
POV. Xiu Qixuan.
Ini adalah pemakaman disudut pinggiran Ibukota Hanzhou. Terdapat salah satu batu kuburan besar yang menjadi kunci untuk membuka jalan rahasia kebawah tanah.
Ratusan anak tangga yang mengarah kebawah dengan obor-obor terpasang disetiap sudut dinding itu dibiarkan menyala untuk menjadi petunjuk langkah kaki dalam kegelapan.
Kuburan besar yang ternyata hanya bentuk kerangka kosong dari kamuflase bangunan bawah tanah yang cukup megah didalamnya.
Ini merupakan salah satu dari sekian banyak markas persembunyian yang tersebar disetiap wilayah. Xiu Huanran ternyata begitu berkuasa dan memiliki kecerdasaan yang cukup istimewa.
Ia mampu membuat kelompok perdagangannya menjadi lebih kuat dan lebih besar untuk mendominasi hampir seluruh sumber daya ekonomi dalam benua timur Daratan Ca Li. Mungkin Xiu Huanran dapat disebut sang pengendali dari balik tirai.
Tetapi, pada saat ini yang menempati salah satu markas tersembunyi miliknya di wilayah kekuasaan Xia Utara adalah aku, adik perempuan sekaligus bawahannya yang ditugaskan untuk memimpin kasus penangkapan buronan yang melarikan diri.
Bangunan bawah tanah tersebut cukup luas dan besar yang dapat menampung setidaknya sekitar puluhan orang, terdapat juga pintu-pintu yang terbagi menjadi beberapa ruangan.
Aku berjalan menyusuri sudut lorong dengan cahaya merah dari nyalanya obor menemani setiap langkahku untuk menuju ruangan khusus pemimpin.
Haa, aku menghela napas kasar. Hari ini begitu melelahkan.
Aku menugaskan Xiao Taoli untuk membawa Rui Jizhang keruang tahanan khusus yang di isolasikan.
Kami akan membawanya ke markas pusat sesuai dengan perintah sang Pemimpin Huan, kakak keduaku yang menyebalkan dan sangat otoriter.
Tugas terakhir yang dibutuhkan untuk segera kuurus adalah mengenai keberangkatan kami kembali ke markas pusat dengan menghapus seluruh jejak dan membuang identitas yang pernah kita mainkan.
Langkahku terhenti ketika melihat salah satu bawahan yang sedang melintas itu menyapaku, "Apakah Xiao Leng dan Xiao Rou sudah kembali?" Tanyaku.
Sebelumnya, aku menugaskan Xiao Rou menyamar menjadi diriku untuk pergi ke Kediaman Qi bersama dengan Xiao Leng.
Dengan tujuan agar aku dapat leluasa bertindak dalam menyelesaikan misi dengan cara mengelabui dan menutupi kecurigaan Xia Qian Che akan keberadaan diriku yang tiba-tiba menghilang.
Mereka jugalah orang yang kutugaskan untuk menyelesaikan langkah terakhir kami dengan cara membakar bangunan Kediaman Qi dan menaruh dua mayat wanita yang sudah disiapkan mengenakan pakaian milikku dan pakaian pelayan milik Xiao Leng.
Sebagai ganti dari membuang identitasku, yaitu Nona Qi dan pelayan pendampingnya yang sudah mati terbakar.
"Menjawab, Ketua. Mereka belum kembali." Jawab sang bawahan tersebut menanggapiku.
"Baiklah, kau boleh pergi." Ucapku dengan lembut tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkah kakiku yang tertunda.
Baru beberapa langkah kakiku melangkahkan, suara seseorang terdengar memanggilku dari arah belakang.
"Hormat, Ketua Qi." Aku mengenalinya ia adalah salah satu orang yang bertugas mengawasi pengiriman pesan dan sinyal darurat.
"Ada apa?" Tanyaku dengan singkat.
"Sebuah surat dan dokumen dari pusat telah tiba pagi ini. Pemimpin Huan mengirimkan untuk Ketua." Jawab sang pengirim pesan dengan menyerahkan lembar amplop surat berkualitas yang di segel oleh stempel lilin bergambar serigala hitam diatasnya dan sebuah dokumen yang ditumpuk dibawahnya.
Dilihat dari jenis segel suratnya yang berwarna hitam, ini bukanlah pertanda sinyal untuk segera membuat keputusan darurat. Biasanya, sinyal darurat dari pusat akan dikirimkan dengan perkamen militer bersegel hitam bermerah darah.
Aku menautkan alis dengan cepat mengulurkan tangan untuk menerima lembaran tersebut. "Baiklah, terimakasih. Kau dapat kembali." Ucapku dengan tersenyum cerah.
Ah, sepertinya suasana hatiku sedang baik.
Tetapi, tumben sekali Xiu Huanran mengirimkan surat formal. Biasanya, kami akan berkomunikasi mengunakan lonceng pemberiannya.
'Srekk...' Tanganku terkepal meremas erat lembaran kertas dengan emosi.
Menjengkelkan, rutukku.
Xiu Huanran selalu saja bertindak seenak hatinya. Surat itu tertulis informasi penting yang sangat kubutuhkan sejak dua tahun lalu. Tetapi, dia baru memberitahuku sekarang untuk bergegas.
