
Para premis ini, langit begitu cerah membawa angin sepoi-sepoi yang manis. Matahari bersinar hangat menyorot rombongan gerbong mewah. Puluhan hampir ratusan prajurit berbaris dengan gagah menjaga, menandakan para sosok penting bagi negara sedang melakukan perjalanan.
Saat ini adalah hari keberangkatan mereka dari ibukota menuju ke tempat berburu, jalan utama harus di blokir untuk rakyat biasa, kedai dan toko di sepanjang jalan harus di tutup. Sebuah bendera besar dengan lambang naga kuning terbentang berkibar di atas, dari sisi jalan ke jalan lainnya. Prosesi rombongan diatur menurut peringkat kebangsawanan, para menteri mengikuti di belakang rombongan keluarga kekaisaran.
Kali ini, semua sumber daya dikerahkan dengan hati-hati. Perubahan peraturan berburu menyambut musim gugur kali ini sangat besar. Karena perburuan kali ini di khususkan untuk Para Pengeran Kekaisaran.
Seluruh area perburuan dibagi menjadi enam pintu masuk. Masing-masing pangeran hanya bisa membawa lima pengikut. Masuk secara terpisah. Itu demi ingin melihat para pangeran bersaing secara adil.
Pada saat ini, Kaisar membawa para selir berperingkat tinggi dan Permaisuri bersamanya. Dan satu hal berbeda dari yang di rencanakan, yaitu Pangeran Mahkota mengajukan diri untuk tetap tinggal di istana dengan alasan mengelola urusan pengadilan ketika semua orang ikut dalam acara perburuan.
"Shang meimei. Tidakkah kamu melihat wajah keruh Huangjie?" Wei Guifei mengatakan ini dengan sedikit senyum pada Shang Shufei.
Mendengar itu, Shang Shufei menekuk kipas di depan wajahnya dengan gerakan yang elegan, dia tersenyum dalam dan balas berkata: "Itu wajar ketika Huangjie mengkhawatirkan Pangeran Mahkota kami. Jika itu aku, aku khawatir tidak bisa makan atau tidur dengan nyenyak kala putraku memilih melewatkan kesempatan yang begitu bagus untuk menemukan istri dan menambahkan dukungan."
Sudut mulut Wei Guifei terangkat miring, tanpa di lihatpun itu sangat jelas bahwa wajahnya mengeluarkan jejak penghinaan ketika dia menampilkan senyuman mengejek.
"Fufu.., memang Shang meimei yang berpikiran dalam." Wei Guifei tertawa tajam.
Di permukaan mereka tampak begitu akur, dan berbicara seperti memang sedang mencemaskan Permaisuri yang berada di gerbong lain bersama Kaisar.
Tapi, sebenarnya mereka sedang mengawasi dan mengorek informasi dari satu sama lain. Dalam benak kedua wanita itu, mereka sedang bertanya-tanya—apa yang membuat Pangeran Mahkota secara pribadi meminta izin pada Kaisar untuk tetap tinggal di istana alih-alih memilih mendapatkan istri sepadan yang bisa menggantikan Puteri Mahkota saat ini. Tidak mungkin Pangeran Mahkota berubah pikiran karena dia sangat mencintai istrinya yang bermarga Rui itu, 'kan?
Di dalam gerbong dengan ukiran emas menonjol, sepasang suami istri yang sudah menjalani kehidupan bersama hampir dari seperempat abad itu terdiam.
Mereka tidak saling berbicara seolah begitu asing. Keheningan begitu pekat terasa berat. Faktanya adalah sepanjang jalan Permaisuri memasang wajah menghitam dan Kaisar begitu jengah karena belum cukup memahami istrinya.
"Lihat dirimu itu, hutan akan langsung mengering ketika kamu datang." Kaisar berbicara dengan sinis, mengeluarkan sindiran.
"Itu bagus kalau memang benar, berarti saya keturunan Dewa Penghancuran." Timpal Permaisuri tidak kalah tajam, dia menoleh dan tersenyum kecut.
Kaisar menghela napas kasar, dia menatap Permaisuri dengan dingin. "Kamu terlalu ikut campur dalam mengatur kehidupan anakmu. Si sulung begitu bergantung dan Si bungsu menjadi manja juga tak berguna, itu semua ulahmu sendiri. Jangan salahkan aku kalau mereka tidak bisa mempertahankan posisi mereka dalam istana yang penuh darah." Ujarnya begitu kejam.
