
Info to new readers karena kesalahan sistem kelanjutan bab ini yaitu bagian eps 160-161 itu kehapus: di up ulang berada setelah eps 173 (Kenangan Diakhir Hidup Yang Malang). terimakasih💖
•••••••••••••••••
Ini adalah tepat dimana salju berkibar dengan angin utara yang berhembus membekukan tubuh. Perlahan langit muram karena ditutupi kabut tanpa sedikitpun cahaya.
Dupa terbakar dengan aromanya yang hangat dan menenangkan. Dalam satu ruangan yang sunyi, sosok mereka terlihat seperti keluar dari dalam lukisan yang menyentuh hati.
Diatas bantalan kursi tebal dengan perasaan hangat mengalir dan menyatu didalam nadi. Sosok kecantikan itu tersenyum tipis ketika melihat balita kecil di dalam dekapannya perlahan jatuh tertidur dengan tangan mungil yang masih mencengkeram erat ujung rambut miliknya.
Sudah minggu kelima sejak dirinya memasuki Istana Kekaisaran Xia Utara dengan menyandang gelar penuh perasaan tersiksa dan tertekan karena menerima Dekrit Kekaisaran yang tak sesuai prediksinya.
Dekrit Kekaisaran, Kaisar berkata: Nona Qi adalah tangan kanan dewa yang berbudi luhur, mulia, cerdas dan rendah hati. Telah berkontribusi dalam menyembuhkan keturunan agung naga dan phoenix. Mulai saat ini, ia dinobatkan sebagai Guru Besar Kekaisaran yang akan bertanggung jawab dengan pengelolaan Para Pangeran dan Tuan Putri.
Itu adalah isi dari dekrit yang dibacakan Kasim Cui untuk Xiu Qixuan di dalam acara perjamuan bunga yang diadakan Ibu Suri Ning.
Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Xia Qian Che akan memberikan gelar yang tidak sesuai konteks penyamarannya sebagai seorang Tabib Dewa.
Sungguh ini jelas menghambat gerak berjalannya misi. Karena seharusnya Xiu Qixuan bekerja di Balai Pengobatan jika mendapat gelar sebagai Tabib Kekaisaran, bukan? Itu akan lebih mudah dan leluasa untuk bergerak.
Mungkinkah hal ini karena percakapan yang terjadi diantara mereka sebelum saat perjamuan dimulai? Yang dimana Xiu Qixuan mengeluarkan sirat cibiran mengenai tata cara Xia Qia Che dalam mendidik anak.
Helaan napas terdengar keras dari celah bibir semerah ceri membuat sang Tuan Putri yang berada di dalam dekapannya menggeliat terusik.
'Pukkk..' Jari-jari lentiknya perlahan menepuk dan mengusap lembut punggung sang Tuan Putri Kecil untuk memberi kenyamanan.
Tiba-tiba suara derap langkah kaki terdengar berirama dan perlahan mendekat. "Nona, waktunya berganti jam. Pangeran Mahkota sudah menunggu anda di Halaman Istana Hou Ming." Suara Xiao Leng dari arah belakang terdengar membuat pemberitahuan khusus.
'En..' Xiu Qixuan mengangguk pelan dan beranjak perlahan dengan Xia Zhishu yang masih berada dalam dekapannya. Tangan Xiao Leng yang terulur untuk memakaikan tudung penutup wajah kepada sang majikan.
Xia Zhishu, balita cantik ini lebih lamban daripada kakak lelakinya, mungkin dikarenakan sudah terlalu lama terbaring diatas ranjang tanpa memiliki keaktifan anak seusianya.
Membuat Xiu Qixuan lebih nyaman dan tidak khawatir jika berdekatan dengan balita cantik ini. Karena Xia Zhishu belum pandai mengenali orang disekitarnya.
Berbeda jika itu adalah Xia Zhiwen yang terlalu cerdas sampai membuat kepalanya berdenyut pening.
"Dimana Jin Momo?" Tanyanya.
"Menjawab, Nona. Jin Momo berada di depan pintu ruang baca, apakah perlu saya untuk memanggilkannya?" Jawab Xiao Leng dengan lugas.
"Tidak perlu," Suaranya mengalir tenang dan perlahan berjalan melewati bilik tirai untuk bergegas kearah pintu yang tertutup rapat.
Ini adalah salah satu permintaannya kepada Xia Qian Che untuk tidak mengizinkan siapapun memasuki ruangan jika ia sedang melakukan pengajaran.
Dengan segera Xiu Qixuan mengembalikan balita cantik itu kedalam pengasuhan Jin Momo. Dan kemudian ia berjalan kembali penuh pancaran ketenangan keluar dari gerbang Halaman Cang Ting Yi milik sang Tuan Putri untuk bergegas ke Istana Pengeran Mahkota.
Layaknya berganti sistem shift kerja, sekarang adalah gilirannya untuk melakukan pengajaran kepada Xia Zhiwen.
********
Langit sudah menggelap lebih cepat dari biasanya karena ini adalah awal musim dingin. Dengan lentera merah yang menggantung membuat penerangan samar.
Tudung penutup wajah yang terbuat dari balutan sutera lembut itu perlahan berkibar tertiup angin dengan rok panjang yang dikenakannya menyentuh kasar lantai koridor menimbulkan suara derakan indah. Sosok ramping itu berjalan ringan dipimpin oleh beberapa pelayan istana.
Xiu Qixuan menerima sebuah aset properti dari gelar yang diterimanya yaitu Kediaman besar diluar Istana Kekaisaran dan sejak beberapa minggu yang lalu gadis ini tinggal dengan nyaman, dia hanya perlu memasuki Istana diwaktu-waktu tertentu ketika mengajar.
