
Langit redup yang tertutup kabut musim dingin. Salju tebal masih menghiasi sepanjang jalan dan ranting pepohonan. Bunga persik liar bermekaran indah dengan embun yang menyala menemani perjalanan manusia.
Pada saat ini, suara tapak kaki kuda terdengar berirama santai bergema disudut hutan belakang bukit kekaisaran.
Diatas pelana kuda yang memacu ringan, sosok gadis itu terduduk tegap dengan kekuatan yang memancarkan pesona kuat. Disisi lainnya, seekor kuda gagah berjalan beriringan dengan membawa sosok arogansi seorang penguasa.
Kedua orang itu memacu kuda mereka beriringan dengan santai juga tenang menikmati kebebasan dari udara dingin yang menusuk tulang.
"Qiaofeng itu seperti apa?" Sebuah gumaman lolos tanpa sadar mengeluarkan pertanyaan yang mungkin saja tabu.
Xia Qian Che terpaku untuk beberapa saat menolehkan wajah kesamping untuk menatap orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu padanya. Tetapi, yang dia lihat adalah sosok Xiu Qixuan yang sedang memandang lurus kearah depan.
Gadis itu bertanya seolah bukan untuk dijawab, ia seperti hanya ingin memastikan isi pikirannya.
Gadis yang berada diatas pelana kuda itu memiliki pesona yang indah namun kuat. Dia berbeda dari kebanyakan wanita karena begitu kokoh untuk ditembus.
Rambut sekelam malamnya berkibar seperti mutiara hitam yang berkilau. Matanya yang cemerlang selalu memancarkan ketajaman kuat untuk bertahan hidup. Entah mengapa ia terlihat tenggelam dalam kesendirian.
Dia berbeda dari sosok Qiaofeng yang Xia Qian Che kenal. Walaupun mereka memiliki kemiripan dibanyak hal salah satunya adalah terperangkap oleh kesepian.
Tetapi, Qiaofeng yang dikenalinya selalu berusaha untuk meloloskan diri dari rasa sepi. Sebaliknya, Xiu Qixuan itu tidak. Gadis ini menikmati kesendirian hidupnya seolah ia tidak perduli akan apapun di dunia.
"Feng'er—, saat pertama kali melihatnya ia akan terlihat seperti gadis naif yang rapuh dan dapat dibunuh dalam sekali ayunan pedang." Suara berat Xia Qian Che mengalir dengan matanya yang menerawang jauh.
Xiu Qixuan menolehkan wajah. "Kupikir juga begitu." Ucapnya dengan melengkungkan senyuman yang dalam. "Namun siapa yang menyangka bahwa ia akan begitu kuat ketika harus melindungi orang yang disayanginya, kan?" Lanjutnya.
Xia Qian Che terpana oleh perkataan tersebut. Ia memalingkan wajah dan balas berkata datar, "Ya, seharusnya begitu. Tetapi, zhen tidak ingin dia menjadi kuat untuk itu."
Lengkungan senyum yang dalam seketika surut dari diwajah cantik Xiu Qixuan, ia memasang wajah dingin untuk berkata. "Qiaofeng tidak menginginkan itu." Suaranya datar nan rendah. "Rasa bersalah—, dia tidak menginginkan itu, Yang Mulia."
Xiu Qixuan dapat mengetahui sirat dibalik ucapan yang sebelumnya dilontarkan Xia Qian Che. Kalimat yang menggandung perasaan bersalah dan sirat pengandaian.
Seolah-olah berkata, ia tidak ingin Qiaofeng menjadi kuat dengan cara melindungi kedua anak mereka. Karena dengan hal itu Qiaofeng tidak perlu menjadi sebuah tameng penyelamat atau mengorbankan diri.
Xia Qian Che tersentak.
"Karena itu pilihannya. Tidak bisakah Yang Mulia hanya mengenang kebahagiaan kalian saja? Ukir itu dalam hati untuk ceritakan nanti kepada Pangeran dan Tuan Putri." Lanjut Xiu Qixuan dengan gelombang penekanan.
'Haa...' Xia Qian Che menghela napas dan mengerjap untuk berkata, "Kau benar. Tetapi, kalau—." Terjeda ia.
"Berhenti! Tidak boleh ada kata tetapi disemua hal yang sudah terjadi. Kau mengerti?!" Suara Xiu Qixuan begitu keras memandu semilir angin musim dingin untuk mengambang disekitar mereka. Kuda yang dia tunggangi berhenti melangkah ketika tali kekangnya ditarik.
