Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Saya Percaya



Sebelumnya...


'Uhukk..Uhukk..' Dalam kepulan asap dengan napas yang sesak mereka terbatuk nyaring membuat kabut perih di sekitar kedua bola mata yang perlahan-lahan mengalirkan air.


"Kekuatan sihir?!" Suara gumaman dengan napas hangatnya yang menggelitik tengkuk perlahan terdengar suram memasuki indra pendengaran Xiu Qixuan.


Wajah gadis itu menjadi kusam dan memerah karena pukulan kekuatan aura iblis tersebut.


"Tepatnya kekuatan aura iblis." Geram Xiu Qixuan dengan pancaran teguh yang meyakinkan seolah-olah dia memang sangat mengenali ini.


Xia Qian Che mengernyitkan dahinya, kepulan asap hitam yang masih membumbung tinggi membuat pandangan mereka terhalau buram. "Aura Iblis?" Tanyanya dengan kebingungan.


"Yang Mulia, saat ini saya tidak memiliki waktu untuk menjelaskan." Suaranya datar dengan mata yang menatap lurus menyiratkan bahwa dia sedang serius untuk berpikir.


"Kau benar. Apa yang sekarang ingin kau lakukan untuk menanganinya?" Tanya Xia Qian Che dengan pandangan dalam yang serius seolah mengatakan bahwa 'Jangan lupa, zhen ada disini.'


Xiu Qixuan tertegun sejenak, seperti mendapatkan setitik pencerahan juga keyakinan. "Yang Mulia, orang itu tidak mudah untuk disentuh oleh goresan pedang." Gumamnya pelan dengan masih tertunduk menelisik kedalam.


Angin berhembus ketika kecantikan halus itu mengangkat wajahnya yang memerah seperti buah plum yang berair ditengah musim semi. "Jadi, Yang Mulia..." Senyumannya masih begitu menyenangkan untuk dilihat dalam kondisi terburuk sekalipun


"Anda harus menjadi transparan dan menunggu kesempatan selagi saya menjadi fokus serangan." Hanya butuh sepenggal kalimat penuh otoritas untuk di patuhi. Xiu Qixuan begitu percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki tetapi dia juga tidak akan menolak uluran tangan.


Disisi lain, ia juga memperingatkan Xia Qian Che untuk tidak melangkah lebih jauh karena ini adalah urusan pribadi dengan orang yang menargetkannya.


Butir kelereng hitam yang berkilau indah tersebut menatap bingung kewajah kaku Xia Qian Che yang terdiam membeku.


Gadis itu tidak menyadari bahwa jarak mereka begitu dekat dengan lengan kokoh yang membungkus erat pinggangnya.


Kepulan asap yang perlahan memudar tertiup hembusan angin, membuat Xiu Qixuan segera menolehkan wajah untuk menatap lurus kearah depan.


"Yang Mulia, saya percaya." Suara bisikan lembut itu terbang menelisik masuk kedalam relung hati. Xiu Qixuan tidak mengetahui bahwa dia baru saja menggali lubang sumur yang sudah tertimbun. Hanya butuh satu kalimat bermakna penting untuk membangkitkan memori manusia.


••••••••••••••••


Kedalaman Hutan Timur, Kekaisaran Xia Utara.


Tanah bebatuan yang terselimuti lapisan salju membuat jalan setapak menjadi sangat licin. Hembusan napas panjang itu mengeluarkan kabut membeku samar yang menggantung diudara dan perlahan tertiup semilir angin malam.


"Lamban sekali..." Cibiran milik keangkuhan itu membuat kekesalan membuncah dari gadis yang sedang berjalan dengan langkah terseret.


"Humph, Yang Mulia bermurah hatilah dengan yang rendah ini." Dengus Xiu Qixuan dengan memandang tajam seolah ingin menusuk punggung kokoh yang berjalan didepannya.


"Lagipula semua yang saya kenakan tidak semegah milik Anda yang mampu menahan udara dingin dan gelinciran es." Lanjut Xiu Qixuan dengan geraman kekesalan.


Setelah melewati krisis juga kematian yang ditorehkan sang iblis, penampilan Xiu Qixuan begitu berantakan dengan debu yang menempel diseluruh tubuh dan wajahnya. Hal yang membuat gadis itu jengkel nan iri adalah penampilan berantakan Xia Qian Che tetap mengeluarkan pancaran megah seolah dia memang dilahirkan untuk melekat dengan kemewahan.