Xiu Qixuan tidak bisa untuk terus berlama-lama di dalam situasi aneh yang membuatnya canggung ini. Misinya hampir selesai, ia hanya perlu melakukan penelusuran dalam dua kementerian lagi.
Buronan yang menjadi misinya itu dapat dipastikan sedang bersembunyi dibalik lengan kekuasaan orang besar yang berada diantara dua kementerian tersebut.
Pada saat ini, ia bergegas untuk kembali ke Kediaman Qi miliknya. Melewati sudut koridor panjang untuk menuju Gerbang Istana. Hanya terdengar suara derap langkah kaki mereka dalam kesenyapan sendu dimusim dingin.
Tiba-tiba suara seorang balita tampan yang terlihat sedang berlari kencang untuk menyusul rombongan mereka. "Guru...Guru..." Panggilnya dengan berteriak keras.
Langkah kaki Xiu Qixuan perlahan terhenti, gadis itu berbalik untuk melihat Xia Zhiwen yang berlari dengan kepayahan menghampirinya.
"Guru, ini sudah larut. Tidak usah kembali, temani Pangeran ini bermain!" Suaranya bergetar merajuk penuh keangkuhan dengan hawa musim dingin yang menusuk tulang membuat embun samar yang keluar dari celah bibir mungilnya.
Dibalik tudung penutup wajahnya Xiu Qixuan melengkungkan senyum tipis. Dapat terlihat jelas bahwa Xia Zhiwen untuk kesekian kalinya lari dari pengawasan para pelayan ataupun kasim Istana.
Xiu Qixuan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya, perlahan dia menjentikan jarinya dengan keras diatas dahi mungil Xia Zhiwen. "Bocah nakal! Cepat kembali sana, atau pekerjaan rumah yang kuberikan kurang untukmu?" Suaranya lembut menahan kegelian tetapi penuh dengan ancaman.
"Humph, Guru ayolah! Kau ini sangat galak padaku tetapi aku tetap menyukaimu!" Dengan wajah yang berkerut menggemaskan Xia Zhiwen menghilangkan keangkuhannya sebagai seorang Pangeran dan mengeluarkan binar polos untuk merajuk.
"Kalian bawalah Pangeran Mahkota kembali ke Halaman Istana Hou Ming." Perintah Xiu Qixuan dengan acuh tak acuh segera beranjak berdiri untuk meninggalkan Xia Zhiwen pada pelayan istana.
Tiba-tiba terdengar suara derakan berat langkah kaki dari atas atap koridor. Xiu Qixuan memiliki indra pendengaran yang tajam dengan segera menolehkan wajah untuk melihat Xiao Leng yang juga sudah berwaspada.
Pada saat ini, dalam kegelapan malam terlihat sebuah cahaya mendekat dengan cepat, itu adalah panah besi dengan ujung hitam gelap.
'Wosshh..' Semua orang yang berada dikoridor sepi itu tertegun melihat anak panah yang melesat cepat.
'Trang... Trangg...' Xiao Leng segera bergegas keluar dan menggunakan pedang lembut dari pinggangnya untuk memotong serangan.
"Penyusup..." Teriak para pelayan istana bergetar ketakutan.
Xia Zhiwen masih tertegun dalam diam dengan binar polos penuh rasa keingintahuan. Dia berbeda dari bocah lainnya, tanpa rasa takut ia masih berdiri tegak dan tidak ingin bersembunyi ataupun melarikan diri.
Xiu Qixuan yang melihat itu segera bergegas mendekat untuk meraih tangan Xia Zhiwen dan mendesak, "Cepat pergi!" Geramnya.
Para penyusup berpakaian hitam tersebut turun dari atas atap menggunakan ilmu peringan tubuh. Mereka mengayunkan pedang tanpa perasaan menebas leher para dayang istana yang menghalangi. Percikan darah mengalir memenuhi sepanjang koridor.
"Kamu—, Cepat bawa pergi Pangeran Mahkota!" Perintah Xiu Qixuan melihat seorang gadis pelayan yang bergetar panik.
"Ya, Nubi mengerti!" Mematuhi dengan segera menarik tangan Xia Zhiwen untuk menjauh dari pertarungan.
"Guru..." Teriak Xia Zhiwen yang memberontak. "Lepaskan Pangeran ini!" Suaranya keras mengancam pelayan istana yang menarik tangannya.
Koridor yang senyap sepi dan jarang dilalui seseorang karena terjamin keamanannya ini berubah menjadi mencekam dan suram. Siapa yang mengira bahwa begitu banyak penyusup akan tiba-tiba masuk kedalam Istana Kekaisaran. Bukankah ini terlihat seperti misi bunuh diri?
Tidak ada waktu lagi untuk berbicara omong kosong karena disisi lain Xiao Leng sudah kepayahan menghadang sepuluh orang penyusup yang terampil itu.
Xiu Qixuan menatap mereka dengan datar dengan tangan yang terangkat dan 'Splash,' Cahaya menyilaukan dari pedangnya muncul.
"Heh, sepertinya akhir-akhir ini aku sudah menyinggung seseorang." Seringainya penuh ejekan. Dibawah cahaya samar dari lentera merah yang menggantung, sosoknya yang berkibar penuh keanggunan mematikan itu membuat tekanan besar.
••••••••••
Info to new readers karena kesalahan sistem kelanjutan bab ini yaitu bagian eps 160-161 itu kehapus: di up ulang berada setelah eps 173 (Kenangan Diakhir Hidup Yang Malang). terimakasih💖