Xiu Qixuan hanya tahu bahwa bukan cara dicintai seperti ini yang ingin Qiaofeng dapatkan. Selama ini Xia Qian Che selalu terpaku pada penderitaan dan rasa bersalah yang sudah menggenang cukup dalam.
Untuk beberapa hal pria ini kadang melupakan cinta yang seharusnya dicurahkan pada kedua anaknya. Padahal dengan kedua anak itulah kerinduan dan cintanya pada Qiaofeng dapat disalurkan. Tetapi, mengapa dia tidak melakukannya dan malah berkutat dengan perasaan yang tidak perlu.
Xia Qian Che terkejut. Matanya terbelalak untuk mengerjap. Kuda yang dia tunggangi juga ikut terhenti. Dia menatap Xiu Qixuan dengan dalam. "Kau baru saja membentak zhen?" Sebuah pertanyaan yang tak sesuai konteks perlahan lolos ketika ia berusaha menguraikan rasa terkejutnya.
"Ya. Secara hukum Anda adalah adik ipar saya. Jadi, sebagai tetua keluarga harus meluruskannya." Jawab Xiu Qixuan terdengar begitu bangga dengan arogansi yang tak tertahankan.
Hening.
Melihat Xia Qian Che hanya terdiam mematung membuat Xiu Qixuan menggaruk wajahnya gatal. Sepertinya dia sudah melewati batas. "Ah, maksud saya—." Terjeda ia.
'Puftttss... Hahaha..' Suara tawa renyah milik seorang pria terdengar. Xia Qian Che tertawa begitu geli. Disela kekehan tawanya ia berkata, "Kau benar-benar—, berani ya."
Xiu Qixuan mengerutkan kening dengan memiringkan wajah bingung. "Wah, tidak menyangka Anda dapat tertawa begitu lepas." Gumamnya polos.
'Hem..' Xia Qian Che berdeham menetralkan rasa gelinya. "Menyebut seorang Kaisar sebagai adik ipar secara langsung tepat didepan wajahnya. Itu adalah tindakan yang sungguh berani. Bahkan bangsawan dan menteri kekaisaran akan berpikir terlebih dahulu untuk mengatakannya." Ucapnya.
"Ya, mau bagaimana lagi? Itukan kenyataan." Jawab Xiu Qixuan dengan ringan mengedikan bahu tak acuh.
"Tapi, Yang Mulia. Ucapan saya yang sebelumnya itu sungguhan." Lanjutnya mengalihkan topik kembali dengan serius menatap Xia Qian Che.
Xia Qian Che terdiam. Mata mereka saling mengait untuk memandang lurus.
"Jadi, Yang Mulia. Jangan berkutat pada hal yang tidak perlu. Setidaknya apresiasikan bentuk pengorbanannya, kenanglah dia bukan hanya dengan penuh rasa cinta tetapi juga hargai dan hormati keputusannya." Suaranya mengalir tenang memberi sebuah pengingat.
"Karena Qiaofeng tidak pernah sedikitpun menyesali pilihan yang sudah dia ambil. Dan karena Qiaofeng tidak ingin cara yang seperti ini untuk dicintai." Perkataan tersebut seperti sebuah lampu penerang jalan yang membimbing langkah Xia Qian Che yang sudah lama terlumur rasa bersalah.
Hening.
Melihat sang penguasa utara hanya terdiam dengan menatapnya dalam. Suasana disekitar mereka juga perlahan terasa memberat membuat Xiu Qixuan bereaksi untuk mengakhiri percakapan. Lagipula, udara disini semakin dingin.
"Ya, saya yakin Anda mengerti. Mari akhiri ini." Ucap Xiu Qixuan mengibaskan tangannya dengan ringan tersenyum. Kemudian Ia menarik tali kekang untuk memacu kudanya kembali, meninggalkan Xia Qian Che dibelakang.
Suara tapak kaki kuda terdengar menyusul dari arah belakang, Xia Qian Che mensejajarkan kembali kudanya.
Tidak ada yang memulai kembali percakapan selama beberapa saat. Sebelum akhirnya sebuah suara berat nan rendah terdengar, "Kau gadis yang aneh."
Xiu Qixuan menolehkan wajah dan terkekeh kecil, "Aiyaa, ini bentuk sebuah pujian atau sindiran? Tetapi, terimakasih Yang Mulia." ucapnya geli.
Senyuman tipis yang berusaha disembunyikan terpasang diwajah tampan milik Xia Qian Che.
