Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Perjamuan Akhir Tahun



Aula Istana Kekaisaran begitu megah. Itu bertambah oleh kilauan pakaian yang dikenakan para tamu kehormatan. Lampu dari lentera merah dan lilin yang menyala terjalin terang untuk bersinar.


Acara perjamuan akhir tahun sudah menjadi hal yang wajib diadakan karena ini berlangsung jauh sejak dinasti sebelumnya masih berdiri.


Ini disiapkan secara khusus oleh Kaisar untuk para menterinya. Bersyukur kepada tuhan untuk menyambut tahun yang lebih makmur dengan panen melimpah dan rakyat sejahtera.


Mungkin diluarnya seperti itu. Tetapi, tentu saja tidak sesederhana kelihatannya. Karena perjamuan yang didalamnya terdapat para menteri berstatus bangsawan tinggi akan menyangkut arus laju politik pemerintahan.


Lahan diluar halaman utama istana dipenuhi dengan gerbong yang terparkir. Dalam cahaya lentera merah, aroma harum dan gelombang tawa melayang memenuhi kemeriahan.


Agar tidak terlalu menarik perhatian dengan kedatangannya, Xiu Qixuan memilih untuk memasuki aula melewati pintu samping dengan membawa Xiao Leng yang setia mendampinginya.


Xiu Qixuan mengenakan gaun brokat formal berwarna merah muda dengan sulaman benang sutera emas yang menghiasi sisi polosnya kain.


Rambut panjangnya yang berkilau dilepas membentuk mode di pundak dengan mutiara laut Nanhai sebagai aksesoris yang menjuntai indah diatas dahinya.


Jenis penampilan yang membawa udara berbeda dari bintang dan bulan, gaya feminin yang membawa kesan elegan namun lembut secara bersamaan. Memberi kesan menyegarkan seperti sekuntum bunga musim semi yang disukai banyak orang.



Dia berjalan ke pintu dan masuk ke dalam.


Kesunyian mengapung setelah Xiu Qixuan memasuki ruangan, kerumunan orang menghentikan suara mereka.


Semua mata berpaling kepadanya segera setelah ia muncul. Hujaman tatapan terasa seperti ribuan pisau tajam yang berusaha mencari letak kesalahannya.


"Nona Qi, mari ikut dengan nubi. Kursi anda berada disebelah sana." Seorang pelayan istana datang menghampiri untuk mendampingi tamu.


Xiu Qixuan segera mengikuti arahannya dibelakang, dia mengambil beberapa langkah tegas penuh kepercayaan diri. Tidak memedulikan hujaman tatapan dari banyak pasang mata.


Tempat duduknya berada dibaris ketiga di sisi kanan, dekat dengan kursi perdana menteri dan para menteri peringkat satu.


Hal tersebut tentu saja membuat kerumunan orang kembali berbisik satu dengan yang lain.


Sebagai Guru Pangeran Mahkota dan Tuan Puteri, intensitasnya termasuk pendatang baru yang tiba-tiba muncul itu menarik perhatian banyak kalangan.


Dalam kurun waktu singkat ia bisa mendapatkan kepercayaan Kaisar. Tentu saja keberadaannya memberikan dampak pengaruh baru yang cukup besar baik dari luar dan dalam pemerintahan.


Seorang guru pangeran mahkota adalah suatu gelar yang sangat rumit. Biasanya itu dipercayakan kepada orang yang berkemampuan khusus dalam banyak hal.


Seorang guru pangeran mahkota, dimasa mendatang dapat menjadi seorang penasehat kaisar. Yang bertambah rumit adalah karena ia wanita, kasus seperti ini jarang ditemukan.


Rumor tentangnya yang akan segera diresmikan menjadi salah satu wanita kesayangan dalam harem milik Kaisar juga tidak kalah panas untuk dibicarakan.


"Sepertinya mereka melupakan gelar pertamaku yang merupakan seorang tabib dewa, aku dapat meracuni mereka jika ingin." Bisik Xiu Qixuan mengeluh penuh cibiran kepada Xiao Leng yang hanya menahan untuk tidak menyeringai.


Setelah Xiu Qixuan duduk ditempatnya, dua orang pelayan istana segera melangkah maju menuangkan arak juga menghidangkan kudapan.


Mata Xiu Qixuan berbelok untuk melihat orang-orang yang menghadiri perjamuan.


Ini adalah acara perjamuan akhir tahun. Beberapa keluarga besar dari para menteri kekaisaran secara khusus membawa Tuan dan Nona Muda mereka untuk ditunjukkan dalam pasar pernikahan.


"Yang Mulia Kaisar, Ibu Suri dan Nona Ning telah tiba..." Tepat dipintu utama sumber dari suara nyaring seorang kasim yang memenuhi ruangan untuk memberitahukan kedatangan sang penguasa utara.


Semua orang segera berdiri untuk menyambut dengan memberikan penghormatan.


Pintu utama aula istana yang terbuat dari kayu cendana memiliki ukiran kepala singa bertubuh naga. Pintu yang menjulang megah itu perlahan terbuka menampilkan sosok keagungan seorang petinggi.


Xia Qian Che memasuki ruangan dengan arogansi seorang penguasa.


Pria itu mengenakan jubah hitam dengan motif sisik naga emas, rambutnya diikat dengan mahkota bermanik-manik naga ganda yang membentuk lilitan, dan permata hijau yang sangat langka menghiasi bagian tengahnya.



Dia tinggi dengan bahu lebarnya yang kokoh dan pinggang yang runcing. Dia memiliki ketampanan yang menyilaukan mata.


