Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Bentangan Luas Ilalang Hijau!



Suara tapak kaki yang samar bergema tenang. Keempat gadis itu berjalan untuk kembali ke kamar melewati kegelapan menuju pintu samping Istana Dengshuo. Patroli penjaga pada saat ini sedikit melonggar di karenakan jam pergantian shift tugas. Tidak ada yang membuka mulut untuk berbicara sejak mereka memutuskan untuk kembali. Ini membuat kesunyian di sekitar semakin jelas terasa.


Tiba-tiba bibir Xiu Qixuan terangkat bergerak, menyuarakan sesuatu. "Anran! Maiqiu!" Ia memanggil, "... Aku tidak tahu apa yang terjadi saat kalian berhadapan dengan Pangeran Pertama. Namun sebagai seseorang yang bisa saling memanggil dengan menyebutkan nama, kita sudah terbilang dekat. Dan aku harap kalian lebih berhati-hati untuk tidak menyinggung siapapun." Ujarnya mengingatkan dengan perhatian.


Yao Anran berhenti berjalan. Dia memandang Xiu Qixuan dengan tatapan dalam. "Kau tidak perlu khawatir. Kami lebih paham mengenai semua aturan untuk tak menyinggung pihak siapa pun." Entah ini sindiran atau bukan, yang jelas Yao Anran mengatakannya untuk membalas Xiu Qixuan.


Tidak ada raut marah yang tampak sedikit pun dari wajah cantik Xiu Qixuan, itu sebaliknya kala dia hanya tersenyum tipis dan tenggelam berkata: "Tentu saja, kalian begitu. Aiyaa, sepertinya aku sia-sia berbicara untuk mengingatkan." Memutar kepalanya dan melihat Su Yiyang, ia kembali berbicara melanjutkan. "Mungkin perkataanku itu hanya akan berlaku untuk Yiyang sang pembuat onar saja, 'kan." Kedutnya terkekeh samar.


Wajah Su Yiyang mengerut, tak senang. "Hei, kenapa jadi aku?!" Balasnya menggertak jengkel.


Saat-saat seperti ini, Yao Anran akan selalu bisa mengingatkannya pada Yao Yunmei yang tegas juga kaku pada peraturan. Itu membuat Xiu Qixuan tanpa sadar lebih hati-hati untuk mempergunakannya.


••••••••••••••••••


Cuaca cerah berawan membuat suasana begitu teduh di hamparan luas rerumputan hijau yang begitu asri. Bunga-bunga liar yang mekar bergerak tertiup hembusan angin. Ini kenyamanan yang sangat damai untuk melakukan penyembuhan.


Di antara bentangan hijau yang luas, pria tampan yang sedang terfokus membaca buku itu terduduk tenang di atas kursi rodanya. Keberadaannya tampak sangat mencolok mata ketika di sekitarnya hanya terdapat tumbuhan yang hidup.



"Bicaralah...!" Suara yang rendah terdengar begitu dalam. Dia mengangkat pandangan, kelerang hitam itu menembus sosok Ajudan Fu yang sejak tadi berdiri menjaga di sisinya.


Ajudan Fu mengerjap tersentak. "Eh? Yang Mulia?"


Shen Minwei menarik napas tajam, sejenak dia menaruh buku bacaannya di atas pangkuan untuk fokus pada sang Ajudan. "Dari matahari terbit kau terus menatapku dengan ragu. Ada yang mau kau katakan padaku, namun kau kesulitan untuk itu." Ujarnya risih dengan penilaian yang menusuk cermat.


Ajudan Fu berdeham mempertahankan keseriusannya ketika dia balas berbicara: "Yang mulia, apakah anda tidak ingin bertanya mengenai sepupu anda yaitu Nona Ketiga Yao atau Nona berambut merah yang kemarin tersesat?" Tanyanya.


Alis Shen Minwei menukik tajam. Dahinya berkerut menatap Ajudan Fu seolah-olah dia sedang melihat orang bodoh yang memuntahkan omong kosong. "Kau yakin ingin membahas ini sekarang..?" Dia mendelik dan kembali melanjutkan, "... Setelah kau tidak melakukan tugasmu dengan baik untuk memastikan penjagaan sekitar tempat tinggalku tetap damai!" Shen Minwei menanggapi dengan kalimat sindiran yang membuat Ajudan Fu tergagap merasa tak enak.


Shen Minwei memiliki kebiasaan di waktu dini hari untuk melakukan meditasi pagi dan terapi redam kakinya di kolam herbal air panas yang tersedia di belakang pondok pavillun tempat tinggalnya.