Dilihat dari jubah berbulu dengan sepatu kulit yang kuat mampu menahan gelinciran es yang licin dan menghalau udara dingin. Semuanya terlihat lebih di sederhanakan dari yang dikenakannya dalam Istana tetapi tetap saja tidak ada yang dapat menandingi pancaran seorang penguasa.


"Kalau kamu ingin, zhen dapat memberikannya. Memintalah dengan lebih baik." Ucap Xia Qian Che dengan arogan.


"Terimakasih, Yang Mulia. Tetapi saya tidak memerlukannya." Delik Xiu Qixuan dengan tajam.


'Dug.. Auws..' Langkah Xiu Qixuan terhenti ketika dahinya membentur sesuatu dan ia mengeluarkan ringisan kaget.


Xia Qian Che memberhentikan langkahnya secara mendadak membuat Xiu Qixuan yang berada dibelakangnya membenturkan dahi keras ke punggung yang sekuat perisai besi tersebut.


"Yang Mulia, mengapa berhenti?" Tanya Xiu Qixuan kebingungan ketika melihat Xia Qian Che yang terdiam mengangkat wajah keatas untuk menatap langit.


Angin semakin berhembus kencang meniup ranting pepohonan yang berderak. 'Plop..plop..' Perlahan-lahan salju tebal berkibar turun dengan cepat menyelimuti daratan.


"Ah, turun salju!" Sentak Xiu Qixuan dengan keras. Dia terburu-buru menelisik kesekitar untuk mencari tempat untuk berteduh karena derasnya hujan salju yang begitu tebal membanjiri permukaan.


'Greb...' Xia Qian Che meraih lengan Xiu Qixuan kemudian menariknya dengan lembut. "Ikuti zhen!" Ucapnya tanpa menolehkan wajah sedikitpun, ia bergegas membawa gadis itu kesuatu tempat teraman dalam hutan timur.


Tidak terdapat kuda sebagai kendaraan membuat perjalanan mereka membutuhkan waktu lebih lama. Menggunakan ilmu peringan tubuh juga akan terlihat seperti bunuh diri jika di tengah guyuran salju tebal.


••••••••••


Ditemani hanya secercah cahaya dari kayu yang bernyalakan api dalam kegelapan goa kecil, udara terasa sedikit lebih membaik untuk menghangatkan tubuh.


"Apakah ada yang terasa tidak nyaman?" Sebuah suara berat nan dalam yang dengan perhatian menanyakan keadaannya.


Wajah cantik yang tenggelam diantara celah kedua kakinya yang terlipat itu perlahan terangkat, "Tidak." Jawabnya singkat. Setelah mengatakan satu kata tersebut dia kembali jatuh termenung dengan menatap bara api yang menyala kecil.


Pikirannya melayang jauh ketika tepat di detik terakhir krisis kematian menghampiri dan cahaya keemasan segera menyelimuti tubuh untuk meloloskan diri membawa mereka kedalam hutan timur. Tidak tahu darimana kekuatan ajaib itu berasal, sepulang nanti Xiu Qixuan perlu bertanya kepada dua hewan surgawi.


"Anda bertanya pada zhen? Giliran zhen yang harus bertanya pada siapa?" Pada saat Xiu Qixuan menanyakan bagaimana cara mereka tiba-tiba datang kemari kepada Xia Qian Che, itulah jawaban skeptis darinya yang menyebalkan. Sungguh tidak berguna!


Walaupun begitu, Xia Qian Che tidak pernah memaksanya untuk menjelaskan sesuatu. Padahal Xiu Qixuan mengetahui dengan jelas bahwa pria itu sedang menahan buncahan rasa penasaran. Padahal tidak apa jika pria itu ingin bersikap arogan untuk berusaha menekannya dengan kekuasaan dibandingkan hanya diam dan membuatnya canggung.


'Tuk..' Xia Qian Che menjentikkan jarinya di kening gadis yang sedang berpikir keras itu untuk menyadarkannya.


"Lihatlah kerutanmu ini, bertambah banyak ketika berpikir." Cibir Xia Qian Che dengan meledek geli berusaha mencairkan suasana yang membeku diudara.


