
Suara Guru Biyan bergetar untuk menjawab, "Wen Liu. Wanita itu di kenali sebagai Wen Liu. Tetapi, nama aslinya adalah Fines."
deg. Jantung Xiu Qixuan terasa seperti meledak sesak. Penglihatan nya di buat kabur oleh rasa terkejut. Dia berusaha mencerna dengan mempertahankan pikirannya yang bingung.
"Fines, wanita yang kau panggil Bibi. Itu adalah dia, Alesha."
•••••••••••
Seluruh tubuh Xiu Qixuan menegang, matanya tampak kosong dan sunyi. Dia tenggelam dalam pikirannya yang menakutkan.
"Jadi, bagaimana wanita asing itu bertahan hidup?" Suara dingin Xiu Qixuan bergetar lelah dan hampa.
Guru Biyan menurunkan pandangannya dengan lembut menatap Xiu Qixuan.
"Dia terjatuh di puncak Gunung Kong. Tempat tinggal sang dewi yang di hukum oleh langit berada. Benturan energi membuat tubuh manusia bumi tidak dapat menyesuaikan diri dengan struktur alam di Daratan Ca Li. Fines pingsan dan mengalami kesulitan bernapas layaknya ikan yang keluar dari dalam air."
Xiu Qixuan masih mendengarkan dengan seksama. Walaupun pikarannya sudah bercabang tak karuan.
"Dewi Yinxi yang merasakan gerbang pembatas terbuka itu bergegas datang mencari dan menemukan Fines yang terkapar tak berdaya. Beliau memberinya berkat untuk bisa hidup di dua alam dunia manusia." Guru Biyan berkata dengan memandang tenang kedalam mata Xiu Qixuan.
Setelah itu kata-katanya menjadi lebih tajam; "Berkat itu di sebut Aura Kehidupan. Dewi juga memberinya sepasang perhiasan giok surgawi. Entah itu penebusan karena rasa bersalah atau tanda kebajikannya sebagai seorang abadi."
"Aura Kehidupan—" Xiu Qixuan terdiam sejenak, lalu bergumam bingung seperti mengingat sesuatu. Bukankah itu di berikan juga oleh Dewi Nuwa kepadanya.
Guru Biyan memperhatikan perubahan halus itu segera mengerti. Tongkat kayu miliknya yang tersampir di sebelah kanan terangkat, kemudian Guru Biyan menghentakan kaki tongkat kelantai.
Takkk...
Angin tiba-tiba berhembus kuat mengelilingi tubuh Xiu Qixuan seperti menghisap sesuatu.
"Guru apa-apaan ini?" Xiu Qixuan berteriak dengan marah. Dia tidak ingin bermain-main.
Beberapa detik kemudian angin berubah menjadi kabut ungu dan terserap kedalam tongkat kayu milik Guru Biyan.
Seketika itu juga Xiu Qixuan merasakan sesak di dadanya. Ia tidak bisa bernapas seolah-olah oksigen menghilang dari udara.
Hngg...
Xiu Qixuan mencengkeram dadanya dan terjatuh di lantai. Otot tubuhnya lemas dengan menyakitkan.
"Guru—" Mata Xiu Qixuan yang berair menatap tajam kearah Guru Biyan. Seolah-olah meminta bantuan dengan mengirim ancaman.
Wajah Guru Biyan sama sekali tidak berubah. Ia begitu santai seolah itu bukanlah masalah yang menakutkan.
Setelah hampir dua menit Xiu Qixuan merasa seperti berada di ambang pintu neraka.
Guru Biyan kembali mengarahkan tongkat.
Wosshh...
Kabut berwarna ungu yang sebelumnya hilang terserap kedalam tongkat kembali mengambang di udara mengelilingi Xiu Qixuan.
Xiu Qixuan bisa merasakan sesuatu yang hangat dan nyaman berangsur-angsur masuk kedalam sela pori-pori tubuhnya.
Ketika kabut ungu itu menghilang, Xiu Qixuan merasa tubuhnya perlahan-lahan pulih.
Xiu Qixuan bangkit terduduk dan merenggangkan tubuhnya.
Napasnya kembali stabil dengan kulitnya yang cerah. Otot tubuhnya juga dapat di gerakkan dengan leluasa.
Guru Biyan berkata ringan tanpa rasa bersalah; "Itu keadaanmu jika tanpa Aura Kehidupan. Karena kamu lebih lama berada di bumi—itu wajar jika hidupmu disini masih harus di topang dengan Aura Kehidupan. Beruntung darah Haocun yang mengalir di nadimu dapat membantu memberi sedikit perbedaan dengan ibumu."