Kolam pribadi yang khusus di bangun oleh Kaisar untuknya, itu sedikit megah dengan menggunakan aliran air terjun belerang jernih dari mata air asli gunung belakang istana kekaisaran.


Pada saat kemarin, Shen Minwei ditemani Ajudan Fu seperti biasa bergegas menuju kolam. Namun, mereka menemukan kedua gadis yang tampak kebingungan di dekat aliran air.


Satu yang menarik perhatian Shen Minwei adalah gadis berambut merah yang dipenuhi binar penasaran itu mencelupkan kaki ke kolam miliknya dengan ketakutan juga keinginan yang tampak aneh juga sedikit lucu. Ketika gadis berambut merah itu mengetahui bahwa kolam tersebut adalah miliknya, dia langsung meringkuk seperti siput dalam cangkang di balik punggung Yao Anran dan menjadikan sepupunya itu sebagai tameng rasa bersalah. Tapi, hanya itu saja karena Shen Minwei tidak memiliki minat lebih untuk membahas seorang gadis.


Dengan nada malas dan tak minat, Shen Minwei akhirnya menanggapi: "Baiklah, baiklah. Memang apa yang kau temukan?" Ujarnya.


Wajah Ajudan Fu tampak berapi-api kala ia menjawab menggebu-gebu: "Kedua gadis itu ternyata bersama dua gadis lainnya, mereka berempat membuat api unggun dan membakar ikan. Mereka tampak sedang bermain dengan senang. Itu aneh ketika saya menemukan gadis yang memiliki banyak keberanian untuk tetap berkeliaran di tengah kegelapan hutan." Suara Ajudan Fu tampak semakin menukik penuh semangat, dia melanjutkan. "Dan saya akhirnya tahu darimana keberanian itu berasal. Salah satu gadis menjadi bagian dari otak mereka. Dia benar-benar gadis luar biasa dengan banyak presepsi. Tanpa ragu-ragu dia meminta saya untuk bungkam." Jelasnya.


Tapi, itu belum selesai kala Ajudan Fu semakin banyak bicara tanpa sadar dia melewati topik batas yang tabu. "Keempat gadis itu merupakan kandidat permaisuri pangeran. Saya harap anda memilih satu di antara mereka. Saya akan mewakili anda di perburuan untuk memenangkannya. Jadi, anda harus menikah tahun ini setelah apa yang terjadi dengan Nona Mu." Celotehnya.


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar lagi!" Sentak Shen Minwei tajam. Nada suaranya turun ketitik beku yang dingin kala dia berujar suram, "Setelah apa yang terjadi pada Xiaonuo, semakin aku tidak boleh menikah."


Mendengar itu, Ajudan Fu mengkikis bungkam.


Mu Xiaonuo, mantan tunangan Shen Minwei, dia gadis baik yang lembut. Namun, suatu hari gadis itu tertuduh hamil dan berselingkuh dengan seorang prajurit. Shen Minwei yang tak memiliki kuasa hanya terdiam secara menyedihkan ketika melihat dia di deportasi. Seharusnya gadis itu di penggal mati, namun, Shen Minwei datang bersujud di hadapan Kaisar meminta pengampunan untuk gadis itu. Shen Minwei sampai saat ini tidak mengerti apakah Mu Xiaonuo di jebak atau gadis itu benar-benar mengkhianatinya.


Tapi secara nalar Shen Minwei mengerti bahwa dia tidak diperbolehkan untuk menikah dan meneruskan keturunan karena itu mengancam suksesi putera mahkota. Kalau dia tetap menikah—itu hanya akan membawa penderitaan dan kesakitan untuk gadis yang dia nikahi.


Srakk...Srakk...


Ilalang tinggi yang membentuk semak-belukar hijau tiba-tiba bergerak secara kasar di depan mereka.


"Siapa di sana?!" Dengan rasa penjagaan ketat, Ajudan Fu berbicara sembari memegang gagang pedangnya dengan siaga.


Disisi lain, Shen Minwei terdiam menatap cermat pada jarak antara ilalang tinggi yang semakin bergoyang tersebut.


Ketika Ajudan Fu berjalan mendekat dan bersiap menghunuskan pedang.


Patss...


Tiba-tiba, dari balik ilalang muncul gadis bertubuh mungil dengan rambut merah khasnya yang sedikit kusut.


"Eh?" Ajudan Fu terkejut. "Nona... Duan?"


•••••••••••••••••••••


A/N: Sabar ya gaiseu, bab ini khusus bahas Minwei dan Maiqiu dlu, tungguin trs part XuanYuan yaps😉 Kalo bnyk yg koment aku up 2 atau 3 bab buat bsk mhuehehe!