
Diatas tebing yang menjulang terdapat bangunan kecil dan dari tebing itu aliran air mengalir kebawah membentuk sungai kecil.
Sebuah pohon persik mekar dengan lebih indah dan harum. Terlihat seekor harimau putih sedang bermalas-malasan diantara pohon dan aliran sungai kecil tersebut.
Harimau itu beranjak bangun dari posisi bergelungnya dan kemudian melangkah keatas tebing dengan meloncat melewati satu persatu bebatuan.
Sesampainya dia di bangunan yang berada diatas tebing, harimau itu masuk kedalam pintu yang cukup besar dan lebar untuk ukuran tubuhnya.
Terlihat seorang gadis cantik memejamkan kedua kelopak matanya dengan masih memegang lembaran kertas disalah satu lengannya, dan seekor rubah betina besar yang bergelung dibelakang tubuh gadis itu seakan sengaja menopang dan memberi kenyamanan pada sang gadis cantik bersandar ditubuhnya.
Xiu Qixuan tidak tahu mengapa dapat jatuh tertidur padahal sebelumnya gadis itu sangat gelisah sampai tertidur-pun rasanya tidak bisa.
Tanpa sepengetahuan Xiu Qixuan, Baijin Hu menyuntikan sedikit kenyamanan dari kekuatan pesonanya agar gadis itu dapat lebih rileks.
Seekor rubah memiliki kemampuan itu hanya tinggal mengibaskan sedikit ekornya untuk membuat orang yang berada disekitarnya jatuh kedalam pesonanya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Lao Yong kepada Baijin Hu dengan suara yang cukup keras.
Baijin Hu membuka kedua kelopak matanya karena terganggu dengan suara Lao Yong, rubah betina itu sejak tadi juga memejamkan matanya untuk beristirahat.
"Kenapa? Kau tidak senang aku datang ketempatmu?" Ucap Xiu Qixuan menjawab ucapan Lao Yong. Gadis cantik ini membuka kelopak matanya menolehkan wajah kesamping untuk menatap Lao Yong.
Xiu Qixuan sudah terbangun sejak Lao Yong memanjat tebing dan melompati bebatuan karena suara yang ditimbulkan dari gerakan harimau jantan itu cukup terdengar di kedua telinganya yang semakin tajam.
"Tentu saja," Jawab Lao Yong singkat sambil berjalan menghampiri mereka dan mendudukan dirinya.
"Humph, Lagipula aku bisa datang kapanpun aku mau. Kalian ini repot sekali bertanya," Dengus Xiu Qixuan dengan sedikit kesal.
"Tentu saja kami harus bertanya. Karena kalau kau datang dengan waktu yang tidak menentu seperti saat ini pasti kau membawa keluhan ataupun masalah dari tempatmu," Ucap Lao Yong dengan tatapan teguh karena yakin ucapannya benar.
"Hehe, Iya kau benar." Ucap Xiu Qixuan tertawa kecil kemudian mengangkat salah satu lengannya untuk mengaruk sedikit keningnya yang tidak gatal.
"Ada apa denganmu?" Tanya Lao Yong dengan perhatian.
"Aiyaa, Ternyata LaoLao-ku sangat perhatian." Ledek Xiu Qixuan
"Cih, Kau ini terlalu percaya diri. Singkirkan panggilan yang menggelikan itu," Decih Lao Yong, niatnya menunjukan keperdulian jika memang gadis ini memiliki masalah berat tetapi lebih baik megurungkan niatnya tidak usah prihatin dengan Xiu Qixuan. Gadis ini kalau langit runtuh juga dia tetap akan percaya diri bahwa akan selamat.
"Sudah—sudah. Ehem, Aku akan serius." Ucap Xiu Qixuan berdeham menetralkan emosi untuk memasang ekspresi serius diwajahnya.
"Untuk lebih serius saja kau perlu waktu. Manusia macam apa yang tidak memiliki banyak pikiran sepertimu," Ledek Lao Yong menatap Xiu Qixuan dengan pandangan aneh.
"Aku tetap berpikir hanya lebih dibatasi saja agar tetap waras," Jawab Xiu Qixuan karena menurutnya kalau terlalu banyak berpikir dirinya akan cepat gila dengan semua hal ini.
