
Ini adalah waktu tengah malam, dimana bulan awal musim semi memancarkan sinarnya.
Ditengah luasnya ruangan, Xiu Qixuan memasang ekspresi rumit memandang kertas dan dokumen yang menumpuk tebal. Sedangkan, Xiao Rou berdiri di sebelahnya dengan setia mendampingi.
"Sebanyak ini?! dan, harus diselesaikan sekarang juga?! Aku hanya ingin mengambil cuti berlibur sebentar saja, loh."
Xiu Qixuan menolehkan wajahnya yang berkerut dengan mengeluarkan semburan keluhan.
"Jika, Anda ingin berlibur dengan tenang seorang diri. Anda harus menyelesaikan tugas perencanaan pasukan untuk hari-hari kemudian." jawab Xiao Rou dengan acuh tak acuh.
Dalam kalimatnya dia menekankan kata seorang diri karena tidak rela dan juga khawatir jika Xiu Qixuan pergi tanpa membawa siapapun disampingnya.
Xiu Qixuan melihatnya sebagai sebuah rengekan yang merajuk. Betapa kekanakannya Xiao Rou.
"Semua ini dapat diserahkan kepada Xiao Taoli. Aku percaya padanya." kata Xiu Qixuan dengan ringan.
"Tidak bisa." Xiao Rou membalas dengan cepat.
Xiu Qixuan tersenyum tipis dan menarik alisnya membentuk lengkungan samar. "Kenapa?" tanyanya.
"Eum, itu—. Tuan Muda Kedua meminta Nona yang menyelesaikannya sendiri." jawab Xiao Rou dengan sedikit memalingkan wajah ketika gugup.
Xiu Qixuan mendengus.
"Baiklah—akan kukerjakan, kau menyebalkan!" decaknya.
Xiao Rou selalu memakai nama Xiu Huanran untuk menekan dan membatasi kelakuannya yang terlalu sesuka hati . Betapa licik!
Keheningan berdentang melalui waktu dan hanya suara gemerisik lembar kertas yang sibuk terdengar.
"...Xiao Rou."
Suara Xiu Qixuan tiba-tiba terdengar memanggil nama sang pelayan sekaligus sahabatnya.
"Dimana keluarga keibuanku?"
Sebelum Xiao Rou menjawab panggilannya, Xiu Qixuan bertanya lebih dulu.
"Ya?" Xiao Rou mengerjap heran oleh pertanyaan yang tiba-tiba.
"Seperti apa keluarga Wen Liu?" tanya Xiu Qixuan sekali lagi, ia hanya menatap dokumen di atas meja dengan serius dan tanpa menoleh sedikitpun ketika bertanya.
"Saya tidak mengetahui terlalu banyak. Tetapi, setahu saya itu adalah keluarga bangsawan kecil di daerah perbatasaan Shen dan Mo." jawab Xiao Rou dengan termenung berpikir.
"Bagaimana dengan buku fiksi yang kau baca mengenai kisah ayah dan ibuku?" tanya Xiu Qixuan dengan menolehkan wajah.
"Hoho, anda tertarik sekarang dengan buku itu?" kata Xiao Rou tersenyum menggoda.
Xiu Qixuan balas menyipitkan mata tajam. Seolah-olah membentuk ancaman yang samar.
"Jangan memandang saya dengan menakutkan begitu, Nona." gidik Xiao Rou dengan mengerut.
"Seperti yang sudah saya katakan, buku tersebut tidak pernah diterbitkan dan disebarkan luas lagi. Tetapi, yang saya ingat adalah itu merupakan kisah klasik percintaan saja." jelasnya lugas.
"Dan, mengenai latar belakang keluarga tidak dijelaskan secara detail oleh penulis." lanjutnya yakin.
Xiu Qixuan terdiam sejenak.
"Ya, baiklah. Kau boleh keluar untuk istirahat. Aku akan menyelesaikan ini untuk berpergian besok." ucap Xiu Qixuan dengan melambaikan tangan dan berbalik kembali terfokus mengerjakan tumpukan dokumen.
"Anda yakin berpergian sendiri? Bawalah saya, nona." bujuk Xiao Rou dengan memelas.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku, Xiao Rou." tekan Xiu Qixuan dengan tegas.
Ketika dia berkata begitu tegas, pancaran penuh otoritas yang dingin menjadi tak terbantahkan.
Xiao Rou menunduk untuk segera bergegas pamit keluar ruangan.
Tetapi, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar menghentikannya.
"Ketua Qi, saya membawa orang istana dalam yang Anda minta." Sebuah suara milik seorang anggota divisi rubah terdengar dari luar.
Orang istana dalam, ya?
Xiu Qixuan segera menegakkan tubuh dengan memandang tajam kearah pintu dan berkata, "Ya, masuklah."
Daun pintu yang terbuat dari besi kuat terdorong dan menampilkan sosok gempal Bibi Jin atau jika di istana dalam kita menyebutnya sebagai Jin Momo, ia datang dengan tenang memakai jubah untuk menyamarkan identitasnya.
Xiu Qixuan beranjak berdiri dengan ramah menyambutnya.
"Bagaimana perjalananmu kemari, bibi? Sudah merepotkanmu." ucapnya kemudian menolehkan wajah kearah Xiao Rou untuk kembali berkata pelan, "Siapkan teh dan kudapan!"
