
"Jadi, maksudmu adalah kamu secara tidak sengaja menerobos batasan dunia?" Xiu Huanran berkata dengan kerutan yang menerawang jauh, ia tenggelam dalam pikirannya yang bingung.
"Benar." Xiu Qixuan menjawab dengan cerah sambil menjentikkan jarinya, susah payah ia membuat Xiu Huanran mengerti.
Tiba-tiba Xiu Huanran menolehkan wajahnya untuk menatap Xiu Qixuan dengan tatapan selembut kapas.
Puk
Tangannya terulur menepuk pelan pucuk kepala Xiu Qixuan dengan kasih. Sembari berkata,
"Itu pasti mengejutkanmu."
"..."
Mendengar perkataan tersebut membuat Xiu Qixuan mengerjap terpana.
"Ya, terimakasih." Kemudian dia membalas dengan matanya yang menyipit memasang senyuman secerah matahari musim panas.
Tetapi, ekspresi itu dengan cepat berubah menjadi gelap ketika dia mengingat Qiaofeng yang terbunuh didepannya.
"Maafkan aku."
Xiu Huanran menyadari arti perkataan dan kesuraman di raut wajahnya. Ia mengelus punggung tangan Xiu Qixuan dengan lembut menyalurkan rasa hangat.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kami-lah yang bersalah tidak bisa menjaganya dengan benar." Xiu Huanran berkata untuk menenangkan, bibirnya mulai membentuk senyuman, tapi tatapan matanya yang terpancar kesedihan berkata dengan sebaliknya.
"..." Xiu Qixuan terdiam dengan menunduk lesu.
Xiu Huanran menghela napas panjang kemudian segera beranjak untuk memposisikan diri setengah berlutut dihadapan Xiu Qixuan.
"Xuan'er ..." Suara rendah Xiu Huanran kembali mencapai telinga untuk memanggilnya.
"Ya?" Xiu Qixuan menatapnya dengan mengerjap penuh tanya.
Mata mereka yang tenggelam saling berbenturan menatap kedalam diri masing-masing.
"Terimakasih sudah menceritakannya padaku. Mari kita cari bersama jawaban atas pertanyaan yang tidak kita mengerti."
Xiu Huanran berkata riang dengan tangan kanan yang terulur menunggu Xiu Qixuan meraihnya.
"..."
Xiu Qixuan tercengang, ia bergidik dengan perilaku lembut Xiu Huanran yang seperti seorang pria sejati.
"Fufu... baiklah Er'ge, mari kita lakukan bersama." Xiu Qixuan terkekeh keras dengan nada sedikit mengejek menerima uluran tangan Xiu Huanran.
Dia belum membagikan semua bagian ceritanya yaitu yang terkait dengan misi perintah dan ramalan kehancuran Daratan Ca Li dari Dewi Agung Nüwa.
Karena ini bukanlah waktu yang tepat, Xiu Huanran juga tidak sepenuhnya mempercayai hal yang tidak logis seperti itu dan belum bisa mencerna cerita yang lebih tidak masuk akal lagi.
Di bawah sinar bulan, hembusan semilir angin musim semi membawa aroma bunga yang menyegarkan.
Setelah percakapan yang memberat itu, Xiu Qixuan kembali melanjutkan perjalanannya menuju lereng pegunungan.
Yang berbeda adalah Xiu Huanran mengikutinya dengan terbuka berusaha menjaganya.
Mungkin dia melakukan itu untuk menekan rasa bersalah akan cerita tentang Qiaofeng.
Cahaya bintang berkelip indah diatas langit gelap, terlihat Xiu Qixuan jatuh termenung dengan sebelah tangan menopang dagunya.
Dia dengan tenang menunggu Xiu Huanran yang sedang mengumpulkan kayu bakar untuk mereka bermalam.
**Sret**
Tubuh Xiu Qixuan menegang terkejut ketika dia merasakan suatu benda yang tiba-tiba melingkari kepalanya.
Ketika menolehkan wajah kebelakang, ia melihat Xiu Huanran yang sedikit membungkuk dengan jari-jarinya yang terulur memasangkan mahkota bunga yang dirangkaikan kepadanya.

"Selesai."
Kata Xiu Huanran dengan tersenyum menarik kembali jari-jarinya.
"Apa ini? Kau membuatnya?" Xiu Qixuan bertanya dengan tatapan geli sedikit mengejek. Seolah-olah berkata, bahwa dia tidak cocok untuk merangkai bunga.
Xiu Huanran berdeham canggung segera memalingkan wajahnya.
"Tidak, aku memungutnya sembarang. Buang saja kalau kau tidak menyukainya."
Kemudian Xiu Huanran segera beranjak untuk menyalakan api dengan kayu bakar yang sebelumnya dia kumpulkan, terlihat bahwa ia bergegas menghindar ejekan yang lebih banyak dari sang adik.
