Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sepasang Penyu & Sebuah Janji



Sinar matahari senja menemani perjalanan panjang yang dilalui oleh sepasangan kekasih dan seorang bocah kecil. Ketiga orang itu terlihat kelelahan, tetapi pancaran riang dan kebahagiaan tidak kunjung luntur dari wajah mereka.


Terlihat jelas bahwa mereka sangat menikmati setiap detik dan waktu yang dimiliki untuk sebuah moment kebersamaan, tidak terdapat sedikitpun keluhan dan juga ego seperti perjalanan yang dilakukan sebelumnya, hanya terdapat sebuah rasa pengertian yang saling memahami.


Kuda yang mereka kendarai berlari kencang menyusuri sebuah rawa yang berukuran dangkal, terlihat sangat bebas. Kawanan burung yang berada diseberang rawa mengepak sayapnya karena terusik dengan kedatangan mereka.


"Xiao Bao, peganglah dengan erat." Perintah Sima Junke kepada Xiao Bao yang juga berada diatas kuda miliknya.


Xiao Bao belum dapat mengendarai kuda dan Xiu Qixuan juga tidak lihai dalam hal berkuda. Sepanjang perjalanan jauh yang sudah mereka tempuh, bocah kecil ini ditempatkan diatas kuda milik Sima Junke.



Dengan gerakan cepat Sima Junke mengambil panah miliknya dan menembakan tiga anak panah sekaligus kearah sekawanan burung yang terbang bebas.


'Swoosh...' Suara angin dari anak panah yang melesat cepat terdengar berurutan mengenai tiga ekor burung.


Perjalanan mereka sudah berlangsung selama seminggu dan saat ini perbekalan semakin menipis. Membuat Sima Junke berburu hewan dialam liar untuk santapan makan malam mereka.


Biasanya mereka akan berhenti disebuah desa kecil dan penginapan, tetapi saat ini mereka berada diperbatasan padang pasir dan akan segera keluar dari wilayah Nanbao untuk menuju kota perbatasan timur Kekaisaran Mo.


Dari Nanbao mereka hanya perlu mengarah ketimur dan melewati Kekaisaran Mo untuk menuju Gunung Kong.


**********


Langit malam berhias bintang yang menggantung diatas cakrawala menggerlip indah. Keindahan yang menggerakan hati untuk menjadi lembut.


Suara percikan dari api unggun yang membumbung tinggi terdengar mengisi kesunyian malam.


Terlihat seorang gadis cantik terduduk disana dan termenung sendu menatap kearah sang cakrawala.


Angin malam berhembus kencang ikut menggetarkan hati dan pikirannya yang sedang tidak karuan.



Suara langkah kaki berat milik seorang pria tampan perlahan menghampirinya. "Xuan'er, mengapa tidak beristirahat di dalam tenda?" Tanyanya dengan perhatian.


Mereka membangun dua tenda kecil untuk bermalam, tetapi gadis ini malah memilih berdiam diri diluar.


Mendengar suara yang sangat familiar itu—Xiu Qixuan menolehkan wajah dengan tersenyum tipis, "A Jun, kemarilah!" Perintahnya menepuk tanah yang berada disisinya untuk membiarkan Sima Junke duduk.


Sima Junke menurutinya dan mendudukan diri disamping Xiu Qixuan karena dari pancaran bola mata indah itu—dia mengetahui bahwa saat ini ada sesuatu yang mengganjal dihati Xiu Qixuan.


"Kenapa, eum? Apakah ada yang menggangu pikiranmu?" Tanya Sima Junke dengan lembut merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Xiu Qixuan.


"Tidak, hanya mimpi buruk." Jawab Xiu Qixuan dengan perlahan menyenderkan kepalanya di bahu milik Sima Junke.


Sima Junke tidak menolaknya dan malah ikut mendekatkan diri untuk mendekap tubuh mungil milik Xiu Qixuan.


Suasana hati gadis cantik itu menjadi lebih mendramatis karena mimpi buruk mengenai sosok pria aneh itu kembali muncul. Dia dapat merasa bahwa mimpi buruk itu seperti memberi sebuah penyambutan yang tidak dimengerti olehnya.


"A Jun.. aku pernah mendengar sebuah cerita yang menarik," Ucap Xiu Qixuan dengan mengaitkan jari-jari lentiknya ke jari-jari kokoh milik pria tampan ini.


"Cerita seperti apa itu?" Tanya Sima Junke dengan merdu mengalun lembut.


"Di dunia yang lain hidup seekor bebek, bebek itu sangat riang, hidupnya sangat menyenangkan, dia tidak memperdulikan apapun, semuanya akan dia jalani dengan bersikap dinamis. Tetapi, suatu kejadian ajaib membuat bebek itu berubah menjadi angsa cantik yang memiliki hidup rumit dan harus bersikap penuh perhitungan. Menurutmu, apakah bebek itu harus senang dengan kehidupan barunya?" Ucap Xiu Qixuan mengangkat sedikit wajahnya untuk menatap Sima Junke.


Sima Junke mengerutkan keningnya dan menjawab dengan bijak, "Semua tergantung cara pandangan bebek itu dalam melihat sisi kehidupan barunya. Mungkin saja dalam kehidupan rumit yang akan dia jalani itu adalah cara langit untuk melatihnya."


Setelah mencerna perkataan itu Xiu Qixuan melengkungkan senyuman manis dan mengangguk mengerti. "Kau benar, bebek itu akan mengalami peningkatan dari sebuah rintangan hidup." Balasnya.