"Aku bersyukur kamu masih mau untuk terhubung denganku." Suara Bibi Jin begitu tajam dalam wajahnya yang datar.
"Ya, tentu saja Bibi. Saya ingin selalu memastikan untuk melihat perkembangan Xiao Wen dan Shu'er melalui anda." kata Xiu Qixuan dengan memasang senyuman ramah.
Bibi Jin balas menatap skeptis.
"Yang Mulia Kaisar tidak mempercayai kematianmu dengan mayat palsu tersebut. Dia masih mencarimu." ucap Bibi Jin dengan tenang.
Walaupun begitu sebenarnya dia sedang memberi peringatan untuk berhati-hati.
"Ya, aku mengerti." jawab Xiu Qixuan.
"Pangeran Mahkota dan Tuan Puteri juga merengek mencarimu. Itu membuat Kaisar bertambah marah." ucap Bibi Jin sekali lagi membentuk laporan.
Xiu Qixuan tetap memasang senyuman seolah tidak terpengaruh mengenai laporan tersebut. Karena sebenarnya dia sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi.
Tangan Xiu Qixuan terulur mengambil kotak rosewood dengan hati-hati menyerahkannya kepada Bibi Jin.
"Bibi, tolong sampaikan hadiahku untuk Xiao Wen dan Shu'er secara rahasia dan terpisah. Aku yakin bibi dapat melakukannya."
Bibi Jin menerima tanpa banyak bertanya.
Xia Qian Che selalu berwaspada dan mengawasi seluruh hal yang berkaitan dengan kedua anaknya, tetapi, Bibi Jin adalah salah satu orang terpercaya yang dapat lolos dari pengawasannya.
Menarik Bibi Jin kepihaknya merupakan hal mudah bagi Xiu Qixuan. Karena sejak awal Bibi Jin menyurahkan seluruh hati kepada Qiaofeng seorang. Dia pasti memiliki banyak keluhan kepada Xia Qian Che mengenai kematian Qiaofeng.
••••••••••••••
'Ngikk..' Suara ringkikan kuda terdengar ketika tali kekangnya ditarik.
Xiu Qixuan segera meloncat turun dari atas pelana. Wajah cantiknya yang tertutup tudung jubah sedikit mendongak keatas untuk melirik kaligrafi nama sebagai bentuk penyambutan turis asing di gerbang kota pelabuhan.
Pelabuhan Xicheng.
Dia menghabiskan waktu satu minggu perjalanan pribadi dengan berkuda. Itu sangat melelahkan!
Tapi cukup menyenangkan karena dapat bebas berkeliaran seorang diri.
Identitas penyamarnya begitu berguna ketika ia melewati kota-kota kecil dan tidak ada Pasukan Kekaisaran Xia Utara yang mengenalinya.
Tetapi, sepertinya keberuntungan Xiu Qixuan sudah habis dan berhenti sampai sini.
Pada saat ini, di pintu masuk kota pelabuhan. Orang-orang berbaris tertahan karena otoritas penguasa memperketat penjagaan terhadap orang asing.
Sial, rutuknya dalam hati.
Sepertinya Xia Qian Che masih tidak goyah untuk mencari keberadaannya secara rahasia.
Walaupun dia tidak menyebarkan pamflet sketsa wajahnya secara terbuka, tetapi, pria itu tetap memperintahkan setiap otoritas penguasa kota untuk memperketat jalur keluar dan masuk.
Beberapa waktu berlalu, tiba saatnya giliran Xiu Qixuan yang menyerahkan lembar identitas pengenal dan berhadapan dengan salah satu prajurit.
"Anda Rongrong dari luar kekaisaran?" Seorang prajurit membaca dokumen identitas pengenal dan menanyakan kembali identitasnya
Xiu Qixuan balas menganggukan kepala.
"Baik, dimengerti. Dan, tolong lepaskan jubah dan tunjukan wajah Anda karena ada orang yang sedang kami cari." ucap prajurit itu dengan sopan namun tajam.
Xiu Qixuan menahan untuk tidak meringis. Jari-jarinya memilin lengan bajunya ragu.
"Nona, jika anda tidak ingin mematuhi. Kami akan menggunakan paksaan untuk membawa dan menahanmu." sentak prajurit itu menekan Xiu Qixuan ketika melihat bahu gadis di hadapannya ini bergetar penuh keraguan yang mencurigakan.
Xiu Qixuan menunduk dengan menghela napas panjang. Tangannya perlahan terulur untuk melepaskan tudung jubah. Jika ketahuan disini, ia sudah bersiap untuk segera melakukan teleportasi.
Tetapi tiba-tiba sebuah suara berat yang rendah terasa familiar terdengar dari arah belakang.
"Dia termasuk kedalam rombongan perdagangan selatan kami."
Xiu Qixuan sangat mengenali suara itu.
Sebuah suara yang membuat kedua kakinya lemas dan goyah. Sebuah suara yang membuat tubuhnya membeku untuk membuncahkan kerinduan yang selama ini berusaha dia tahan. Sebuah suara yang membuat hatinya bergetar dan nadinya memucat sendu.
"...Dia?"
•••••••••••••••
Huhu, siapatuh, gais?