"Aku akan berlatih lebih giat untuk lebih cepat menyelesaikan semua proses ini. Perasaanku tidak enak, akan segera terjadi suatu kejadian yang mengharuskanku lebih waspada." Jelas Xiu Qixuan dengan pandangan serius menatap Lao Yong.
"Sejak kapan kau merasakan perasaan tersebut?" Tanya Lao Yong
"Sejak beberapa jam yang lalu saat aku sedang menyulam dengan Yao Yunmei." Jawab Xiu Qixuan dengan yakin.
"Ada baiknya kau lebih peka seperti sekarang tetapi kalau terlalu berlebihan kau akan kelelahan." Timpal Baijin Hu memberi sedikit nasihat dan pendapat.
"Aku tahu. Tetapi bukankah aku memiliki aura kehidupan yang menyokongku, lagipula kalung dan gelang giokku masih dapat berfungsi." Jawab Xiu Qixuan dengan yakin penuh percaya diri.
"Memang benar tubuhmu mudah di pulihkan saat kelelahan tetapi bagaimana dengan jiwamu?" Tanya Baijin Hu dengan cukup tajam.
Xiu Qixuan terdiam cukup lama, kemudian dirinya hanya mengangguk mengerti.
"Asal ritme-mu sesuai—kemampuanmu dengan cepat akan terus meningkat. Tidak perlu terburu-buru atau akan terjadi kesalahan." Ucap Baijin Hu memberi nasihat.
"Benar apa yang dikatakan rubah angkuh itu, pondasi ditubuhmu baru terbentuk kalau terburu-buru dan gegabah akan meninggalkan celah." Timpal Lao Yong dengan cepat menyetujui ucapan Baijin Hu.
Xiu Qixuan merenung sejenak.
"Xiu Qixuan, atau harusku memanggilmu Alesha. Jangan sampai kehilangan jati dirimu," Ucap Baijin Hu mengingatkan.
Xiu Qixuan mendongakan wajahnya, kedua bola mata gadis itu terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
Sudah lama sekali dirinya tidak dapat mendengar nama aslinya disebut oleh seseorang. Saat mendengarnya kembali perasaannya hangat dan kerinduan akan keluarganya dibumi dengan cepat mencuat keluar.
Xiu Qixuan dengan cepat mengangkat kedua lengannya untuk mengusap kedua matanya. Dirinya tidak boleh mudah mengeluarkan airmata.
Setelah menetralkan emosi dan pikirannya, Xiu Qixuan mengangguk dan menarik napas dalam kemudian dia memperlihatkan kertas yang tadi dipegang olehnya kepada Lao Yong dan Baijin Hu.
"Menurut kalian dari gambar pedang ini manakah yang paling kokoh?" Tanya Xiu Qixuan dengan pandang melihat ekspresi kedua hewan surgawi didepannya.
Baijin Hu dan Lao Yong menatap kertas yang diperlihatkan padanya.
"Aku sudah berulang kali mematahkan pedang. Entah itu karena tidak sengaja menancapkannya ke dinding ataupun menggoreskan dengan keras ke batu besar." Lanjut Xiu Qixuan
"Xiu Huanran berulang kali memarahiku. Padahalkan bukan salahku, pedang-pedang itulah yang terlalu lembut." Gerutu Xiu Qixuan mengadukan Xiu Huanran pada kedua hewan surgawi didepannya.
"Tidak ada yang bagus," Jawab Baijin Hu dengan singkat.
"Dilihat sekilas saja, sudah dapat terlihat dari gambar pedang-pedang itu terlalu banyak celah dan mudah patah." Ucap Lao Yong
"Terus aku harus bagaimana? Lagipula kenapa hanya saat aku yang memakainya para pedang itu mudah patah?" Tanya Xiu Qixuan dengan bingung.
"Kau belum dapat seimbang saat mengendalikan kekuatanmu yang cukup besar itulah mengapa sebabnya senjata yang kau gunakan selalu hancur. Pedang biasa tidak cocok untukmu pakai saat bertarung sungguhan." Jawab Baijin Hu
"Sebelumnya aku sudah memberitahumu bahwa Kipas Emas dapat dijadikan senjata, bukan." Lanjut Baijin Hu
Xiu Qixuan dengan cepat mengangguk sangat terlihat bahwa gadis ini terlalu antusias.