"Hoh?" Xiu Qixuan menyeringai terkekeh tidak percaya.
"Aku lupa memberikan ini, ayah mengirimkan surat untukmu."
Xiu Qixuan mengambil lembar surat tersebut dan sejenak memandang segel merah Keluarga Xiu yang tertempel menutup amplop.
"Kau sudah terlalu lama berkeliaran diluar. Pulanglah, mereka mengkhawatirkanmu." Xiu Huanran kembali berkata.
"Akan kupikirkan." jawab Xiu Qixuan terdengar berat, ia segera merobek amplop tersebut dan membuka isinya.
"Saat di Daratan Ca Li, kami adalah keluargamu. Tidakkah kau bisa beranggap begitu saja, Xuan'er?" Xiu Huanran berkata dengan sedikit menggeram melihat Xiu Qixuan membangun batasan.
Xiu Qixuan menolehkan wajah kemudian mengangguk dengan tersenyum lembut, menjawab.
"Ya, tentu saja."
Setelah mengatakan itu, Xiu Qixuan kembali mengarahkan kedua matanya untuk membaca untaian kelimat yang ditulis oleh Xiu Haocun.
\[*Untuk Putriku tersayang, Xuan'er*.
*Salju putih yang menutupi daratan memantulkan cahaya bulan, menghadirkan pemandangan Kota Ping'an yang tampak bersinar tenang dari atas benteng timur. Ini adalah musim dingin kedua yang kau habiskan diluar. Bagaimana kabarmu, nak*?
*Kami semua baik-baik saja disini. Jangan mengkhawatirkan kami*. *Seminggu yang lalu, Yuheng sudah dapat mengambil langkah pertamanya*.
*Dia banyak berceloteh keras memanggilku dengan sebutan kakek. Aiyaa, dia juga pernah beberapa kali menyebut namamu. Sepertinya Yuheng juga merindukan bibinya*.
*Kalau kau tidak sibuk. Dapatkah kau pulang dimusim panas nanti? Kita rayakan bersama ulang tahunmu. Ayah akan menyiapkan semuanya*.
*Dan, mengenai usulan lamaran pernikahan. Sepertinya kita tidak dapat menahan lagi. Ayah akan memastikan satu yang pantas untukmu. Pulanglah dan pastikan sendiri*.
*Kumohon jaga dirimu*. *Jangan terluka. Jangan bekerja terlalu keras*.\]
Ekspresi Xiu Qixuan menjadi tampak terdistorsi setelah membaca kalimat terakhir yang tertulis disana.
"Ada apa? Apa yang ayah katakan?"
Xiu Huanran bertanya dengan kerutan bingung melihat perubahan ekspresi suram sang adik.
"Kau tidak mengetahui ini? Ayah menyuruhku kembali untuk memilihkanku calon suami." Xiu Qixuan berkata dengan menolehkan wajahnya yang mengeras.
"Apa?!" Xiu Huanran terkejut dengan cepat meraih lembaran surat tersebut untuk membacanya.
"tsk... yang benar saja, lamaran sialan." gerutu Xiu Huaran membacanya dengan berdecak kesal.
Xiu Qixuan tenggelam dalam pikirannya, dia kemudian bergumam meringis tanpa sadar.
"Ini aneh. Biasanya ayah akan melakukan apapun untuk menghalau lamaran pernikahan yang tertuju untukku. Dilihat dari kalimatnya dia seperti sangat terdesak oleh sesuatu." Xiu Qixuan menolehkan wajah memasang tatapan menyelidik kearah Xiu Huanran. "Bagaimana menurutmu? Tidakkah kau mengetahui sesuatu?"
"Aku benar-benar tidak tahu. Surat ini baru sampai seminggu yang lalu dan aku langsung membawanya tanpa membuka untuk menyelidiki karena ini dari ayah. Dia juga tidak mengirimiku surat secara pribadi." jelas Xiu Huanran mendengus dengan tatapan tegas berusaha meyakinkan.
"Baiklah, baiklah. Kita tunda dulu pembicaraan mengenai ini. Lagipula, aku akan pulang di musim panas nanti untuk melihatnya sendiri" Xiu Qixuan melambaikan tangan dengan acuh tak acuh.
"Ya, kau tenang saja. Aku juga akan membantumu menyingkirkan para badebah yang tidak tahu tempat itu." Xiu Huanran berkata dengan terus mengeluarkan sumpah serapah.
Xiu Qixuan tertawa terbahak-bahak.
"Fufu, kedengarannya bagus. Kalau begitu aku akan pergi tidur sekarang. Kau yang berjaga ya, Er'ge. Selamat malam." ucapnya dengan menguap merenggangkan tubuh untuk bersandar di batang pohon yang lebar.
•••••••••••••••••••