Travel To The World Of Ca Li

Travel To The World Of Ca Li
Sketsa Wajah Yang Terguncang! : Wen Liu



Kembali ke ruangannya sendiri, Xiu Qixuan terduduk lesu dengan memijat pelipisnya pelan.


Dia membuka lembar dokumen yang di kirimkan secara bersamaan dengan surat sebelumnya dari Xiu Huanran.


Wajahnya terlihat serius menatap lembaran pengenal yang berisi identitas palsu yang disiapkan untuk keluar dan masuk kota kekaisaran.


'Haa..' Dia menghela napas dengan segera menelungkupkan kepalanya diatas meja.


Hari ini begitu panjang dan melelahkan. Menguras banyak emosi dan tenaga. Begitu banyak hal terjadi secara bersamaan. Sampai dia kebingungan untuk mengatur suasana hatinya yang terasa tak menentu.


Kepala nya juga terasa pening karena begitu banyak berpikir dan menampung segala informasi baru yang mengejutkan.


Dia memejamkan matanya yang terasa memberat menahan kantuk.


'Tok..tokk..' Tiba-tiba suara ketukan pintu yang berisik membuatnya tersentak bangun.


"Nona, ini Xiao Rou!" Suara Xiao Rou yang memanggilnya lembut terdengar setelah suara ketukan pintu ruangan.


'En..' Xiu Qixuan hanya berdeham malas tanpa beranjak sedikitpun dengan mata yang masih meredup. "Masuklah." ucapnya.


Pintu terbuka dengan suara langkah kaki ringan perlahan mendekat.


Melihat wujud lesuh Xiu Qixuan yang seperti sedang sekarat karena kelelahan, Xiao Rou mengembangkan senyuman tipis kemudian segera mengambil syal bersulam hitam dari bilik yang tergantung dan meletakannya di bahu Xiu Qixuan dengan lembut.


"Sepertinya saya perlu menyiapkan kembali lebih banyak isian daging dalam hidangan makan malam hari ini untuk Nona saya yang sudah bekerja keras."


Xiao Rou berkata dengan ejekan yang ringan untuk menggoda sang atasan.


Xiu Qixuan masih dalam kesadaran untuk mendengar. Matanya masih terpejam ketika ia balas bergumam dengan mengangkat jempolnya membentuk sebuah pujian, "Hoho... Xiao Rou-ku, memang yang terbaik. Paling mengerti aku di dunia ini."


"Tentu saja, saya selalu mengingat nasehat dalam perkataan Anda. 'Hidup itu sederhana. Asalkan perut kenyang maka akan terasa bahagia.' Bukankah begitu, nona?" Ucap Xiao Rou dengan bangga menirukan nada suara juga gestur khas Xiu Qixuan ketika beralasan mengenai kesenangan nya.


Xiu Qixuan membuka kelopak matanya dan segera terkekeh kecil menatap Xiao Rou yang masih berdiri disamping kiri meja.


Xiao Rou tidak pernah berubah, ia merupakan salah satu orang yang memberikan kesan mendalam di perjalanan seorang Xiu Qixuan.


Dibandingkan menyebutnya pelayan, gadis ini lebih terlihat seperti seorang sahabat yang pengertian.


Walaupun sejak dua tahun lalu Xiu Qixuan lebih membatasi ruang bagi orang lain. Tetapi, Xiao Rou begitu terampil karena bisa menyesuaikan segala perubahan tersebut.


"Hoho.. Betapa besar nyali-mu." balas Xiu Qixuan dengan tertawa ringan.


"Sebesar yang Anda ajarkan kepada saya." jawab Xiao Rou dengan tersenyum manis.


Xiu Qixuan menyeringai senang.


Pintarnya Xiao Rou bersilat lidah, bukankah jika diartikan maksud dari perkataan tersebut adalah Xiu Qixuan yang mengajarkan semua hal dan membentuk kepribadiannya.


"Aiyaa, saya hampir saja melupakan sesuatu." Suara Xiao Rou terdengar lagi dengan nada bergetar terkejut.


Xiu Qixuan mengerutkan kening untuk berkata skeptis, "Apakah itu sesuatu yang penting untuk ditinggalkan?"


"Ya, itu permintaan yang Anda tinggalkan pada saya sebelum pergi menyelesaikan misi." jawab Xiao Rou dengan berkedut serius.


Ah, jika itu permintaannya untuk di selesaikan oleh Xiao Rou.


Mungkinkah...


"Ini lukisan wajah Nyonya Wen Liu yang saya dapatkan."


Tangan Xiao Rou terulur memberikan gulungan kain yang membentuk kanvas sederhana.


