
Tempat Perkemahaan
Semua orang menahan napas pada saat ini, situasi yang tidak mereka mengerti membuat mereka lebih berhati-hati.
Dalam barisan tempat duduk, Yao Anran dengar erat meremas cangkir teh di tangannya dan hampir berdiri. Tetapi, Duan Maiqu menghentikannya dengan menggelengkan wajah. Dua gadis ini tulus mengkhawatirkan Xiu Qixuan.
Pada saat ini, seorang penjaga terlihat bergegas masuk dan berteriak melapor: "Yang Mulia Kaisar, Tuan Muda Kedua Xiu datang meminta untuk bertemu."
Kulit Kaisar segera berubah saat dia berdiri dari takhta. Dia berjalan keluar untuk melihat sosok pria turun dari pelana kuda, dengan mata yang cemerlang dia membungkuk untuk memberi hormat.
"Huanran memberi salam pada Yang Mulia. Semoga Yang Mulia hidup seribu tahun."
Kaisar tersenyum menyembunyikan kemasaman di wajahnya. "Bangunlah."
Dia melanjutkan, "Keluarga Xiu menjalani hidup yang begitu sulit menjaga perbatasaan selatan. Tuan Muda Kedua..., kamu datang tiba-tiba. Zhen tidak sempat mempersiapkan sambutan yang pantas."
Dalam diam, Xiu Huanran memperhatikan Kaisar dengan seksama menahan cibiran. "Yang Mulia sungkan. Mendengar adik perempuan saya mendapat berkat kekaisaran, Ayah meminta saya pergi untuk mengelola urusan pernikahan." Dia berbicara halus tidak membiarkan orang mencari celah.
Tidak tahu apa yang terjadi, dengan tenang Xiu Huanran menoleh pada kasim kecil. "Bisa kau membantu menemukan adik perempuanku?" Sikap Tuan Muda Kedua dari Keluarga Xiu tampak sangat ramah bahkan dia seperti dermawan ketika berbicara.
Wajah Kaisar tidak terlihat bagus. "Tuan Muda Kedua, baru saja tiba. Kamu perlu memulihkan staminamu terlebih dahulu." Jari-jemari Kaisar terangkat memberi kode pada kasim kecil untuk mengantar Xiu Huanran. Dia memerintah kemudian membalikan tubuh tidak ingin mendengar bantahan.
Ekspresi Xiu Huanran tenang bagai danau di musim gugur. Tetapi, matanya tajam seperti bisa merobek punggung tua Kaisar dari jauh.
Tiba-tiba seorang gadis muda berlari kearahnya dengan menahan air mata sedih. "Tuan Muda..., Tuan muda! Kamu benar kakak lelaki kedua Qixuan yang galak itu, 'kan?" Dia mencengkeram lengan Xiu Huanran dengan kuat, mata bulatnya bergetar tertimpa cahaya. "Cepat.., kau cari Qixuan dan selamatkan dia." Katanya.
Jantung Xiu Huanran menegang. Dia tampak terkejut dan marah. "Kau jelaskan padaku!"
"Nona Su...!" Tiba-tiba Xiao Rou datang dan mengerjap tertegun melihat Xiu Huanran yang berdiri tidak jauh dari Su Yiyang.
•••••••••••••••••••••••
Jurang Kematian, Lembah Kosong.
"Sudah sadar?"
Suara giok yang membentur tajam mengalahkan angin kencang yang menakutkan diluar.
Bulu mata mengerjap tampak kelereng cokelat yang meringis. Shen Wanqi membuka matanya dan terbatuk lemah mengeluarkan darah. Dia beranjak duduk dengan susah payah dan memandang sosok di depan matanya.
"Kau...," Dia ingin berbicara tetapi tersendat karena sesak.
"Jangan banyak bicara ketika terluka. Merepotkan!" Itu perkataan datar yang sinis.
Wanita muda di depannya tengah sibuk dengan pisau kecil di tangan. Bahunya mengeluarkan banyak darah tetapi dia begitu tenang membalut luka. Hujan yang mengguyur deras seperti badai di luar berbanding dengan ketenangan di wajah cantiknya. Dia mencongkel ranting pohon berukuran lima centi yang menancap di telapak tangannya tanpa ragu seolah bukan apa-apa.
Matanya indah dan tenang. Dia menghela napas dan menggelengkan kepala. "Aku pikir tubuh luarku saja yang menderita. Siapa yang tahu akan merawat pasien lemah sekaligus di sini membuat pening." Gerutunya menoleh kearah lain.
Itu membuat Shen Wanqi mengikuti arah pandangnya. Dia bisa melihat Pangeran Kedelapan Shen Kaicheng yang sedang mengikat penjahat dengan ranting akar yang kuat. Dan Shen Yuan Zi yang berdiri tidak jauh, mata pria itu hanya tertuju pada satu arah yaitu gadis ini.
Shen Kaicheng menoleh dengan usil mengerlingkan mata. "Hoho..., kau mengkhawatirkan aku sekarang? Saat keluar dari sini bagaimana jika kita segera melangsungkan pernikahan?" Ujarnya menggoda.
Bibir Xiu Qixuan yang terbuka kembali terkatup karena saat dia ingin membalas, seseorang sudah lebih dulu mewakilinya.