"Para Menteri akan mati karena terkejut mengetahui Kaisar mereka masih memiliki selera humor." Balas Xiu Qixuan dengan meliriknya sekilas penuh ketidakacuhan. Huh, saat ini dia hanya ingin berdiam diri karena tubuhnya begitu pegal seperti dipukuli sepuluh ribu prajurit. Begitu melelahkan!


Teringat sesuatu hal yang membuatnya gelisah, tubuh Xiu Qixuan tersentak dan sedikit bergetar. "Apakah Pangeran Mahkota dan Tuan Puteri sudah kembali ke Istana? Apakah mereka akan baik-baik saja? Maksud saya, Ibl—," Terjeda ia.


"Mereka akan baik-baik saja. Iblis itu tidak akan berani!" Sentak Xia Qian Che dengan tangan yang mengepal dan gigi yang menggertak menyembunyikan kemarahan juga kecemasan.


Helaan napas panjang terdengar ketika Xiu Qixuan tersenyum tipis untuk menjawab pelan nyaris berbisik, "Ya, itu akan baik-baik saja. Lagipula, dia sudah terluka parah dan memerlukan waktu untuk pulih." Jelas bahwa ia merujuk pada Mozi yang terluka olehnya.


Xiu Qixuan menolehkan wajah untuk bertanya sesuatu yang mengganjal, "Yang Mulia, Apakah Anda begitu tidak mempercayai saya?"


Xia Qian Che tertegun, tidak mengerti. "Apa maksudmu?!" Sentaknya penuh ketidaksukaan merasa disalah pahami.


Xiu Qixuan kembali mengalihkan pandangan kedepan untuk menatap bara api yang menyala. "Tidak pernah sedikitpun terpikir oleh saya untuk melukai mereka, dan bersumpah demi langit tidak akan pernah melakukan hal mengerikan tersebut. Jadi, Anda dapat tenang Yang Mulia!" Suaranya yang jernih mengalir dalam penuh tekanan keteguhan.


"Aku tahu." Bisik Xia Qian Che dengan begitu pelan. Dia melepaskan bentuk panggilan formal yang penuh kehormatan miliknya itu.


Mendengar perkataan tersebut membuat Xiu Qixuan memiringkan wajahnya yang mengerut penuh keheranan, "Apa?"


"Aku tahu—, Aku tahu bahwa kamu tidak akan menyakiti kedua anakku." Ulangnya dengan lugas.


"Lantas mengapa kamu menyusul kami ke pusat Ibukota? Bukankah itu berarti mengisyaratkan bahwa kamu tidak mempercayaiku?" Tanya Xiu Qixuan tanpa keraguan dan tanpa formalitas.


"Aku berada disana untuk urusan bisnis yang dirahasiakan." Jawab Xia Qian Che dengan singkat.


Xiu Qixuan terlihat tidak puas dengan jawab tersebut. Ketika gadis itu ingin mengaitkan bibirnya lagi untuk bertanya, suara Xia Qian Che sudah mengalir lebih dulu.


"Aku berada di dalam salah satu kedai toko dan tidak sengaja melihatmu melintas dengan membawa Shu'er dan Xiao Wen. Menyuruh orang untuk mengawasi. Dan ketika kamu terpisah, entah mengapa tubuhku seperti bergerak dengan sendirinya membawaku untuk mencari." Suaranya yang memberat itu terasa menahan suatu kebingungan yang begitu gundah.


Berarti sejak awal Xia Qian Che tidak berada di Istana, dia memakai pakaian seperti ini untuk menyamar sebagai Tuan Muda dari kalangan bangsawan dan ia sedang melakukan penyelidikan rahasia.


Xiu Qixuan hanya terfokus pada detail penting yang membuatnya menyembunyikan senyuman penuh arti. Dia ingin membicarakan jalinan kerjasama yang terbentuk diantara mereka, tetapi, sepertinya saat ini ia tidak memiliki tenaga tersisa untuk membahas hal-hal berat.


Tangan Xiu Qixuan terangkat untuk menggosok hidungnya yang berair perih dan memerah seiring kepalanya yang sedikit memberat. 'Hachim...' Suara bersin yang tertahan itupun berakhir terdengar nyaring.


Ah, sepertinya serangan demam dari angin dingin. Mengapa terjadi diwaktu yang tidak tepat?


•••••••••••