Mata Xiu Qixuan mengerjap sejenak. Wajahnya membeku samar ketika ia segera menegakkan punggungnya lurus dan menerima benda yang mengukir rupa seorang wanita asing yang mungkin tak akan pernah dia temui dalam kehidupan ini.


Sebelum pergi memasuki istana Kekaisaran Xia Utara. Xiu Qixuan memberikan tugas khusus dan hanya Xiao Rou orang yang paling tepat untuk menangani permintaan tersebut.


Yaitu, mencari dan mendapatkan segera lukisan bentuk rupa dan wajah Wen Liu karena dia ingin mengenali semua orang yang memiliki hubungan dengan kehidupan Qiaofeng.


Xiu Qixuan mengangkat pandangannya yang bergetar untuk menatap manik mata Xiao Rou. Ia tidak begitu penasaran untuk segera membuka gulungan kanvas tersebut, sebaliknya dia tiba-tiba bertanya topik yang lain. "Bagaimana keadaan diluar?"


"Sisa kekacauan hampir seluruhnya di bereskan oleh masing-masing anggota yang bertugas." jawab Xiao Rou tersenyum pengertian.


Dilihat dari reaksi kerutan tidak nyaman diwajah cantik Xiu Qixuan. Xiao Rou yang begitu peka tentu saja jelas menyadari bahwa Xiu Qixuan menginginkan ketenangan dengan ditinggalkan seorang diri untuk melihat gambar seseorang di dalam lukisan tersebut.


"Kalau begitu saya akan pamit untuk segera menyiapkan hidangan makan malam Anda."


Dengan cepat Xiao Rou membungkuk hormat dan berbalik pergi.


Pintu tertutup. Segera keheningan yang menyelimuti dalam ruangan terasa sepi dan dingin.


Mata Xiu Qixuan terlihat berkedut ragu. Jari-jarinya perlahan membuka gulungan tali merah yang mengikat kanvas kain tersebut.


'Sret..'


Segera kanvas terbuka dan menampilkan sosok gambar seorang wanita cantik yang sedang terduduk anggun diatas pohon bunga persik dengan ditemani hangatnya matahari musim semi yang bersinar mengelilingi keindahannya.



Kesan halus dan bermartabat terlihat begitu menonjol dari sosoknya.


Xiu Qixuan mengerutkan kening dengan mata yang menyipit tajam.


Ah, bagaimana ini? Sepertinya sosok gadis modern dan awam masih melekat dalam diri Xiu Qixuan.


Ia tidak dapat mengenali seseorang hanya dari gambar lukisan yang menurutnya sedikit ambigu. Tetapi, kesan akrab begitu timbul ketika melihat lukisan rupa sosok Wen Liu.


Jari-jarinya terulur untuk meraih kanvas kain tersebut.


'Srek..'


Tiba-tiba lipatan kertas terjatuh dari bagian dalam kanvas. Xiu Qixuan segera meraih untuk melihat isinya. Itu adalah sebuah gambar wajah wanita yang lebih detail.


Xiao Rou melukiskan kembali untuknya. Dia tahu bahwa sang nona terlalu awam untuk mengenali dan mengerti sebuah gambar.


"Oh, Xiao Rou yang paling pengertian." gumam Xiu Qixuan penuh binar.


Wajah Wen Liu yang digambarkan detailnya oleh Xiao Rou terlihat begitu indah dan cantik.


Garis rahang lembut dengan sepasang manik yang dibingkai oleh kelopak bulu mata yang lentik. Alisnya yang membentuk lengkungan sejajar bulan sabit.


Dan, hidung serta bibir tipisnya yang mungil merekah indah. Senyuman kebahagian dalam wajahnya terlihat seperti genangan air hujan musim gugur. Begitu cerah dan hangat.


Tunggu sebentar....


Kening Xiu Qixuan yang mengerut semakin mengencang erat. Sketsa wajah ini terlihat familiar, dimana ia pernah bertemu, ya?


'Hikk...'


Xiu Qixuan terkejut sampai membelalak seram. Dia melempar kasar kertas berisi sketsa wajah Wen Liu tersebut keatas meja.


Seolah-olah baru saja melihat hantu gentayangan, dia begitu terguncang.


'Mama, itu wajah mama waktu masih muda, kan?!' batinnya.


Jelas, dia masih mengingat wajah mama nya yang selalu berisik ketika sangat berbangga diri menunjukkan photo-photo kencan masa mudanya.


Pada saat ini, pikiran Xiu Qixuan sepertinya tidak dapat digunakan. Sungguh mentalnya terguncang.


Matanya berkabut samar ketika melihat wajah yang sudah sangat dia rindukan. Ia ingin pulang!


••••••••••••••••