"Potong salah satu cakar Lao Yong. Dan kemudian potong salah satu ekorku." Perintah Baijin Hu
"Hah," Ucap Xiu Qixuan tidak mengerti.
"Cepat lakukan saja." Ucap Baijin Hu
"Heh, aku belum menyetujuinya ya." Timpal Lao Yong dengan tidak rela.
"Dasar harimau tua yang pelit. Hanya satu cakar panjangmu dan itu juga bisa tumbuh lagi sama seperti ekorku." Balas Baijin Hu dengan galak
Xiu Qixuan hanya diam mendengar percakapan mereka.
Baijin Hu menolehkan kepala menatap Xiu Qixuan dengan pandangan dalam.
"Apakah tidak apa? Itu akan menyakiti kalian," Ucap Xiu Qixuan dengan penuh keraguan.
"Tidak apa. Dengan kekuatan kami itu akan cepat pulih dan tumbuh kembali." Jawab Baijin Hu dengan tatapan menyakinkan.
"Huh, Cepatlah atau aku akan berubah pikiran!" Timpal Lao Yong, harimau jantan itu sudah menyetujui tetapi masih tidak rela.
Xiu Qixuan mengangguk. beranjak ia melangkah mendekati ekor Baijin Hu lebih dulu dan memegang salah satu ekor rubah betina itu.
Setelah beberapa saat Baijin Hu terdiam menunggu tindakan Xiu Qixuan tetapi dia tidak merasakan apapun ditubuhnya yang membuatnya menolehkan wajah untuk melihat Xiu Qixuan yang ternyata hanya diam merenung.
"Kenapa kau diam saja? Cepat lakukan," Ucap Baijin Hu cukup keras.
Xiu Qixuan menoleh dan kemudian berucap, "Aku tidak tahu bagaimana harus memotongnya, tidak ada benda tajam disini." dengan tatapan polos membuat kesal yang menunggu tindakannya.
"Ckk, kau ini! Bilang sejak awal,— membuatku kesal saja." Ucap Lao Yong beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati mereka.
Kemudian dengan cepat harimau jantan itu memotong salah satu ekor Baijin Hu dengan cakar tajamnya dan juga memotong salah satu kuku jari cakarnya.
Xiu Qixuan hanya ternganga melihat kejadian itu. Para hewan surgawi ini apakah tidak merasakan sakit?
Ekor Baijin Hu terlihat hanya mengeluarkan sedikit darah tetapi dengan cepat pendarahan yang keluar itu berhenti. Entah bagaimana bisa, mungkin ditahan atau dilapisi oleh kekuatan Baijin Hu.
"Kenapa diam saja cepat ambil itu!" Ucap Lao Yong dengan keras tetapi terlihat dirinya tidak seenergik sebelumnya.
Dengan tergesa Xiu Qixuan mengambil kedua hal itu dari lantai dan menggenggamnya.
Ekor besar Baijin Hu lama kelamaan semakin mengecil dan sekarang hanya seukuran panjang lengan Xiu Qixuan.
"Duduklah dengan posisi lotus dan genggam kedua benda itu di masing-masing lenganmu yang dibiarkan terbuka diatas kedua lutut." Perintah Baijin Hu dengan nada lembut yang parau.
Xiu Qixuan dengan cepat melaksanakan perintah tersebut.
"Pejamkan kedua matamu dan alirkan kedua benda itu dengan aura kehidupanmu. Bentuklah ia menjadi apa yang kau bayangkan," Ucap Baijin Hu memberi intruksi
Melaksanakan apa yang diintruksikan oleh sang rubah surgawi itu dengan cepat.
Tubuh Xiu Qixuan kembali diselimuti cahaya putih dan ungu yang menyerebak keluar. Ekor dan kuku cakar dari kedua hewan surgawi itu terlihat terbang mengambang dan saling bersisihan. Kemudian menyatu menimbulkan cahaya yang lebih menyilaukan lagi.
Setelah beberapa saat cahaya yang melapisi kedua benda itu memudar menampilkan sebuah...
Gunting!