Mendengar kalimat penuh peringatan itu, seluruh tubuh Permaisuri bergetar oleh gejolak amarah. Dia mengepalkan jari-jemarinya, matanya memerah. Menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya sendiri, tapi suaranya masih bergetar ketika dia berkata: "Bertahun-tahun saya menyayangi dan merawat mereka seorang diri ketika anda begitu sibuk. Oh tentu saja, ini bukan keluhan. Tapi setidaknya tunjukanlah kata-kata yang baik karena mereka berdua juga tetap merupakan putra anda—meskipun anda memiliki yang lainnya tapi saya hanya memiliki mereka sebagai ibu dan anak." Sinisnya.
Sejak kemarin emosi Permaisuri begitu dimainkan. Menantu perempuannya, Rui Minglan, wanita itu tiba-tiba memiliki keberanian besar karena menggenggam sebuah senjata untuk mengancam kedudukannya dan putranya. Wanita itu berani-beraninya berkata bahwa jika dia disingkirkan dari posisi Puteri Mahkota, dia akan menyeret mereka bersamanya ke neraka.
Itu membuat Pangeran Mahkota yang seharusnya mengikuti kompetisi perburuan untuk mendapatkan penggantinya pun memilih mundur.
Jelas itu membuat Permaisuri sangat marah, dia menjadi lebih berambisi menghilangkan Rui Minglan yang memegang bukti kelemahan Keluarga Gao miliknya.
Sekarang dia hanya bertaruh pada Shen Wanqi dalam acara perburuan.
••••••••••••••••
Tangan Xiao Rou yang memegang kipas terus bergerak, dia berbicara dengan tenang sembari mengipasi Xiu Qixuan yang sedang memejamkan mata berbaring di bantalan kursi gerbong.
Pada saat ini, hanya ada mereka berdua di dalam gerbong sedangkan Chao momo berada di depan bersama kusir.
Tanpa membuka kedua matanya, bibir Xiu Qixuan bergerak perlahan menanggapi: "Itu lebih bagus ketika mereka berbicara buruk tentangku." Ujarnya.
"Eum... sepertinya itu hanya beberapa yang buruk karena selebihnya adalah pujian untuk ketajaman anda." Ada sedikit jeda kala Xiao Rou berpikir sejenak untuk bergumam.
Xiu Qixuan hanya balas mendengus.
Teringat akan sesuatu, tangan Xiao Rou refleks berhenti mengipasi Xiu Qixuan. "Oh yaampun.., saya hampir lupa!" Pekiknya. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar surat yang tersegel lilin hitam. "Tuan muda kedua sudah beberapa kali mencoba menghubungi anda tapi tidak mendapat jawaban. Kali ini dia berpesan pada saya untuk menyampaikan langsung surat dan perkataannya. 'Adik dungu, bertindak ceroboh juga ada batasnya! Aku percaya kamu bisa mengatasinya tapi kamu ternyata sangat bodoh sampai bisa dijerat! Jawab panggilan suaraku di lonceng!' begitu kata Tuan muda kedua." Ujar Xiao Rou menirukan gaya bicara Xiu Huanran yang suka mengomel dengan menjengkelkan.
"Simpan itu, kau menggangguku berpikir!" Xiu Qixuan menanggapi dengan datar. Kerutan di keningnya begitu dalam namun matanya masih terpejam.
Xiao Rou mengangguk dan menyimpan surat itu kembali. Namun, dia terdiam cukup lama dengan ekspresi ragu menatap Xiu Qixuan. "Nona..." Panggilnya.
Xiu Qixuan balas berdeham.
"Saya harap anda tidak menikah dengan salah satu pangeran." Ujar Xiao Rou dengan bergetar samar.
Xiu Qixuan membuka kedua matanya, dia menoleh sembari mendelik. "Kau lucu, Xiao Rou." Balasnya terkekeh tajam. "Bukankah kau yang selalu bersemangat ketika membahas pernikahan untukku." Tambahnya.
Xiao Rou tersenyum hambar, "Ya. Saya hanya ingin anda menikah dengan bahagia." Gumamnya seperti berbisik.
••••••••••••••••
Huangjie: Panggilan kakak perempuan untuk keluarga kekaisaran.
A/N:
Holla!! Terimakasih yang sudah setia menunggu dan menanyakan keberadaan author ini.
Mohon maaf sebelumnya karena menghilang tanpa kepastian🙂 Jadi, disini author mau minta izin untuk Hiatus sementara. Karena pekerjaan baru author di real life itu terjun ke lapangan, bukan berdiam diri di kantor, jadi agak susah mengatur waktu untuk sementara ini sampai sebulan kedepan.
Mohon pengertiannya, author juga selalu kangen Xuan dkk. Tenang aja, karya ini pasti dilanjut sampai tamat.