^^^'*Adikku tersayang*,^^^
^^^*Karena aku tidak ingin mendengar omelanmu yang membuatku pening. Aku memilih dengan mengirimkan surat*. ^^^
^^^*Aiyaa, aku hanya ingin memberitahumu. Rui Jizhang merupakan utusan yang pergi ke Sekte Xitian duapuluh empat tahun yang lalu. Namanya tertulis dalam rekam diplomasi kekaisaran*. ^^^
^^^*Jadi, sekarang aku menyerahkannya padamu. Dan, kusarankan tidak perlu membawanya ke markas pusat karena itu akan merepotkan. Segera selesaikanlah keingintahuanmu ditempat, karena ada orang lain yang mengincarnya*.^^^
^^^*Salam sayang, dari kakak keduamu yang tampan*.'^^^
Dari pemilihan katanya saja sudah membuatku jengkel setengah mati. Dia benar-benar membuatku bekerja keras.
Sekte Xitian, ya?
Mendengarnya saja membuatku jatuh kembali kedalam kenangan indah sekaligus menyakitkan.
Xiao Bao...
Musim semi yang seharusnya dilalui dengan indah malah berlumuran darah dari ketidakberdayaan.
Sebuah janji yang dirusak membuat pikiran menjadi berkabut. Cinta dan kebencian melebur menjadi satu.
Aku masih dapat mengingat rasa dari siksaan yang sama, tidak tahu apakah masih ada yang tersisa.
'Tes..' tanpaku sadari mataku mengepul panas. Dengan terburu-buru menyekanya.
Walaupun begitu aku merasakan bahwa ingatanku terpecah menjadi beberapa keping bagian sejak kejadian tersebut dan samar-samar seperti melupakan sesuatu penting.
Pada saat itu, ingatanku hanya terhenti sampai dimana aku terikat tak berdaya menyaksikan pengkhianatan A Jun yang bercumbu intim dengan jal\*ng si\*lan itu.
Ketika membuka mata lagi, aku sudah berada didalam cengkeraman Xiu Huanran yang menatapku penuh amarah.
'Tok..tok..' Tiba-tiba suara ketukan pintu dari arah luar terdengar membuat pikiranku buyar. Suara Xiao Taoli mengikuti, "Ketua, anda memanggil saya?"
"Masuklah, Taotao." Ucapku dengan sedikit parau.
Pintu terbuka dengan Xiao Taoli yang segera melangkah masuk. Dibelakangnya, ternyata terdapat juga Xiao Leng dan Xiao Rou yang mengikuti. Sepertinya mereka baru saja kembali dari menyelesaikan tugas yang kuberikan.
"Xiao Rou, Xiao Leng." Sambutku dengan cerah.
"Hormat, ketua." Sapa mereka dengan sedikit membungkuk.
"Bangunlah." Ucapku melambaikan tangan.
"Kalian dapat melaporkan detailnya nanti. Untuk sekarang Xiao Leng tolong bantu aku memperketat penjagaan markas." Lanjutku dengan serius menatap tegas Xiao Leng.
Tanpa banyak tanya, Xiao Leng mematuhi dengan menjawab. " Ya, bawahan ini mengerti!" kemudian ia membungkuk pamit dan segera bergegas keluar.
Aku beranjak berdiri dari kursi kemudian melangkah menghampiri Xiao Taoli untuk berkata, "Ikuti aku. Kita jalankan interogasinya sekarang. Ada hal penting yang inginku tanyakan kepada Rui Jizhang."
Xiao Taoli mengernyit.
Memang ini tidak sesuai rencana, seharusnya menyerahkan Rui Jizhang terlebih dahulu kepada Xiu Huanran untuk ditanyakan.
Tetapi, terdapat perubahan yang tidak perlu aku jelaskan sekarang juga bukan? Berani sekali dia jika mempertanyakanku.
Aku menatap Xiao Taoli tajam menunggu kata yang keluar dari mulutnya. Beruntung bahwa dia menjawab dengan benar.
"Ya, dimengerti!" Jawabnya.
"Baguslah." Dengusku. Kemudian aku menolehkan wajah kearah Xiao Rou untuk berkata, "Xiao Rou, kerja bagus. Kau tunggulah dulu disini." Perintahku.
Karena Xiao Rou tidak memiliki ketahanan fisik yang bagus. Lebih baik membiarkannya berisitirahat. Terlihat wajahnya yang begitu pucat kelelahan.
"Ya, terimakasih Nona." Jawab Xiao Rou memasang senyuman menyenangkan untuk dilihat. Ia bersinar cerah ditempat yang terlihat suram ini.
Aku hanya balas tersenyum tipis dan mengangguk.
Setelah itu aku segera bergegas dengan melangkahkan kaki keluar ruangan menuju ruang tahanan khusus yang diisolasikan dimana terdapat Rui Jizhang didalamnya.
Baiklah, sebuah kunci seperti apa lagi yang akan kita temukan untuk menjadi petunjuk arah dalam ketidakpastian ini?
•••••••••••••••••