"Kalian memiliki banyak kesamaan." Ucap Xia Qian Che dengan mata yang menerawang jauh.
"Ya, tetapi Anda dapat membedakan kami, kan?" Balas Xiu Qixuan dengan santai.
"Tentu saja." Jawab Xia Qian Che tanpa berkedip.
"Bagaimana cara membedakanya?" Tanya Xiu Qixuan dengan menaikkan sudut alisnya yang melengkung tajam. Dia benar-benar penasaran.
"Memakai hati mungkin?" Jawab Xia Qian Che dengan kerlingan humor.
"Aiyaa, entah mengapa saya merasa mual sekarang." Balas Xiu Qixuan terkekeh geli.
Xia Qian Che ikut terkekeh kecil. Seolah batu yang memberatkan hatinya perlahan-lahan terangkat.
"Feng'er memiliki tanda lahir berbentuk kuncup bunga lily dibalik telinga kanannya. Dan, kamu tidak memiliki itu." Jelas Xia Qian Che dengan tenang.
"Benarkah?" Tanya Xiu Qixuan dengan antusias yang spontan. Dia menemukan informasi baru.
"Ya. Dan juga entah mengapa dari beberapa hal kalian tidak terasa sama." Ucap Xia Qian Che menatap dalam kearahnya.
"Kamu tidak seperti dia yang selalu butuh perlindungan. Ketika tangan kurusmu mengayunkan pedang dengan berani. Ketika matamu yang cemerlang mengandung jejak ketajaman. Dan ketika pandanganmu yang kokoh tanpa keraguan untuk terus melawan. Itu terasa asing." Suaranya berat nan rendah mengandung kabut samar yang tak terdeskripsikan.
Xiu Qixuan terdiam sejenak. Wajahnya datar tanpa raut apapun. Ia menghela napas dan mengalihkan pandangan kesekitar. "Ya, mungkin seperti itu." Jawabnya skeptis.
"Ya, seolah kamu tidak memerlukan orang lain. Kau tahu, menikmati kesendirian itu terasa aneh." Ucap Xia Qian Che dengan tiba-tiba.
Xiu Qixuan tersentak. Ia merasa hatinya mencelos kedalam oleh hantaman ombak tak kasat mata. Perkataan yang tepat sasaran.
'Ngikk...' Suara kuda terdengar meringkik ketika Xiu Qixuan memecut untuk memacunya kuat.
"Saya pinjam kuda untuk kembali ke Kediaman Qi. Dan akan menunggu dengan sabar untuk pertunjukan besok, Yang Mulia." Suara Xiu Qixuan terdengar keras ketika kuda miliknya perlahan berlari meninggalkan Xia Qian Che dibelakang.
Dia tidak ingin kembali ke istana bagian dalam. Karena rumor tentangnya semakin beredar luas itu akan tidak nyaman untuknya karena banyak mata juga telinga mengawasi.
Pertunjukan yang dimaksud adalah rencana yang dijanjikan oleh Xia Qian Che, yaitu saat nanti di perjamuan akhir tahun akan terdapat peluang untuk membuat alibi agar kasus lama kembali dibuka.
"Kau berhutang pada zhen. Pastikan kau membayar untuk ini!" Teriak Xia Qian Che dengan keras.
Xiu Qixuan menarik tali kekang kudanya untuk berhenti sejenak. Mereka sudah berjarak beberapa meter jauhnya, tetapi, masih dapat melihat bayangan masing-masing.
Wajah cantik itu menoleh dan berkata riang, "Semua informasi penting yang sudah Anda ketahui. Itu berarti Anda juga berhutang padaku, kan?" Suaranya yang mengalir keras tetapi juga tenang disaat bersamaan.
Informasi yang dimaksud olehnya adalah beberapa berkas terkait para menteri yang korup juga detail kronologi kematian Qiaofeng.
Diseberang sana, Xia Qian Che terkekeh keras. "Licik sekali. Memanfaatkan, heh?"
Xiu Qixuan tertawa untuk berkata, "Tentu saja, aku selalu memanfaatkan apapun yang kuinginkan." Ia mengerlingkan matanya sebelum kembali memacu kudanya untuk keluar dari bukit belakang istana kekaisaran.
Xia Qian Che memandangi punggung kurus yang perlahan semakin menjauh pergi itu dengan tajam nan dalam. Helaan napas panjang terdengar ketika gadis itu menghilang dibalik semak belukar hutan.
••••••••••••••••••