Hening.


Selama beberapa saat mereka jatuh kedalam keheningan, hanya terdiam untuk mendengarkan suara merdu degup jantung yang saling menyatu dan berirama.


Sudut ekor mata Xiu Qixuan melihat sepasang penyu diatas bebatuan tepi rawa, tiba-tiba seekor penyu itu terguling dan jatuh dengan posisi terbalik dari cangkangnya.


'Splash,' Pedang Xiu Qixuan muncul dan melesat cepat membantu penyu itu membalikan tubuhnya.


"Bahkan seekor penyu memilih berbalik pergi dan meninggalkan." Gumam Xiu Qixuan dengan begitu emosional menghela napas panjang.


Sima Junke yang mendengar itu menolehkan wajah untuk menatap dalam kearah Xiu Qixuan kemudian dia berucap, "Aku pasti tidak akan berbuat seperti itu padamu, aku tidak akan meninggalkanmu dan akan baik padamu seumur hidup." Suaranya yang sejernih air itu mengalir lembut untuk berjanji.


Xiu Qixuan ikut menolehkan wajah, mereka bertatapan dengan dalam. Sebelum akhirnya gadis itu membalas dengan berucap, "Baiklah, aku akan ingat perkataanmu hari ini. Kalau kau menyakitiku, aku sendiri yang akan—,"


'Splash,' Pedang yang bercahaya itu kembali kedalam genggaman Xiu Qixuan.


"Mengingatkanmu." Lanjutnya dengan seringai mengancam. Dia tidak percaya sebuah janji manis belaka, ini terlalu basi di dalam sebuah drama romansa.


Sima Junke terkekeh geli dan mengulurkan lengannya menyentuh kepalan tangan Xiu Qixuan untuk menurunkan pedang itu.


"Baiklah, baiklah... Aku mengerti, Xuan'er begitu tangguh." Balas Sima Junke dengan tersenyum manis.


Kemudian dia melirik pedang itu sekilas dan kembali menatap Xiu Qixuan, "Pedangmu begitu indah, apakah memiliki sebuah nama?"


Xiu Qixuan mengalihkan pandangan kearah pedang miliknya dan mengernyit kebingungan, "Nama?" Gumamnya.


"Xue Yue, dingin seperti salju dan bercahaya seperti bulan." Ucap Sima Junke dengan spontan.


Xiu Qixuan menolehkan wajahnya dengan berbinar mengangkat pedang miliknya, "Xue Yue, nama yang indah. A Jun -ku begitu pintar." Ucapnya dengan senang mendengar nama itu.


•••••••••••••••


Terlihat daun-daun berwarna kemerahan jingga berjatuhan terbawa angin yang berhembus, suhu disekitar mulai menurun secara bertahap. Menandakan bahwa saat ini adalah pertengahan musim gugur.


Perjalanan jauh dan hari-hari panjang sudah dilalui, saat ini mereka berada disebuah desa kecil di kaki Gunung Kong sangat dekat dengan Sekte Xitian.


Hari sudah akan gelap menjadikan mereka memutuskan untuk menyewa penginapan dan esok harinya baru akan pergi kedalam bangunan Sekte Xitian yang sudah ditinggalkan itu.


Saat ini Xiu Qixuan sedang merapihkan barang bawaan di dalam kamarnya. Suara langkah kaki terdengar memasuki pintu kamar, "Xuan'er, ada semarak festival pertengahan musim gugur di desa kecil ini. Kita akan bersantai sejenak untuk melihatnya, kau bersiaplah." Perintah Sima Junke menatap punggung ramping Xiu Qixuan yang membelakanginya.


'En,' Jawab Xiu Qixuan mengangguk singkat.


"Dimana Xiao Bao?" Tanya Xiu Qixuan membalikan tubuh untuk menatap Sima Junke.


"Sedang berganti pakaian," Jawab Sima Junke dengan berjalan menghampiri Xiu Qixuan.


Pria itu menatap Xiu Qixuan dengan sirat nakal, dia berdiri dihadapan Xiu Qixuan dan dengan perlahan menundukan tubuhnya.


Xiu Qixuan menyeringai geli dan memundurkan tubuhnya agar tidak dapat digapai oleh pria nakal ini, gadis itu ingin menggoda atau mengerjai Sima Junke.


Sima Junke yang melihat itu tersenyum licik, tidak semudah itu untuk menghentikannya.


Dengan gerakan cepat ia menarik salah satu lengan Xiu Qixuan dan memegang dagu mungil gadis cantik itu.



'Greb..Emm..' Xiu Qixuan tertegun dan menahan napas dalam kekalahan. Dia tidak mengantisipasi tindakan Sima Junke yang menciumi nya dengan ganas.


Dibawah cahaya samar kemerahan dari lilin yang menerangi kegelapan ruangan, terlihat pasangan kekasih yang saling memanggut pelan. Dengan ciuman memabukan diiringi kaitan perasaan yang begitu dalam.


Tidak memperdulikan apa yang akan terjadi di depan sana, mereka hanya mengetahui bahwa saat ini kekosongan terisi di dalam hati masing-masing.


•••••••••••••


Okey kita refreshing dlu dri kerumitan, di part ini sengaja author ingin menyorot moment kemesraan Xuanjun.


karena dibab bsk karakter yg kalian tunggu2 itu muncul loh😂 jgn lupa beri vote, hadiah, comment & like biar jdi penyemangat author crazy up!!