Entah apa yang dipikirkan Xiu Qixuan, gadis itu sepertinya kurang fokus.
Baijin Hu dan Lao Yong hampir saja menjatuhkan rahang mereka. Apa sebenarnya isi pikiran gadis ini?! Bukankah seharusnya membentuk menjadi pedang yang indah dan tajam tetapi kenapa malah terbentuk menjadi gunting.
Xiu Qixuan membuka kelopak matanya dan melihat gunting itu yang sedang terbang melayang.
"Maaf—maaf ulangi sekali lagi." Ucap Xiu Qixuan meringis dan memusatkan pikirannya dengan benda yang mengambang itu.
Sebelumnya dipikiran Xiu Qixuan terlintas dirinya memasak mie instan dan ada adegan membutuhkan gunting untuk membuka bungkus bumbu—membuatnya tidak fokus. Aiyaa, dirinya merindukan mie instan!
Beruntungnya benda ini baru saja terbentuk dan dapat diubah kembali, kalau tidak akan tambah rumit memikirkan cara menggunakannya untuk di kolaborasikan dengan Seni Beladiri Xitian.
Cahaya putih dan ungu kembali menyelimuti benda yang terbang diatas mereka setelah beberapa saat cahaya tersebut berubah menjadi emas dan kemudian memudar.
Memperlihatkan pedang yang sangat indah dengan ukiran keemasan—mata pedang yang terlihat sangat tajam dan mematikan.
Xiu Qixuan membuka kelopak matanya, sekali lagi dia melihat benda yang terbang mengambang diatasnya.
"Woahh, Bagus sekali." Decaknya kagum.
"Keluarkan kipas emas milikmu," Ucap Baijin Hu memberi perintah dan intruksi lagi.
Tanpa banyak bertanya Xiu Qixuan mengeluarkan kipas emas tersebut dari telapak tangannya yang terbuka.
"Perintahkan kipas emas itu agar menyatu dengan pedangmu," Ucap Baijin Hu
Mengangguk mengerti Xiu Qixuan mengalir sedikit aura kehidupannya dan mengarahkan kipas emas sesuai intruksi Baijin Hu.
Kipas emas ikut terbang mengambang bersisihan dengan pedang indah tersebut.
Kemudian sekali lagi cahaya yang sangat menyilaukan menyelimuti kedua benda diatasnya dan perlahan memudar, menampilkan hanya kipas emas yang terlihat—pedang tersebut entah hilang kemana.
"Kemana perginya pedang tersebut?" Tanya Xiu Qixuan dengan penasaran dan sedikit cemas dia menarik kembali kipas emas ke genggaman tangannya.
"Bodoh. Pedang itu sudah menyatu dengan kipas emasmu. Perintahkan saja kipas itu agar berubah bentuk menjadi pedang," Jawab Lao Yong dengan tajam.
Butuh waktu yang lumayan lama agar Xiu Qixuan berhasil memperintahkan kipas emas agar berubah bentuk menjadi pedang. Dirinya butuh penyesuaian!
"Huh, Sungguh melelahkan. Waktu dan energi terbuang lebih banyak saat memperintahkan kipas ini untuk berubah bentuk menjadi pedang." Eluh Xiu Qixuan menghela napas lelah dan menyeka keringat yang mengalir dari dahinya.
Beranjak berdiri dan berjalan keluar Pavilun tersebut.
"Kau ingin kembali?" Tanya Lao Yong—kedua bola mata harimau jantan itu mengikuti arah kemana Xiu Qixuan pergi.
"Tidak, Aku ingin mencoba berlatih dengan pedang baruku." Jawab Xiu Qixuan tanpa menolehkan wajah ataupun berbalik.
Sesampainya diluar pavilun Xiu Qixuan memulai gerakan dasar dari Seni Beladiri Sekte Xitian. Gerakan yang indah seperti sedang menari tetapi sangat mematikan saat pedang tersebut menusuk lawannya.
••••••••••
Bantu naikin rating novel ini ya para readersku yang baik.
Ada lima bintang di pojok sebelah kanan atas kemudian kalian tinggal pencet bintang 5 yaa boleh jg ngetik apapun yang berkaitan dengan cerita ini disana.
Terimakasih
LuvLuv💕