Kedua wanita berbeda generasi dari Keluarga Ning itu terlihat memiliki suatu ikatan khusus yang sangat dekat.


Ning Xiaoyin terlalu sering keluar masuk istana kekaisaran, gadis itu sedang digadang-gadangkan akan menjadi permaisuri selanjutnya.


Kalau memang benar hal tersebut terjadi, dapat dipastikan seberapa kuat akar Keluarga Ning dimasa depan.


Xia Qian Che berjalan menuju singgahsana tempatnya berada. Langkah kakinya yang kuat melewati sisi depan Xiu Qixuan yang sedang menunduk untuk ikut memberi Salam hormat.


Xiu Qixuan bisa merasakan sepasang mata menatapnya. Dia sedikit mendongak dan berhadapan dengan mata gelap yang meliriknya tajam. Secara naluriah, ia dengan cepat kembali menundukan wajahnya datar.


Itu adalah Xia Qian Che yang menatapnya sekilas dengan makna tersembunyi.


"Semua bangkit. Tidak perlu terlalu formal, ini hari yang istimewa." Suara Xia Qian Che terdengar begitu bermurah hati.


Semua orang dalam aula mengikuti perintah dengan kembali meluruskan punggung mereka.


"Nikmatilah perjamuan untuk menyambut tahun dengan hasil panen melimpah." Dengan beberapa patah kata Xia Qian Che memulai awal acara.


Ia mengangkat cangkir porselen untuk berkata, "Arak pertama untuk kejayaan Kekaisaran Xia Utara." Suaranya benar-benar mengalir penuh rasa senang seiring ia tersenyum lembut.


"Untuk kejayaan Kekaisaran Xia Utara." Semua orang segera mengikutinya dengan mengangkat cangkir arak kemudian meminum dalam sekali teguk.


Alunan musik yang dibawakan oleh para pemusik handal mengisi sela acara.


Ning Xiaoyin duduk disamping Ibu Suri, itu merupakan satu tempat dibawah Kaisar. Rona merah memancarkan kebahagiaan tidak lepas dari wajahnya, ia tidak sungkan mengajak Xia Qian Che berbicara untuk menunjukan keintiman.


Tiba-tiba seorang Menteri yang merupakan antek-antek dari Keluarga Ning berkata, "Nona Muda Ning memiliki kepribadian berbudi luhur dengan bakat yang langka. Yang Mulia, bagaimana menurut Anda?"


"Paman terlalu menyanjung. Xiaoyin tidak begitu berbakat dalam beberapa bidang." Suaranya merendah, menahan tersedak sambil membawa makna tersembunyi yang halus.


Xia Qian Che tersenyum tipis dengan menyembunyikan kesinisan yang tertahan. "Ya, itu bagus." Jawabnya tak acuh.


Ketika mendengar satu kalimat singkat tersebut, kekesalan dan rasa tidak puas terlihat dimata Ning Xiaoyin yang bergetar samar.


"Yang Mulia, chennu sudah mempersiapkan pertunjukannya." Suaranya yang tercicit seperti burung kenari yang terbang diatas embun kolam teratai putih.


Wajah Xia Qian Che yang tampan tampak sedikit suram. Tanpa menjawab, ia beranjak untuk berdiri.


Seketika semua orang terdiam menunggu Sang Kaisar berbicara.


"Perjamuan akhir tahun yang sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang mungkin terasa membosankan. Maka dengan ini Nona Ning sebagai penanggung jawab acara yang menggantikan Ibu Suri ingin menambah suatu hal baru." Ucap Xia Qian Che dengan tersenyum lebar.


Seharusnya acara besar seperti ini dipersiapkan oleh Permaisuri. Tetapi, karena tidak ada yang mengisi posisi tersebut. Maka Ibu Suri-lah yang masih memegang penuh kendali.


Pada saat ini, Ibu Suri melimpahkan tanggung jawab dari tugas tersebut kepada keponakannya. Sudah begitu jelas bahwa Ibu Suri mendukung Ning Xiaoyin sepenuh hati untuk menjadikannya Permaisuri.


"Nona Ning, silakan." Lanjut Xia Qian Che dengan lembut mengulurkan tangan untuk mempersilahkan Ning Xiaoyin berdiri disampingnya.


Pancaran merah kebahagiaan yang menghiasi kedua pipi Ning Xiaoyin tercetak jelas.


"Terimakasih, Yang Mulia." Ucapnya dengan merona merah. 'Clap..clap..' Ning Xiaoyin menepuk kedua tangannya nyaring.


Seketika itu muncul rombongan pemain akrobat. Mereka membawa peralatan aneh yang menarik.


"Tarian dari banyak budaya sudah banyak kita saksikan." Ucapnya dengan irama anggun menjelaskan. "Tetapi, sebagai seorang bangsawan yang harus dilakukan adalah dengan menambah wawasan baru. Maka dari itu, saya menyiapkan jenis pertunjukan ini agar membuka pandangan kita dengan hal-hal baru." Lanjut Ning Xiaoyin dengan suaranya yang lembut seperti alunan musik merdu.


Tidak melupakan, Ning Xiaoyin melirik sinis penuh penghinaan kearah Xiu Qixuan yang sebenarnya tak peduli.


Dipojok kanan baris ketiga, Xiu Qixuan sejak tadi begitu tenang dan damai menyaksikan segala hal sebagai penonton setia dengan memakan hampir seluruh isi meja kudapan. Ia hanya balas menyeringai remeh ketika Ning Xiaoyin terlihat begitu berbangga diri.


••••••••••••••


Chennu: aku/putri abdimu. digunakan oleh anak perempuan pejabat.