"Memang siapa yang mau menikah denganmu?" Shen Yuan Zi mengangkat suara dengan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Matanya merangkak tajam seolah berusaha mengintimidasi Kaicheng.
Suasana hening dan terasa begitu serius. Sampai akhirnya, Shen Kaicheng tertawa kosong. "Hoho, kakak ketiga. kamu bisa menakutkan juga." Dia mengelus dadanya karena entah mengapa hatinya terasa seperti di pijat secara tak kasat mata.
Xiu Qixuan terdiam. Dia berkedip kemudian beranjak diri dengan susah payah karena kram di kakinya. Saat hampir kehilangan keseimbangan, lengan Yuan Zi terulur membuat dia reflek mencengkeramnya.
"Hati-hati." Ujarnya dengan lembut menghela napas, yang menyapu pucuk kepala Xiu Qixuan menimbulkan sengatan listrik yang aneh.
Dengan cepat Xiu Qixuan menjaga jarak darinya karena merasa canggung, entah bagaimana pria berambut perak ini seperti ingin selalu menempel bersamanya. Dia dengan sengaja mengabaikan Yuan Zi dan bergegas menuju samping Shen Kaicheng untuk berbicara. Membuat Yuan Zi memasang ekspresi wajah cemberut.
"Dia tidak mati 'kan?" Xiu Qixuan menanyakan kondisi penjahat yang terikat itu pada Kaicheng. Terlihat seperti dia ingin mengintrogasi.
"Sepertinya sih tidak." Jawab Shen Kaicheng dengan acuh tak acuh.
Xiu Qixuan menggeram dan menendang tulang kering Shen Kaicheng tanpa lagi memedulikan status. "Jawab yang benar, Yang Mulia." Sebalnya. Karena ini bukan di Istana, dia bisa melonggarkan sedikit aturan 'kan.
"Aduh! Kamu masih memanggilku Yang Mulia namun tindakanmu seperti penjahat." Shen Kaicheng meringis namun dia melaniutkan berbicara ketika melihat Xiu Qixuan memelototi-nya. "Ya..., abis bagaimana dong? Badebah ini sengaja kujadikan bantalan saat jatuh dari tebing. Kalau mati kan wajar." Dengusnya.
Tempat berlindung mereka ini berada di Goa yang tersembunyi di balik tebing. Pasti kalian bertanya bagaimana bisa selamat, di bawah tebing yang sangat curam. Ada sebuah pohon besar yang berusia ratusan abad. Xiu Qixuan dan Shen Yuan Zi menggunakan pohon itu untuk bertahan hidup, menopang tubuh mereka sebentar sebelum jatuh ke tanah. Walaupun menderita luka namun itu hanya goresan yang tidak mengancam nyawa.
Sedangkan, untuk Shen Wanqi dia di bantu oleh Pedang Fengyue milik Xiu Qixuan. Wanita itu bermurah hati menghabiskan banyak kekuatan internal miliknya. Dia harus menunggu beberapa jam untuk pulih agar bisa menggunakan kekuatan Aura Kehidupan untuk penyembuhan luka.
Kalau Shen Kaicheng menyusul. Dia sudah menumbangkan semua musuh, tapi di akhir dia bilang tergelincir karena khawatir melihat mereka terjatuh kebawah tebing, sebenarnya dia juga tidak ingin terjun 'kan? Benar-benar ceroboh!
"Hmph, Ya sudah. Kalian tunggulah di sini! Aku akan mencoba menjelajah kedalam Goa." Xiu Qixuan berkata dengan singkat. Dia memutar tubuhnya untuk pergi.
Tapi, lengannya ditahan oleh Shen Kaicheng. Atmosfer berubah dingin ketika pria ini begitu serius. "Kau mendominasi ya? Seenaknya memutuskan sesuka hati." Ujarnya tersenyum datar.
Xiu Qixuan sedikit tersentak. Karena dia hanya mengetahui tampilan yang suka bermain-main dari pria didepannya
Mata yang sebiru lautan. Menembus terlalu dalam. Membuat orang lupa untuk berkedip.
Bibir Shen Kaicheng membentuk lengkungan horizontal. Dia tersenyum lebar dan terkekeh kecil, "Haduh. Bagaimana ini... kau sudah terpesona oleh ketampananku ya?"
"Tsk..., lepas!" Xiu Qixuan menggerutu sebal dengan menarik tangannya. "Hei! Kau ini pasien. Lihat lukamu, atau mau kubantu untuk mengeluarkan usus di perutmu itu. Jangan merepotkanku!" Makinya.
"Tidak bisa." Suara bariton rendah yang berbisik terdengar dari samping mereka.
Seolah sangat berbakat dalam menggunakan wajah tampannya. Terlihat Shen Yuan Zi memiringkan sedikit kepala ke samping dan melemparkan binar permohonan yang menggemaskan. Meskipun dalam kondisi habis bertemu kekacauan, Shen Yuan Zi tetap dalam penampilan pucatnya yang menawan. Membuat orang berdecak iri saja.
"Ayo pergi bersama."
••••••••••••••••••••••••
Haloo, Author mau bikin grup chat novel ini. ada yang mau join ga ya kira-kira?😊