Xiu Qixuan mengerut tajam. Saat dia ingin berkomentar, Guru Biyan sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Aku akan menjelaskannya nanti mengenai itu semua." Guru Biyan kembali berkata dengan serius. "Kita lanjutkan kisah mengenai sebuah pertemuan."
"Atas bantuan Dewi Yinxi. Fines mendapatkan tempatnya untuk sementara tinggal, sebuah keluarga kecil yang hangat. Keluarga Wen di desa yang berjarak dekat dengan lereng Gunung Kong. Sesekali Fines yang menjadi Wen Liu berkunjung diam-diam menemui Dewi Yinxi."
Ekspresi Xiu Qixuan sedikit terdistrosi. Entah mengapa sekarang dia tidak suka mendengar nama Dewi Yinxi. Karena bagaimanapun juga semua bermula dari kebodohan Sang Dewi itu sendiri.
"Pada suatu hari, desas-desus mengenai seorang Jenderal Muda kekaisaran Shen yang datang mengambil alih desa menyerbak. Ketakutan ada di setiap sudut desa. Para penduduk takut untuk di jadikan budak dan di bunuh oleh prajurit militer."
"Wen Liu adalah manusia bumi yang memiliki peradaban lebih maju. Dia tidak pernah mengerti arti sebuah desa yang di ambil alih oleh jenderal kekaisaran lain. Menjadikannya tidak berpikir untuk menjadi takut dan berdiam diri di rumah."
*Salju tebal masih menggantung di ranting-ranting pohon. Bunga prem musim semi sudah merekah indah dari kuncup batang*.
*Itu adalah minggu terakhir musim dingin. Wen Liu berjalan dengan ringan menelusuri jalan setapak yang menurun dari atas lereng*.
***Krek***...
*Suara seseorang yang menginjak ranting pepohonan membuatnya mengangkat pandangan untuk melihat*.
*Seorang pria muda memakai baju zirah dengan bahu kokohnya yang lebar menatap dingin kearah Wen Liu*.

*Seolah-olah waktu berhenti ketika* *mereka saling menatap kedalam satu sama lain*.
*Angin berhembus kencang menimbulkan suara gemerisik nyaring dari bulir salju yang berjatuhan mengenai logam baju zirahnya*.
*Wen Liu mengerjap dan memiringkan wajah bingung. "Permisi, apakah anda Tuan Jenderal yang itu*?"
*Tanpa sungkan Wen Liu bertanya, memastikan bahwa sosok inilah yang dimaksud warga desa*.
*Xiu Haocun, Jenderal Muda Shen*.
*Alis Xiu Haocun mengerut bingung. Tetapi, dia menjawab jujur. "Ya, itu aku*."
*Wen Liu menyeringai penuh arti; "Hoh, baguslah saya bertemu anda lebih dulu. Tuan Jenderal, apakah Anda datang untuk mengambil alih desa*?"
*Wajah Xiu Haocun menggelap; "Lancang! Siapa kamu berani sekali menyebarkan rumor tak berdasar? Selama bertahun-tahun Mo dan Shen memiliki ikrar suci untuk tidak memulai berperang. Mengambil alih desa sama saja memulai peperangan*."
*Wen Liu menatapnya terkejut. Tetapi, ia dengan cepat kembali tenang untuk menyalak tajam kearahnya*.
"*Heh, tuan. Berbicaralah dengan baik. Aku tidak begitu senggang untuk menyebarkan rumor tentang dirimu*."
*Saat itulah kisah mereka bermula, ada seorang gadis yang bersinar terang. Dia memiliki suara galak ketika memarahi orang tanpa sungkan*.
*Sama seperti kebanyakan pria yang memiliki cinta pertama mereka, Xiu Haocun juga memiliki perasaan yang tidak bisa dia pahami. Perasaan asing yang semakin berkembang rumit ketika menjadi jelas bahwa itu adalah yang mereka sebut sebagai 'cinta*'.
Xiu Qixuan yang menunduk dengan ragu-ragu mengangkat kepalanya balas menatap Guru Biyan. Wajahnya mendung menahan buncahan emosi.
Guru Biyan tersenyum lembut dan berkata; "Kau tahu, nak? Itu adalah permulaan yang indah bagi keduanya. Mereka memang tidak mengerti bahwa akhir tragis juga sangat berarti banyak dalam cinta."
••••••••••••••••
N/T: Ish,ish, ish.. kisah Ayah Haocun dan Bibi Fines juga romantis, say.
Author yang jomblo hanya bisa gigit jari melihat mereka di kejauhan.