berbaring dengan memejamkan matanya. Dan,


Patsss...


Sebuah cahaya kemerahan api yang begitu gelap seketika muncul memenuhi ruangan, ini begitu panas seperti jatuh dari neraka terdalam, di antara alis yang menukik tajam tersebut—sebuah simbol bara api terlihat seperti serpihan kristal yang keluar dari dalam kulit.


Rambut peraknya bersinar dalam kegelapan yang menakutkan. Cahaya bulan dalam garis miring menerangi tubuhnya secara tidak realistis.



Itu benar-benar pandangan mata yang berbeda dari bara yang sebelumnya. Mata hitam yang terkulai datar tanpa harapan apa pun. Dia hanya terdiam merenung tanpa memiliki semangat. Dia benar-benar orang berbeda dari Mozi yang sangat brutal sebelumnya.


Ban Xia sedikit tertegun. Sebelum dia memasang senyum sopan dan dengan hormat berkata; "Selamat datang, Pangeran!"


Mendengarkan kalimatnya, Shen Yuan Zi tiba-tiba berbicara tanpa emosi.


"Dimana nerakanya?"


Sunyi. Ban Xia sekali lagi hanya bisa menahan napas. Dia lebih kebingungan menghadapi pertanyaan yang penuh keputusasaan dari Shen Yuan Zi.


"Kami belum bisa membuka gerbangnya sekarang. Ada yang harus anda lakukan untuk itu." Ban Xia menjawab dengan tenang. "Ah, anda pasti kedinginan. Sebentar!" Ban Xia segera beranjak kemudian membuka kotak persedian yang berdebu. Dia mengambil selimut tipis untuk Shen Yuan Zi.


Bibir Shen Yuan Zi bergerak samar, tanpa menatap dia berkata: "Tidak perlu!"


Wajahnya tampak menyimpan begitu banyak kesedihan. Terlihat ketidakberdayaan yang pasrah darinya untuk tetap hidup. Pemandangan seperti ini membuat hati siapa pun yang melihatnya ikut merasa sakit.



Shen Yuan Zi memang begitu manusiawi. Tapi, pria ini seperti benda rusak yang tak punya tujuan hidup. Lihat saja, pertanyaan pertama yang di utarkannya adalah letak keberadaan neraka, seolah-olah dia ingin menceburkan dirinya hidup-hidup di dalam kobaran api. Mungkin dia hanya ingin mati tapi tidak bisa.


•••••••••••••••


Tiga Hari Kemudian...


"Hei, tunggu dulu!" Xiu Qixuan berlari dengan kepayahan mengangkat roknya. "Su Yiyang! kau gila, ya?! kita ini sedang bolos kelas, tapi, malah berkeliaran begini. Ayo, pergi berbelanja saja!" ujarnya.


Dengan meminjam pakaian dan mengorbankan pelayan pendamping masing-masing yang menggantikan mereka untuk mengikuti kelas. Su Yiyang yang berbakat dalam bertindak dengan cara tak wajar malah berkeliling istana dan mengobrol dengan beberapa pelayan istana tanpa takut ataupun canggung.


"Qixuan, kamu yang akan membuat kita ketahuan jika terus berisik seperti ini!" Su Yiyang berkata dengan tak acuh menanggapi.


Mereka berjalan menyusuri danau jernih yang terbentang luas di belakang sudut istana bagian dalam, ini dekat dan satu aliran dengan bukit yang ditinggali oleh pangeran pertama, Shen Minwei. Tempat ini begitu sunyi dengan hanya memiliki beberapa penjagaan.


"Kau ini gegabah sekali! Bagaimana jika tertangkap? Reputasi kita akan rusak." Xiu Qixuan berkata dengan geram.


Menoleh. Su Yiyang cekikan dengan menautkan alis. "Itu aneh. Qixuan, kamu tidak bisa memikirkan reputasi kalau kamu ingin gagal dalam kompetisi." ujarnya.


Tertegun. Xiu Qixuan membenarkan ucapannya. "Ya, kau benar. Tapi, kompetisi saja belum dimulai. Gara-gara ajakan siapa, aku jadi membuat ulah sekarang?!" dengusnya.


Su Yiyang tertawa. "Kalau begitu sebagai imbalan, aku menggantinya dengan informasi." Dia kemudian mencondongkan tubuh untuk berbisik. "Posisi putri mahkota akan segera kosong. Permaisuri akan memilih salah satu dari kandidat permaisuri pangeran. Saat ini mereka sedang menunggu kesalahan yang di buat oleh Rui Minglan untuk dijadikan alasan mencabut gelarnya."


Xiu Qixuan sudah dapat menebak itu. Tapi, ia terkagum dengan bakat Su Yiyang yang dapat membuat orang tanpa sadar akan berbicara banyak padanya.


Tiba-tiba deru angin membawa suara langkah kaki. Xiu Qixuan buru-buru menarik tangan Su Yiyang untuk berjalan memutar.


Srekk...


Tapi dia berhenti. Dari kejauhan, matahari siang hari begitu berkilau menerpa sosok keindahan yang datang secara tak terduga.


"Wah...!" Suara kagum Su Yiyang dapat terdengar di samping telinga.


Xiu Qixuan ikut mengerjap.


••••••••••••••••


N/T: Makasih guys atas pengertiannya. Satu dlu, ini jg butuh effort ngetiknya karena bagian shen yuan zi yang like an angel pertama kali nonggol.